WAKTU sudah beranjak sore. Tinggal beberapa menit lagi matahari akan benar-benar tenggelam ke peraduannya, memanggil sang malam untuk berganti tugas menaungi bumi.
Delma sedang duduk di kursi teras sambil mengerjakan tugas kuliah menggunakan laptop. Alasan ia berada di teras juga untuk menunggu kedatangan Alden. Pacar Alka itu hingga sekarang belum datang ke rumahnya. Padahal, Delma sudah menyiapkan kamar untuk laki-laki itu menginap. Mamanya juga sudah beberapa kali bertanya di manakah Alden berada, mengapa orang itu tak kunjung muncul.
Mengingat hal tersebut membuat Delma gemas. Rasanya, ia jadi tidak ikhlas menampung Alden di rumahnya. Ya ..., walaupun sejak awal ia juga keberatan untuk menerima Alden. Jika bukan karena Alka, Delma tentu akan mentah-mentah menolak, memberi beragam alasan agar Alden mencari tempat menginap yang lain saja.
Delma mengangkat wajah, mengalihkan perhatian dari layar laptop. Tatapannya tertuju pada rumah yang ada di seberang. Rumah siapa lagi jika bukan rumah Alka. Dalam hati, Delma bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya sejak kecil itu.
Laki-laki itu mendesah berat. “Betah banget, tuh, orang di rumah Alka. Lagi pacaran pasti,” duganya.
“Siapa yang lagi pacaran, Ma?”
Delma terkesiap mendapati pertanyaan tersebut. Ia segera menoleh ke sumber suara dan menemukan sesosok wanita paruh baya dengan kedua tangan memegang mug yang terlihat mengepulkan uap tipis. “Eh, Mama,” ucapnya.
Elma---mamanya Delma---sedikit menunduk, menatap sang putra. “Kamu lagi ngomongin siapa, sih?” tanyanya sambil duduk di kursi yang lain, di hadapan Delma. Ia taruh dua mug berisi cokelat panas di atas meja bundar. “Alka?”
Delma hanya mengangkat bahu, enggan memberi jawaban.
Elma tersenyum dan menunjuk mug di meja dengan gerakan dagu. “Tuh, Mama bikinin cokelat panas. Diminum, ya.”
Senyum cerah terulas di bibir merah Delma. Laki-laki itu segera meraih mug dan menghirup aroma cokelat panas yang menguar. Hah, aromanya begitu menenangkan jiwanya yang sedang agak kesal. “Makasih, ya, Ma,” ucapnya.
Elma tersenyum. “Iya, sama-sama.” Wanita itu juga mulai ikut menikmati cokelat panas. “Oh, ya. Jadi, sekarang mamanya Alka udah tau, dong, kalo Alka selama ini pacaran sama .... Siapa itu namanya? Alden?”
Selesai menyesap sedikit cokelat panas, Delma menaruh kembali mug di meja. Ia mengangguk kemudian, menanggapi pertanyaan mamanya. “Iya, namanya Alden. Tante Agatha sama Om Sandy akhirnya tau kalo Alka selama ini pacaran.”
Elma manggut-manggut. “Sebenernya, dulu mama gateeel banget pengen ngasih tau Agatha kalo anaknya pacaran. Tapi, enggak jadi, deh.”
Ya, sebenarnya, Elma sudah lama tahu tentang hubungan pacaran Alka dengan Alden yang sudah berjalan setahun secara diam-diam. Tentu, kabar itu ia ketahui dari Delma yang kebetulan sedang bertukar ceritanya dengannya. Delma menceritakan kronologinya dan meminta agar rahasia ini dijaga baik-baik. Jangan sampai ketahuan oleh orang tua Alka.
Delma tersenyum geli. “Kenapa enggak jadi?”
“Kan, diancem sama kamu.”
Tawa ringan keluar dari mulut Delma. “Ya ..., nanti kalo sampe Tante Agatha tau, terus marahin Alka, aku juga nanti yang kena marah, Ma. Nanti aku sama Alka berantem jadinya.”
“Iya. Untung aja Mama bisa tahan diri.”
Obrolan antara ibu dan anak itu pun berlanjut membahas berbagai hal. Banyak yang mereka bahas, mulai dari lingkungan tempat tinggal mereka, kuliah Delma, dan juga bertukar cerita baik dari apa yang pernah dialami Delma atau Elma. Namun, keasyikan itu harus terhenti sejenak oleh kedatangan dua orang---lawan jenis---di rumah Delma.
“Permisi, Tante,” ucap salah satunya.
Elma menoleh dan langsung tersenyum lebar. Wanita itu berdiri menyambut kedatangan dua orang tersebut. “Eh, Alka.”
Alka langsung disambut pelukan hangat oleh Elma.
“Tante apa kabar?” Alka mencoba berbasa-basi.
“Baik, dong. Kamu sendiri gimana?” tanya Elma sambil mengurai pelukan.
“Baik juga, kok, Tante. Oh, ya, kenalin. Ini Alden, Tante. Pacar Alka.” Alka merendahkan nada bicara di dua kata terakhir.
Elma tertawa pelan. “Tante tau, kok, kalo dia pacar kamu.”
Dahi Alka berkerut samar. “Tante ... tau?”
Elma terdiam beberapa saat, tersadar dengan apa yang baru saja dikatakannya. Pasti Alka merasa curiga. “Euh ..., iya, Tante tau dari Delma tadi. Gitu maksudnya.”
“Oh, kirain udah tau dari lama.”
Elma tersenyum, walau dalam hati ia meringis. ‘Hampir aja,’ batinnya.
Alden segera menyalami tangan Elma dengan ramah dan sopan. "Saya Alden, Tante.”
“Ah, iya. Saya mamanya Delma. Seneng bisa ketemu sama kamu, Alden.”
Alden hanya tersenyum menanggapinya.
“Kalo gitu, Alka pulang dulu, ya, Tante. Titip Alden. Maaf, jadi ngerepotin.”
“Lho, kamu enggak mau mampir dulu gitu? Minum cokelat panas bareng, yuk,” tawar Elma.
Alka berdeham panjang, menimbang. Tanpa sengaja, ia bertemu tatap dengan Delma yang berdiri di dekat Elma. “Eum ..., boleh, deh, Tante.”
“Nah, gitu ‘kan cakep. Rame.” Elma tertawa ringan. “Oh, ya, Delma. Alden dianter dulu ke kamarnya, ya.”
“Iya, Ma.”
“Alka tunggu di luar atau mau ikut Tante ke dapur?”
“Ikut Tante aja.”
“Ya udah. Yuk!” Elma menggamit lengan Alka. “Jangan lupa, ya, Delma.”
“Iya, Ma.” Delma menatap Alka dan Elma yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Ia beralih menatap Alden yang berdiri tak jauh darinya. “Yuk, masuk.”
Alden hanya mengangguk dan berjalan di belakang Delma.
“Kamu tidur di sini, kamar tamu,” terang Delma sembari mendorong pintu ruangan. Ia beralih menekan saklar lampu di dekat kisi pintu. Ruangan yang semula gelap kini terlihat terang, terlihat rapi dan bersih.
Alden mengedarkan pandang ke penjuru ruang. Ia manggut-manggut, lantas beralih menatap Delma. “Thanks, ya.”
Delma hanya mengangkat bahu. Ia mempersilakan Alden untuk menaruh barang bawaan, lantas menunggu dengan bahu bersandar pada kisi pintu. Laki-laki itu tak sengaja sedikit menoleh ke belakang. Perhatiannya langsung terjatuh pada sosok Alka yang sedang membantu Elma di dapur. Dari posisinya saat ini, Delma bisa melihat senyuman yang menghiasi paras sahabatnya itu. Tanpa sadar, Delma ikut tersenyum tipis.
Saking fokusnya memperhatikan Alka, ia tidak sadar jika ada tatap tajam yang mengawasi dirinya. Alden berjalan pelan mendekati Delma. Laki-laki itu berhenti dan mengikuti arah pandang sahabat pacarnya. Benar dugaannya jika Delma sedang memperhatikan Alka.
Entah mengapa, tiba-tiba saja ada yang bergejolak di dalam hati Alden. Ia merasa terusik dan tidak suka Delma memandangi pacarnya cukup lama dengan tatapan penuh perhatian seperti sekarang. Ya, Alden cemburu.
“Kamu … suka sama Alka?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Alden.
Delma terkejut dibuatnya. Ia langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan Alden yang tengah menatapnya dengan intens. Ekspresinya pun terlihat datar dan terkesan serius.
Delma berdeham, menguasai diri. “Udah selesai belum? Kalo udah, kita balik ke teras.” Delma tidak menghiraukan sama sekali pertanyaan yang dilontarkan Alden beberapa detik lalu. Ia bahkan lebih dulu mengangkat kaki, beranjak dari ruangan.
Melihat respons Delma yang tak menghiraukan dirinya, Alden tersenyum sinis. ‘Berani banget Delma,’ pikirnya dalam hati. “Sekali lagi aku ingetin, jangan sampai kamu ada perasaan lebih sama Alka.”
Peringatan tegas itu menghentikan langkah Delma. Laki-laki itu terdiam di tempat, mencerna kembali peringatan pacar sahabatnya. Ia mencoba untuk tetap sabar.
Delma perlahan menoleh ke belakang. Ia menatap Alden dengan ekspresi datar. “Mau aku ada perasaan lebih atau enggak sama Alka, itu bukan urusan kamu. Fokus aja sama urusan kamu sendiri biar Alka enggak berpaling dari kamu.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Delma tersenyum miring dan berlalu, meninggalkan Alden yang tercengang di tempat. Alden tersenyum kecut mendengar perkataan Delma.
BERSAMBUNG
ke
PART 24
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡