SAD GIRLS 2

1241 Words
“Bagaimana kabar Rosie?” tanya Karin setelah minum air putih yang diberikan Juanita. Beberapa pekerja perempuan juga terengah-engah datang untuk menyambut Karin. Adam membisikkan sesuatu pada mereka, mungkin tentang makan malam nanti. “Rosie sudah selesai dengan kraniotominya,” jelas Steve setelah tersenyum sopan untuk berterima kasih pada Juanita yang menuangkan air putih di gelasnya juga. “Tolong sediakan air putih di kamar Claire untuk Ryn. Letakkan agak jauh agar tidak dijangkau tangannya jika dia bangun nanti.” “Apa itu kraniotomi?” tanya Archie. “Mereka membuka tempurung kepala Rosie dan mengeluarkan darah agar tidak merusak otaknya. Itu prosedur biasa. Mereka akan menyimpan tempurung kepala Rosie di bagian tubuh yang lebih aman selama masa penyembuhan. Mereka akan mengembalikan tempurung kepala itu kembali saat otak Rosie sudah sehat,” jelas Steve setelah mengeluarkan napas panjang dan menyandarkan punggung di sofa. Karin menutup mulutnya dan menangis. “Kok bisa barengan gini, ya?” lirihnya dalam bahasa Indonesia. “Apa yang terjadi pada Ryn?” tanya Steve lagi saat Adam kembali. “Aku tidak tahu, Steve,” kata Karin dengan ekspresi sedih. Dia menghapus air mata dengan ujung kerudungnya. “Sabtu kemarin dia masih sehat. Dia pergi pagi-pagi ke sekolah untuk ikut study tour ke musium. Tundra sendiri yang mengantarnya ke sekolah. Dia mau menyerahkan beberapa tugas dan mengembalikan anak ayam percobaan di kelasnya. Siang hampir sore dia pulang sendiri dalam keadaan bingung. Dia tidak mau bicara atau melihat orang. Dia berjalan ke kamarnya dan meringkuk di selimut. Begitu terus sampai malam. Mulanya kami pikir dia hanya kelelahan. Kami biarkan saja dia sampai pagi. Ternyata, waktu kubangunkan, dia mengamuk. Dia menolak disentuh siapa pun, bahkan Tundra. Dia tantrum hebat.” Karin berhenti menjelaskan. Dia terus menangis sampai bahunya berguncang. Ini bukan pemandangan yang biasa. Karin itu ibu yang periang. Kemampuannya mengomel bisa membuat rumah ini langsung ramai. Ryn juga bukan anak yang gampang ngambek. Kalau sampai begitu, pasti ada kejadian yang sangat buruk. Steve dan Adam berpandangan. Dari tatapan mereka, kurasa mereka tahu sesuatu. Apalagi setelah itu Adam menggeleng dan menunduk. Kakinya bergerak-gerak seperti Drey yang lagi nggak sabar menunggu sesuatu. Karin membersit ingus dengan tisu yang disodorkan Steve kepadanya. Setelah bisa menguasai diri lagi, di amelanjutkan, “Setiap membuka mulut dia menyebut nama Dave. Dia bilang, 'Om Dave, tolong aku. Bawa aku.' Kami jadi ketakutan. Waktu malam, kami sempat dengar dia membisikkan nama Claire.” Karin menatapku, lalu bicara dalam bahasa Indonesia, “Dia pengin ketemu denganmu. Berkali-kali dia benturkan kepalanya ke dinding sambil menyebut namamu. Tolong bantu dia, Claire.” Aku turun dari kursi dan memeluknya. Karin gemetar. Dia memang kurus karena selalu menjaga pola makan, tapi kali ini dia terlihat lemah sekali. Cekungan hitam di matanya mirip seperti Glacie waktu hamil Violet dulu. Archie ikut memeluk Karin. “Tenang saja, Tante Karin. Aku akan menjaga Ryn.” “Lu gimana? Sehat?” tanya Karin pada Archie dalam bahasa Indonesia. Anak itu tersenyum dan menganguk. “Lu makan sayur yang banyak biar cepat besar. Masa imut banget gini?” komentar Karin yang membuat Steve tertawa. “Lu kayak boneka.” Wajah Archie kelihatan tersinggung. Kalau bukan karena situasinya sedang tegang, aku pasti ikut menertawakannya. Archie memang sama sekali nggak bertambah tinggi badannya. Kata dokter anak langganan kami, pertumbuhan tinggi badan Archie memang nggak normal. Anak itu harus minum suplemen dan makan dengan menu khusus.  “Aku harus kembali ke Jakarta,” kata Karin dengan suara lemah. Dia membuang napas cepat beberapa kali seperti berusaha membuang beban berat. “Tolong jaga Ryn,” katanya seperti akan menangis lagi. “Tentu saja, Karin.” Adam menepuk pelan bahu Karin. “Kami akan menjaga Ryn dengan baik. Kalau dia mau ke New York bersama Noah dan Mike, aku akan sangat senang. Cattleya sangat menginginkan anak perempuan di kehamilan ini.” “Aku akan menyiapkan pesawat untukmu kembali malam ini.” “Pesawat biasa saja, Steve.” Steve mengacungkan telunjuknya. “Terima beres saja,” katanya dalam bahasa Indonesia sebelum beranjak ke ruang lain. Kami memaksa Karin untuk makan walau sedikit. Dia sempat memuntahkan suapan pertamanya. Setelah minum antasid yang diberikan Juanita dari kotak P3K, Karin bernapas dalam sambil menutup mata. Sepertinya sudah lama dia nggak menutup mata begitu. Archie memberinya air putih, lalu mengusap tangannya. “Daun katuk kesayangan,” kata Karin dengan suara bindeng pada Archie. “Tante minta tolong jaga Ryn, ya. Tante sedih banget lihat dia begitu.” “Jangan menangis lagi, Tante. River dan Mo pasti sekarang pengin tante pulang dengan ceria. Ryn pasti betah di sini. Tante pikirkan River, Mo, dan Om Tundra. Bilang sama Om Tundra kalau tulangnya pasti akan sembuh. Om Tundra kan Wolverine.” Karin tertawa. “Katanya Heath yang Wolverine?” “Om Tundra lebih butuh adamantium sekarang,” kata Archie. Dia mengeluarkan mainan dari kantongnya. Orang-orangan lego yang agak besar, mungkin dari baby lego. “Aku baru ingat kalau pernah mengambil ini dari Mo. Aku takut tertelan. Tolong kembalikan pada Mo lagi. Dia sudah cukup besar untuk main lego.” Karin menerima mainan itu sambil tertawa. “Tante jadiin mantu mau, ya?” Archie menggeleng. “Hatiku cuma untuk Camilla Malik, Tante.” Kali ini Karin tertawa sungguhan. “Bisa aja lu ya, biji pepaya.” Dia memeluk Archie erat-erat. “Tante sayang banget sama kalian,” tanya sambil memegang tanganku juga. “Tante kangen banget. Moga entar kita bisa liburan bareng lagi, ya.” “Setelah Ryn sembuh,” kataku sambil tersenyum. “Aku bakal usulkan kita naik kapal pesiarnya Drey lagi.” Sebenarnya kami akan berlibur akhir tahun ini. Tapi, kalau begini kondisinya, sepertinya nggak bakal ada liburan tahun ini. Sebelum Adam mengantar Karin pulang dua jam kemudian, aku menyuruh Karin mengganti bajunya dengan baju Mommy. Mulanya, Karin nggak mau karena mau buru-buru pulang. Tapi, aku dan Archie memaksa. Kelihatannya Karin sama sekali nggak peduli dengan yang dipakainya kali ini. Dia kacau sekali sampai nggak sadar kalau ada noda makanan di baju dan kerudungnya.  Kurasa, semua ibu jadi selinglung itu kalau anaknya sakit. Mom saja sampai nggak berhenti menangis kalau aku atau Archie sakit, apalagi sampai harus separah Ryn. Waktu aku kembali ke kamar, Ryn sudah duduk di tempat tidur. Aku sempat ketakutan melihat dia duduk diam di kegelapan. Mata bulat hitamnya kosong, nggak seperti dulu waktu mata itu masih berbinar ceria. Bibirnya seperti ditarik ke bawah, seperti akan menangis. “Hai, Ryn!” sapaku. Pelan, kututup pintu dan berjalan ke arahnya. “Mamamu baru aja pulang. Kamu gimana?” Dia nggak menjawab, tatapannya tanpa ekspresi. Dia persis patung anak-anak di rumah hantu. Sekalipun lampu sudah kunyalakan, aura gelap dan suramnya nggak hilang. Mulanya aku ragu, tapi kemudian aku duduk di depannya, berharap dia nggak memuntahkan cairan hitam atau berubah jadi monster seperti dalam film-film seram. “Kamu lapar? Mau makan kue?” tanyaku berusaha memegang tangannya. Dingin. Tangannya persis tangan Drey yang dingin dan lembab. “Claire?” bisiknya pelan sekali. Wajahnya seperti orang yang kesakitan. Kuulurkan tangan untuk memeluknya. Kubiarkan dia diam saja di pelukanku sampai lama. Kubelai rambutnya seperti Mom membelai rambutku kalau aku sedih. Semoga belaian ini juga bisa menenangkannya. “Mom membelikanku bath bomb yang wangi banget. Kamu mau mandi air panas sebelum makan?” tanyaku lagi. Kukira, Ryn bakal senang. Dia itu suka banget main bath bomb. Dulu dia melempar semua bath bomb ku ke bak mandi sampai busanya luber ke luar bak mandi. Kali ini, dia mencengkeram tanganku keras sekali dan mulai menangis. Hanya dalam hitungan detik kemudian, dia tangisannya berubah jadi jeritan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD