Part 20 - Terima Kasih Karena Masih Perhatian

1507 Words
KURANG lebih 15 menit sejak keluar dari kedai es krim, Alka akhirnya tiba di indekos tempat ia tinggal. Tentu, bersama dengan pacarnya, Alden. Gadis itu baru saja akan melepas helm yang membungkus kepala, tetapi Alden sudah mendahuluinya. Mendapat perlakuan tersebut, Alka tersenyum samar. “Jadi, apa yang mau kamu omongin, Alk? Kamu bilang mau ngomong kalo kita udah sampe di sini, di kos, ‘kan?” Alden bertanya sembari melepas pengait helm Alka. Begitu pengait terlepas, ia menarik ke atas helm tersebut, melepasnya dari kepala sang pacar. Alka langsung menggeleng-geleng, membenarkan tatanan rambut. Ia lantas menatap Alden dan tersenyum jahil. “Kamu penasaran banget, ya?” godanya. Alden tersenyum miring. “Menurut kamu?” Mendengar balasan Alden, senyum Alka langsung memudar. “Aku nanya kenapa kamu malah balik nanya?” Alden tertawa kecil. Ia menatap Alka dengan lekat. “Iya, iya. Aku penasaran. Ba-nget.” Kedua sudut bibir Alka tertarik ke atas, membentuk senyuman lebar. Gadis itu berdeham panjang kemudian, seolah sedang berpikir. “Kamu ... inget waktu kemarin kamu video call aku?” Alden terdiam beberapa saat dengan dahi berkerut samar. Tak lama kemudian, laki-laki itu mengangguk beberapa kali. “Iya, aku inget. Aku video call kamu, tapi kamu enggak angkat. Kata kamu, kamu lagi makan siang, ‘kan, waktu itu? Kenapa emangnya?” Alka spontan tersenyum mendengar penuturan pacarnya. Ternyata, Alden memiliki ingatan yang baik, bahkan terhadap hal-hal kecil. “Sebenernya, ada alasan lain kenapa kemarin aku enggak angkat video call kamu.” Kedua alis Alden terangkat begitu mendengar pernyataan Alka. “Emang ada apa?” “Waktu kamu video call, aku kepergok sama mama.” “Kepergok?” Alden terkejut mendengar hal tersebut. “Terus, gimana? Mama kamu tau kalo aku yang video call kamu?” Alka mengangguk pelan. Alden refleks menyugar rambut ke belakang. Gelagatnya seperti orang resah, tak tenang. “Mama kamu marah?” Melihat ekspresi Alden, Alka spontan tertawa geli. “Ald, tenang. Kok, jadi kamu yang panik gini, sih?” “Ya, kan, kamu pernah bilang kalo mama kamu enggak suka kamu pacaran. Makanya, aku agak panik. Emang kamu enggak panik kalo ketauan?” Alka kembali tertawa geli. Gadis itu menggeleng kemudian. “Kalo untuk sekarang, aku udah enggak panik lagi seandainya mama atau papa tau hubungan kita berdua yang sebenernya.” Mendengar perkataan Alka membuat dahi Alden berkerut. “Maksud kamu apa ngomong gitu?” Alka tersenyum penuh arti. Gadis itu tiba-tiba mencondongkan badan ke arah Alden. Ia menyejajarkan bibir dengan telinga laki-laki itu. Ia tersenyum dan berkata, “Mama minta kamu minggu depan dateng ke rumah aku.” Setelah mengungkapkan hal tersebut, Alka menarik diri ke belakang. Ia menatap ekspresi Alden yang seperti orang cengo. Langsung saja ia tertawa. Alden mengerjap beberapa kali. Ia berusaha mencerna kembali apa yang baru saja diungkapkan oleh pacarnya. “K-kamu ... serius, Alk?” Alka tersenyum dan mengangguk. “Serius, lah. Eum ..., awalnya aku juga enggak percaya kalo mamaku bakal bilang kayak gitu. Jadi ceritanya, begitu mama mergokin kamu yang video call aku, dia nanya-nanya, ‘Siapa, sih, Alden? Apa hubungan kamu sama dia?’. Nah, aku langsung ngaku aja kalo ...,” Alka menatap Alden, “kamu pacar aku.” Alden melebarkan mata mendengar perkataan Alka. Jujur, ia masih tidak percaya kalau ternyata hubungannya dengan Alka sudah diketahui oleh mamanya Alka. Ia merasa deg-degan. Segala pikiran tentang impresi calon mertua langsung menjajah otaknya. Ia mulai memikirkan yang tidak-tidak, misalnya apakah mamanya Alka akan senang dengan dirinya atau justru malah akan “ilfeel” alias “ilang feeling”. “Mama agak marah, sih, waktu tau kalo aku ternyata udah punya pacar. Dia nasihatin aku dan ... sempet marahin Delma juga. Soalnya, Delma, kan, juga udah tau hubungan kita yang sebenernya. Tapi, akunya yang minta dia buat enggak ember ke mama papa.” Alka kembali merasa bersalah karena Delma juga sempat terkena amarah mamanya kemarin. “Mama bilang, kalo aku sama kamu beneran saling suka, kamu harus dateng ke rumah aku, temuin mama sama papa dan minta izin langsung ke mereka. Gitu. Kamu ... bisa, ‘kan?” Alden terdiam beberapa saat. Laki-laki itu berdeham panjang, seolah sedang berpikir keras. “Bisa enggak, ya?” Alka mengerucutkan bibir dan mendorong pelan bahu Alden. “Bisa, lah, ya? Kamu serius, ‘kan, sama aku?” Alden tertawa kecil melihat reaksi Alka. Ia tanpa permisi mengambil tangan Alka yang mendorong bahunya tadi, lalu berubah menjadi menggenggamnya. Ia tersenyum sambil menatap lekat Alka. “Pasti, lah, aku bisa. Buat kamu dan juga calon mertua, apa, sih, yang enggak?” Alka tersenyum malu mendengar perkataan Alden. “Apaan coba, calon mertua segala.” “Emang kamu enggak pengin hubungan kita maju ke tahap yang lebih serius?” "Eum ..., mau enggak, ya?” goda Alka. Langsung saja, ia mendapat cubitan gemas di bagian pipi dari Alden. “Ah, sakit, Ald!” Alden hanya tertawa geli. Alka mengusap-usap pipi yang baru saja dicubit oleh Alden. “Pokoknya gitu, deh. Minggu depan, kamu ikut aku sama Delma pulang ke rumah. Eum ..., kamu bisa nginep di rumah Delma. Nanti biar aku yang bilang ke dia. Okay?” “Kenapa enggak di rumah kamu aja?” “Boleh, sih, tapi ...,” Alka mengerling jahil pada Alden, “kamu tidurnya di luar. Haha.” “Kedinginan, dong, entar aku.” “Bawa selimut, lah.” “Repot. Diangetin sama kamu aja, gimana?” Sontak saja Alka membulatkan kedua mata. Ia merasa pertanyaan Alden begitu ambigu. Langsung saja, ia menepuk bahu Alden. “Jangan macem-macem, deh, Ald!” Alden tertawa ringan. “Maksud aku, diangetin pake cinta kamu. Kamu mikirnya jangan kejauhan. Oh, aku tau ....” Alden menatap lekat Alka. “Apa?” “Kamu udah ngebet pengen serius sama aku, ya?” Alka membulatkan kedua mata.“Ih, enggak!” sanggahnya tegas. “Enggak usah kepedean, deh!” Alden kembali tertawa. Tak lama kemudian, tawanya mulai mereda. Laki-laki itu menatap Alka dengan lekat. “Aku juga ... sebenernya udah enggak sabar pengin melangkah ke jenjang yang lebih serius sama kamu, Ald. Beneran.” Alka termangu usai mendengar perkataan Alden. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa gugup. Refleks, ia mengusap tengkuk. Ia bingung harus menanggapi apa. Alden tersenyum dan tanpa permisi mendaratkan telapak tangan di puncak kepala Alka. Ia mengusap bagian tersebut penuh kelembutan. Alka hanya diam di tempat mendapat perlakuan tersebut. “Semoga hubungan kita terus baik-baik aja ke depannya sampai harapan kita tercapai, ya.” Alka terdiam beberapa saat mendengar harapan Alden. Dalam hati, ia mengamini harapan tersebut. “Semoga, ya.” Alden tersenyum dan menjauhkan tangannya dari puncak kepala Alka. “Ya udah, aku pulang duluan. Es krimnya temen aku keburu cair entar.” Alka ikut tersenyum. Ia mengangguk kemudian. “Hati-hati, ya.” Alden mengangguk. “Ah, iya. Salam buat mama kamu, tungguin calon menantunya dateng ke rumah.” Alka tertawa geli mendengar perkataan Alden. “Iya, nanti aku salamin.” Alden melambaikan tangan pada Alka dan segera melajukan sepeda motor, meninggalkan kawasan indekos Alka. Alka mengembuskan napas panjang. Ia merasa begitu lega. Ia merasa hubungannya dengan Alden akan benar-benar direstui oleh mama dan papanya. Ya ..., semoga saja. Baru saja Alka hendak melangkah masuk ke indekos, langkahnya terhenti saat melihat sahabatnya berjalan membawa kantung plastik berwarna hitam di tangan. Entah apa isinya. “Delma!" panggilnya dengan lantang. Delma menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara. Ia menemukan Alka yang kini tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Udah pulang kamu?” Alka berdecak pelan begitu berdiri di hadapan Delma. “Retoris banget pertanyaan kamu.” “Namanya juga basa-basi. Alden mana?” Delma celingak celinguk. “Udah balik. Kamu dari mana, sih?” “Basa-basi, nih?” “Ck! Udah jawab aja!" “Habis beli sabun buat nyuci.” Alka manggut-manggut. “Oh, ya. Nih,” katanya sambil menyodorkan kantung plastik putih pada Delma. “Apa, nih?” “Es krim. Tadi, aku sama Alden mampir ke kedai es krim. Aku inget kamu, jadi aku sekalian beliin buat kamu.” Delma tersenyum. Ia merasa tersentuh karena Alka masih ingat padanya, walaupun gadis itu sedang menghabiskan waktu untuk berpacaran dengan Alden. “Makasih, ya.” Alka mengangguk dan membalikkan badan, hendak masuk ke indekosnya. “Al!” Alka menoleh ke belakang dengan kedua alis terangkat. “Apa?” Delma tersenyum penuh arti. “Makasih karena masih inget sama aku.” Alka hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Ia segera melanjutkan niat masuk ke indekos. Delma menatap isi kantung plastik pemberian Alka. Ia membuka penutup es krim. Alangkah tertegunnya saat melihat isi wadah es krim tersebut. Ia mengangkat wajah dan menatap Alka yang berjalan menjauh darinya. “Al! Es krimnya, kok, cair?” “Bekuin lagi aja pake kulkas!” jawab Alka santai sambil berteriak. “Mana ada kulkas!” “Bekuin aja pake kedinginan kamu! Kamu orangnya, kan, dingin, Ma! Katanya, kamu mau jadi Olaf.” Delma termangu di tempat usai mendengar kalimat tersebut. Olaf? BERSAMBUNG ke PART 21 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD