Pagi bersama Steve terasa menyenangkan. Alih-alih instrumen musik lembut yang menemani sarapan kami seperti biasanya kalau ada Drey, Steve memilih lagu Pharrell Williams, Happy. Dia bilang lagu bahagia bisa bikin mood naik. Selama makan, dia sambil bersenandung dan menggerak-gerakkan kepalanya. Menurutku dia sedang berusaha membuat mood-nya sendiri naik. Siapa yang tahu, kan? Orang dewasa suka menyimpan rahasia dari anak-anak, tapi marah kalau anak menyimpan rahasia dari mereka. Lucu.
Aku hanya berpandangan dengan Archie dan menyelesaikan makan muesli[1] kami dalam diam. Steve baru tertawa lebar sampai wajahnya merah saat Alice, anaknya yang sekolah di London menelepon lewat video call. Steve meletakkan HP di meja makan biar Alice melihat kami semua. Cewek itu cantik walau kurus sekali. Saking kurusnya, tangannya terlihat seperti tengkoran. Wajahnya persegi warna putih pucat dengan freckles di hidung dan pipi. Dia sedang mengepak barang-barang untuk bersiap berlibur akhir tahun bersama Steve di Korea Selatan. Dia termasuk cewek yang tergila-gila pada Kpop.
Setelah Alice, Steve mendapat telepon dari Marly, teman Glacie yang tinggal di Jakarta. Sejak pesta pernikahan Glacie, Marly jadi dekat dengan Steve. Kata Archie mereka pacaran karena waktu pulang dari pesta, Steve mengantar Marly ke hotel. Menurutku, Steve terlalu bucin pada Emma, istrinya yang koma di Los Angeles Hospital sejak melahirkan Alice lima belas tahun lalu. Lagian, Marly itu pakai hijab seperti Karin. Nggak mungkin pacaran dengan cowok yang musuhan sama Tuhan, kan?
Paling nggak itu yang kubilang sama Archie saat kami berjalan ke rumah Erickson. Tapi, anak itu menjawab, “Kamu nggak tahu apa yang bisa dilakukan cinta, Claire. Kamu nggak percaya cinta, sih.”
“Nak, umurmu masih jauh dibandingkan umurku,” kataku mengikuti gaya Drey. “Aku yakin cinta juga nggak bakal bisa bikin tubuhmu jadi cepat besar.”
Archie menggeram marah. Dia menatapku dengan bibir mengerucut. “Lihat saja nanti!”
“Terus, kamu bakal sunat?”
Dia diam, matanya seperti mau nangis. “Kenapa kamu ingatkan aku sama aib itu?”
“Karena itu takdirmu, Syailendra.”
Dia menarik napas dalam-dalam. “Caleb nggak sunat.”
Sialan! “Jangan ngomong sembarangan.”
“Aku mau tanya ke Caleb. Kalau dia nggak sunat, aku bakal bilang ke Dad kalau aku nggak perlu sunat.” Dia berlari beberapa langkah, lalu menoleh padaku lagi. “KAMU BAKAL DINIKAHI COWOK YANG NGGAK SUNAT.”
Aku cuma bisa melotot. Dia berteriak tepat saat Caleb keluar rumah. Untung Caleb nggak ngerti bahasa Indonesia. Cowok itu melihat kami dengan bingung, apalagi waktu Archie lari ke arahnya. Aku hampir nggak bisa bergerak. Lalu, kuyakinkan pada diri sendiri kalau sebaiknya bersikap seolah apa yang diomongkan Archie itu nggak ada hubungannya dengan dia.
Archie sampai lebih dulu. Dia menyapa Caleb seolah mereka anak seumuran. Aku mengatur napas seperti yang diajarkan Heath saat merasa detak jantungku nggak keruan.
“Kalian berkelahi?” tanya Caleb dengan tatapan jail. Aku berusaha tertawa biar terlihat biasa. Sayangnya, aku makin merasa nggak beres. Kuharap anak kecil ini nggak bertanya tentang sunat di depanku. Apa dia nggak ngerti kalau masalah kelamin itu nggak boleh dibicarakan sembarangan?
“Aku … mau … ketemu Seraphine,” kataku sambil membuka pintu.
Caleb menelengkan kepala sambil memakai jaket kotor yang dari tadi ada di kursi teras, lalu mengangkat kotak perkakas berwarna hitam. “Dia di kamarnya, masih nggak mau turun untuk makan apa pun, termasuk kue pemberian ibumu. Masuk saja, siapa tahu kamu bisa membantunya.”
Tanpa mengatakan apa-apa, aku setengah berlari ke dalam rumah itu. Aku naik tangga dan membuka kamar paling pinggir, yang jendelanya menghadap ke halaman saat aku melihatnya tadi. Cewek itu duduk di tempat tidur, menyisiri bonekanya. Waktu kudekati, di wajah boneka itu ada noda merah yang hampir pudar.
“Hai, Cher!”
Dia mendongak sebentar, terus menunduk pada bonekanya lagi seolah nggak mengharapkanku. Kalau nggak tahu dia lagi dalam masalah, mungkin aku bakal marah dicuekin begini.
Ruangan ini masih bau cat. Beberapa perabotan kayu warna merah muda dan biru muda ditata rapi. Dari situ asal bau cat ini. Ada papan besar warna putih tempat dia menempel hasil gambar dan foto-foto. Ada fotonya dan Caleb tertawa bahagia yang kelihatannya diambil waktu mereka masih lebih kecil. Foto Uncle Fred hanya dua lembar. Lalu, ada beberapa foto yang bagian pinggir atau tengahnya disobek. Kupikir itu foto keluarga. Seseorang merobek bagian wajah orangtua Seraphine dan Caleb.
Aku berpaling melihat anak itu yang sekarang berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit. Aku ikut mendongak, siapa tahu memang ada yang bagus di langit-langit. Ternyata hanya ada warna biru muda. Daripada bertanya, aku ikut berbaring di sampingnya. Kata Mom, kalau ada teman yang dalam masalah besar, sebaiknya jangan ngomong apa-apa sampai dia sendiri yang cerita. Waktu Mom bilang begini, aku cuma mengangguk saja. Kupikir mudah, ternyata sulit. Aku pengin banget tanya apa yang dipikirkannya, kenapa dia bisa diam begitu dalam waktu lama. Aku saja sudah sangat bosan.
“Aku di sana,” kata Seraphine tiba-tiba. “Aku di sana waktu ayahku menendang wajah ibuku. Aku nggak bisa apa-apa karena aku kecil.” Suaranya tenang. Kalau aku, mungkin bakal menceritakan itu sambil menangis sesenggukan.
“Kamu takut?” tanyaku benar-benar pengin tahu.
“Aku marah.”
“Pada siapa?”
“Diriku sendiri.” Air matanya jatuh dari ujung mata, tapi dia nggak berekspresi sama sekali. “Ayahku menendang Caleb dan memukulinya. Semua orang kesakitan kecuali aku.”
“Kamu di mana?”
“Caleb suruh aku sembunyi di kursi belakang.” Terus, dia diam. Matanya nyaris nggak berkedip. Kucoba menggenggam tangannya. Dingin dan basah. Tangannya seperti baru dimasukkan kulkas.
Aku bingung harus ngomong apa. Setelah mempertimbangkan banyak kalimat yang pantas, aku memutuskan untuk berkata, “Kamu mau peluk aku?”
Dia berpaling. Matanya merah. Lalu, dia menabrakku. Dia menangis di pelukanku. Suaranya teredam jaket yang nggak kulepas. Tangannya mencengkeram bagian belakang jaketku seperti orang yang gemas. Kupegangi kepalanya. Nggak tahu kenapa, aku juga ikut menangis. Rasanya, aku merasakan yang dirasakannya. Dia kehilangan ibu yang disayanginya tepat di depan matanya. Aku tahu betapa ketakutannya dia.
Aku nggak setegar yang dipikirkan orang atau yang kalian pikir. Aku juga sering merasa takut. Aku bukan anak kandung di sini. Bagaimana kalau suatu hari aku bikin kesalahan? Bagaimana kalau mereka nggak sayang lagi sama aku? Bagaimana kalau mereka punya anak lain yang lebih baik daripada aku? Archie mungkin bakal main sama adiknya. Mom mungkin bakal repot sama anak barunya. Drey tentu saja akan menyayangi anaknya sendiri. Lalu, aku bakal sendirian di rumah besar itu. Mereka akan menganggap aku sudah cukup tua untuk mendapat pelukan dan ciuman lagi. Aku bakal dilupakan.
Tiba-tiba, aku melihat Dad yang tersenyum di depan pintu kamar Seraphine. Dad menarik bibir ke bawah dan menarik garis di bawah matanya, mengejekku yang menangis. Buru-buru kuhapus air mataku dan tersenyum padanya. Dad duduk di pinggir tempat tidur, di dekat Seraphine yang tidur. Seperti mengerti apa yang kupikirkan. Dad berkata, “Mereka tidak akan melupakanmu kalau kamu menjadi anak yang berguna, Claire. Jadilah anak yang suka menolong dan menyayangi mereka.”
“Mana bisa kau jadi anak sebaik itu, Dad.”
Dad tersenyum. “Kamu punya nama tengah Irene, gadis yang kucintai, gadis yang mengorbankan nyawa demi melahirkanmu. Aku yakin kamu memiliki kebaikan hatinya, Sayang.” Dad membelai rambutku, lalu melihat jam tangannya. “Aku harus pergi.”
“Dad datang untukku? Dad bakal datang lagi?”
Tapi, ayahku nggak berpaling. Dad tetap berjalan ke arah pintu, lalu hilang di kegelapan. Saat aku ingin menjerit memanggilnya, aku malah terbangun dari tidur.
Aku ada di kamar Seraphine yang biru dan pink. Anak itu tidur di sebelahku. Di luar kamar, ada suara laki-laki yang berbicara. Kupikir itu Dad, jadi aku buru-buru ke luar, ternyata Steve dan Uncle Fred. Mereka terkejut sebentar sebelum sama-sama tersenyum.
“Aku mencarimu, Claire,” kata Steve. “Kami senang menemukan kalian tidur di situ.”
“Aku kan baru tidur sebentar,” jawabku sambil menguap.
“Sebentar? Ini sudah pukul dua siang,” kata Uncle Fred dengan suara tertahan, mungkin takut membangunkan Seraphine. “Tapi, aku berterima kasih padamu. Anak itu sudah berhari-hari tidak bisa tidur. Aku khawatir kalau terus memberinya obat penenang hanya untuk tidur.”
“Dia menangisi ibunya,” kataku pelan.
Uncle Fred menghela napas panjang. “Aku berusaha membuang boneka yang dibawanya itu. Warna merah di boneka itu dari darah ibunya. Tapi, dia sama sekali tidak mau berpisah dengan boneka sialan itu. Eh, maaf, Claire.”
Aku mengangkat bahu. Sejak Sophia pindah ke Stoneberg, orang-orang dewasa di rumahku rajin mengumpat, kok.
Uncle Fred berjongkok di depanku dan memegangi tanganku. “Apa aku bisa minta tolong padamu untuk berbicara dengan Seraphine lagi lain kali? Aku ingin meyakinkannya untuk mendapat terapi. Aku khawatir dengan masa depannya.”
Aku mengangguk. Tanpa diminta, aku memang ingin membantunya. Walau menyebalkan, aku lebih suka dia seperti dulu.
Aku dan Archie pulang bersama Steve setengah jam kemudian. Kami melihat-lihat ruangan yang sedang dikerjakan Uncle Fred dan Caleb dulu. Mereka menjebol dua ruang lebih kecil untuk membuat ruang keluarga yang luas. Uncle Fred bilang siapa tahu Caleb atau Seraphine nanti membuat pesta dengan teman-temannya. Archie tersenyum mengejek ke arahku yang nggak kuketahui apa alasannya.
“Aku senang kalian menemukan teman yang baik di rumah sebelah,” komentar Steve saat kami berjalan ke arah rumah. “Anak-anak yang tumbuh tanpa teman itu mengkhawatirkan.”
“Kamu juga punya teman?” tanya Archie. Dia hampir berlari untuk menyamai langkah Steve yang panjang-panjang.
“Aku tumbuh di lingkungan suburban, Nak. Aku punya banyak teman yang menungguku bersepeda setiap pulang sekolah. Kami bermain di lapangan terbuka, memamerkan mainan atau barang baru yang kami punya. Saat aku sekecil kalian, dunia sedang gencar membuat berbagai macam alat elektronik. Kami saling menyombong dan mengejek satu sama lain. Aku sampai membawa mesin toaster ibuku agar punya sesuatu untuk disombongkan.” Dia tertawa. “Interaksi seperti itu yang membuat anak-anak ber—”
Sebuah mobil melewati kami, menuju halaman depan. Steve mengerutkan kening, tapi Archie lebih cepat. Anak itu berlari menyusul mobil yang sekarang berhenti tepat di depan pintu rumah.
Adam menggendong Ryn. Dari ekspresinya, aku yakin Ryn bukan tidur. Ryn lemas di gendongan Adam. Karin pucat mengejar Adam di belakangnya. Langkah mereka buru-buru, seolah ada hal yang genting. Aku mengikuti Archie yang terus mengejar mereka.
“Kamarku saja,” kataku cepat sambil berlari mendahului Adam ke kamarku. Ryn lebih suka tidur bareng kalau di tempat baru. Walau kelihatannya ceria dan nggak takut apa-apa, Ryn punya masalah susah tidur di tempat asing. Biasanya malam pertama dia bakal mengajakku begadang.
Adam meletakkan Ryn dengan hati-hati di tempat tidur, lalu menyelimutinya.
“Dia akan sangat kehausan begitu bangun.” Adam menjelaskan dengan suara pelan.
“Kenapa dia?” tanyaku.
“Dia diberi obat penenang karena mengamuk di pesawat. Kurasa dia akan bangun sebentar lagi. Di mobil dia sudah bergerak.” Adam melihat pada Karin yang baru masuk dengan napas terengah. “Karin, bisa kita bicara di luar?”
Kami berkumpul di ruang keluarga lantai dua. Steve maish berbicara di telepon dan Archie menatapku ingin tahu. Karin duduk di sofa paling pinggir dna mengatur napas. Dari wajah dan kerudungnya yang berantakan, kelihatannya dia nggak sempat dandan seperti biasanya. Kantung matanya besar dan hitam, seperti sudah banyak menangis.