ALDEN memasuki sebuah kafe dengan pakaian yang basah, sisa kehujanan tadi. Laki-laki itu menggenggam ponsel di tangan kanan. Jujur, ia masih terguncang dengan apa yang baru saja ia lakukan terhadap seseorang yang disuka, disayang, dan dicintainya. Hatinya dipenuhi oleh sesak dan rasa bersalah. Pikirannya pun berkecamuk. Kekhawatiran menghantui pikirannya. "Alden!" Alden tersentak. Ia berhenti melangkah sejenak untuk mencari dari mana suara itu berasal. Laki-laki itu mengedarkan pandang, lalu berhenti pada dua orang laki-laki yang menempati meja kafe bagian paling pojok. Salah satu dari laki-laki itu familier di matanya. Segera, Alden melangkah ke sana. "Wih, apa kabar?" Alden hanya diam dengan ruat muka serius. Ia tidak menanggapi pertanyaan tersebut, meskipun yang bertanya adalah tema

