“Bagaimana? Sudah merindukanku?”
Aku tertawa di buat-buat untuk mengejek Caleb di telepon. Setelah masuk kamar, aku melempar sepatu ke mana saja tanpa peduli. “Apa yang kamu harapkan?”
“Kamu berkata kalau kamu merindukanku seperti aku merindukanmu.”
“Kamu merindukanku?” Aku membanting tubuh ke tempat tidur, lalu mengaduh karena salah satu miniatur dinosaurus Archie ersembunyi seperti ranjau di selimutku. Aku benar-benar harus membuat reminder di HP untuk membalasnya.
“Tentu saja. Aneh rasanya pergi ke sekolah tanpamu,” katanya sambil tertawa pelan.
“Nanti kamu akan pergi ke kampus tanpaku.”
“Ya, aku memikirkan itu juga. Rasanya, aku masih belum rela jauh darimu.”
“Anak bodoh! Ingat kata Mom, jangan sampai hubungan kita menjadi penghalang langkah kita menuju masa depan.”
“Aku hanya mendramatisir agar kamu merasa bersalah.”
“Aku sudah merasa bersalah.”
“Karenaku?”
“Karena ayahku.”
Dia berdeham. “Karena dia meneriaki kita dengan megaphone?”
“Karena aku menyembunyikan surat itu darinya dan melihat hal yang tidak boleh kulihat.”
Dia mengeluh sebentar, lalu bertanya lagi, “Kamu melihat ayahmu menonton film porno.”
“Kamu d***u atau bagaimana?”
“Aku bertanya, Claire. Memang itu yang biasanya dilihat oleh anak, kan?”
Caleb nggak akan tahu. Dia nggak akan mengerti karena ayahnya bukan orang-orang seperti ayahku dan teman-temannya. Kami anak-anak dari orang-orang berbahaya. Sebaiknya aku nggak melibatkannya juga.
“Bagaimana dengan surat itu?” Nah, ini hal yang lebih penting untuk kutanyakan padanya.
“Aku sudah menyerahkannya tadi. Aku bertemu langsung dengan direkturnya dan mereka membalas surat itu langsung di depanku. Mereka sungguh percaya kalau aku kurir suruhan ayahmu. Apa tampangku memang seperti itu?”
“Bisa jadi,” kataku cepat yang tentu saja nggak bersungguh-sungguh. Caleb makin hari makin tampan. Aku sampai harus menggonggong setiap ada cewek yang meliriknya dengan tampang menggoda. “Kamu membaca surat mereka atau tahu apa yang mereka tuliskan dalam surat itu?” Aku mengarahkan otakku dari bayangan wajah Caleb ke pembicaraan yang lebih penting.
“Perempuan itu mengumpat. Dia berkata seharusnya ada yang peduli pada gadis seperti Mirriam.”
“Dia punya bibi. Ayahku korban p*******n olehnya. Kenapa ayahku harus peduli padanya?”
“Mrs. Dwarf itu feminis, Claire. Dia tetap menganggap ayahmu yang bersalah. Ayahmu punya s****a dan s****a itu yang menyebabkan Mirriam hamil, walau kenyataannya Mirriam yang memasukkan s****a itu ke kemaluannya.”
Oke, mungkin pembicaraan ini agak mengerikan jika didengar Mom. Kami terbiasa membahas soal seks sebagai proses reproduksi dalam kelas biologi. Sama sekali bukan masalah bagi kami untuk menyebutkan prosesnya terang-terangan tanpa ada dorongan untuk melakukan kopulasi tersebut. Tapi, Mom tetap nggak suka kalau aku membicarakan tentang reproduksi dengan anak lelaki.
“Apa yang dikatakannya?” tanyaku nggak sabar, benar-benar marah dan sangat ingin menghajar perempuan direktur rumah sakit jiwa itu.
“Ayahmu harus tetap datang. Paling tidak untuk mengetahui bahwa Mirriam hamil anaknya atau membiayai tes DNA untuk janin Mirriam agar tahu secara pasti bahwa anak itu bukan atau memang miliknya.”
“Sinting!”
“Aku setuju.”
“Dia membicarakannya denganmu?”
“Aku membaca suratnya. Mengingat surat ini tidak akan kamu sampaikan pada ayahmu, aku membuka dan membacanya.”
Aku mendengkus, berbalik di tempat tidur dan memendam kepalaku di bantal. Sekarang aku merasa benar-benar kacau. Bagaimana caranya ayahku ke sana tanpa tahu bahwa aku mengambil suratnya? Aku bukan hanya takut dimarahi. Aku takut membuatnya lebih kecewa lagi dari ini. Mom juga pasti akan tahu. Ah, Mirriam sialan! Kenapa sih dia nggak mati saja saat jatuh dari tangga? Kenapa dia nggak keguguran saja? Kenapa harus Mom yang keguguran?
“Aku bisa membiayain tes DNA. Kurasa ... aku punya cukup uang,” kataku sambil memperkirakan berapa harga paling mahal untuk tes DNA janin.
“Sebagai tambahan, Mirriam sama sekali tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Ini akan sangat menyulitkan. Dia tidak mau disentuh atau dijenguk siapa pun.”
“Kalau begitu, apa gunanya Daddy Drey ke sana?”
Dia diam sebentar, lalu berkata dengan nada agak ragu. “Dia juga ... menulis namamu di dalam catatannya. Mrs. Dwarf berpendapat akan lebih baik kalau ayahmu mengajakmu juga, siapa tahu Mirriam jadi mau berkomunikasi denganmu.”
“Bunuh saja aku.”
“Jangan. Aku benar-benar ingin menikahimu.”
“Aku sedang tidak ingin berbicara romantis.”
“Aku juga. Aku hanya berkata yang sesungguhnya. Aku sedang membuat cincin untuk melamarmu. Aku ingin menikahimu setelah usiamu cukup untuk menikah. Bagaimana?”
“Coba kamu tunda dulu dan tanyakan lagi padaku setelah pikiranku sudah lebih baik.”
“Maaf kalau begitu.”
Aku marah sungguhan pada Cal. Kenapa dia melamarku pada usia yang sangat muda dan pada kondisi pikiran yang sebegini buruknya? Seharusnya dia menahan diri dan menunggu sampai mendappatkan Momen yang bagus. Aku nggak mengerti dia ini sebenarnya nggak romantis atau nggak peduli pada perasaanku, sih?
Tapi, alih-alih memikirkan soal lamaran Cal, aku lebih memikirkan soal Mirriam. Dari cara Dad berbicara dengan teman-temannya tadi, sepertinya kondisi “bisnis” mereka dengan Atkins masih juga belum beres. Kalau aku memberikan lagi masalah baru, aku nggak yakin Dad akan bertahan. Dia harus menelan banyak obat untuk menyesuaikan diri dengan ginjal barunya. Belum lagi kalau kubayangkan bagaimana patah hatinya Mom. Sudah cukup Mom menangis kemarin.
Kurasa, sekarang saatnya aku mengambil sikap sebagai anak pertama seperti kata Alice. Aku yang harus melindungi keluargaku dari k*****t Mirriam Rivera.
“Cal?”
“Ya?”
“Kita harus ke sana. Kita harus mengunjungi Mirriam. Kurasa, kita yang harus mengambil tindakan sendiri.”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Tes DNA bisa dilakukan tanpa mengundang ayahku. Kita hanya perlu sampel kuku atau rontokan rambut atau liur ayahku. Mirriam yang terpenting. Dia harus mau diseret ke hadapan dokter agar kita tahu kapan bayi itu tercipta. Bisa saja dia berhubungan dengan laki-laki lain sebelum ayahku. Kamu mendengarnya sendiri. Sebelum ini dia berhubungan dengan pamannya sendiri. Bukan tidak mungkin saat dia sering keluyuran itu dia berhubungan seks dengan orang-orang di pinggir jalan.”
“Er ... kamu yakin?”
“Dia pelacur.”
“O .... ke. Aku tidak akan menentang gadis yang sedang emosi.”
“Terima kasih. Yang terpenting adalah kamu harus menemaniku ke rumah sakit jiwa itu. Jaraknya satu jam dari rumah kita.”
“Kita bisa naik motor ke sana.” Kedengarannya ini hal baik untuk Caleb.
“Jangan! Mom bisa membunuhmu.”
“Aku? Apa salahku? Kenapa aku harus bunuh dia?”
Aku melompat kaget. Mom berdiri di depan pintu kamarku. Entah sejak kapan dia ada di situ. Refleks, aku mematikan telepon dan menyembunyikannya di bawah bantal. Ini kebiasaan burukku setiap ketahuan melakukan hal buruk. Sejak bersama Daddy Martin di Surabaya dulu juga aku selalu dengan cepat menyembunyikan benda di balik bantal. Ibu Tua yang selalu menemukannya saat membereskan kamarku.
“Kapan Mom belajar mengetuk pintu dan menghargai privasiku?”
Mom melihat pintu sebentar, lalu mengetuknya tiga kali sebelum berjalan ke arahku. “Sebenarnya, aku mau ketuk pintu, Claire, tapi aku mendengarmu membicarakanku. Dengan siapa? Caleb?” Mom ikut tidur di tempat tidurku. “Gibah itu dosa, lho. Apa boleh aku tahu?”
“Ya, aku berbicara dengan Caleb.”
“Tentang Mommy?”
“Bukan.” Pikiranku mulai berputar, mencari cara terbaik untuk membuat alasan agar boleh keluar dengan Caleb. Dengan tatapan Mom yang selalu berkaca-kaca itu aku jadi membayangkan Mom menangis lagi, hal yang sangat nggak kuharapkan.
“Aku ... ingin keluar dengan Caleb. Aku ... yakin Mom dan Dad pasti nggak bakal kasih izin.”
“Ke mana?”
Aduh, ke mana, ya? Aku nggak pernah mengunjungi tempat lain selain mall.
“Mall ... mungkin.”
“Kok mungkin?”
“Karena aku sendiri belum yakin. Uhm ... Caleb yang mengajakku. Dia pengin ... uhm ... kami ... jalan-jalan ke tempat yang hanya kami berdua, nggak ada orangtua, pengawal yang mengikuti kami, dan Archie.”
“Ngapain?”
“Nggak ada. Cuma ngobrol sambil jalan-jalan aja.”
“Ini ada hubungannya sama kemarin waktu kamu di kamar Caleb?”
Aku memutar mata dan memukulkan bantal ke wajah beberapa kali. “Mom, aku nggak ngapa-ngapain. Aku cuma ngobrol sama Caleb. Obrolan yang rahasia. Aku nggak mau dikuping sama Seraphine atau Uncle Fred.”
“Seperti?”
“Rahasia, Mom. Ini beneran rahasia. Rahasia itu sesuatu yang nggak boleh ada yang tahu.”
Mom terlihat berpikir. “Kamu sudah punya dorongan buat begituan?”
“Apa? Seks?”
Mom mengangguk. “Nggak apa-apa kok kalau kamu jujur. Itu normal.”
“Nggak ada. Aku memikirkan hal lain yang lebih menarik ketimbang seks. Beneran, Mom, aku sama sekali nggak memikirkan soal seks. Ada lebih banyak hal penting yang kupikirkan selain itu.”
Mom tersenyum dan membelai rambutku. “Bagus. Mommy senang.” Mom menarik beberapa helai rambutku dan memainkannya. “Jujur aja, kami takut sekali sesuatu terjadi sama kamu dan Caleb. Kami nggak mau ... kamu ... ngerti, kan?”
Aku diam saja, mengerucutkan bibir agar Mom tahu kalau aku nggak begitu.
“Mommy tahu bagaimana rasanya merasa bersalah sampai mau mati. Mommy nggak mau kamu mengalaminya juga.”
“Aku tahu.”
Walau sebenarnya aku nggak suka dituduh punya keinginan begituan sama Caleb, aku suka Mom kalau begini. Aku suka caranya memainkan rambutku, melihat mataku, dan menceritakan apa yang dipikirkannya padaku. Rasanya seperti diperccaya dan istimewa. Ini yang membuatku nggak mau mengecewakan Mom. Aku ingin menjadi temannya selamanya.
“Boleh aku tanya,” tanyaku dengan hati-hati.
“Kapan sih Mom melarangmu tanya? Tanya aja.” Mom memelintir rambutku sampai jadi jalinan rambut yang kemudian diurainya lagi, lalu dipelintir lagi.
“Mom menyesal melakukannya sebelum menikah, kan, apa Mom punya pikiran untuk membuang Archie?”
Mom mengangguk. “Sekarang Mom menyesal pernah punya pikiran seperti itu. Mom sayang banget sama dia.”
“Gimana cara paling aman untuk melakukannya?”
Mata Mom menatapku curiga. Buru-buru aku menambahkan, “Aku cuma ingin tahu aja, Mom. Di sekolah aku nggak dapat pelajaran ini. Mommy nggak mau, kan, aku Googling untuk cari sendiri masalah seperti ini?”
“Iya juga, sih.” Mom merapatkan posisinya padaku. “Sebenarnya, dokter tahu yang terbaik untuk pasiennya. Tapi, kebanyakan orang menggugurkan bayi dengan obat. Mereka punya obat yang dijual khusus. Sebenarnya, obat itu bukan spesial untuk menggugurkan kandungan. Hanya saja efeknya bisa menggugurkan kandungan. Obat ini yang dipakai orang. Mom dulu nggak tahu. Karin yang kasih tahu. Setelah menikah, baru Mom membaca soal obat itu. Waktu kemarin Mom kehilangan bayi itu, kemungkinan besar Mirriam memasukkan sesuatu yang memberi efek sama. Aduh, Mom selalu emosi kalau ingat anak itu. Sudah mati belum sih dia?” Mom buru-buru menutup mulutnya. “Sori.”
Aku tersenyum saja. “Aku juga punya doa yang sama kok buat dia.”
“Maaf, ya, Mom nggak bisa jadi contoh yang baik buat kamu. Mom masih belajar jadi ibu yang baik. Sering rasanya Mom minder sendiri sama kalian karena kalian lebih pintar dan lebih dewasa dari yang Mom pikirkan.”
“Aku sih nggak masalah, Mom. Seperti apa pun, Mom adalah ibuku. Jujur aja, aku senang Mom ngomong kayak gini. Mom mengajarkanku buat jujur sama perasaan, nggak perlu pura-pura baik sama kami.”
Jujur? Nggak. Aku nggak jujur. Aku menyembunyikan banyak hal dari Mom dan Dad. Tapi, aku melakukan ini demi mereka juga, kok.
“Makasih ya sudah mau ngertiin Mommy.” Mom menciumku, lalu menghapus bekas lipstik di dahiku. “Pokoknya, kamu nggak boleh yang aneh-aneh. Mommy kasih izin kamu jalan sama Caleb, tapi pulang sebelum senja. Mom nggak mau dengar kalian kemalaman di jalan. Kamu tahu gimana Daddy-mu itu, kan?”
“Mom, satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau abortus nggak boleh, kenapa tadi Mom bilang dokter tahu yang terbaik buat pasiennya?”
“Masa kamu lupa soal undang-undang yang mengizinkan abortus untuk korban p*******n atau perempuan yang dalam kondisi nggak sehat untuk hamil?”
Korban p*******n?
Aku tersenyum pada diri sendiri malam itu. Berbicara dengan orang dewasa memang nggak selalu menyenangkan, tapi pengalaman mereka bisa memberikan ide baru yang nggak terpikirkan anak muda tanpa banyak pengalaman sepertiku. Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan pada Mirriam k*****t Rivera itu.
“Nggak ada bayi, nggak ada masalah,” kataku pada cermin sebelum menggosok gigi. Aku harus mengucapkan terima kasih pada Mom nanti.
***