Letter from Asylum

3119 Words
“Aku tahu kenapa laki-laki diciptakan dengan tubuh besar dan tenaga yang kuat?” kataku pada Seraphine saat kami berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Dia sedang mengomel kenapa nggak diizinkan mengikuti cowok-cowok (baca: Uncle Fred, Caleb, Dean[1], dan Archie) pergi hiking akhir minggu nanti. Menurutnya, itu tidak adil jika dilihat dari kacamata kesetaraan gender. “Untuk pamer pada setiap gadis yang mereka temui?” jawab Seraphine dengan wajah muram karena satu-satunya cewek di mobil ini (yaitu aku) malah membela kaum cowok. Aku menggeleng. “Mommy mengutip kitab sucinya. Katanya lelaki diciptakan lebih kuat dan lebih besar karena mereka memiliki tugas untuk mencari nafkah bagi keluarga dan melindungi keluarganya. Mereka Superman yang sebenarnya.” Seraphine menaikkan alis tebal yang menghiasi mata biru bulatnya. Hari ini dia menjepit poninya di puncak kepala sehingga alis tebal dan dahi bulatnya terlihat. “Lalu, bagaimana denganku yang tidak punya Superman?” “Kamu anggap apa aku ini, Young Lady?” Uncle Fred yang menyetir berkata dengan nada marah. “Apa aku tidak punya kewajiban melindungimu?” “Superman bukan hanya ayah kandungmu, Cher. Supermanmu bisa siapa saja yang melindungimu. Dalam hal ini Uncle Fred adalah Superman terbaik yang kamu miliki. Kamu juga punya Caleb.” Kupukul bahu Caleb yang duduk di depan untuk meminta dukungannya. “Caleb kan pacarmu. Kalau kita berdua terjebak di gunung es, dia pasti akan menyelamatkanmu dulu dan bersumpah akan membuatkanku peti mati yang bagus.” Caleb tertawa. “Aku tidak tahu kalau kamu bisa membaca pikiran, Adikku.” Seraphine menendang bagian belakang kursi kakaknya, lalu menoleh pada Archie yang duduk di belakang kami. “Archie, kamu mau menjadi Supermanku?” “Aku buta, tuli, bisu,” kata Archie dengan nada menyebalkan. Dean Bexter di sampingnya yang sedang menulis sesuatu di buku tersenyum geli. Kalau boleh kutebak, walau mereka berpartner dalam berbagai proyek ilmiah dan sekarang sedang merancang produksi bathbomb untuk dijual, dalam hati sebenarnya mereka sedang perang dingin. Beberapa kali Dean ke rumah dan dengan jelas mengatakan suka pada Mila. Kurasa, Mila juga menyukai anak itu karena Dean anaknya nggak banyak mulut dan pandai melakukan sulap dengan teknik dari buku fisika. Archie yang tukang ngambek tentu saja nggak menganggap kedekatan ini sebagai sebuah pertemanan biasa. Dia selalu uring-uringan kalau Dean main ke rumah saat ada Mila. Mommy dan Glacie berkata mereka mungkin akan melupakan cinta-cintaan mereka ini saat beranjak dewasa. Menurutku, mereka salah. Justru cinta yang tertanam sejak kecil inilah yang akan mengakar hingga mereka dewasa. Lihat saja, sampai nanti mereka akan terus mengingat masa kecil ini sebagai kenangan romantisme mereka. Mobil sampai di depan halaman sekolah tepat saat lonceng masuk sekolah berbunyi. Kami mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan pada Uncle Fred. Melihat Seraphine dan Caleb mencium pipinya sebelum pergi, aku jadi kangen pada Daddy Drey. Biasanya, aku juga mencium pipinya sebelum melompat keluar mobil. “Hei, Claire,” panggil Archie yang berusaha memanggul ransel beratnya. Dia menelengkan kepala ke arah pintu masuk sekolah. “Pacarmu marah-marah,” katanya dalam bahasa Indonesia. Bukan Caleb yang dia maksud, bukan juga Wayne yang pernah berhubungan dekat denganku. Jade Monaghan berjalan ke arahku seperti banteng marah. Tapi, dia banteng cantik berambut cokelat terang yang kini disemir pirang. Seragam sekolahnya semakin ketat dan pendek sejak mendapatkan gelar murid teladan untuk ketiga kalinya. Kacamata nggak minus atau plusnya itu membuatnya terlihat lebih tua, alih-alih terlihat pintar. Semua itu adalah usahanya agar bisa terlihat sebagai Barbie yang cerdas. Aku sendiri berusaha mengingat-ingat apa yang kulakukan sampai dia jadi semarah itu. Nggak ada. Sepertinya aku memang nggak melakukan apa-apa. Kenapa dia harus melabrak kami di depan sekolah begini? Apa dia nggak bisa menunggu sampai kami sampai di dalam sekolah saja? Di depan loker akan lebih baik. “Selamat untuk kalian berdua. Aku harus memberikan ini pada kalian untuk keberhasilan proyek kalian.” Dia melemparkan medali emas pameran sains pada kami. Medali itu jatuh ke tanah tepat di depan kaki kami. “Apa yang kalian pikirkan? Kalian pikir keren tidak datang ke acara penerimaan penghargaan? Kalian membuatku malu harus berdiri di depan panggung seperti orang d***u menunggu kedatangan kalian.” Oh, dia marah karena itu. Maaf saja. Daripada harus mengikuti acara bodoh di akhir minggu, lebih baik aku bersama keluarga dan teman-temanku, tentu saja yang kumaksud Caleb, Dean, Alice, beserta keluarga mereka. “Kami tidak butuh medali. Kami tidak akan menyerahkan mesin itu pada sekolah atau padamu. Kami akan memproduksi mesin itu dalam bentuk besar dan mulai memproduksi baju kami sendiri mulai bulan depan.” “Dengan kekuatan uang ayah angkatmu?” “Dia tidak memberi kami uang. Dia memberi kami pinjaman.” “Sama saja.” “Tidak sama,” potong Archie. “Memberi uang itu berarti ayahmu memberimu uang secara cuma-cuma dan kamu boleh menghabiskannya begitu saja. Memberi pinjaman itu berarti kamu harus mengembalikan uang itu dalam tempo yang telah disepakati. Katanya kamu murid teladan, bagaimana mungkin hal begitu saja tidak tahu?” Jade melotot seperti melihat sesuatu yang mengagumkan. “Aku baru tahu kalau kancing baju bisa bicara. Apa ini buatan mesinmu juga?” “Kalau bom bau kami sudah jadi, kamu orang pertama yang akan mencobanya.” Jade tertawa sinis. “Coba saja. Aku mau lihat seberapa bau kentut hamster.” Dean menarik tangan Archie, mengajaknya menyingkir sebelum anak itu meledakkan amarah di depan Jade. “Ambil saja medali itu,” kata Jade padaku. “Kuberi tambahan.” Dia menginjak medali itu dan meludahinya. Begitu Jade mengangkat kaki, Caleb menendang medali itu ke samping, hampir mengenai kepala anak yang naik motor ke sekolah. Anak itu memakai rok pendek dan terlihat seksi sekali. Kakinya kurus terlihat berotot saat memarkir motor besarnya. Saat cewek itu membuka helm yang menutupi wajah, Caleb yang pertama berteriak, “NO s**t!” “Alice?” tanyaku dengan bingung. Buat apa dia ke sini? Dia kan nggak sekolah di sini. Alice kelihatannya nggak peduli dengan kebingungan kami. Dia melihat dandanannya di spion dan melihat bagaimana rambut merahnya masih tertata baik. Dia memakai lipstik sewarna dengan rambut yang membuat penampilannya sangat mencolok. Setelah meletakkan helmnya dengan hati-hati di atas motor, dia melompat-lompat ke arahku. “Jangan bilang-bilang ayahku dan ayahmu kalau aku memakai motor ini. Tadi aku minta izin Adam dan dia mengizinkanku asal aku mau berbohong pada istrinya kalau dia tidak minum lagi,” katanya sambil mengedipkan mata kirinya. “Memangnya Adam minum apa?” tanya Archie dengan mata membulat lebar. “Dia membawa botol kecil scotch dari hotel. Aku melihat botol kosongnya jatuh dari kantung celananya. Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Cattleya mengamuk sebulan penuh.” Archie menatap Dean dengan senyum ppenuh arti. Sepertinya mereka juga akan memeras Adam sepulang sekolah nanti. “Kamu sekolah di sini?” tanya Caleb nggak percaya. “Aku Alice Thompson. Aku bisa bersekolah di mana pun yang kumau, ganteng.” Dia mencolek dagu Caleb dan berpaling pada Jade. “Kamu pasti cewek yang merasa memiliki sekolah ini dan menganggap orang lain berada pada level rendah, kan?” Jade belum membuka mulut, Alice sudah berkata lagi, “Aku Alice Thompson. Aku anak Steve Thompson yang bisa membeli mulutmu kalau sampai berani kamu buka di depanku.” Dia memperhatikan Jade sebentar, lalu tersenyum manis, manis sekali. Matahari membuat matanya berkilau kelabu, kontras dengan rambutnya yang makin terlihat menyala. “Jangan berpikir untuk melakukan hal buruk Monaghan. Hari ini perusahaan ayahmu sudah bangkrut.” “Apa?!” Jade mengerutkan dahi. “Coba saja tanya. Seseorang telah melaporkan ayahmu atas tuduhan penyelewengan pajak. Besok akan ada orang yang mengunjungi rumahmu dan mengambil semua yang ada di rumahmu sebagai pengganti pembayaran pajak. Jadi, jangan sok kaya, Barbie Girl.” Setelah berkata begitu, Alice mendahului kami ke pintu masuk sekolah dengan langkah ringan. Dia mirip sekali Harley Quinn yang nggak memikirkan orang lain. Dia mengusap pipi Peter Claus, anak dari kelas tujuh yang wajahnya penuh bintik hitam dan mendorong Erica Penn yang ngobrol dengan Tommy Hallway sampai Erica jatuh ke pelukan Tommy. “You're welcome,” katanya sebelum mereka mengatakan apa pun. Semalam dia memang menumpang tidur di rumahku atas paksaan ayahnya. Dia itu aneh sekali. Sebelum tidur malam, dia memandangi koin aneh yang agak terlalu besar kalau disebut koin pembayaran umum. Mungkin koin khusus untuk koleksi. Setelah itu dia menyelipkan koin ke balik bantal dan mulai tidur. “Aku akan bersiap meminta transfer ke sekolah umum kalau anak itu benar-benar sekolah di sini,” gerutu Caleb kesal. “Apa sih yang dipikirkannya?” Dia melihat denah sekolah dan mencari kelasku. Saat melihatku mendekat, dia melepas kancing kemeja bagian atas dan melonggarkan dasinya. Yang dia pakai itu seragamku, agak kebesaran di tubuh kurusnya. Sepatu yang dipakainya juga sepatuku. Aku yakin dia ke sini belum izin Daddy Drey atau ayahnya. Kalau sampai ketahuan, dia pasti kena omel. “Buat apa kamu ke sini?” desisku sambil berjalan di sampingnya menuju keas bahasa Inggris di pelajaran pertamaku. “Ibumu bilang kamu sering mendapat risakan di sekolah. Katanya, anak bernama Jade--yang kumaki-maki tadi--sering mengganggumu dan Archie.” “Benar dia bakal bangkrut?” “Tentu saja. Apa kamu pikir Heath Grahamm yang super iseng itu diam saja melihat keponakannya ditindas orang?” “Sialan!” “Kenapa?” “Aku bukan pengecut yang meminta bantuan orang lain untuk menghadapi perangku sendiri.” Dia tertawa. “Claire, kamu tidak bisa melarang orang yang mencintaimu mengungkapkan cinta padamu. Kalau kamu memang tidak ingin orang lain ikut campur dengan perangmu, sekalian saja, jangan ceritakan apa pun pada mereka. Beres, kan?” Dia berbalik, berjalan mundur sampai kami di depan pintu kelas. “Tidak lucu, kamu mengumumkan pada semua orang tentang masalahmu, lalu marah saat orang bereaksi terhadap hal itu. Belajarlah menjaga rahasia.” “Memangnya kamu punya rahasia?” Dia menyunggingkan senyum kecil. “Aku bisa tetap hidup sampai saat ini karena belajar menjaga rahasia, Claire sayang.” Dia masuk lebih dulu ke kelas, sama sekli nggak merasa canggung sekelas dengan orang-orang yang nggak dia kenal. Dia memilih tempat duduk paling depan. Karena masih banyak yang ingin kutanyakan padanya, kuseret dia ke belakang. “Mom bilang aku tidak boleh menyimpan sesuatu dari mereka,” protesku. “Anak-anak memang tidak boleh menyimpan rahasia dari orangtuanya.” “Apa kamu merasa masih anak-anak? Lihat dirimu, Claire! Kamu sudah remaja. Lima belas tahun itu bukan usia bocah lagi. Sebentar lagi kamu punya kewajiban menjaga keluargamu karena kamu anak sulung, anak tertua mereka. Kalau kamu tidak cerdas dalam memilih informasi apa yang bisa kamu sampaikan dan yang perlu kamu simpan sendiri, kamu akan terus merepotkan mereka.” “Termasuk yang kita dengar di rumah sakit?” Dia terlihat terkejut aku mengungkit masalah itu lagi. “Termasuk itu.” “Miss Johansson dan miss--siapa namamu?” Guru bahasa Inggrisku, Mrs. Wyatt melotot di depan kelas karena kami ngobrol terus sepanjang pelajaran. Alice ikut melotot melihat Mrs. Wyatt itu. “Oh, Claire benar. Ini bukan kelas sejarah. Aku salah masuk kelas.” Dia berdiri dan menyeret tasnya--tasku yang dia bawa maksudku. “Maafkan aku. Aku baru saja kembali dari London. Aku masih terpengaruh jetlag dan pikiranku terasa buruk sekali. Kukira ini kelas Mr. Carlos. Baiklah. Aku akan keluar. Terima kasih, Claire. Kamu menyelamatkanku,” katanya sebelum keluar ruangan meninggalkanku sendirian yang dipelototin seisi kelas. “Siapa Mr. Carlos?” Mrs. Wyatt bertanya padaku. Tentu saja aku cuma bisa mengangkat bahu. Alice dan motor besarnya menghilang setelah itu. Dia kembali ke rumah dan mungkin sedang diomeli habis-habisan sama ayahnya dan Daddy Drey. Sedang Caleb, musuh besarnya, bernapas lega karena Alice nggak jadi sekolah di sini juga. “Kalau kamu terlalu membencinya, nanti jadinya kamu akan menyukainya karena batas benci dan suka itu tipis sekali.” Archie menjelaskan dengan nada sok tahu saat kami makan siang bersama. “Sama sepertimu,” sambung Seraphine yang nggak mau makan apa pun selain pisang dan s**u dengan alasan menjaga bentuk tubuh. “Kalau kamu terlalu benci padaku, nanti kamu akan mencintaiku.” “Makan tuh!” kataku dengan bahasa Indonesia. Wajah Archie langsung muram. Dia nggak ngomong apa-apa lagi setelah itu. Aku juga muram sebenarnya. Di dalam kepalaku terus terngiang kata-kata Alice tentang menjaga rahasia dan menjaga keluarga. Alice benar juga, sih. Kalau aku terus membebani Mom dan Daddy Drey bagaimana mereka memikirkan Archie dan urusan lain. Lihat saja, Daddy Drey juga punya urusan dengan musuh-musuh bisnisnya. Dia juga sekarang harus menghadapi masalah dengan kesehatannya. Daddy Drey sengaja nggak bilang pada Mom karena Mom pasti akan sedih sekali kalau tahu bahwa sakitnya Daddy Drey itu karena dikerjai orang saja. Kalau Daddy Drey saja bisa menyeleksi informasi yang diberujannya pada Mom, kenapa aku nggak? Cewek rambut merah itu nggak ada di rumah saat aku pulang sekolah, padahal aku sangat ingin bertanya lagi padanya. Kata Mom, “Steve buru-buru pulang karena Marly ada di New York. Marly kerampokan di sana dan nggak punya teman. Steve kelihatannya marah banget.” “Steve pasti langsung telepon polisi. Dia kan pengacara. Dia pasti langsung menuntut penjahatnya,” kata Archie dengan semangat. Aku diam saja. Di dalam kepalaku membayangkan Steve menembak orang itu seperti menembak Dokter Edwards. Mungkin, sebagai pengacara, Steve punya kekebalan hukum atau hal lain yang membuatnya santai saja setelah membunuhi orang. Mom juga pernah bilang Steve selalu membawa revolver khusus di kaus kakinya. Apa dia jua membawa benda itu saat berjalan-jalan denganku? Apa dia membawa benda itu saat hampir menghajar Caleb? Apa dia bisa langsung menembak kepala siapa saja yang menyinggungnya? Apa Daddy Drey juga begitu? Apa ini alasan mereka mengajariku menembak, agar aku bisa menjaga diri seperti mereka? Bagaimana dengan mayatnya? Apa nggak ada yang panik kalau ada dokter yang jadi mayat di ruangannya? Apa nggak ada yang mendengar suara pistol itu? “Claire? Ada masalah?” tanya Daddy Drey saat makan siang. Alis terangkat, ekspresi yang selalu ditunjukkan kalau akan memaksaku bercerita. Aku menggeleng. “Hanya keram perut karena menstruasi.” “Kalau keramnya parah, kita bisa periksa, Claire. Jangan sepelekan rasa sakit saat haid. Ciri awal endometriosis juga begitu.” Seperti biasa, Mom selalu memasang wajah khawatir yang menurutku berlebihan. “Aku baik-baik aja kok, Mom. Biasanya kalau tiduran bentar bakal sembuh.” Aku meletakkan garpu dan pisauku karena nggak sanggup memakan daging di piringku lagi. “Aku ke kamar dulu. Jangan bangunkan aku karena apa pun. Oke? Kalau aku nggak datang untuk makan malam, biarkan aja. Nanti aku ambil makanan ringan sendiri kalau lapar,” kataku lagi sambil membawa apel ke kamar. “Kasihan ya cewek itu. Kalau nggak menstruasi, dia hamil. Untung aku cowok,” kata Archie agak keras, mungkin agar aku kembali untuk melempar apel ke kepalanya.  Tapi, aku tetap berjalan ke kamar, memandangi lukisan keluarga kami yang kubuat saat Daddy Drey di rumah sakit. Aku mengerti maksud Alice. Aku nggak akan membebani mereka lagi dengan t***k-bengek urusan anak kecil yang bisa kuhadapi sendiri. Mereka berhak bahagia seperti rumah tangga lain. Mommy juga butuh rileks dan bahagia agar bisa hamil lagi. Aku juga nggak boleh terlalu memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya nggak perlu kupikirkan. Mungkin, dengan bersikap cuek seperti Alicce, aku bisa sedikit menyelamatkan hidupku. Dengan begini, aku berkonsentrasi pada proyek mesinku bersama Caleb. Dia memang akan segera melamar pekerjaan sebagai asisten peneliti sambil kuliah di MIT nanti. Akhur tahun ini dia akan mengikuti ujian kelulusan dan langsung masuk kuliah. Tapi, proyek ini harus tetap berjalan. Kami mungkin akan menyelesaikan proyek ini dari jarak jauh. Yang jelas, kami sepakat nggak mau kalah dari perusahaan Archie dan Dean yang telah berhasil membuat model pertama mereka dan melakukan presentasi di depan Daddy Drey. Namun, memang dasar kehidupan kami ini nggak pernah dibiarkan tenang, pada bulan Agustus tepat ketika Mom menangis mengatakan bahwa teman mereka, Fifi Stevens meninggal di New York dan kami akan pergi sekeluarga untuk melayat, seorang kurir menyampaikan surat dari Haussen-Dwarf Asylum, tempat Mirriam Rivera dirawat. Seharusnya mereka sudah nggak boleh menghubungi Drey lagi, tapi kenapa sekarang mereka mengirim surat? Sebelum siapa pun membukanya, kubawa surat itu ke kamar. Tahu nggak, aku terkejut sekali membaca surat itu. Mirriam hamil. Mereka baru tahu saat mengambil sampel darah dan urin Mirriam untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Mereka merasa kesulitan untuk memeriksa karena dia nggak mau berkomunikasi dengan siapa pun. Dengan marah aku membalas surat itu. Aku membuat tulisan cetak atas nama Daddy Drey untuk menyatakan keberatan untuk datang ke rumah sakit jiwa itu karena Mirriam sama sekali bukan tanggung jawabnya. Aku memberikan kontak Avery Rivera yang seharusnya bertanggung jawab ppenuh atas cewek sialan itu. Kucetak surat itu dalam kertas surat resmi yang sering dipakai Daddy Drey, lalu kumasukkan dalam amplop putih kosong. Dengan hati-hati aku membubuhkan segel lilin Syailendra agar surat itu terlihat resmi. Saat aku meniup-niup lilin panas di atas kertas putih, pintu ruang kerja Drey dibuka. Kusembunyikan surat itu ke bagian bawah rokku. Kesalahanku adalah meletakkan bagian lilinnya tepat menyentuh kulit pahaku. Tahu bagaimana rasanya bersentuhan dengan lilin panas? “Kenapa, Claire?” tanya Drey yang membawa buku tebal di tangannya. “Kamu kesakitan?” Kenapa sih orangtua selalu bisa membaca pikiran anaknya? “Nggak,” jawabku lancar. Aku menggoyang-goyangkan kaki seperti biasa kalau sedang duduk di kursi kulit Drey yang kakinya lebih tinggi. “Aku cuma kaget aja. Daddy mau apa?” “Mengambil buku yang seharusnya ada di meja itu.” Dia meletakkan buku tebalnya di meja kecil, lalu duduk di sofa. “Sudah membereskan barangmu?” Aku mengangguk cepat. “Kita nggak akan lama di situ, kan? Kita cuma memakai baju hitam, kan?” “Kita akan di sana sampai satu minggu mungkin. Aku akan menghadiri acara di Civac.” “Civac?” “Perusahaan Heath.” Dia memandangiku, terlihat berusaha menilai apa sebenarnya yang kusembunyikan. Ini yang membuatku amat sangat khawatir. “Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan dalam acara itu.” “Tentang bisnis?” “Tentu saja.” “Daddy masih perlu uang untuk bisnis? “ “Sebenarnya aku tidak butuh uang, Sayang. Aku hanya ingin terus berpikir. Laki-laki butuh berpikir dan kesibukan agar tetap berada pada kondisi prima.” “Oh.” Aku ingin sekali pergi. Daddy Drey itu bisa tahu segalanya. Sebentar lagi dia pasti tahu kalau pahaku terbakar lilin. Aku juga khawatir lilin ini kering dan lengket dengan kulitku. Pelan, kutarik amplop itu saat Drey berpaling, mengambil buku dari rak di belakangnya. Hampir saja lilin itu lengket beneran dengan kulitku. Di paha kananku ada bekas terbakar berbentuk bulat berwarna merah membara. Kalau ada yang melihatnya dengan saksama pasti akan melihat simbol S besar. Kulipat amplop itu dan kusimpan di kantong rokku. “Aku mau ke kamar dulu,” kataku berusaha nggak menarik perhatiannya. “Claire,” panggilnya pelan. “Ya, Dad?” Dengan mata masih berada pada buku di tangannya, Daddy Drey berkata, “Kamu boleh menyembunyikan apa pun yang kamu anggap privasi,tapi ... kuharap kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat malu diri sendiri dan keluargamu.” [1] Dean Bexter itu tetangga kami, satu-satunya teman Archie. Dia juga berdarah campuran. Ibunya orang Indonesia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD