Can’t Get Enough

1851 Words
Tuh, kan! Daddy Drey itu memang selalu tahu apa yang aku dan Archie pikirkan. Sejak berbagai masalah yang terjadi di keluarga kami tahun ini, Daddy Drey seperti jadi jauh lebih religius dan pikirannya jadi lebih tajam. Dia nggak mudah tersulut emosi lagi seperti dulu dan lebih memahami apa yang dipikirkan orang lain. Katanya sih penjara membuatnya bisa merefleksikan diri lebih baik lagi. Dalam kondisi normal, aku sangat bangga pada apa yang terjadi pada ayah angkatku ini. Sekalipun kami berbeda agama, aku tetap bangga pencapaiannya. Nggak semua orang bisa menjadi lebih baik setelah dilanda berbagai masalah berat. Untuk saat ini, kuharap Daddy Drey nggak menajamkan perasaannya dan mencari tahu apa yang kusembunyikan. Aku nggak mau keluarga ini mengalami hal buruk lagi karena Mirriam si Pemuja Setan ini. “Tentu,” jawabku atas permintaannya. Aku berusaha tersenyum yang aku yakin benar kelihatannya hanya berupa senyum canggung nggak menyenangkan. Demi membuat Daddy Drey percaya kalau aku baik-baik saja, aku melompat-lompat ke kamar seperti biasa dan hampir menabrak Juanita seperti biasa pula. Begitu sampai kamar dan menutup pintu, barulah aku menangis dan menjerit di dalam bantal. Kulitku sakit sekali. Karena nggak berhasil menemukan salep yang biasanya diberikan Mom saat aku terkena luka bakar, aku berlari terpincang-pincang lagi ke rumah Caleb, siapa tahu mereka punya sesuatu. “Dia akan membentuk tanda pada kulitmu, Claire. Aku khawatir bekasnya tidak bisa hilang,” kata Uncle Fred saat kuperlihatkan luka di pahaku itu. “Bisakah tolong sembuhkan dengan cara apa pun,” pintaku hampir menangis, bukan karena sakit. Aku takut tanda ini ketahuan saat aku berenang atau memakai celana pendek. Mommy pasti tahu. “Biasanya tandanya akan menjadi hitam seperti ini.” Dia memperlihatkan lengan bagian bawahnya yang menghitam sebesar kancing baju. “Ini terkena baut panas. Panasnya tidak membuat kulit melepuh, tapi merusak jaringan kulit.” Dia melihat lukaku lagi. “Sepertinya kamu bisa menyembuhkannya dengan perawatan yang benar. Bawa saja salep ini pulang. Oleskan sebanyak yang bisa kamu lakukan. Aku yakin Rockwood Laboratory tidak akan main-main.” “Ada ap--hei! Apa yang kalian lakukan?” Caleb yang baru masuk bengkel Uncle Fred berteriak marah. Mungkin dia berpikiran kotor. Uncle Fred jongkok di depanku yang menyingkapkan rok. “Simpan pikiran kotormu, Anak muda! Aku baru menyelamatkan pacarmu,” kata Uncle Fred sambil terkekeh. Caleb melihatku, meminta penjelasan. Tapi, aku terlalu malu untuk mengaku dan memperlihatkan luka itu padanya. “Tidak ada yang buruk,” kataku malu-malu. Caleb mengerucutkan bibir, gayanya kalau sedang kesal. Sebenarnya, aku mempertimbangkan kata-kata Alice untuk nggak asal menceritakan yang kualami pada orang lain, tapi mulutku rasanya gatal sekali. Aku nggak pernah merahasiakan masalah dari Caleb. Dia satu-satunya sahabat sekaligus pacarku. Dia tempat aku menyimpan semua kekesalan dan menumpahkan kesedihan. Rasanya nggak adil kalau aku nggak menceritakan masalah ini. Setelah berpikir agak lama, aku menarik tangan Caleb ke kamarnya, menutup gorden dan menyalakan lampu. Kuangkat rokku sampai luka itu terlihat dan si Otak Ngeres itu malah berpaling. “Aku belum siap untuk itu, Claire. Ayahmu bisa menjadikanku makanan anjing.” “Lihat dulu makanya, otak udang!” Caleb berpaling dan melihat luka di pahaku. “Siapa yang melakukannya,” katanya dengan terkejut. Kututup rok itu lagi saat dia mau menyentuhnya. “Aku sendiri yang melakukannya.” Dia mengangkat alis dengan terkejut. “Self harm?” “Aku membuat surat untuk direktur Haaussen-Dwarf Asylum. Setelah membubuhkan segel Syailendra, Dad tiba-tiba masuk dan aku bodoh sekali. Kusembunyikan surat itu di balik rokku.” “Apa? Surat untuk rumah sakit jiwa? Kamu ingin membunuh Mirriam?” “Mirriam hamil. Mereka sepertinya curiga kalau itu anak Daddy Drey.” “Damn!” “Aku tidak yakin. Aku tidak mau percaya sekalipun ini benar. Kamu ... kamu tahu ... keluargaku baru memperbaiki segalanya.” Bahkan Steve rela membunuh demi Daddy Drey. Bagaimana mungkin hal buruk terjadi lagi pada kami? Caleb mengusap pundakku, membuatku jadi ingin menangis sungguhan. “Aku tidak tahu kalau keluargamu magnet masalah. Kurasa, ada kemungkinan Mirriam mendapatkan janin dari s****a ayahmu. Mereka menemukan s****a ayahmu dalam tubuh Mirriam, kan?” Kalimat Caleb membuatku patah hati secara instan. Aku mengumpat seperti Steve dan Heath. Kalau melihat siklus kehamilan, hal ini sangat mungkin. Mirriam sendiri bisa jadi nggak tahu kalau dia hamil saat itu. Siapa yang bisa menilai satu s****a berhasil menerobos masuk dinding ovum yang cukup tebal. Bayi Mirriam juga selamat saat dia jatuh dari tangga dan berusaha menghancurkan rahimnya sendiri. “Pasti ini keajaiban yang mengerikan,” kataku sambil melempar tubuh ke tempat tidur Caleb. “Aku tidak mau keluargaku berantakan lagi.” “Ayah dan ibumu kan sudah lebih dewasa sekarang.” “Daddy Drey dalam masa penyembuhan dan Mom juga ingin sekali hamil lagi. Mereka butuh kondisi lingkungan yang kondusif dan kesehatan mental yang bagus. Kasihan kalau mereka mendapat masalah lagi.” Kukeluarkan surat itu dari kantong rokku dan kuangkat tinggi-tinggi sampai menutupi lampu gantung rendah di langit-langit kamar ini. Isi surat itu sangat jelas sekali. Siapa pun yang nggak begitu mengenal Daddy Drey ppasti mengira surat ini buatannya. Aku berbalik di tempat tidur, menghadap Caleb. “Besok aku akan ke New York. Teman Mom meninggal. Maukah kamu menyampaikan surat ini ke Haussen-Dwarf Asylum? Aku juga ingin tahu kenapa Avery Rivera itu tidak mau merawat keponakannya sendiri. Sejak patah hati dengan Heath, dia terlihat malas berhubungan dengan kita.” Caleb tersenyum kecil. “Heath pantas membuat gadis-gadis patah hati.” “Kamu patah hati?” “Hei!” Dia berseru kesal. Aku tertawa. Lalu, dia terdiam, memandangiku. Mata birunya terus menatapku seperti biasa. Kami sering begini, diam saja dan saling menatap. Biasanya selalu diakhiri dengan ucapan “I love you” darinya atau senyum malu-malu yang membuat kami memutuskan untuk melakukan pekerjaan lain. Kadang juga kami berpegangan tangan dan diam saja dalam waktu lama. Kali ini, Caleb menyentuh pipiku dengan telunjuk, lalu tersipu seperti Archie kalau menyentuh pipi Mila. “Kamu akan segera pulang?” tanyanya dengan suara pelan. “Sepertinya tidak. Mereka akan menghadiri pesta di Civac, perusahaan Heath. Aku sendiri tidak punya rencana sama sekali di sana. Kuharap segera pulang. Aku ingin tahu bagaimana kelanjutan surat itu.” “Bukan untukku?” “Maksudmu?” “Bukan karena merindukanku?” Aku tergelak. “Cal!” “Aku serius.” “Aku ... belum pernah merindukanmu.” “Oh, ya?” Dia terlihat kecewa. “Kamu selalu ada kapan pun kuinginkan, kapan pun kubutuhkan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya merindukanmu. Kurasa, aku tidak mau.” “Kenapa?” “Karena aku lelah merindukan orang. Aku merindukan ayahku siang-malam. Aku merindukan Daddy Drey dan Mommy saat kejadian pelarian itu. Aku ingin kita begini saja terus, kamu ada dan selalu ada. Kerinduan itu menyakitkan.” Dia tersenyum. “Aku tidak mau menyakitimu.” “Baguslah.” “Aku tidak akan menyakitimu.” Dia mengatakannya lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan. “Aku mencintaimu, Claire.” Dia mendekatkan wajahnya. Dia akan menciumku? Aku mau saja dicium. Aku sudah lama sekali menginginkan ciuman seperti anak-anak lain. Kurasa, sekarang memang saat yang tepat. Aku memejam, menunggunya menyentuh bibirku. Saat napasnya sudah makin dekat, rasanya seluruh tubuhku jadi gemetar. Jantungku seperti drum musik underground yang kadang dinyalakan Daddy Drey saat dia melukis. Rasanya, aku takut menggerakkan tubuh bagian mana pun. “CLAIRE JOHANSSON!” Kami terlonjak dari tempat tidur. Caleb mengumpat keras sekali. Itu Daddy Drey berteriak menggunakan megaphone. “CLAIRE JOHANSSON! KUBERI KAMU KESEMPATAN SATU MENIT UNTUK KELUAR DARI KAMAR ITU ATAU AKU YANG AKAN KE SANA DAN MENYERET ANAK ITU KELUAR DARI BUMI INI.” Tahu bagaimana rasanya? Tentu saja aku malu sekali. Ini jauh lebih memalukan diejek beramai-ramai di sekolah. Dari bawah jendela kamar, ayah angkatku itu berdiri sambil memegang megaphone. Nggak jauh dari situ, penyelamatku, Mom berjalan dengan marah menghampiri suaminya. Kelihatannya mereka akan ribut sebentar lagi. Asal kalian tahu, baru kali ini aku bersyukur melihat Daddy Drey dimarahi habis-habisan. “Jangan buat anak gadismu malu, my Lord! Lihatlah, dia jadi bahan tertawaan pekerja.” “Lebih baik dia jadi bahan tertawaan sekarang daripada nanti dia jadi sumber tangisan kita. Lihat dia!” katanya saat aku sudah ada di dekatnya. Kurebut megaphone dari tangannya dan kulempar ke tembok. “Sumpah, Daddy norak parah!” Aku berjalan dengan marah ke rumah. “Claire!” panggilnya di belakangku, sepertinya dia mengikutiku. “Bisakah Dad melakukan sesuatu yang nggak konyol gitu? Kan bisa miss call atau apa.” Aku sangat ingin membanting sesuatu. Wajahnya itu bukan terlihat marah. Dia mengejekku. Dia merasa menang dariku. “Ponselmu tertinggal di rumah,” katanya santai. “Ketuk pintu atau lempar jendelanya dengan sesuatu. Pakai otak sedikit, Dad.” Aku ingin sekali melempar guci kesayangannya di meja hias. Aku sudah memegang guci itu, tapi nggak tega untuk melemparnya. “Kenapa kamu tidak memakai otakmu, Miss Johansson? Kamu di kamar laki-laki? Berdua saja? Apa jadinya kalau aku terlambat meneriaki kalian?” Mungkin, kami sudah berciuman sekarang. Aku merinding membayangkan wajah Caleb yang sudah begitu dekat tadi. “Ka-kami membicarakan … hal penting.” “Jangan bilang kalian berbicara di tempat tidur.” Sebenarnya aku ingin minta maaf, tapi melihat senyum miringnya yang tercela itu, aku jadi merasa tersinggung dan marah. “Iya, aku memang di tempat tidurnya.” “Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal padanya. Aku akan membunuhnya sebentar lagi.” “Seperti yang dilakukan Steve pada dokter Edwards?” Aku langsung menggigit bibir setelah mengucapkan ini. Sungguh, aku benar-benar menyesal mengatakannya. Aku memang sangat marah sekali atas apa yang dilakukan Daddy Drey, tapi bukan berarti aku ingin mengungkit masalah ini. “Maaf,” kataku pelan, benar-benar dari hati. “Kamu dengar?” tanyanya terlihat kecewa, bukannya sedih. Dia nggak kecewa padaku. Da kecewa pada diri sendiri karena nggak berhasil menyimpan rahasia itu. Aku mengangguk. Aku sangat ingin menghapus pikirannya tentang ini atau pergi dengan mesin waktu ke lima menit lalu untuk menampar wajahku sendiri. “Maaf,” katanya pelan. Dia membasahi bibir dan mengembuskan napas pelan dan lama. Aku hanya berdiri saja memperhatikannya dan menyesali perkataanku sendiri. Aduh! Tuhan! Aku merasa bersalah sekali. Kenapa mulutku sejahat ini? Kenapa aku nggak marah karena hal lain saja? “Aku nggak menyalahkan Dad,” kataku pada akhirnya setelah mengumpulkan kekuatan. “Aku tahu yang dilakukannya dan aku juga marah. Aku hanya keceplosan aja.” “Kamu mendengarnya sendiri?” “Sama Alice.” Dia mengusap wajah beberapa kali. “Alice tahu yang dilakukan ayahnya?” Aku mengangguk pelan. “Kayaknya sih iya. Tapi, dia nggak marah. Dia bilang kalian ada dalam posisi membunuh atau terbunuh. Aku nggak mau kehilangan Dad atau teman-teman Dad. Aku yakin kalian bukan orang yang dengan iseng membunuh orang lain.” Dia membasahi bibir lagi. “Terima kasih, Claire.” “Aku nggak akan bilang Mom, kok.” Dia tersenyum. “Terima kasih.” Dia melihat ke luar jendela. Mom sedang berbicara dengan Uncle Fred sambil menunjuk megaphone yang pecah. Sepertinya aku bakal dapat siraman rohani lagi setelah ini. “Aku ... mau ke kamar.” Aku menunjuk arah kamarku, berharap Dad melepaskanku. “Ya, sure,” katanya sambil mengangguk. Dia tersenyum. Namun, yang kurasakan sebenarnya yang terjadi lebih buruk dari ini. Masih ada yang belum selesai antara aku dan Daddy Drey.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD