PUAS memainkan semua wahana dan permainan di pasar malam, Alka dan Alden memutuskan untuk beristirahat di gerai jagung dan sosis bakar. Mereka memesan dan duduk di salah satu kursi panjang.
“Janji, ya, kamu yang bayar jagung bakar ini. Soalnya kamu kalah dari aku tadi.”
“Iya," jawab Alden. “Kamu sendiri juga jangan lupa sama hukumannya.”
“Iya. Nanti, 'kan, habis pulang dari sini?”
Alden tersenyum dan mengangguk.
Sejenak, dua insan yang menjalin hubungan pacaran itu terdiam dengan pikiran masing-masing. Alka sibuk memandangi sekitar. Suasana pasar malam masih ramai, padahal malam sudah mulai larut.
“Alk.”
Alka menoleh mendengar panggilan tersebut. Panggilan yang hanya dilontarkan oleh pacarnya, Alden. Ya, semacam panggilan kesayangan.
“Kenapa, Ald?”
“Tadi, waktu aku ke kosan kamu, kamu sama Delma mau ngapain?”
Alka bergumam, mengingat-ingat kejadian tadi sore di indekos.
“Oh, itu. Aku minta Delma buat nemenin aku sambil nunggu kamu dateng. Niatnya mau nonton film “Frozen 2”, eh, kamunya keburu dateng.”
Alden tertawa kecil. Hal itu membuat dahi Alka berkerut, heran.
“Kenapa ketawa?”
“Si Delma udah gede, tontonannya masih kartun?” Alden lanjut tertawa. “Kayak anak kecil aja.”
Mendengar hal tersebut, membuat Alka sedikit terusik. Ada rasa tidak terima ketika Alden meremehkan Delma. Ya ..., walaupun Alka juga sempat melakukannya pada Delma tadi. Akan tetapi, kalau Alden yang meremehkan sahabatnya, Alka tidak suka. Alka sendiri pun sebenarnya ingin juga menonton film “Frozen 2”. Wajar, ‘kan, jika ia tersinggung dengan perkataan Alden tadi? Namun, Alka hanya diam, tak menanggapi apa-apa.
“Kamu sama Delma cuma sahabatan aja, 'kan, Alk?”
Alka tersentak dari lamunan. “Ha? Ya—ya, iya. Aku sama Delma cuma sahabatan. Kamu udah sering nanya gitu, lho, Ald.”
Obrolan Alka dan Alden terinterupsi oleh datangnya jagung bakar yang dibawakan seorang penjaja.
”Terima kasih,“ ucap Alka dan Alden bersamaan.
“Sama-sama.”
Alka meniup jagung bakar di tangan. Penampakannya begitu menggoda. Kuning dengan beberapa bagian gelap, khas bakaran. Aroma dari bumbu yang dioleskan pada jagung juga kian mengguggah selera.
“Gak ada yang kamu tutupin dari aku, 'kan, Alk?”
Alka menghentikan gerakannya menggigit jagung. Ia mengunyah biji-biji jagung yang empuk itu dan menelannya. Matanya melirik ke arah Alden yang tengah menatapnya serius. “Emang apa yang aku tutupin?”
Alden mengangkat bahu. “Ya ..., apa aja. Tentang kamu sama Delma mungkin.”
Alka mengembuskan napas berat. “Ald, kita udah bicarain ini ribuan kali. Aku sama Delma cuma sahabatan. Sa-ha-bat. Kamu juga tau sendiri, 'kan, tentang hal itu?"
Alden hanya diam sambil menikmati jagung bakarnya.
“Kita pacaran udah satu tahun. Selama itu pula, enggak ada yang aku tutup-tutupin dari kamu.” Alka menatap Alden intens. Ia benar-benar serius dengan perkataannya. Jujur, ia agak muak ketika Alden menanyakan hubungannya dengan Delma yang sebenarnya. Kalau srkali dua kali mungkin Alka masih biasa saja. Akan tetapi, Alden sudah telanjur sering menanyakan topik itu.
“Sekarang aku balik pertanyaannya. Kamu sendiri ada enggak yang ditutupin dari aku, ‘kan?”
Alden menurunkan tangan yang tengah membawa jagung. Tatapannya tertuju ke arah Alka, menatap gadis itu dalam diam. Alka balas menatap laki-laki itu.
Terdengar embusan napas panjang dari Alden. Laki-laki itu menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Alka.
“Ya udah. Kalo gitu kita saling percaya aja, ya. Kamu pacar aku dan aku percaya kamu, Ald. Aku harap kamu juga gitu ke aku. Ya?”
Alden menatap Alka. Ia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Tangannya terangkat, mengusap lembut puncak kepala Alka. “Maaf, ya. Udah buat kamu enggak nyaman sama obrolan ini.”
Alka tersenyum dan menggeleng pelan. “Enggak apa-apa, kok.”
Suara dering singkat dari ponsel menginterupsi Alka dan Alden. Tangan Alka bergerak, membuka tas selempang yang tercangklong di bahu. Benar, ternyata ponselnya yang baru saja berdering.
Alka secara otomatis tersenyum kala melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan singkat. Pesan tersebut datang dari sang mama tercinta.
Mama
[Alka, gimana kabarnya kamu di sana?]
[Baik-baik aja, 'kan?]
Alka segera membalas pesan tersebut, masih dengan senyuman.
Alka
[Alka baik-baik aja, kok, di sini, Ma]
[Mama sendiri gimana di sana?]
[Papa juga, gimana kabarnya?]
Mama
[Kita baik-baik aja, kok, di sini]
[Adek kamu juga baik]
Alka
[Syukur, deh, kalo gitu]
[Oh, ya]
[Mama ada apa chat Alka?]
Mama
[Enggak ada apa-apa]
[Cuma pengen tau kabar kamu aja
[Kamu besok Sabtu pulang ke rumah, ‘kan?]
Alka
[Pulang, lah, Ma]
[Kangen, ya?]
[Hehe]
Mama
[Ya, kangen, lah]
[Bagus, deh, kalo kamu pulang]
[Sama Delma, 'kan?]
Alka terdiam beberapa saat kala mamanya menyinggung soal Delma. Jarinya kemudian bergerak lincah di atas keyboard.
Alka
[Iya, sama Delma]
Mama
[Ya udah, kalo gitu]
[Mama cuma mau tanya kabar kamu aja]
[Mama tunggu di rumah, ya, besok Sabtu]
[Baik-baik di sana]
[Salam buat Delma]
Alka
[Makasih, Ma]
[Mama, Papa, sama adek juga baik-baik di sana, ya]
[Love you♡]
Mama
[Love you too]
Alka menyudahi obrolan via chat bersama dengan mamanya. Ada rasa senang saat mamanya menghubungi dirinya.
“Siapa, Alk?”
Alka menoleh ke sumber suara dan tersenyum. “Mama. Dia nanya, besok Sabtu aku pulang atau enggak ke rumah.”
“Terus?”
“Aku jawab, ‘iya’.”
"Sama Delma pulangnya?"
Alka terdiam beberapa saat. Ia dengan ragu mengangguk. Gadis itu merasa waswas saat melihat raut wajah Alden yang berubah. Ekspresinya datar dan ... dingin?
Alka sadar, Alden pasti merasa terusik saat Delma ada di dekatnya. “Ald, jangan cemburu, dong. Mama kasih amanah Delma buat jagain aku selama kuliah di sini. Lagian, itu juga karena kita sahabatan udah dari kecil. Kamu tolong ngertiin, ya." Alka menatap Alden lekat. Jantungnya berdegup kencang, waswas karena Alden hanya diam. Ia takut Alden kesal padanya, juga pada Delma.
Alka menyentuh punggung tangan Alden, mengusapnya pelan dengan ibu jari. Gadis itu tersenyum tipis. “Kamu percaya sama aku, 'kan?”
Alden menoleh, membalas tatapan Alka. Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Ia lantas menurunkan pandang, menatap tangannya yang dipegang Alka. Matanya kembali bergerak ke atas, menatap Alka.
“Alk, aku ... boleh ketemu orang tua kamu, enggak?“
Napas Alka tersekat di tenggorokan saat Alden mengatakan hal tersebut. Terkejut? Sudah tentu.
“A—apa ...?”
Alden mengembuskan napas pelan. “Kita pacaran udah setahun. Sampe kapan kita bakal tutupin hubungan kita dari orang tua kamu? Denger, sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, akan lebih baik kalau aku juga kenal orang tua kamu dengan baik. Dengan begitu, aku punya tanggung jawab penuh buat jagain anak mereka, yaitu kamu.”
Alka terdiam mendengar perkataan serius Alden. Sekarang, gantian Alden yang mengusap punggung tangan Alka. “Gimana?”
“Eum ..., ya ..., enggak apa-apa, sih. Tapi, jangan deket-deket ini, ya.” Alka meneguk ludah berat. “Biar aku coba jujur dulu sama mama papa. Kamu tau sendiri, mama sama papa enggak suka aku pacaran. Enggak apa, 'kan?”
Alden tersenyum dan mengangguk pelan. “It's okay, Alk.”
BERSAMBUNG
ke
Part 5
Jangan lupa klik ♡ untuk “i hate you, i love you”
Jangan lupa komen dan juga rekomendasikan cerita ini ke teman-teman kalian, okay?
See you and thank you!
Salam Candu♡