BROKEN SMILE

1846 Words
Ryn menjerit. Aku sudah berusaha memeluk dan menenangkannya. Nggak bisa. Ryn tetap menjerit. Jeritannya panjang, seperti jeritan di dalam film horor. Steve menerobos masuk kamarku nggak lama kemudian. Archie sampai hampir jatuh karena terbentur pintu yang menutup kembali setelah Steve masuk. Bukannya berhenti, jeritan Ryn malah makin keras. Ryn berlari dan melompat ke tempat tidur. Dia melempari Steve. Mulanya hanya dengan bantal, lalu dengan semua barang yang dilihatnya di meja samping tempat tidurku. Beberapa pekerja juga datang. Seorang di antara mereka membacakan doa entah dalam bahasa apa. Ada juga yang mengacungkan rosario. Mungkin mereka pikir Ryn kerasukan seperti di film horor. “Ambil jaketmu!” Steve memerintah sambil menghindari dari lemparan kotak pensil kayu. Aku nggak tahu apa yang dipikirkan Steve, tapi aku menurut. Setelah menarik Archie berlindung di balik dinding, aku mengambil jaket kulit yang baru kupakai tadi. Lalu, dengan cepat, kulemparkan jaket itu pada Steve yang mendekati Ryn. Gerakan Steve cepat sekali. Dia menarik tangan Ryn yang memegang gunting dan memasukkan tubuh Ryn ke dalam jaket. Tangan Ryn terikat di dalam jaket itu. Setelah menindih Ryn di tempat tidur dalam posisi terbalik, dia mengancingkan jaket itu. Semua itu dilakukan di tengah jeritan Ryn yang nggak putus. Archie menangis di sampingku. “Jangan apa-apakan dia. Tolong jangan sakiti dia.” “Nggak, kok. Steve sayang sama Ryn.” Steve menggendong Ryn ke luar kamar. Anak itu terus memberontak dan berteriak-teriak. Aku menarik jaket Dad dari gantungan dan membawa topi ski yang ada di dekat situ. “Archie, kamu di rumah sama Juanita. Aku mau temani Ryn di rumah sakit. Kamu bisa suruh salah satu pekerja ke rumah Uncle Fred dan memanggil Caleb ke sini. Oke?” “Kenapa harus Caleb?” Anak itu membelalak. Aku melotot padanya. “Kamu bisa panggil siapa saja sesukamu. Itu cuma saran.” “Kenapa kamu menyarankan Caleb?” “TERSERAH!” teriakku sambil berlari mengejar Steve. Sebenarnya, aku juga berpikir kenapa harus Caleb yang kusebut? Kenapa bukan Uncle Fred? Bukankah Archie harus dijaga orang dewasa? Tapi, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu. Ryn lebih penting. Anak itu pasti mau dibawa ke rumah sakit. Aku takut kalau Steve membawanya ke rumah sakit jiwa. Sudah banyak film tentang rumah sakit jiwa yang kutonton. Nggak ada satu pun yang memberikan gambaran bagus tentang tempat itu. Aku nggak mau Ryn dirawat di tempat seperti itu. Kalau Steve memang memasukkannya ke sana, aku bakal mengamuk juga. Aku yakin Steve bakal kuwalahan dan menyerah menghadapi dua cewek yang mengamuk. Di dalam mobil, aku berusaha memeluk Ryn. Kupakaikan dia topi ski biar nggak luka saat membenturkan kepalanya. Ryn menangis di pelukanku. Kakinya menekan-nekan bagian belakang kursi depan. Kadang, kakinya menendang kursi atau lantai seperti orang marah, tapi itu lebih baik daripada melempari orang dengan gunting. Begitu sampai di rumah sakit, Ryn menjerit lagi. Dia nggak mau masuk. Steve mati-matian menggendongnya. Beberapa paramedis keluar karena kaget. Steve berusaha menjelaskan dengan cepat. Mereka membawa Ryn ke tempat tidur beroda dan mengikat Ryn ke tempat tidur. Aku terus memperhatikan sampai Ryn didoring ke emergency room. Aku nggak ikut. Aku kembali ke mobil dan mencabut kunci yang masih terpasang. Steve meninggalkan mobil dalam keadaan terbuka dan mesin menyala. Pasti yang dipikirkannya cuma Ryn. Walau Steve dan Adam cuma teman Drey, mereka menganggap kami keluarga besar dan menyayangi anak-anak di keluarga ini seperti anak sendiri. Kami saling menjaga satu sama lain. Menyenangkan sebenarnya. Aku merasa memiliki banyak orangtua baru. Setelah satu jam di dalam ruang ER, Steve ke luar. Kemejanya koyak. Kancing paling atasnya lepas dan ada bekas sobek di dekat lengan. Dia merapikan rambut hitamnya ke belakang, lalu tersenyum padaku. Mata hijau besarnya yang mirip Gollum itu berkilau jenaka lagi seperti biasanya. “Mengantuk?” tanyanya saat duduk di sampingku. Aku menggeleng. Bohong. Aku sudah berkali-kali nmenguap. Perut yang kenyang dan kecapekan membuatku jadi pengin merebahkan kepala di kursi logam ini. Dia memberiku sapu tangan. “Kamu tidak harus selalu terlihat kuat, Claire. Menangis saja kalau kamu memang mau.” “Tidak. Terima kasih,” jawabku sambil menggosok mata dengan lengan jaket Dad. Aku cuma sedikit menangis karena kasihan pada Ryn, kok. “Apa kata dokter?” tanyaku. Steve tersenyum sambil memasukkan lagi saputangannya. “PTSD[1].” Steve menghela napas dengan suara keras. Dia menyandarkan punggung. “Apa pun yang terjadi di Jakarta, kurasa sangat berat untuk Ryn. Depresi.” “Depresi? Ryn masih anak-anak.” “Depresi tidak memandang usia, Kid.” Dia memgerutkan alis dan mengeluarkan HP. “Maaf, aku harus membalas email ini,” katanya sambil mengeluarkan kacamata dari saku jasnya. Untung saja kacamata itu nggak pecah waktu bergulat dengan Ryn tadi. Sebenarnya, masih banyak yang pengin kutanyakan pada Steve. Jadi, aku terus memperhatikan wajahnya, berharap dia mau duduk lagi untuk menjawab pertanyaanku. Setelah sepuluh menit mengetik di HP, Steve menatapku. “Mau menelepon Savanna?” Aku menelan ludah. Mereka di sana pasti sedang kebingungan juga. Aku nggak boleh merepotkan mereka. Ryn sudah ditangani dokter yang mengerti kondisinya. “Nggak usah. Tunggu mereka pulang saja.” Steve tersenyum lebar dan melepas kacamatanya. “Aku memang tidak pernah mengenal ayahmu. Tapi, aku yakin dia menatapmu dengan bangga sekarang.” “Kenapa?” “Lihat dirimu, Honey. Kamu gadis yang tidak pernah mau merepotkan orang lain. Anak lain seusiamu pasti sudah panik dan menjerit-jerit pada orangtuanya. Kamu juga yang berperan menjadikan anak manja seperti Archie jadi anak laki-laki pemberani.” “Aku?” Itu bukan kelebihan, kan? Aku kan cuma jadi kakak saja. Steve mengangguk. Dia jongkok di depanku. “Tapi, Nak. Jangan simpan semua sendiri. Orangtuamu perlu tahu semua tentangmu. Mereka juga ingin dilibatkan dalam duniamu. Mereka bukan cenayang yang bisa membaca pikiranmu.” Tapi, kalau aku memberatkan mereka, bukankah itu buruk? Mom dan Drey ribut sebelum pergi. Di sana, mereka pasti khawatir pada Rosie juga. Jahat kalau aku menambah dengan hal baru. Aku kan juga cuma anak angkat di sini. Seharusnya aku melakukan sesuatu untuk membantu mereka, bukan sebaliknya. “Kamu menelepon mereka atau aku yang menelepon mereka untukmu?” Steve memberikan HP-nya padaku. “Aku lebih tertarik kita membahas kondisi Ryn.” Aku Steve tersenyum lagi. “Tidak ada yang bisa dilakukan untuk Ryn. Sudah ada orang-orang yang sangat ahli yang menanganinya.” Steve berkedip dan tersenyum. “Ayolah, bersikap seperti remaja lain tidak membuatmu masuk penjara.” Setelah mendengus kesal, aku menerima HP itu. Aku memilih menelepon Drey. Saat ini aku memilih dimarahi daripada menghadapi Mom yang baru mendengar Archie jatuh saja bisa menangis dua hari. “Steve? Ya?” Baru kali ini suara Drey membuatku melompat kaget. “Hai ... Drey. Uhm ... ini ... aku.” Kulirik Steve yang melipat tangan sambil terus memperhatikanku. Tambahannya, dia terus tersenyum sampai aku merasa nggak enak. Mungkin itu caranya memberiku semangat. “Claire? Kenapa? Ada masalah?” Suara Drey berbisik, mungkin masih di rumah sakit. “Bagaimana kabarmu?” tanyaku agak bingung memulai pembicaraan. Steve berdecak kecewa mendengar pertanyaan ini. Apa sih maunya? Apa aku harus merengek-rengek seperti Archie? “Baik. Kami masih di rumah sakit. Rosie akan menjalani operasi lanjutan. Kamu mau bicara dengan Mommy atau Glacie?” Aku menelan ludah. “Aku ... ada di rumah sakit.” “Ada apa denganmu? Archie?” Suara Drey terdengar tegang. “Archie di rumah. Aku dan Steve ke rumah sakit. Ryn mengamuk.” “Kenapa?” “Aku nggak tahu. Dia cuma menjerit dan melempari orang dengan barang. Steve mengikatnya dengan jaket dan membawanya ke sini. Jangan khawatir, Ryn sudah diberi obat penenang. Steve akan pulang untuk Archie. Aku akan menjaga Ryn di sini.” “Tidak, Claire. Kami akan pulang sesegera mungkin.” “Jangan, Drey. Lakukan apa yang menurutmu perlu di sana. Kami baik-baik saja.” “Steve di sana?” Aku menoleh pada Steve lagi. “Iya.” “Aku ingin bicara padanya. Uhm ... Claire ...” Dia menghela napas dalam-dalam. “Terima kasih banyak atas bantuanmu. Kami tahu kamu sangat bisa diandalkan.” Drey mengandalkanku. Dia tahu aku bisa menangani semua ini. Dia mengharapkanku. Dia tahu aku bisa melalui semua ini? Setelah memberikan HP pada Steve dan membiarkan Steve berjalan menjauh untuk bicara pada Drey, aku menangis. Aku memeluk jaket Dad dan merasa ingin memeluknya. * Tempat tidur Ryn didorong ke ruang perawatan. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Baju pasien warna putih dan biru jadi terlihat terlalu gelap untuknya. Dia diberi cairan infus karena nggak minum apa-apa sejak di Jakarta. Kata Karin sudah dua hari ini juga dia nggak makan apa-apa. Kalau dia masih nggak mau makan, dokter mau memasukkan selang makanan ke hidungnya. Mereka khawatir pada kesehatan fisik Ryn. Aku duduk di ujung kamar Ryn, berusaha nggak tidur. Kasihan kan kalau Ryn tiba-tiba bangun. Pasti dia bingung lihat ada di ruang rumah sakit begini. “Drey memintamu pulang,” kata Steve yang baru kembali ke ruangan. “Aku akan mengantarmu ke rumah.” “Mana bisa?! Kasihan Ryn. Aku harus ada di sampingnya kalau dia bangun.” “Claire, Ryn punya selusin perawat di sini. Mereka tahu apa yang harus dilakukan pada Ryn. Sedang ... lihat dirimu. Kamu belum tidur sama sekali. Ini sudah jam satu malam.” “Aku akan tidur di sini.” “Bagaimana dengan Archie?” “Bagaimana kalau kamu yang pulang untuk menemani Archie?” Steve bersandar di sofa. Setelah memperhatikanku, dia berkata, “Kenapa aku selalu diuji dengan gadis-gadis keras kepala?” Kukira dia mau memaksaku lagi, ternyata dia malah berdiri dan berkata, “Aku akan menelepon ke rumahmu untuk meminta mereka menemani Archie. Orangtuamu dalam perjalanan pulang. Paling lambat, besok pagi mereka sudah sampai.” “Bagaimana dengan Rosie?” Steve nggak menjawab. Dia hanya tersenyum dan menepuk bahuku beberapa kali. Mungkin Rosie sembuh. Mungkin mereka sudah menyembuhkan tengkorak Rosie yang berdarah. Besok semua akan kembali normal. Ryn bisa minum obat yang menyelesaikan masalahnya dan kami akan bermain dengan Seraphine. Aku memeluk lutut di sofa, memandangi Ryn yang tertidur. Glacie dan Mom pernah koma. Mom koma setelah melahirkan Archie dan Glacie setelah menghadapi orang jahat di New York. Mereka bilang saat koma orang merasakan dunia lain. Mereka masih bisa merasakan yang terjadi di sekitar mereka, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Aku jadi bertanya-tanya apa Ryn juga merasakan yang dirasakan Mom dan Glacie? Apa dia sekarang malah sedang mimpi buruk? Apa dia memimpikan hal buruk yang terjadi padanya di Jakarta? Ah, nggak. Kalau dia mimpi buruk, pasti ekspresinya nggak sedamai itu. Pasti dia bermimpi ada di tempat yang lebih baik, lebih hangat, dan nyaman. Mungkin setelah bangun nanti dia nggak perlu depresi lagi. Heath bilang, depresi itu seperti kehilangan semua kebahagiaan. Saat dia bahagia pun ada suara jahat di dalam kepala yang mengatakan hal buruk dan merebut kebahagiaan itu darinya. Tapi, kalau dia melihat Glacie, semua hal buruk itu hilang. Dia bisa tertawa dan merasa benar-benar bahagia. Pasti Ryn juga begitu. Pasti dia juga bisa menghilangkan suara jelek di dalam kepalanya. Aku tidur di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin dan lemas. “Kalau kamu bangun, nanti kita main lagi, ya. Aku sayang kamu, Anak Cerewet.” Kueratkan jaket Dad. Waktu terpejam, aku merasa Dad memelukku juga. Aku bisa merasakan tangan besar Dad di sampingku, memberikan kehangatan untukku dan Ryn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD