Part 5 - Pengalaman Pertama⚠️

1390 Words
(Part ini mengandung konten sensitif. Jika merasa part ini akan mengganggu, bisa di-skip saja) *** SAMPAILAH Alden di indekos tempat Alka tinggal. “Yeay, sampe!” Seperti biasa, Alka berseru begitu sampai di tempat tujuan. Hal tersebut memantik senyuman di bibir Alden. Ia selalu suka mendengar seruan ceria dari Alka. Alka menapakkan kaki ke tanah, turun dari sepeda motor. Ia lantas berdiri di sisi kiri Alden. Tangannya sibuk melepas pengait helm. Namun, entah mengapa, pengait tersebut tidak mau lepas. Alden yang menyadari hal tersebut langsung tanggap membantu Alka. Alka bergeming atas perlakukan Alden tersebut. Gadis itu berusaha agar tetap tenang, walaupun sebenarnya, jantungnya sudah berdebar tak karuan. Belum lagi, bibirnya terasa berkedut menahan senyum. Pengait helm akhirnya terlepas. Alka segera melepas helm dan menyerahkan benda tersebut pada empunya. “Makasih, ya, buat hari ini, Ald,” ucapnya sambil tersenyum. Alden ikut tersenyum mendengarnya ucapan pacarnya. “Aku juga makasih, Alk.” Laki-laki itu perlahan meraih tangan Alka, menatap gadis lekat-lekat. Alka bergeming. Tenggelam dalam tatapan teduh pacarnya. Walau sudah berpacaran dengan Alden selama kurang lebih setahun, rasa gugup masih sering menyelimuti. Terutama saat Alden menatapnya dengan lekat seperti sekarang. “Kamu inget, 'kan, masih ada hukuman yang harus kamu tanggung?” Alka mengembuskan napas berat. Ia kira Alden akan mengatakan sesuatu yang romantis sebelum mereka berpisah. Nyatanya, Alden malah menagihnya hukuman. “Iya, aku inget, kok. Terus, apa hukumannya? Katanya mau dikasih pas sampe di kos.” Alden tersenyum. Ia masih menatap iris gelap milik Alka. Binar di kedua mata gadis itu membuat Alden terkesima beberapa saat. Laki-laki itu terbuai hingga refleks mengangkat tangan, lalu membelai rambut pendek sebahu milik Alka yang tergerai. Ia melakukan hal tersebut penuh kelembutan, menyiratkan bahwa ia benar-benar menyayangi Alka. Jantung Alka kembali berdegup kencang atas perlakuan Alden tersebut. Pikirannya mendadak buntu. Alhasil, ia hanya berdiri mematung dengan tatapan terkunci oleh mata Alden. Dunia seolah sedang diambil alih oleh dua insan yang tengah kasmaran itu. Tangan Alden yang semula membelai rambut Alka berpindah mengusap lembut pipi putih Alka yang agak merona. Alden bisa melihatnya, walaupun cahaya di sekitar begitu minim. Alka memang cantik. Satu dari sekian alasan mengapa Alden menyukai, menyayangi, dan mencintai gadis tersebut. “Ald, apa hukumannya?” Alka agaknya sudah tidak sabar menunggu hukuman yang akan Alden berikan padanya. Ia tidak ingin berlama-lama terbuai oleh perlakuan Alden. Sekarang saja, rasanya ia sudah dimabuk kepayang. Alden menatap lekat Alka. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Alka, lantas bergerak turun, menyentuh bagian merah yang ada di antara hidung dan dagu Alka. Ya, Alden menyentuh bibir merah Alka menggunakan ibu jarinya. Alka menegang di tempat merasakan bibirnya yang disentuh lembut oleh pacarnya sendiri. Seumur-umur berpacaran, baru kali ini Alden berani melakukan hal tersebut. Alka semakin tidak bisa berpikir jernih. Ia malah membayangkan hal yang tidak-tidak sekarang, mengenai apa yang akan Alden lakukan terhadap bibirnya. Ibu jari Alden menyapu bibir Alka, merasakan kontur bagian sensual tersebut. Jakun laki-laki itu bergerak, turun naik, seperti ada hasrat yang tergugah dalam dirinya. Laki-laki itu menatap Alka dengan intens. Alka mengerjap beberapa kali. Raut mukanya terlihat tegang. “Kiss me, please,” pinta Alden dengan suara lirih dan serak. Kedua mata berbinar milik Alka membulat sempurna mendengar permintaan Alden tersebut. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencerna ulang apa yang baru saja ia dengar. “A-apa? Ki-kiss ...?” Alka gugup bukan main. “I-itu ... hukumannya?” Alden mengulas senyum dan mengangguk pelan, membenarkan pertanyaan Alka. Alka menelan ludah berat. Jantungnya berdegup kian kencang. Meraup oksigen pun terasa begitu sulit baginya. Belum lagi, perasaan tegang sekaligus gugup yang menderanya. Gadis itu tak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia menatap sekitar. Area indekos tampak sepi. Wajar karena sudah jam 11 malam. Penghuni kos pasti sudah banyak yang tidur. Alka kembali menatap Alden. “D-di sini ...?” tanyanya lugu. Alden mengangguk lagi. “Tapi ....” “Gak akan ada yang liat.” Alden memegang tangan Alka, menenangkan gadis itu. Alka diam beberapa saat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan, menguatkan diri. Gadis itu memberanikan diri menatap mata teduh milik Alden. Sambil menguatkan diri, Alka mulai mencondongkan wajahnya ke arah Alden, memangkas jarak yang terbentang. Alka merasa dadanya agak sesak, kesulitan menghirup oksigen. Berbanding terbalik dengan Alka, Alden malah nampak santai. Ia menunggu Alka melakukan hal 'gila' tersebut. Hal 'gila' yang akan menjadi sejarah baru dalam hubungan percintaan mereka. Penantian pun terbayar, Alka mempertemukan bibirnya dengan bibir Alden. Hanya menempel selama beberapa detik. Setelahnya, Alka menarik wajahnya ke belakang, menjauh dari Alden. Namun, tak disangka, Alden mencegah hal tersebut. Tangan laki-laki itu dengan sigap merangkul tengkuk Alka, membuat gadis itu kembali mendekat padanya secara paksa. Bersamaan dengan hal tersebut, bibir mereka kembali bertemu. Kali ini, gantian Alden yang memulainya. Alka tentu terkejut akan hal tersebut. Kedua matanya membulat sempurna. Ia memegang kuat lengan Alden, mencoba menyadarkan laki-laki itu. Akan tetapi, ia tak punya cukup keberanian. Ia pasrah dengan tindakan 'gila' Alden itu. Ia juga tidak melawan saat Alden merengkuh tengkuknya semakin dalam, membuatnya semakin dekat dengan laki-laki itu. Bibir mereka pun ikut bertaut semakin dalam. Sejenak, mereka lupa tengah berada di mana dan sedang apa. Mereka sibuk merasakan pengalaman pertama berciuman. Ciuman bibir tentu saja. Setahun sudah mereka berpacaran, baru kali ini mereka melakukan hal 'gila' tersebut. Alka dan Alden dimabuk oleh ciuman pertama mereka. Mata mereka terpejam, membiarkan bibir mereka yang mengambil alih situasi. Hukuman teraneh sekaligus manis yang pernah Alka dapatkan. Selama ini, hukuman yang ia dapat hanya sebatas membersihkan ruang kelas, mencabuti rumput liar, atau menulis 'saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi' sebanyak 100 kali di papan tulis. Itu pun saat ia masih mengenakan rok abu-abu. Ah, Alka baru ingat. Hukuman terakhir yang pernah ia dapat adalah saat masa ospek dikarenakan datang terlambat. Alka segera tersadar dan mengurai lebih dulu pagutan bibirnya dengan milik Alden. “Alden, udah,” tegurnya lirih. Alden membuka mata dan menjauhkan tangannya secara perlahan dari tengkuk Alka. Laki-laki itu ikut tersadar atas apa yang baru saja ia lakukan pada pacarnya sendiri. Sejauh ini, yang pernah ia lakukan hanya sebatas memegang tangan atau memeluk Alka saja. Namun malam ini, ia sepertinya telah melewati batas. Alka menelan ludah sudah payah. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Entah mengapa, udara malam ini terasa panas. Atau mungkin, dirinya saja yang panas karena terbakar rasa malu? “Maaf ...,” ucap Alden lirih, menyesali perbuatannya. Alka hanya diam tak menanggapi apa-apa. Ia tidak tahu harus berkata atau berbuat apa sekarang. Perasaannya campur aduk. Sulit didefinisikan apa nama dari perasaan tersebut. “Aku ... pulang dulu, ya. Kamu ... jangan lupa istirahat,” pamit Alden kemudian. Laki-laki itu segera mengenakan helm dan menghidupkan mesin sepeda motor. Alka mengangguk kaku. “I-iya. Kamu ... hati-hati, ya.” Alden mengangguk juga tersenyum dari balik kaca helm. Ia mulai menjalankan sepeda motornya meninggalkan Alka yang masih terpaku di tempat. Gadis berambut pendek sebahu itu menatap kepergian Alden. Begitu Alden hilang dari pandangan, Alka tak bisa menahan bibirnya lagi untuk tidak tersenyum. Momen saat ia berciuman bibir dengan Alden kembali terputar di pikiran. Refleks, Alka menyentuh bibirnya dengan jari, titik di mana ciuman pertama tadi terjadi. Sentuhan beserta rasanya masih terbayang jelas di ingatan Alka. Perasaan Alka dibuat melambung, terbuai. Sepertinya, momen tadi akan menjadi hal yang tak terlupakan baginya. Ingin rasanya Alka berteriak sekencang-kencangnya. Teriak bahagia tentu saja. Nahas, Alka seketika menegang di tempat saat tatapannya tak sengaja terjatuh ke satu titik, di mana seorang laki-laki dengan ekspresi datar tengah menatapnya intens. Rasa gugup menyergap Alka. Bukan hanya gugup, tetapi juga rasa takut. Jantung Alka berdegup kencang saat laki-laki yang dilihatnya berjalan mendekat. “De-Delma ...?” ucapnya terbata. Laki-laki itu, Delma, berhenti tepat di hadapan Alka. Alka menelan ludah berat. Ia tersenyum kikuk, mencoba bersikap tenang. “K-kok ... kamu belum tidur?” Delma terdiam beberapa saat dengan tatapan bertumbukkan dengan mata Alka. Laki-laki itu tiba-tiba menyodorkan sebuah mug. Alka menatap mug tersebut penuh tanya. “Aku mau ngembaliin ini," kata Delma datar. Alka menatap Delma dan menerima mug dengan gugup. “Oh, i-iya." Delma mengangguk. Tanpa mengatakan apa-apa, laki-laki membalikkan badan untuk kembali ke kamar indekosnya. Namun, baru tiga langkah tercapai, ia membalikkan badan dan menatap Alka. “Aku liat semuanya, Al.” Alka menatap Delma dengan kedua mata membulat sempurna. Ia terkejut dengan pernyataan laki-laki itu. “A-apa ...?” BERSAMBUNG ke Part 6 Jangan lupa untuk ♡ cerita ini, ya, semuanya:) See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD