Part 6 - Olaf

1211 Words
ALKA menatap Delma dengan kedua mata membulat sempurna. Ia terkejut dengan pernyataan laki-laki itu. “A-apa ...?” Tubuh Alka menegang di tempat. Kaki dan tangannya terasa lemas. Hampir saja mug yang dipegangnya jatuh. Jantung Alka berdegup kencang. Apa? Delma bilang? Dia ... liat semuanya? Apa ... dia juga liat ...? Refleks, Alka menyentuh bibirnya dengan jari. Jangan-jangan ... Delma juga liat aku yang ciuman sama Alden, batin Alka, merasa risau. Delma memperhatikan Alka dengan ekspresi bingung. Wajah sahabatnya itu terlihat tegang. “Kamu kenapa, Al?” Alka tersentak dari lamunan. Gadis itu segera menjauhkan jari dari bibir. Matanya berkedip beberapa kali dan menatap Delma yang berada beberapa meter di depannya. Ia segera menghampiri sahabatnya itu. Tanpa permisi, Alka memegang lengan Delma. Hal tersebut sukses membuat Delma semakin bingung. Delma menatap lengannya yang dipegang Alka. “Kamu kenapa, sih, Al? Aneh banget sikap kamu.” Alka menelan ludah susah payah. Rasa gugup menyergap dirinya. Gadis itu terus menatap Delma dengan ekspresi yang terlihat seperti orang ketakutan. “Ka-kamu ... beneran liat semuanya, Ma? Ka-kamu ... liat aku sama Alden lagi ....” Ucapan Alka tiba-tiba berhenti. Gadis berambut pendek sebahu lebih sedikit itu menunduk. Ia tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Rasanya malu sekaligus takut. Malu karena perbuatannya dengan Alden beberapa waktu lalu tertangkap oleh mata Delma. Juga, takut seandainya Delma akan membocorkan apa yang dilihatnya pada Agatha dan Sandi. Dua nama tersebut adalah orang tua Alka. Alka menatap Delma penuh harap. “Delma, kamu ... enggak bakal ember ke mama sama papa aku, 'kan? Jangan lapor ke mereka, ya. Aku mohon. Please ....” Dahi Delma berkerut dalam mendengar permintaan Alka. Laki-laki itu bingung dengan Alka yang tiba-tiba bersikap aneh. Ia secara perlahan menjauhkan tangan Alka dari lengannya. “Kamu kenapa, sih, Al? Ember tentang apa? Tentang kamu yang ciuman bibir sama Alden, hm?” Alka langsung membulatkan mata mendengar kata-kata Delma. Mulutnya sampai terbuka sedikit. Buru-buru, ia mengarahkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan pada Delma agar berhati-hati dalam bicara. Apalagi, sekarang sudah malam. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui topik pembicaraan Alka dan Delma saat ini. “Pokoknya, kamu jangan bocor ke mama sama papa, ya. Ya, Delma?” Delma mengembuskan napas berat. “Lagian, bisa-bisanya kamu sama dia ngelakuin itu di sini. Untung, orang-orang kos udah pada tidur. Coba kalo enggak?” Delma menatap Alka dengan tajam. Alka menunduk sekilas. Tangannya memegang mug dengan kuat. Ia tak mampu menjawab. Kalau Delma sudah keluar sikap tegasnya seperti sekarang, ia kesulitan untuk melawan. Delma menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Laki-laki itu berkecak pinggang. Tatapannya terpusat pada Alka yang sedang menunduk. “Al, kamu itu cewek. Kamu harus bisa jaga diri. Bukan karena Alden itu pacar kamu, cowok kamu, dia bebas macem-macem sama kamu.” Alka masih terdiam, belum berani menatap Delma. “Aku pernah bilang, ‘kan, sama kamu? Kamu harus tetep hati-hati sama Alden. Aku tau kamu suka, sayang, dan cinta sama dia. Tapi inget, semua itu ada batasannya.” “Delma, udah! Alden enggak macem-macem.” Alka mengangkat wajah dan menatap Delma dengan sorot mata tajam. “Tadi itu cuma ... khilaf aja.” Usai mengatakan hal tersebut, Alka kembali menunduk. Ia tidak tahu apakah yang baru saja dikatakannya itu benar atau tidak. Ia hanya berusaha agar Delma tidak menjelek-jelekkan Alden lebih jauh lagi. Tentulah Alka tidak menyukai hal tersebut. Delma tersenyum miring. “Khilaf atau sengaja?” Alka kembali menatap Delma. Gadis itu menelan ludah berat. Ia kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Delma. Pasalnya, kalau ia jujur, bisa-bisa ia dicap tidak memiliki harga diri. Namun, kalau ia menyangkal, berarti ia berdusta karena pada kenyataannya, ciuman tadi terjadi sebagai bentuk hukuman. Hukuman karena ia kalah dalam permainan lempar bola ke kaleng di pasar malam tadi. Hening mengambil alih keadaan. Alka dan Delma sama-sama terdiam, tidak lagi beradu argumen. Suasana hening yang semula terjadi terinterupsi oleh suara mesin sepeda motor. Suara tersebut semakin terdengar jelas, seperti mengarah ke indekos Alka dan Delma. Alka dan Delma menoleh ke sumber suara. Benar saja, ada seorang pengendara sepeda motor yang datang. Alka menyipitkan mata melihat pengendara sepeda motor tersebut. Tak sulit baginya untuk mengenali siapa sosok itu. Hal yang sama juga dirasakan Delma. Laki-laki itu juga langsung bisa mengenali siapa sosok pengendara motor tersebut. TIN! Alka terus memperhatikan si pengendara sepeda motor yang baru saja membunyikan klakson. Sosok itu berjalan ke arahnya dengan tangan membawa sesuatu. Kedua alis Alka bertaut melihat benda tersebut. “Loh, itu ...?” “Alk.” Alka menatap si pengendara sepeda motor yang kini berdiri di dekatnya. “Kok ..., kamu balik ke sini, Ald?” Alden--pengendara sepeda motor--tersenyum menatap pacarnya. Namun, senyum itu agak memudar saat melihat Delma. Laki-laki itu beralih menatap Alka, fokus pada tujuan utamanya kembali ke indekos gadis itu. “Kenapa aku balik lagi ke sini? Eum ..., ada yang kangen soalnya.” Dahi Alka berkerut samar. “Kangen?” Alden mengangguk sambil tersenyum. Laki-laki itu memperlihatkan benda yang ada di tangan kanan. “Nih, yang kangen sama kamu.” Alka menatap benda yang ada di tangan Alden tersebut. Benda tersebut adalah boneka Olaf--tokoh boneka salju di film animasi “Frozen”--yang Alka dapatkan sebagai hadiah dari Alden di pasar malam tadi. “Olaf ketinggalan di dalem jok motor tadi. Aku baru sadar waktu mau isi bensin di SPBU. Jadi, aku mutusin buat balik ke sini, nganter Olaf.” Alka menatap dan perlahan mengambil alih boneka Olaf tersebut dari tangan Alden. Delma memperhatikan Alka, Alden, dan juga boneka Olaf. Laki-laki itu jadi teringat dengan rencananya bersama Alka yang tertunda tadi sore, yaitu menonton film “Frozen 2”. Ia berdeham, menginterupsi perbincangan antara Alka dan Alden, seolah menyadarkan bahwa ada dirinya di antara mereka berdua. Alka dan Alden menoleh sekilas ke arah Delma. Alka menatap Alden. “Makasih, ya, udah bela-belain balik buat nganter Olaf.” Alka tersenyum lebar sambil memeluk boneka Olaf. Melihat senyum Alka, membuat Alden ikut tersenyum. Refleks, tangan laki-laki itu terangkat, mengelus lembut puncak kepala Alka. “Sama-sama. Aku bela-belain balik ke sini karena kamu orang yang berarti buat aku, Alk.” Alka kembali tersenyun mendengar perkataan Alden. Ia merasa tersipu. Delma memutar bola mata malas saat menyaksikan aksi romantis Alka dan Alden. Kalau kata orang, sekarang ia ibarat obat nyamuk di tengah dua orang yang sedang berpacaran. Parahnya, ia sudah sering berada dalam situasi seperti itu. “Ya udah. Aku pulang dulu, ya. Jaga Olaf baik-baik.” Alka tertawa kecil. “Hati-hati, ya, Ald.” Alden mengangguk dan tersenyum. Ia beralih menatap Delma. “Balik dulu, Delma.” Delma hanya mengangguk dengan muka datar. Alden berjalan menghampiri sepeda motor. Saat berjalan, ia tak sengaja mendengar percakapan antara Alka dan Delma. “Inget pesen aku tadi, Al. Kamu harus hati-hati dalam keadaan apa pun, sekali pun itu sama Alden.” “Ck! Iya, terserah kamu aja, deh. Aku capek lama-lama!” Alden berhenti berjalan. Ia berdiri di samping sepeda motor dan terdiam beberapa saat. Laki-laki itu menoleh ke belakang. Tatapannya terjatuh pada Delma yang tampak sedang berbicara dengan Alka. Senyum miring terlukis di bibir Alden. “Percuma aja kamu ngomong kayak gitu, Delma. Kalo kadar cintanya udah berlebih, apa aja bakal dihalalin.” BERSAMBUNG ke PART 7 Jangan lupa ♡ untuk cerita IHYILY-nya, ya:) Komennya juga jangan lupa See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD