Breathe Deeply

1473 Words
Seharusnya aku senang akhirnya bisa jalan-jalan ke New York. Sudah lama sekali kami nggak ke New York. Sejak kematian Dave, kami nggak punya banyak kesempatan untuk berlibur. Masalah seperti datang bersusul-susulan. Sudah lama aku meminta pada Mom untuk mengajak kami ke New York. Ada beberapa temat yang sangat ingin kukunjungi lagi; Grand Central yang sering muncul dalam film, musium, dan tempat-tempat lain yang sering dijadikan setting film atau novel. Tapi, kali ini aku sama sekali nggak bisa menikmatinya dengan kondisi hubungan yang buruk dengan Daddy Drey. Aku memakai earphone dan berpura-pura menyelesaikan membaca buku sains untuk tugas sekolah. Padahal nggak satu pun kata masuk ke dalam pikiranku dalam lima jam perjalanan ini. Dadaku terasa sesak. Aku ingin sekali berbicara dengan Daddy Drey tentang kemarin. Aku ingin minta maaf dan memastikan dia nggak memikirkannya lagi. Tapi, aku nggak berani ngomong. Aku juga bingung harus ngomong dari mana. Daddy Drey bersama Heath sekarang, kelihatannya ngobrol serius tentang hal yang penting. Archie juga ngambek parah karena Heath dan Glacie nggak mengajak Mila. Belum lagi Heath berkata, “Mila sudah punya teman yang baik di sana.” Archie menatap Heath nggak percaya. Dia menghabiskan waktu lima jam perjalanan untuk menulis surat pada Mila. Aku nggak yakin Mila sudah bisa membaca surat itu. Kami hanya istirahat sebentar saja di hotel saat sampai pada dini hari. Pukul delapan waktu setempat, kami langsung berganti pakaian dan bersiap ke pamakaman. Daddy Drey dan Heath menjelaskan pada kami tata cara datang ke makam yang benar. Aku nggak mendengarkan mereka. Aku nggak berani menatap mata Daddy Drey sama sekali. Saat berjalan ke mobil, aku menggandeng Mom. Begitu Daddy Drey ikut menggandeng Mom, aku melepaskannya dan mundur berjalan bersama Archie. Aku bisa kok bertahan menghadapi tikus kecil yang terus mencericit tentang banyak hal soal masa kecilnya di New York. “Kenapa wajahmu?” tanya Alice saat kami bertemu di pemakaman. “Putusan? Syukurlah. Aku bisa menggantikanmu jadi pacar kutu buku itu.” Dia tertawa dengan lawakan kasarnya sendiri. Karena aku nggak menanggapinya, Dia berkata lagi, “Soal ayahmu, ya?” Aku mendengkus. “Aku sudah mengaku.” Aku melihat sekeliling, memastikan nggak ada yang mendengarkan kami. “Soal di rumah sakit,” bisikku lagi. “Terus, ayahmu marah?” “Dia minta maaf.” “Bagus.” “Tidak ada yang bagus, Alice. Tidak ada. Aku ... merasa bersalah.” “Kenapa?” “Karena Dad merasa bersalah.” “Dia merasa bersalah karena kamu melihatnya. Itu bukan hal yang mereka harap dilihat oleh anak-anak normal. Sialan! Drey pasti mengadu pada ayahku. Mereka mana bisa menyimpan rahasia satu sama lain.” “Seperti kita?” Dia melihatku, menarik bibir dengan gaya lucu. “Claire yang manis, kamu tidak tahu apa pun tentangku. Kamu tidak akan bisa tidur kalau tahu siapa aku.” Senyumnya berubah jadi menyeramkan. “Aku sebenarnya adalah vampir haus darah. Aku bisa membunuhmu dalah hitungan satu ... dua ... ti--” “Dasar bocah!” kata Archie dalam bahasa Indonesia. “Kamu kira aku nggak bisa bahasa Indonesia, hah?” labrak Alice dengan bahasa Indonesia pada anak kecil itu. “Aku tinggal sama Marly sekarang. Aku bisa maki-maki kamu pakai bahasa Jawa.” Tiba-tiba, Alice berdeham saat ayahnya mendekati kami. Wajahnya berubah jadi serius lagi. Dia berjalan pelan ke arah ayahnya yang berjalan di samping Marly, teman Glacie yang sekarang dekat dengan Steve. Dengan gaya sedih Alice menempel pada ayahnya. Dia sama sekali nggak mengungkit soal penembakan itu atau obrolan kami tadi. Kok Alice bisa begitu? Apa bermain peran dalam balet yang mengasah kemampuannya? “Ada masalah?” tanya Mike Rockwood yang berjalan di sampingku. Mike juga anak angkat, sama sepertiku. Kami beruntung yang menjadi anak-anak orangtua angkat yang baik. “Hanya memikirkan tugas sekolah,” jawabku asal saja. “Kamu kenal dengan Fifi Stevens?” “Tidak sama sekali. Aku nyaris tidak berkomunikasi dengannya pada beberapa kali kesempatan kami bertemu. Kita ke mari bukan karena mengenalnya, kan? Kita ke mari karena tidak ingin mengecewakan orangtua kita, kan?” Dia terkekeh pelan. Kami berjalan berdampingan sampai ke depan makam, lalu mundur lagi untuk memberikan jalan pada barisan pelayat yang lebih tua dan mungkin lebih mengenalnya. “Ayahmu memaksamu datang ke pemakaman ini?” tanyaku pada Mike dalam bisikan. Aku juga sedikit berjinjit karena Mike sudah tinggi sekali walau usianya hanya berbeeda dua atau tiga tahun dariku. “Tidak perlu memaksa. Hari ini aku harus ujian akhir dan semalaman aku sibuk dengan Diana.” “Sibuk b******u maksudmu?” Dia menahan tawa sampai mengeluarkan bunyi seperti kentut lewat hidung. “Kami menemukan anak anjing di dekat rumah Diana. Kami membuatkannya rumah dari kayu di tanah kosong karena orangtua Diana tidak suka anjing dan Mom bisa mencabikku kalau membawa anjing pulang lagi.” “Ah, lucu! Rockwood membuatkan anak anjing rumah dari kayu. Kenapa tidak membuatkannya apartemen?” Dia menahan tawa lagi. “Kalau bukan karena ayahmu, aku mau jadi pacarmu. Selera humormu payah sekali.” “Ada apa dengan ayahku?” “Dia mahir menembak. Kami pernah berlatih menembak bersama dan ayahmu bisa menembak semua sasaran bergerak dari jarak yang sangat jauh. Dia berkata, 'Aku harus berlatih menembak b******n yang mendekati anak gadisku.' Aku masih sayang kepalaku.” “Jadi, kamu b******n?” Dia memutar mata. “Sialan.” “Hei, Mike! Apa kamu pernah melihat ayahmu ... uhm ... berbuat kesalahan yang menurutmu fatal?” Dia tersenyum licik. “Sering. Ayahku selalu tergoda minum alkohol.” “Ada yang lebih buruk dari itu? Yang berhubungan dengan ... uhm ... bisnisnya?” Dia merengut sebentar, berpikir. “Saat dia menghancurkan Blackbriar, perusahaan yang sudah lama diincarnya, tapi tidak pernah dilepas oleh pemiliknya. Dia mencari kelemahan perusahaan itu dan ternyata kelemahannya ada pada kebijakan terhadap karyawan yang buruk. Perusahaan itu menekan karyawannya. Ayahku menyusupkan orang yang bisa menghasut karyawan dan membuat karyawannya mogok kerja. Satu minggu mogok kerja dan perusahaan itu habis sama sekali. Katanya ini cara klasik.” Dia terlihat berpikir. “Aku tidak yakin ini kesalahan yang kamu maksud. Tapi, kalau ibuku tahu, tentu saja dia akan marah. Ibuku orang yang religius sekali. Dia tidak akan menoleransi kelicikan seperti ini.” “Dan kamu menceritakan padaku dosa ayahmu dengan santai?” “Ayahmu juga pebisnis. Aku yakin ayahmu juga memiliki dosa yang sama. Bukan rahasia lagi kalau pebisnis dan politikus itu kotor, Claire. Mereka melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya. Bedanya, orang-orang dalam politik memakai topeng agar citranya tetap baik di mata masyarakat.” Jadi, dia juga tahu? Dia sama dengan Alice. Dia juga menyimpan rahasia yang sama. Seberapa banyak yang dia ketahui? Apa dia pernah melihat ayahnya terlibat dalam pembunuhan juga? Setelah pemakaman itu, kami memutuskan untuk berkumpul di salah satu restoran milik Cattleya Rockwood. Daddy Drey, Heath, Steve, dan Adam berkumpul pada satu meja. Mereka membicarakan sesuatu yang terlihat penting sekali. Kami menebak kalau yang mereka bicarakan adalah tentang Steve dan Marly yang kelihatannya punya tanda saling suka, tapi sama-sama nggak berani mendekat. Sebenarnya nggak mungkin sih mereka bakal jadian karena Marly itu religius sekali. Dia nggak akan mau pacaran dengan cowok yang nggak percaya Tuhan seperti Steve, apalagi Steve masih mengaku mencintai ibu Alice. Alice juga tahu ini. Walau kami semua mendorong mereka, kelihatannya mereka nggak bakal bersama. Archie memaksa Marly menguping pembicaraan bapak-bapak itu memakai robot penguping yang dikembangkan mirip dengan robot mata-mata yang diberikan oleh Uncle Fred. Mereka yakin kalau mereka membicarakan Marly dan Steve. Tapi, saat kuperhatikan gerak bibir mereka, aku merasa mereka menyebut nama Denver Atkins. Alice melirikku dengan tatapan yang berkata kalau dia juga berpikiran sama denganku. Aku ingin sekali mendengarkan apa yang didengar Marly. Tololnya, tepat saat aku meminta earphone itu, Heath menangkap kumbang penguping yang diletakkan waitress di tempat yang mudah ketahuan. Daddy Drey mengantongi kumbang itu dan sepertinya bersiap mengamuk setelah kami sampai hotel. “Mampus aku,” bisikku pada Alice. Cewek rambut merah itu baru saja akan mengomentari keluhanku saat cewek yang dijodohkan dengan Steve datang. Jadilah sore itu perhatian kami berpusat pada Steve yang bersama balerina hasil perjodohan Alice dan Marly yang memperkenalkan atasannya di Civac pada Daddy Drey dan Heath. Katanya sih atasannya itu akan mengucapkan janji untuk menjadi muslim juga. Ini berarti Daddy Drey nggak punya waktu untuk menceramahiku malam ini dan malam-malam setelahnya. “Baguslah,” kata Archie yang begitu Daddy Drey dan Heath akan ngobrol dengan atasan Marly setelah salat Isya. Sebelum kami berpisah, Alice menggenggam tanganku dan berkata, “Jangan terlalu dipikirkan, Claire. Kamu harus memikirkan masa mudamu yang hanya sekali. Kamu di New York sekarang. Lakukan yang memang ingin kamu lakukan.” “Aku tidak ingin melakukan apa pun. Tepatnya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Dia menarik tanganku sampai aku ikut tertarik ke arahnya. Dia berbisik, “Jangan lakukan apa pun. Selamatkan yang kamu cintai. Seburuk-buruknya, kamu akan bahagia melihat mereka bahagia.” Lalu, dia melepaskanku dan berjalan melompat-lomat ke arah ayahnya yang menggandeng Maria Rodriguez. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD