USAI menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, Alka, Alden, dan Delma kini sudah tiba di kawasan tempat tinggal Alka dan Delma. Butuh beberapa meter lagi hingga mereka benar-benar sampai di tempat tujuan, yaitu rumah Alka.
“Nanti, kamu nginep di rumah Delma, ya, Ald,” kata Alka sambil berjalan.
“Iya. Tadi kamu, kan, udah bilang.”
Alka tertawa kecil. “Ya ..., ngingetin aja.”
Alden tersenyum. Ia mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Alka. Rasa hangat menjalar dari telapak tangan mereka yang saling bertemu.
“Ma, enggak apa-apa, ‘kan, Alden nginep di rumah kamu?” Alka menoleh ke kiri, menatap sahabatnya dari samping.
Delma tampak santai berjalan dengan kedua telinga yang tersumpal earphone. Tatapannya lurus ke depan. Sepertinya, laki-laki itu tidak mendengar pertanyaan yang diajukan Alka baru saja.
Tak mendapat reaksi apa-apa dari sang sahabat, Alka dengan santainya menyenggol tubuh Delma menggunakan bahunya.
Delma terkejut. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh ke selokan andai saja tangannya tidak bertumpu pada tembok. Laki-laki itu menoleh cepat ke kanan dan menatap Alka dengan mata melotot. “Kamu apa-apaan, sih, Al? Ngagetin tau! Untung enggak jatuh,” kesalnya. Ia menanggalkan earphone yang semula menutup indra pendengarannya.
Bukannya merasa bersalah, Alka malah mengangkat dagu, menantang. “Lagian, kamu aku tanya diem aja. Siapa yang enggak kesel coba?”
“Ya, tapi enggak usah dorong-dorong juga kali. Kalo aku jatuh gimana, ha?”
“Ya elah, kamu jatuh juga enggak akan kenapa-napa. Orang ... selokannya juga kering.”
Mendengar penuturan Alka tersebut, membuat Delma refleks menunduk, menatap selokan. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu ternyata benar. Selokan memang kering, tidak air saa sekali di sana. Delma hanya diam, tak menanggapi apa-apa lagi.
“Eum ..., rumah kamu yang mana, Alk?” Pertanyaan Alden menginterupsi. Sengaja ia bertanya karena kurang suka Alka berinteraksi lebih banyak dengan Delma daripada dengannya.
“Oh, rumahku? Yang itu,” jawab Alka sambil menunjuk sebuah rumah. “Yang warna putih. Terus, di seberangnya itu rumah Delma. Nanti kamu nginep di sana.”
“Oh, gitu,” respons Alden sambil manggut-manggut usai mendengar penjelasan dari Alka.
Tiga anak muda itu kembali melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Alka.
“Al, aku langsung ke rumah aja, ya. Mau istirahat,” ujar Delma.
“Lho, kok, gitu? Bentar, lah. Ketemu sama mama aku dulu. Ya?”
Delma mendesah berat. Laki-laki itu terdiam beberapa saat, memandang wajah Alka yang tampak begitu memelas. Tak tega melihat ekspresi sahabatnya itu, Delma pun mengalah, entah untuk yang ke berapa kalinya.
Senyum semringah langsung terkembang di bibir Alka. Gadis itu mengajak Alden dan Delma masuk ke dalam rumah.
Tok! Tok! Tok!
“Alka pulang!” teriak Alka di depan pintu utama rumah.
Beberapa saat kemudian, gagang pintu terlihat bergerak. Pintu terbuka dan menampakkan sesosok wanita paruh baya berambut pendek. Ia menatap Alka, Alden, dan Delma secara bergantian. “Eh, udah sampe kamu, Al?”
“Udah dong, Ma,” jawab Alka. Gadis itu segera menyalami tangan Agatha. Hal tersebut kemudian diikuti oleh Alden dan juga Delma.
Ketika bersalaman dengan Alden, Agatha merasa aneh. Refleks, ia menoleh ke arah putrinya. Paham dengan ekspresi Agatha yang keheranan, Alka segera mengatakan, “Oh, ini yang namanya Alden, Ma. Dia---”
“Pacar kamu?” sela Agatha cepat.
Alka terdiam beberapa saat. Tangannya mengusap tengkuk. Dengan gugup, gadis itu pun mengangguk.
“Oh .... Ternyata, ini yang namanya Alden?” Nada bicara Agatha terdengar datar dan serius. Sama seperti mimik mukanya sekarang. Belum lagi dengan tatapan mengintimidasinya terhadap Alden.
Mendapat tatapan tersebut, Alden tiba-tiba diserang gugup. Laki-laki itu hanya mengangguk takzim sambil senyum kikuk.
“Bawa apa itu?” Agatha menunjuk kantung plastik yang ada di tangan Alden.
Alden mengikuti arah pandang Agatha dan segera tersadar. Ia menyerahkan kantung plastik berisi martabak manis pada Agatha.
Agatha menerimanya dengan dahi berkerut, curiga.
“Itu ... martabak manis, Tante. Rasa cokelat pisang.”
Mata Agatha terlihat berbinar mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alden. Namun, ia buru-buru mengubah ekspresinya menjadi datar kembali. “Makasih, ya. Kamu tau aja kesukaan Tante. Ah, Tante tau. Pasti Alka yang ngasih tau, ya?”
Alden tertawa canggung sambil mengusap tengkuk. Laki-laki itu mengangguk perlahan.
“Jadi ..., maksud kamu ngasih martabak ini ... buat apa?” Agatha memandang Alden dengan tatapan serius. Kedua tangannya terlipat di depan d**a.
Mendadak, suasana di teras berubah tegang dan serius.
Alka yang melihat sikap Agatha, merasa cemas. Ingin rasanya ia menegur mamanya agar berhenti menodong Alden dengan beragam pertanyaan.
“Mau ngerayu Tante?”
Alden kian tergugup mendengar tuduhan Agatha.
“Ma, udah, lah. Pertanyaannya serius banget. Alden, tuh, niat dari hati bawain oleh-oleh martabak manis buat Mama karena Mama suka sama makanan itu. Pengertian, 'kan, dia? Kenapa Mama masih ragu, sih? Lagian, Mama juga udah kasih restu aku pacaran sama Alden. Jadi, buat apa Alden ngerayu Mama?” Akhirnya, Alka ada keberanian untuk mengutarakan kegelisahannya terhadap sikap Agatha.
Delma sejak tadi hanya diam, tak berkomentar apa-apa, walaupun dalam hati ia merasa tak terima saat Alka mengatakan bahwa Alden yang mencari martabak manis untuk Agatha. Padahal, bukan.
“Eh, eh, eh .... Apa kamu bilang tadi? Mama secara resmi belum kasih restu kalian pacaran, ya. Kamu lupa apa yang Mama bilang waktu itu? Mama bakal kasih restu kalau Alden minta izin langsung ke Mama sama Papa. Sekalian, sama Delma.”
Alka, Alden, maupun Delma terkejut dengan kalimat terakhir Agatha.
“Kok ..., saya juga, Tante?” Delma bingung.
“Iya, Ma. Kenapa harus minta izin sama Delma juga? Apa hubungannya?” Alka juga penasaran.
Agatha mengembuskan napas berat. “Ya, kan, Delma udah sahabatan sama kamu dari lama, Alka. Dia juga udah jagain kamu lamaaa banget. Wajar, dong.”
Diam-diam, Alden merasa sedikit kecewa. Ia seperti tidak mendapat kepercayaan penuh dari Agatha untuk bisa menjaga dan menemani Alka. Ia jadi iri pada Delma.
“Mama kebanyakan syarat, deh. Tapi, enggak apa-apa. Minta izin ke Delma, mah, gampang. Alden pasti bisa.” Alka tersenyum penuh arti pada sang pacar.
Alden ikut tersenyum, walau agak terpaksa.
“Ya udah. Masuk, yuk. Lanjut ngobrolnya di dalem aja.” Agatha menatap Alden dengan senyuman ramah. “Omong-omong, makasih, ya, martabaknya.”
Alden sedikit kebingungan mendapati sikap Agatha yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Kali ini, Agatha terlihat lebih ramah dan bersikap hangat. Berbeda dengan sebelumnya yang terkesan menegangkan dan membuat nyali ciut seketika.
“Tante, saya enggak ikut, ya. Saya mau pulang dulu ke rumah,” pamit Delma.
“Oh, gitu? Enggak mau ikut makan bareng gitu kayak biasa?”
Delma menggeleng dengan senyuman. “Nanti aja, Tante. Delma juga mau siapin kamar buat Alden nginep dulu.”
“Oh, ya, ya. Kalo gitu, makasih, ya. Udah anterin Alka pulang sampe rumah dengan selamat.”
“Sama-sama, Tante. Delma pamit.” Delma menyalami tangan Agatha. “Duluan, ya.”
“Iya, hati-hati,” balas Alka.
Delma pun berjalan meninggalkan rumah Alka.
“Yuk, masuk. Keburu dingin nasinya. Ayo, Alden. Enggak usah malu atau takut gitu. Alka,” Agatha menatap Alka, “ajak pa-car-nya masuk.”
Alka tertawa geli. Ia mengangguk kemudian. Ia beralih menatap Alden yang masih terlihat tegang usai berhadapan dengan Agatha. Gadis itu kembali tertawa geli melihat ekspresi sang pacar. “Eh, kamu kenapa, Ald?”
Alden tersentak dan segera menggeleng. “E---enggak."
“Santai. Mama aku emang suka kayak gitu. Awal-awal keliatan garang, nyeremin, bikin ngeri, nakutin pokoknya. Tapi, sebenernya dia ramah dan welcome banget, kok, orangnya.”
Alden hanya mengangguk. Laki-laki itu akhirnya bisa bernapas lega.
BERSAMBUNG
ke
PART 23
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡