Part 7 - Anna dan Olaf

1212 Words
“Beneran di sini nontonnya?” Alka turun dari sepeda Delma. Sejak meninggalkan indekos, gadis itu terus memeluk boneka Olaf, hadiah dari Alden tadi malam. Gadis itu mengangguk menanggapi pertanyaan Delma. “Iya, di sini. Enggak apa-apa, ‘kan?” Delma memasang standar sepeda. Ia membalikkan badan dan menatap Alka. “Ya …, enggak apa-apa. Toh, di taman ada gazebo. Jadi, ada tempat buat naruh laptopnya.” Alka tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Gadis itu mengajak Delma berjalan menuju salah satu gazebo yang ada di taman. Mereka pergi ke taman untuk menonton film bersama. Ada-ada saja, ‘kan, tingkah mereka? Ah, ralat. Tingkah Alka lebih tepatnya. Gadis itu semalam merasa tidak enak pada Delma karena rencana untuk menonton film “Frozen 2” batal. Apalagi, setiap ia melihat boneka Olaf pemberian Alden, rasa bersalahnya semakin bertambah. Maka dari itu, ia akhirnya berinisiatif mengajak Delma untuk melanjutkan rencana menonton film itu di hari lain. Jadilah sekarang mereka berdua berada di taman, menempati salah satu gazebo yang dilengkapi meja dan kursi. “Ayo, Delma, buruan,” desak Alka. Delma berdecak pelan. “Sabar, dong, Al,” katanya sambil mengeluarkan laptop dari dalam tas. Alka hanya terkikik. Gadis itu menaruh ponsel di atas meja. Sekilas ia lihat, jam menunjukkan pukul 09:16. Masih ada waktu sebelum ia dan Delma berangkat kuliah. Kebetulan, mereka mendapat jadwal kuliah siang hari ini. “Perlu pake earphone, enggak?” tawar Delma. Alka mengerucutkan bibir. Dahinya berkerut, ciri khas orang yang sedang berpikir. Ia berdeham panjang, menimbang-nimbang. Beberapa detik berpikir, gadis itu akhirnya mengangguk. “Boleh. Taman lumayan rame. Pasti suara laptopnya kalah nanti.” Delma mengangguk. Ia segera mengeluarkan earphone dari dalam tas. Ia sambungkan alat tersebut pada laptop. Ia lantas memberikan earphone bagian kanan pada Alka, sedangkan bagian kiri untuknya sendiri. Mereka menyumpal sebelah telinga menggunakan earphone masing-masing. “Ayo, Ma.” Delma mengangguk. Laki-laki itu menekan pilihan ‘play’. Film “Frozen 2” pun dimulai. Alka dan Delma fokus menonton film animasi itu sambil menikmati camilan dan minuman yang sebelumnya sudah mereka beli dari minimarket. Sesekali mereka mengeluarkan komentar, menyeletuk, dan juga tertawa saat ada scene yang lucu dalam film. Alka dan Delma terlihat berbeda dari orang-orang kebanyakan. Jika biasanya orang-orang berkunjung ke taman untuk berolahraga, berburu foto, cuci mata, atau hanya sekadar menikmati jajanan, mereka berdua tidak seperti itu. Mereka pergi ke taman untuk menonton film. Unik memang, lain dari yang lain. Film “Frozen 2” yang berdurasi 1 jam 43 menit itu akhirnya selesai Alka dan Delma tonton. Mereka cukup puas dengan film tersebut. Walaupun mereka sudah berstatus sebagai mahasiswa, tetapi menurut mereka tidak ada salahnya menonton film animasi yang biasanya ditujukan untuk sebagai tontonan anak-anak. Selama film tersebut dapat menghibur dan mengandung pesan positif--tidak aneh-aneh, mengapa tidak? “Bagus juga ternyata filmnya. Kenapa aku baru nonton, ya?” ungkap Alka sambil mendekap boneka Olaf. Delma yang mendengar ungkapan dari Alka tersebut tersenyum. Ia menatap Alka dari samping. Gadis itu tampak tersenyum. Entah mengapa, melihat Alka yang tersenyum seperti itu membuat hati Delma seperti disentil, membuatnya bergetar. Apakah Delma kagum pada Alka? Bisa jadi. Akan tetapi, Delma sadar diri akan status hubungannya dengan gadis itu. Ia dan Alka hanya sahabat sejak kecil. Sekali pun pada akhirnya ia menyatakan perasaan sesungguhnya pada Alka--seperti kemarin, itu tidak akan terlalu berpengaruh. Alasannya? Alka sudah memiliki pacar, yaitu Alden. Alka menatap bayangan wajahnya dan Delma di layar laptop. Gadis itu mengernyit heran saat menyadari wajah Delma menghadap ke arahnya, menatap dirinya dari samping. Segera, Alka menoleh ke kanan. Tatapannya dengan Delma pun bertemu. “Kamu … kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Kedua alias Delma terangkat. Laki-laki itu buru-buru mengalihkan pandang. “Ah, enggak. Siapa yang ngeliatin kamu? Orang ... aku lagi liatin orang lewat.” Alka memicingkan mata, menatap Delma curiga. Ia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh sahabatnya itu. “Masa?” Delma kembali menatap Alka. Kali ini ia sudah merasa lebih tenang setelah kepergok tengah memandangi Alka dengan lekat. “Kalo enggak percaya, ya, udah. Aku enggak maksa, kok.” Mendengar respons Delma itu membuat Alka tertawa. Gadis itu refleks menepuk bahu Delma cukup kencang hingga menimbulkan bunyi ‘plak’. Delma secara otomatis menatap bahu yang baru saja diserang oleh tangan Alka. Alka masih tertawa hingga matanya berkaca-kaca. “Serius amat kamu nanggepinnya. Iya, iya, aku percaya, kok, sama kamu.” Delma tidak menanggapi apa-apa. Laki-laki itu beralih menatap laptop. Ia iseng membuka-buka fail di ruang penyimpanan. “Eh, Al,” panggilnya sambil fokus menatap laptop. Alka yang sedang bermain ponsel beralih menatap Delma. “Apa?” “Dari film yang kita tonton tadi, ada tokoh yang kamu favoritin, enggak?” Delma iseng bertanya, mencari topik obrolan agar tidak jenuh. Alka terdiam beberapa saat, memikirkan jawaban untuk pertanyaan Delma itu. Ia lantas bergumam panjang. “Siapa, ya?” Delma mendengkus pelan. “Kok, malah bakik tanya?” “Ih, aku enggak nanya sama kamu kali. Kepedean!” Delma hanya tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya itu. “Eum ..., aku kayaknya suka sama tokoh Anna.” Delma menyudahi kesibukannya bermain laptop. Ia menutup benda tersebut dan menatap Alka, fokus menyimak pembicaraan gadis itu. “Kenapa Anna?” tanyanya kemudian. “Padahal, kamu meluknya boneka Olaf terus, tuh.” Alka refleks menatap boneka Olaf yang kini ada di pangkuannya. Gadis itu mendesah berat. “Ini, kan, hadiah dari Alden. Beda konteks. Eum ..., aku juga suka Olaf, sih, tapi ... Anna tetep yang paling bikin aku tertarik.” Delma manggut-manggut mendengar jawaban Alka. “Emang, apa yang bikin kamu tertarik sama tokoh Anna?” Alka berguman panjang. Gadis itu mengangkat bahu kemudian. “Karena cantik. Selain itu, dia juga orang yang pemberani, optimistis, dan penyayang. Ya ..., mirip-mirip, lah, sama karakternya aku,” terang Alka diakhiri dengan tawa ringan. Delma ikut tertawa mendengar kalimat terakhir Alka. “Pede banget kamu.” Alka kembali tertawa. Gadis itu menyibak rambutnya yang tergerai ke belakang. “Kamu sendiri, siapa tokoh favoritnya dari film ‘Frozen’?” Raut muka Delma berubah. Tawanya mendadak memudar, senyum pun tak ada. Laki-laki itu termenung usai mendengar pertanyaan Alka. Alka menatap Delma dengan kepala agak meneleng. “Siapa, Ma?” Delma kembali menatap Alka dengan lekat. Ia diam beberapa saat sebelumnya akhirnya menjawab, “Olaf.” Alka terdiam mendengar jawaban Delma. Refleks, ia kembali menatap boneka Olaf yang masih ia pangku. “Kenapa Olaf?” tanyanya, kembali menatap Delma. Delma termenung. Laki-laki itu menatap boneka Olaf yang ada di pangkuan Alka. Ia terus diam, membuat Alka penasaran. Namun, tanpa gadis itu ketahui, sebenarnya Delma sedang menjawab pertanyaannya, tetapi dalam hati. Olaf emang dingin, tapi dia rendah hati dan suka menghibur. Dengan sikap dia yang kayak gitu, dia disukai banyak orang. Aku berharap juga bisa kayak Olaf, bisa menghibur dan ... disukai banyak orang, terutama ... sama kamu, Alka. Tapi ..., aku sadar kalo kamu pasti lebih milih Alden daripada aku. Kita sama-sama tau, 'kan, kalo ... hubungan kita cuma sebatas sahabat? BERSAMBUNG ke PART 8 Curahan hati seorang Delma:( Sabar, ya, Delma Cewek di dunia ini masih banyak, kok, salah satunya aku, hihi Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya Support dari kalian itu sangat-sangat-sangatlah membantu Okay? Oh, iya, terima kasih banyak buat BlibliFriends untuk info-infonya:D Sangat membantu aku waktu buat part ini, hihi See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD