Sebenarnya, orang yang paling tepat untuk membicarakan masalah ini adalah Steve Thompson karena dia tahu banyak tentang undang-undang dan perkara hukum di Amerika. Tapi, sepertinya Steve sedang sibuk dengan pacar barunya, apalagi dari hasil aku menguping pembicaraannya dengan heath sebelum kami kembali ke LA, Steve marah besar pada Alice yang memutuskan untuk menjadi muslim. Aku terkejut juga, sih. Setahuku Alice itu ikut-ikutan ayahnya menertawakan Tuhan, bagaimana mungkin tiba-tiba saja Alice berubah? Masa iya hanya karena tinggal sama Marly sebentar saja? Lagipula, waktu ketemu di pemakaman kemarin Alice nggak menunjukkan perubahan apa-apa. Kenapa cepat sekali? Apa yang dialaminya sampai bisa begitu cepat berubah keyakinan?
Aku ingin sekali menghubungi Alice untuk menanyakan hal ini, tapi aku lebih sibuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan resep obat yang bisa digunakan untuk menggugurkan kandungan atau memaksa Mirriam ke dokter agar menggugurkan kandungannya. Dia masih enam belas tahun. Dia seharusnya masih berada pada usia yang tidak dianjurkan untuk hamil. Ada banyak alasan untuk mmenggugurkan kandungan. Masalahnya, bagaimana cara meyakinkannya, Avery, dan direktur rumah sakit jiwa itu kalau ini adalah hal terbaik tanpa membawa nama Daddy Drey itu yang paling sulit.
“Kita butuh bicara dengan pengacara,” kata Caleb di telepon. “Posisi ayahmu harus jelas di mata hukum. Kita tidak bisa bertindak sendiri, Claire.”
“Jangan mulai lagi, Caleb. Kamu tahu aku tidak bisa mengatakan ini pada ayahku,” kataku dengan suara berbisik sambil menjejalkan pakaian ke dalam koper.
“Kamu ingat apa kata ayahmu setelah kejadian waktu itu? Kita masih remaja, Claire. Kita masih belum dewasa untuk bisa mengambil keputusan seperti ini. Kita butuh pandangan orang dewasa.”
“Begini saja, Cal. Bagaimana kalau aku yang mengerjakannya sendiri? Aku akan meninggalkan pacar cerewetku yang masih remaja di rumah agar dia bisa tidur siang.”
“Claire!”
“Aku serius, Cal. Aku sangat serius. Aku tidak akan memintamu dua kali. Aku sudah lelah memohon padamu. Aku akan membereskan ini dan membuat keluargaku damai lagi. Kamu dengar?”
Aku sadar kalau aku membentaknya. Aku merasa memang harus membentaknya. Aku nggak mau obrolan kami berputar-putar begini terus. Direktur rumah sakit itu butuh jawaban. Kalau nggak ada jawaban sampai satu minggu, aku yakin dia akan datang ke rumah mencari Daddy Drey. Aku nggak khawatir kalau Daddy Drey mengamuk padaku lagi soal surat itu. Aku khawatir rumah tangga Daddy Drey berantakan karena penyihir ini lagi.
Sebelum kami pergi dari hotel, aku mendengar Daddy Drey mendesis di telepon, “Apa kamu sudah sinting, Steve? Dia anakmu. Dia sudah cukup dewasa untuk berpikir. Dia bisa menentukan jalannya sendiri. Tidak, Steve, f**k you! Aku bersumpah, Marly bukan gadis seperti itu. Heath dan Glacie bersamanya sebelum dia ke New York. Dia sama sekali tidak merencanakan kepergiannya ke New York. Heath yang membujuknya, kamu yang mengajaknya. Dia tidak merencanakan perubahan agama Alice.”
Nah, sudah jelas, kan? Masalah Daddy Drey bertambah lagi, padahal belakangan ini selama di New York, Daddy sibuk sama atasan Marly yang baru jadi muslim itu. Aku juga yakin Steve dalam kondisi emosi yang sangat buruk juga. Aku mengenal Steve. Dia itu baik sekali dalam keadaan normal. Saat marah, jangan pernah ajak dia bicara. Pura-pura saja nggak mengenalnya karena saat itu dia nggak bisa mengendalikan diri sama sekali. Ya, seperti yang terjadi di ruangan Dokter Edwards itu.
Daddy Drey curhat pada Mom sepanjang perjalanan pulang, sementara itu Archie melakukan kalkulasi ringan tentang keuntungan perusahaannya dan berapa persen keuntungannya setelah dia habiskan uangnya untuk membayar cicilan utang pada ayahnya dan membeli kado untuk Mila. Aku nggak punya kesempatan sama sekali untuk berbicara dengan mereka. Memang sebaiknya kukerjakan semua sendiri.
Caleb sepertinya berpikir keras selama aku dalam perjalanan pulang. Saat aku sampai, dia berdiri di depan rumahku dan mengulurkan tangannya, tanda kami berbaikan dan dia akan mengikuti apa pun rencanaku. “Kamu tahu aku tidak akan bisa berhenti bicara denganmu.”
“Kamu memang secinta itu padaku?” godaku.
“Lebih dari yang kamu pikirkan,” katanya tenang. “Aku juga minta maaf tidak mengerti soal perasaanmu. Aku tahu kamu ketakutan melihat keluargamu berantakan lagi. Kalau ada di posisimu, aku juga pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan keluargaku.”
“Thanks,” kataku pelan, menahan haru yang berjejalan di tenggorokan. Kami berpegangan tangan seperti itu saja sampai Archie melemparkan bom asap warna merah muda ke arah kami.
“AYO CIUMAN! BIAR AKU PUNYA BAHAN GUNJINGAN DENGAN DEAN MALAM INI,” teriaknya dari halaman rumah kami. Di belakangnya, ada Daddy Drey yang siap memberinya ceramah sampai makan malam.
*
Tentu saja Mom curiga aku dan Caleb sampai membolos sekolah hanya demi ke mall. Sejak pagi aku berusaha meyakinkannya kalau aku hanya ingin ke mall saat orang sedang ada di kantor. Kelihatannya, alasan konyolku ini nggak bisa meyakinkannya. “Mommy tahu aku nggak suka keramaian. Mommy juga kalau ke mall pasti memilih hari kerja, kan?”
“Iya, tapi ngapain sampai bolos sekolah? Kamu tahu kalau itu nggak sepadan, kan? Gimana kalau Daddy Drey tahu?”
Ini yang membuatku ngotot harus keluar hari ini juga. Daddy Drey menemani Archie dan Dean mendaftarkan hak paten atas bom bau dan merek dagang mereka. Katanya, Daddy Drey akan mengajak mereka berbicara dengan seorang notaris dan akuntan agar mereka bisa belajar tentang pengelolaan bisnis ini lebih lanjut. Kurasa mereka akan pulang sekitar sore. Kalau diperkirakan, aku dan caleb bisa mengebut di jalan dan menghabiskan satu atau dua jam saja di rumah sakit jiwa itu. Kami mungkin akan pulang setelah makan siang. Saat Daddy Drey datang, aku bisa membuat segala macam alasan lain. Akan kupikirkan nanti saja masalah itu. Yang jelas sekarang, aku harus melewati Mommy dulu.
“Mommy nggak usah bilang aja sama Dad,” rayuku lagi. “Aku nggak akan lama.”
“Claire, istri nggak boleh main rahasia-rahasiaan sama suaminya. Kita nggak boleh keluar dari rumah ini tanpa persetujuan Daddy Drey. Mommy telepon dulu.”
“JANGAN!” Aku memasang senyum lebar untuk Mom. “Biar aku yang minta izin. Aku kan ksatria.”
Di depan Mom aku menunjukkan senyum percaya diri seolah yakin kalau Daddy Drey pasti akan menyetujui permintaanku. Padahal, begitu Mom berbalik, aku menelan ludah, di dalam kepalaku berputar berbagai macam kata untuk memohon dan mengiba agar mendapat izin. Setelah berpikir cukup lama di meja makan, aku benar-benar yakin kalau Daddy Drey nggak akan pernah mengizinkanku keluar. Ini berarti jalan buntu.
Caleb mengirimiku pesan: Claire, bagaimana? Apa kamu sudah mendapat izin?
Beberapa detik kemudian, dia mengirim pesan lagi: Kalau kamu tidak mendapat izin, aku ingin ke sekolah untuk menyelesaikan wawancaraku untuk tes kelulusan.
Kubalas pesannya dengan emoticon sedih: Kamu tidak ingin menemaniku?
Dia mengetik: Aku ingin menemanimu. Aku sudah menyiapkan motor dan helm untuk kita, tapi aku juga perlu kepastian.
Aku membalasnya: Aku tidak yakin mendapat izin dari Daddy Drey. Dia tidak akan memperbolehkanku ke mana pun selama dia pergi.
Beberapa menit kemudian dia mengirim pesan lagi: Kukira kamu selalu menggunakan otakmu.
Otakku? Maksudnya apa? Akal-akalan? Iya juga, sih. Aku selalu menggunakan akal-akalan untuk mengalahkan Daddy Drey. Kalau dengan cara lurus nggak bisa, kelicikan bisa memenangkannya.
Aku mengirim pesan untuk Daddy Drey: Dad, aku mau jalan.
Daddy Drey: Memangnya selama ini kamu merangkak?
Yes! Seperti yang kuduga ini jawabannya.
Kukirim pesan lagi: Jadi, aku boleh jalan? Mom menyuruhku duduk saja. Aku bakal kesemutan nanti.
Daddy Drey: Lakukanlah yang menurutmu benar asal jangan jalan ke kamar Stephenson. Kamu tahu yang bisa kulakukan, kan? ;)
Sangat mengerikan melihat seorang ayah mengancam dengan menggunakan emoticon berkedip genit begitu. Sudah pasti ancamannya akan diwujudkan dengan cara apa pun.
Nanti sajalah kupikirkan masalah itu. Yang terpenting sekarang menghampiri Mom yang sedang membaca Al-Quran di kamarnya. Dengan cepat kuberikan pesan Daddy Drey padanya. Aku jujur, kok. Cuma, bagian atas chat itu kusembunyikan dengan mengeluarkan keypad. Yang terlihat di layar HP-ku cuma beberapa bagian akhir chat dan keypad saja.
Mom memajukam bibir, terlihat agak nggak percaya. “Kalau begitu, jangan pulang terlalu sore. Kalau bisa sebelum Dad pulang, kalian sudah harus pulang. Kamu tahu gimana Dad. Dia bisa bawa satu batalion buat jemput kamu nanti.”
Kucium pipi Mom dengan cepat. “Oke. Aku nggak akan lama, kok. Mommy mau dibawakan apa? Kayaknya aku bakal mampir ke toko kue pulangnya.”
“Truffle?”
“Perfect,” kataku sambil melompat dari tempat tidur Mom ke lantai, lalu berlari ke luar.
Dengan cepat, aku mandi dan ganti baju. Persetan soal mode dan tampil cantik di depan pacar. Caleb sudah pernah melihatku tidur ngiler dan lebih dari kata acak-acakan. Apa lagi yang kusembunyikan darinya? Aku memakai kaus lengan panjang, celana jins basic panjang, sepatu boot, dan jaket denim Daddy Martin. Saat mengikat rambut, aku mematut diriku sebentar di depan cermin, melihat bagaimana jaket itu makin lama makin nggak terlihat terlalu kebesaran untukku.
“Doakan aku ya, Dad. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan baik, pulang, dan tidur dengan tenang. Aku akan menjaga keluarga yang kucintai,” ucapku pada gadis di cermin yang sangat mirip dengan pemilik jaket ini, ayah kandungku.
Caleb sedang menggeber-geber motor saat aku berlari ke rumahnya. “Apa yang kamu bawa dalam ransel itu?” tanyanya saat memberiku helm warna merah muda yang kelihatannya baru. “Kamu seperti Dora the Explorer,” ejeknya sambil menarik-narik ranselku.
Motor yang dia punya itu sebenarnya adalah hasil memulung motor bekas di tempat pembuangan mobil. Bersama Uncle Fred, dia mengganti seluruh mesin motor. Motor lama itu memiliki mesin mobil sekarang. Suara raungannya terdengar seperti singa jantan.
“Aku terbiasa membawa segala macam benda sejak tersesat dengan Archie,” kataku jujur. Bahkan saat ke sekolah, aku selalu membawa senter, pembalut cadangan sekalipun nggak lagi menstruasi, dompet berisi beberapa ratus dolar, P3K, botol minum, dan pisau lipat serbaguna dari Heath. Kali ini aku membawa baju cadangan dan beberapa permen mint yang kuambil dari pantry rumah juga. Aku nggak tahu apa yang bisa terjadi di jalan pulang.
Kami sempat dicegah oleh pengawal ayahku yang berjaga di depan rumah. Aku melotot dan mengatakan kalau aku sudah mendapat izin dari Daddy Drey. Lelaki itu akan menahanku sampai kutunjukkan pesan dari Daddy Drey. “Ini pasti kesalahan. Mr. Syailendra tidak mengatakan apa-apa padaku.”
“Itu karena aku yang akan mengatakannya. Dia sedang sangat sibuk. Jangan hubungi dia. Kamu tahu kan bagaimana repotnya dia kalau pergi dengan Archie?”
Tampang lelaki itu biasanya tegas seperti semua orang yang dari latar belakang militer. Kali ini dia terlihat berpikir seperti anak TK yang harus menyelesaikan aljabar. Aku nggak menyalahkannya. Setelah aku dan Archie menghilang saat itu Heath mengamuk pada semua penjaga dan pekerja di rumah kami. Mereka menjalani uji kejujuran dengan poligraf untuk melihat mereka benar-benar melihat kami atau nggak. Tiga penjaga diberhentikan dengan tidak hormat karena ternyata melihat kami berlari ke jalan raya, tapi nggak berbuat apa-apa.
Caleb baru mengebut setelah kami berada di luar jangkauakan pengawasan penjaga rumahku. Kami sudah sering membicarakan ini setiap berangkat ke sekolah. Kami mengukur jarak pandangan mereka dengan mata telanjang dan dengan teropong medan. Lain cerita kalau mereka menggunakan drone dan mengikuti kami. Untungnya, sejauh ini nggak ada yang mengikuti kami.
Perjalanan kami hanya akan singkat sekali. Paling lama kalau ada macet parah atau Godzilla mengamuk, kami akan menghabiskan waktu satu jam di perjalanan dengan kecepatan Caleb yang stabil. Kami menuju Baldwin Hills yang disebut orang Black Beverly Hills karena daerah ini dibuat hampir menyerupai Beverly Hills, tapi dengan penduduk yang kebanyakan dari kulit hitam, hispanik, dan peranakan lainnya. Sebenarnya sih pendirinya, pengusaha dan pemilik tanah Elias Jackson “Lucky” Baldwin cuma ingin membuat pemukiman biasa, tapi dalam pengembangannya, kawasan ini meniru apa yang ada di Beverly Hills. Aduh, aku nggak suka kalau ngomongin warna kulit begini. Aku sendiri bukan kaukasia asli. Aku agak sebal kalau ada yang mulai membahas soal ras.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Caleb dengan suara yang agak keras. Helm dan angin membuat pendengaran kami berkurang.
“Tidak ada. Kenapa?”
Dia menarik tanganku melingkar di perutnya. “Aku suka naik motor.”
Aku juga suka. Aku memegang dadanya, merasakan degup jantung yang berirama kencang. Kusandarkan kepala di punggungnya, merasakan detak jantungku juga makin lama jadi makin kencang. Aku jadi makin menyukai Caleb. Dia bukan cuma orang yang selalu ada setiap aku membutuhkan pertolongan, tapi juga orang yang selalu berusaha membuatku tertawa saat aku tidak ingin bertemu siapa pun.
“Kalau kita menikah, aku akan mengajakmu naik motor seperti ini ke tempat bulan madu kita.”
“Ayahku akan membunuhmu.”
Dia tertawa. “Ayahmu akan jadi musuh terbesarku.”
“Memang,” kataku saat mengeratkan pelukan padanya. Dalam hati kecilku berharap agar jalan ini nggak berakhir. Aku berharap kali ini aku benar-benar ke mall dengannya, tanpa harus memikirkan Mirriam dan janinnya. Pasti pagi ini akan terasa indah untuk kami.