16

1411 Words
Rabbit caffe. Rika tengah menunggu seseorang didalam caffe tersebut dengan segelas cappucino diatas meja tempat ia duduk. Tadi Rika mendapat telefon dari seseorang jika ia ingin bertemu di caffe ini. Jadilah Rika berdandan secantik mungkin dan berangkat dengan senyum yang menghiasi wajahnya saat diperjalan menuju caffe. Tak lama kemudian pintu caffe berbunyi menandakan bahwa ada pelanggan yang masuk. Hal itu membuat Rika mengalihkan perhatiannya dari cappucino-nya menuju seseorang yang baru saja masuk. Ketika ia tahu siapa yang baru memasuki caffe, ia berdiri dan melambaikan tangannya kearah seseorang tersebut.     "SAN DISINI" teriaknya. Seseorang yang dipanggil Sandi itupun menoleh dan langsung menghampiri Rika.   "maaf menunggu lama" kata Sandi.   "tak apa, pesananku juga baru saja datang kok" jawab Rika dengan senyum terkembang diwajahnya.   "emmz begitu ya"   Setelah itu suasana sedikit sunyi diantara mereka berdua. Sandi yang menunggu pesanannya datang dan Rika memakan cheescake yang ia pesan tadi.   "ini pesanan anda tuan"   Ah itu bukanlah Rika maupun Sandi yang berbicara melainkan seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Sandi. Setelah kepergian sang pelayan, suasana menjadi hening (lagi). Sepertinya mereka berdua sangat betah berada suasana seperti saat ini. Rika yang sedikit merasa malu-malu bertemu dengan Sandi diluar seperti sekarang dan Sandi yang memang dari lahir sudah memiliki wajah datar dan sedikit berbicara bahkan ia jarang sekali peka terhadap seseorang.   "jadi kenapa kau mengajakku bertemu disini?" tanya Rika memberanikan diri meskipun ia gugup saat ini.   "eemz iya, besok kan ada kelas musik dan besok juga adalah penilaian tugas yang diberikan" jelas Sandi.   "lalu?"   "ini adalah latihan terakhir kita, jadi aku ingin kita mencobanya di caffe ini" jelas Sandi membuat Rika melebarkan matanya.   "kau becanda ya, San?" tanya Rika tak yakin.   "tidak"   Dengan kata itu Sandi berdiri dan mengajak Rika berdiri juga. Mereka berdua berjalan menuju panggung kecil yang tersedia dipojok caffe. Panggung itu sering digunakan untuk menghibur pengunjung yang datang di cafe itu setiap malam, jadi tak ayal jika caffe ini dipenuhi dengan pasangan remaja atau para pemuda yang hanya sekedar bertemu denagn temannya untuk bercerita. Sampainya diatas panggung Rika begitu gugup, karena semua mata tertuju pada mereka berdua.   "jangan gugup ada aku disini" kata Sandi menenangkan Rika dengan mengelus punggung gadis ramping itu.   Tak lama musik mengalun membuat semua orang menatap mereka berdua dengan pandangan berbinar. Mereka berdua mulai menyanyi mengikuti irama musik yang diputar. Semua orangpun tak sedikit yang ikut bernyanyi bersama mereka meskipun tak terdengar, tapi mereka sepertinya menikmati lagu yang dibawakan Sandi dan Rika.   Lagupun selsai dinyanyikan, semua orang bertepuk tangan tanda mereka puas dengan persembahan yang diberikan oleh Sandi dan Rika malam ini. Tak jarang juga mereka mendapat pujian saat mereka berdua berjalan kembali menuju tempat duduk mereka. Rika yang mendapat respon seperti itu dari pengunjung caffe merasa malu dan senang. Sedangkan Sandi yang melihat kegembiraan dari Rika itupun ikut tersenyum menandakan kalau ia juga senang dengan hasil nyanyian tadi.   "wah aku tak menyangka mereka menikmati lagu kita" kata Rika senang sambil berjalan ketempat duduk mereka.   "hmzz"   "aish! Katakan sesuatu" kesal Rika yang hanya mendapatkan respon "hmz" dari Sandi.   "ya, kita berhasil setidaknya besok kita akan mendapat nilai bagus"   "ya aku yakin itu" timpal Rika.   "eemz Rik” panggil Sandi.   "iya"   "setelah ini tolong menjauhlah dariku, aku tahu kau menyukaiku, tapi aku tak menyukaimu" kata Sandi ttanpa basa basi.   "apa maksudmu?" tanya Rika tak mengerti.   "aku menyukai Meika, jadi menjauhlah dariku sebelum kau sakit hati Rik" jelas Sandi.   "kau bercanda kan?" tanya Rika tak percaya.   "maafkan aku, Rik" Rika tak merespon kata maaf Sandi, ia langsung pergi begitu saja dari hadapan Sandi. Sungguh ia merasa sakit didadanya mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Sandi. Ia tak menyangka bahwa Sandi bisa berkata seperti itu padanya. Membuat ia begitu terluka dengan kata-kata seperti itu.   ❇   Rumah Siska.   "aaaah Reza jangan menggodakuuuuh"   Apa yang terjadi pada Siska? Mari kita lihat! Setelah menjelaskan semuanya kepada Siska, Reza langsung saja mencium bibir Siska. Awalnya hanya sebuah ciuman biasa, tapi setelah kihyun tak sengaja menyenggol barangnya(?) membuat Reza tak segan-segan memperdalam ciuman mereka. Bahkan ia juga menggunakan lidahnya mengajak lidah Siska untuk bertarung dengannya. Siska sedikit kualahan dengan yang Reza lakukan padanya. Bahkan sekarang tangan Reza berani menelusuri tubuh Siska dengan gerakan yang sensual. Siska sendiri jangan ditanya, ia mulai terbuai dengan perlakuan Reza. Siska mulai mendesah tertahan dengan apa yang dilakukan Reza pada tubuhnya. Karena sudah tak tahan Reza mulai mengangkat tubuh Siska ala bridal, menuju kamar gadis mungil itu. Sampainya di kamar, Reza mulai terburu-buru melepaskan seluruh pakaian Siska dan pakaiannya sendiri. Dan akhirnya keduanya melakukan malam panjang yang dihiasi dengan desahan-desahan sendual dari belah bibir Siska.   ❇   Pagi sudah menjelang di Jakarta. Bahkan matahari sudah mulai menunjukkan batang hidungnya(?). Bahkan cahayanya masuk kesalah satu kamar dikediaman Meika melalui celah jendela kamar gadis manis itu. Terlihat dua orang yang masih terlelap di kamar tersebut dengan saling merapatkan tubuh masing-masing, seakan tak terusik sama sekali dengan sinar matahari yang masuk.   Tok tok tok Hingga sebuah suara ketukan pintu terdengar oleh penghuni kamar tersebut. "NONA BANGUN SUDAH PAGI" teriak seseorang dari luar kamar.   Pemilik kamar yang mendengar teriakan tersebutpun langsung membuka matanya, mengerjap-erjapkan mata itu lucu. Menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk.   "YA BI, AKU SUDAH BANGUN" teriaknya dari dalam kamar.   Lama ia terdiam, mencoba mencari kesadaran sepenuhnya. Setelah ia benar-benar sadar, ia merasakan ada pergerakan disebelahnya. Membuat ia menoleh kesumber(?) pergerakan tersebut.   1detik   2detik   3detik     "KYAAAAAA!" teriak gadis itu sambil menendang orang tersebut sampai terjatuh dari atas ranjang.   "Auuw!....ini sakit asal kau tahu Mei..." kesal Jay-si korban penendangan, karena sudah ditendang oleh Meika-sang pemilik kamar.   "APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMARKU TUAN JAY?" teriak Meika lagi.   "huh, apa kau tak ingat kalau kita semalam melaku-"   "Yak! m***m" teriak Meika lagi sambil mengalihkan pandangannya dari Jay kearah lain.   "aku tak m***m, kau juga menikmatinya" elak Jay   "bisa kau pakai pakaianmu tuan Jay.." kata Meika "..dasar m***m"   Jay tak menjawab perkataan Meika, ia buru-buru memakai pakaiannya yang tergeletak dilantai begitu saja. Setelah selesai dengan pakaiannya ia mulai membantah ucapan Meika.   "hei! Siapa yang kau sebut m***m? asal kau ingat nona Meika, kalau kita sudah resmi menjadi kekasih hmz?" kesal Jay.   "apa kau bilang! Kita berdua kekasih! Jangan harap kau m***m" elak Meika.   "oh ya lalu siapa yang bilang ‘aku juga menncintaimu Jay’!" kata Jay sambil menirukan gaya bicara meika tadi malam.   "kapan aku bilang begitu?"   "aaish! Sudahlah, berdebat denganmu hanya membuang-buang tenaga..sebaiknya aku pulang" final Jay sambil berjalan meninggalkan Meika yang menahan amarahnya. Kepergian Jay membuat Meika merasa sedikit menyesal dengan perbuatannya tadi, tapi itu tak bertahan lama setelah ia melihat jam yang menunjukkan 06.00. Ia langsung melesat kekamar mandi, tanpa mempedulikan rasa sakit diarea privatnya.   ❇   Setelah berkutat dengan pembersihan(?) dan mempercantik diri, Meika mulai berjalan keluar kamar. Ia berjalan sedikit tertatih, karena menahan perih dibagian bawahnya. Terkutuklah Jay yang benar-benar membobol lubangnya dengan keras.   Ketika sampai dimeja makan, ia dikejutkan dengan kedua orang tuanya yang duduk manis dimeja makan tersebut. Tak mau kedua orang tuanya curiga, Meika memasang wajah yang seakan tak terjadi suatu hal yang aneh pada dirinya. Dan lebih mengejutkan lagi didepan sana Jay sedang bercanda gurau dengan orang tuanya.   "lelaki itu bukannya tadi berpamitan pulang, tapi kenapa ia masih disini" pikir Meika.     Apa aku tadi bilang Jay?     Jay Luwis!   Ya! Jay tadi berniat ingin pulang, tapi ketika ia turun dari tangga, orang tua Meika datang dan menyapanya dan menyuruhnya tinggal untuk sarapan bersama keluarga tersebut. Sebab itulah Jay masih berada di rumah Meika. Duduk manis didepan ibu Meika dan bercanda gurau bersama. Entahlah apa yang mereka bicarakan(mungkin soal pernikahan Jay dan Meika).   Ibu meika yang melihat anaknya sudah turunpun menyapa gadis manis itu dengan senyum yang merekah dibibirnya. Meika balas tersenyum kepada ibunya..   "kapan kalian pulang?" tanya Meika sambil duduk didepan ibunya.   "tadi pagi, sayang" jawab ayahnya.   "oh"   "kenapa kau tak bilang pada kami jika kau sudah memiliki kekasih, sayang?" tanya ayahnya lagi.   "ayah dia bu-"   "sudahlah jangan disembunyikan, ibu sudah tahu semuanya" bantah ibu Meika dengan senyum.   Meika tak bisa lagi berkata-kata, ia hanya memandang ibunya yang tersenyum lebar. Kemudian ia melirik Jay yang sedang asyik memakan sarapannya.   "apa yang anak ini katakan pada orang tuaku" batin Meika.   "aku sudah selesai makan terimakasih" ucap Jay.   "iya, sayang dan terimakasih ya sudah menjaga Meika saat kami pergi" balas ibu Meika. Ia tidak tahu jika hubungan anaknya dan Jay sudah sejauh ini.   Meika menatap ketiga orang disekitarnya itu dengan curiga. Terutama kepada Jay karena ia tidak tahu apa saja yang sudah lelaki m***m itu katakan pada orang tuanya.   "kenapa kau tak pergi....makananmu sudah habis kan?" tanya Meika mengusir Jay.   "dia menunggumu, sayang...jadi cepat habiskan makananmu" bukannya Jay yang menjawab melainkan ibunya sendiri..   "baiklah ibu" jawab Meika lesu dan melanjutkan sarapannya   Setelah berkutat dengan makanannya, Meika dan Jay mulai berangkat sekolah bersama. Tapi, sebelum itu, Jay mampir terlebih dahulu ke apartemennya untuk mengganti baju. Saat sudah selesai, mereka berdua mulai berangkat menuju sekolah. Tentu saja memakai motor Jay, jadi Meika tidak bertanya apapun, karena percuma saja jika ia bertanya yang jelas pertanyaannya akan teredam oleh angin yang berhembus kencang. Bahkan tadi di apartemen Jay saja, Meika tak sempat bertanya pada lelaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD