*** Tangan Keano menarikku menuju kumpulan sepeda warna-warni yang berbaris rapi di depan gedung. Ternyata dokter Keano yang ini tidaklah kaku-kaku amat karena dia juga pandai caranya bersenang-senang. Setelah membayar kepada Bapak-bapak yang menjaga, Keano mengambil satu seperda berwarna biru. Lalu menoleh ke arahku, mengisyaratkan agar aku ikut naik di belakangnya. Kemudian dia mulai mengayuhnya pelan. Aku yang duduk menyamping melingkarkan sebelah tanganku ke pinggangnya. Sekarang aku benar-benar merasa seperti gadis remaja yang baru pertama kali mengenal cinta. Wajah berseri-seri dan pipi memerah membuktikan itu. "Aku nggak nyangka rasanya akan semenyenangkan ini." Suara Keano mewakili isi pikiranku. Aku tersenyum, lalu melingkarkan tanganku yang satunya lagi sehingga pipiku b

