HAMPIR 15 menit berlalu dengan ketidakpastian. Dua insan lawan jenis dibuat resah menunggu di sebuah stasiun kereta, menunggu kedatangan seseorang yang sedang berjuang mencari sesuatu.
“Duh ..., Delma mana, sih? Lama banget!” rutuk gadis berambut panjang sebahu lebih sedikit. Gelagatnya tidak tenang sejak tadi. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, memeriksa sesuatu.
“Sabar, Alk. Bentar lagi juga sampe, kok.”
Gadis itu---Alka---menoleh. Tatapannya bertemu dengan iris gelap milik seorang laki-laki yang menjabat sebagai pacarnya. Ya, siapa lagi jika bukan Alden. “Tapi, udah mau setengah jam, lho, Ald,” kata Alka.
“Sabar.” Hanya itu yang bisa Alden katakan untuk menenangkan pacarnya. Tangan laki-laki itu terangkat ke arah kepala Alka, merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
Alka sempat tertegun mendapat perlakuan tersebut. Namun, ia membiarkan saja. Perhatian gadis itu lantas terpusat pada suara derap langkah seseorang. Lebih tepatnya suara orang yang tengah berlari. Gadis itu menoleh dan bertemu tatap dengan seorang pemuda yang berlari kecil membawa sesuatu dalam kantung plastik putih.
Akhirnya, Alka bisa bernapas lega. Orang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi muncul juga. “Kamu lama banget, sih?” sambarnya begitu si pemuda berhenti di hadapannya.
Pemuda itu terengah-engah. Tangan kanannya terangkat, isyarat agar Alka menunggu sejenak. Begitu napas sudah kembali teratur, pemuda itu menatap Alka dengan intens. “Dikira nyari martabak jam segini gampang apa?” sungut sang pemuda yang ternyata adalah Delma, sahabat Alka sejak kecil. “Martabak itu banyak dijualnya sore atau malem. Kalo jam segini jarang ada yang udah buka, Al.”
Alka menatap sewot sahabatnya. “Tapi, tuh, buktinya di tangan kamu sekarang ada martabak. Berarti, mau itu pagi, siang, sore, atau malem, bakal tetep ada yang jual martabak, Delma.”
“Heh, asal kamu tau, aku nyari martabak ini jauh banget dari stasiun. Berapa kilometer coba aku pergi tadi? Ada, tuh, 10 kilometer, muter-muter kota cuma buat beli martabak. Mana ... sampe blusukan ke kompleks perumahan segala.”
Alden yang menyaksikan perdebatan antara Alka dan Delma memutuskan untuk berdeham cukup keras, melerai perdebatan keduanya. Lama-lama, ia kesal sendiri menyaksikan perdebatan yang entah kapan usainya. “Udah, udah. Yang penting martabaknya udah dapet. Kamu harusnya terima kasih sama Delma karena dia udah jauh-jauh nyariin martabak buat mama kamu nanti, Alk.”
Alka mengerucutkan bibir kesal. Gadis itu dengan kasar menyambar kantung plastik berisi martabak manis dari tangan Delma. Makanan tersebut adalah makanan kesukaan mamanya, Agatha. Rencananya, Alden yang akan memberikannya pada Agatha langsung, sebagai oleh-oleh dan ... meyakinkan orang tua Alka. Ya, Alden hari ini akan berkunjung ke rumah Alka, memenuhi panggilan Agatha.
“Ya udah. Makasih, ya, Ma,” kata Alka sambil menatap Delma dengan datar.
Delma tidak menanggapi apa-apa. Laki-laki itu hanya diam dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Jujur, ia lelah. Jika bukan Alka yang memintanya, tentu saja Delma tidak akan mau jauh-jauh menjelajah mencari penjaja martabak di siang bolong seperti sekarang. Seharusnya, yang mati-matian mencari martabak ini adalah Alden, bukan dirinya. Lagipula, yang ingin bertemu Agatha, kan, Alden. Hah, serasa tidak ada perjuangannya pacarnya Alka itu. Delma jadi ragu dengan keseriusan Alden pada Alka.
“Kamu yang bawa, ya, Ald,” kata Alka seraya menyerahkan kantung plastik berisi martabak pada Alden. “Nanti kalo mama tanya, kamu bilang aja kalo kamu yang beli martabak itu sendiri.”
Mendengar hal tersebut, Delma melebarkan mata. Ia agak tidak terima dengan perkataan sahabatnya. Padahal, yang berjuang mati-matian adalah dia, bukan Alden. Sungguh, Delma tak habis pikir dengan sahabatnya yang sangat mencintai Alden itu.
“Tapi, apa ... mama kamu enggak curiga?”
Alka menggeleng. “Enggak, lah. Mama pasti percaya, kok. Dengan begitu, mama jadi yakin dan nyalain lampu ijo buat kita,” ujar Alka diakhiri senyuman.
Senyum itu menular pada Alden, tetapi tidak untuk Delma. Laki-laki itu memutar bola mata malas. Ia merasa tersinggung dan perjuangannya serasa tidak dihargai oleh Alka maupun Alden. Ia seperti sedang dimanfaatkan saja.
Ketiga remaja itu lantas memutuskan untuk segera masuk ke dalam kereta. Mereka menempati kursi penumpang yang muat untuk tiga orang.
Alka duduk di dekat jendela, Alden di tengah---sebelah kiri Alka, sedangkan Delma duduk paling pinggir, dekat celah antar dua lajur tempat duduk.
Tak berapa lama kemudian, kereta mulai melaju, meninggalkan stasiun. Selama perjalanan, Delma hanya diam sambil mendengarkan musik. Beda halnya dengan pasangan yang ada di sebelahnya. Mereka---Alka dan Alden---terlihat asyik sendiri. Berbincang, bercanda, saling menjahili, dan kegiatan lain yang hanya mereka lakukan berdua. Mereka lupa jika ada seseorang yang lain di dekat mereka.
Namun begitu, Delma tidak ada niat menyuruh Alka atau Alden untuk diam. Biarlah pasangan itu bahagia, meskipun ia sendiri tidak bahagia. Jujur, ia merasa tidak nyaman berada di dekat Alka dan Alden yang tengah asyik berpacaran. Kehadirannya mungkin tidak diharapkan atau lebih parahnya malah menjadi seorang “pengganggu”. Kalau kata orang zaman sekarang, ia ibarat seperti obat nyamuk.
Delma mengembuskan napas berat. Ia memilih memejamkan mata sambil mendengarkan musik dari headphone yang menutup kedua indera pendengarannya. Sedikit ia keraskan volume audionya agar terhindar dari pasangan di sebelahnya yang masih berisik. Namun, usahanya itu tak membuahkan hasil yang cukup baik. Ia masih bisa mendengarkan perbincangan Alka dan Alden, walaupun samar.
“Alk, kamu tau, 'kan, aku sayang sama kamu?”
Samar, terdengar kekehan ringan. Tebakan Delma, itu adalah Alka. “Tau lah. Kalo kamu enggak sayang sama aku, kamu enggak akan duduk di sebelah aku kayak sekarang, Ald.”
“Berarti?”
“Berarti apa?”
“Kamu sayang aku juga?”
Tawa ringan itu kembali terdengar, membekas di ingatan Delma. Laki-laki itu masih memejamkan mata sambil mendengarkan musik sekaligus perbincangan Alka dan Alden secara diam-diam. Katakanlah, ia adalah seorang penguping sekarang.
“Enggak usah aku jawab kamu pasti tau jawabannya, Ald.”
Dalam hati, Delma tersenyum kecut. Sahabatnya itu memang benar-benar dimabuk cinta oleh Alden. Istilah zaman sekarang, “bucin” alias “b***k cinta”.
‘.... Kalo kamu enggak sayang sama aku, kamu enggak akan duduk di sebelah aku kayak sekarang, Ald.’
Perkataan Alka tadi, kembali terngiang di kepala Delma. Lagi, laki-laki itu tersenyum kecut.
‘Di sebelah Alden ada aku, Al. Otomatis aku juga ada di sebelah kamu, 'kan? Apa ... perkataan itu enggak berlaku buat aku?
‘Aku selalu ada di deket kamu, berarti aku sayang sama kamu. Apa ... kamu juga ngerasain hal yang sama, Al?’
Sayangnya, Delma hanya mampu mengeluhkan hal tersebut dalam hati. Andai ia bisa mengatakannya secara langsung pada Alka pun, pasti gadis itu akan menganggapnya sedang bercanda saja. Ya ..., semua orang juga tahu kalau ia dan Alka hanya sahabat, tidak lebih.
BERSAMBUNG
ke
PART 22
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡