Sampai di sekolah, Meika langsung turun dari atas motor Jay setelah lelaki itu memarkirkan motornya dengan tepat.
"aish! ini kenapa susah sekali sih...padahal tadi sangat mudah" kesal Meika yang tidak bisa melepas pengait helm-nya.
"sini" tarik Jay dan tangannya langsung bergerak melepas pengait helm yang dipakai Meika.
"terimakasih" kata Meika ketika helm-nya terlepas.
"eh tunggu" cegah Jay saat Meika akan berjalan meninggalkannya.
"apa la-"
"sekarang kau adalah kekasihku jadi tetap berjalanlah didekatku" potong Jay sambil merangkul pundak Meika, agar menempel padanya. Meika hanya pasrah saja diperlakukan Jay seperti itu, toh dia dan Jay sekarang adalah pasangan kekasih. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas dan tak sedikit orang yang menatap mereka heran saat keduanya melewati koridor sekolah..
"oh ya Jay, tadi apa yang kau bicarakan pada kedua orang tuaku?" tanya Meika ketika ia ingat sesuatu yang bersarang diotaknya sejak tadi.
"aku hanya bilang kalau aku kekasihmu dan menjagamu semalam" jawab Jay enteng.
"APA?" teriak Meika sambil menjauh dari Jay.
"ya, tapi aku tidak bilang kalau kita melakukan itu"
"yak! pelankan suaramu Jay m***m" malu Meika karena Jay mengungkit kejadian semalam.
"oh ya, Mei...maaf soal taruhan it-"
"ssst..sudah tak apa....lagipula kau sudah menjelaskannya semalam" potong Meika.
"kau tak marah?"
"awalnya aku marah, tapi saat kau menjelaskannya...aku tak lagi marah"
"aku mencintaimu Mei"
"aku juga mencintaimu m***m"
Lalu mereka berdua tertawa bersama sampai masuk kedalam kelas. Bahkan mereka berdua tak menghiraukan tatapan aneh dari teman sekelas mereka. Siaka, Reza, Eric, Jacop dan Dimas, juga merasa aneh dengan kedatangan keduanya yang sangat tak wajar itu.
"apa yang terjadi?" Siska
"mereka kenapa?" Eric
"kak Jay memang hebat" Reza
“apa mereka sudah jadian” Jacop
“kak Jay benar-benar keren” Dimas
Itulah kata yang terlintas diotak mereka masing-masing. Sedangkan dua makhluk yang ditatap aneh itu, tak merasa terganggu sedikitpun. Bahkan mereka makin mesra ketika sudah sampai didepan teman-teman mereka.
"kalian kenapa?" tanya Siska yang penasaran sejak tadi.
"tak ada apa-apa" balas Meika dengan senyumnya.
"jangan bilang kalau ka-"
"ya memang benar kami berdua pacaran….memang kenapa?" potong Jay
"yes akhirnya kakak mengakuinya juga" kata Reza. Ia sangat senang mendengar kakaknya sudah menjalin hubungan dengan Meika.
"sepertinya sebentar lagi akan ada makan gratis" sorak Dimas.
Mendengar ucapan Dsimas, mereka semua tertawa bersama.
Tanpa mereka sadari seorang lelaki yang baru saja masuk kelas mereka itupun mengepalkan tangannya.
"b******k" geramnya.
❇
Usai sudah tugas seni musik yang kelas 2-A dapatkan dari pak Juni. Setiap pasangan maju satu-persatu untuk menyanyikan lagu yang mereka pilih untuk tugas itu. Semua murid dikelas 2-A tampak senang dengan hal itu, mereka tak perlu lagi meluangkan waktu untuk sekedar latihan yang selalu mereka kerjakan hampir setiap minggunya. Tapi, berbeda dengan seorang gadis yang berperawakan tinggi dan rambut sebahu yang dibiarkan terutai itu. Ia terlihat tidak senang dengan hal itu, pasalnya hari ini adalah hari terakhirnya untuk menggannggu seorang Sandi. Dia adalah Rika, pasangan bernyanyi Sandi dalam tugas seni itu. Tapi, setelah ini mereka tak akan bisa bertemu dengan lagi maksudku mereka tak akan bertemu selain dilingkungan sekolah bahkan Rika dilarang untuk menyapa Sandi. Sungguh membayangkannya saja membuat Rika tak sanggup apa lagi untuk menjalani semuanya, mungkin ia akan menyerah dengan hal itu. Ia berjalan dengan lesu meninggalkan ruang kelas menuju kantin. Mungkin dengan minum es kesukaannya semua hal itu akan hilang dalam otaknya.
❇
Meika, Siska, Jay dan teman-temnnya sekarang sudah berada di kantin sekolah untuk merayakan kesuksesan mereka yang menyanyi dengan sangat baik tadi. Dan juga merayakan pasangan yang baru saja resmi menjalin hubungan.
"aku tak menyangka Meika memiliki suara yang bagus" puji Eric.
"ah biasa saja sih, Ric” jawab Meika malu-malu
"pasti nanti kita mendapat nilai bagus juga karena kita sudah bekerja keras" ucap Siska penuh keoptimisan.
"hmz aku juga merasa seperti itu Sis" kata Meika membenarkan ucapan Siska.
“sayang sekali kita tidak satu kelas jadi aku penasaran dengan suara kak Meika” kata Dimas dengan raut muka sedih.
“tak apa lain kali aku akan menyanyi untukmu” jawab Meika yang membuat Dimas, Reza dan Jacop berbinar. Setelah perbincangan singkat mereka, mereka melanjutkan acara makan yang tertunda dengan kitmat, tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Meskipun Jay sering kali menggoda Meika dengan menyenggol lengan gadis manis itu agar makanannya tak masuk kedalam mulut atau dengan menunjuk mulutnya agar disuapi oleh Meika. Tapi, aksi mesra-mesraan itu harus berhenti.
"boleh aku pinjam Meika sebentar?" tanya seorang laki-laki dihadapan mereka.
"maaf aku tidak memperbolehkan kau membawanya, San" jawab Jay cepat.
"oh jadi kau lupa jika dia hanya kita jadikan bahan taruhan Jay!" sindir Sandi pada Jay.
"lagipula dia sudah tahu, benar kan, sayang?" tanya Jay pada Meika, sedangkan yang ditanya mengangguk sebagai jawaban.
"jadi kau kalah kak dan kau harus menjadi b***k kak Jay selama satu bulan kedepan" bukan Jay yang mengatakan itu melainkan Reza.
"diam kau!" bentak Sandi pada Reza. Ia tak terima sambil berlalu pergi meninggalkan ketujuh orang itu.
"sepertinya aku harus menyusulnya…" kata Meika.
"tidak! kau tetap disini, sayang…" tolak Jay, sambil mengelus rambut Meika sayang. Ia pun pergi meninggalkan teman-temannya dan menyusul Sandi. Sedangkan Meika merasa khawatir dengan lelaki berhidung mancung itu. Ia ingin menyusul Jay pergi, tapi ditahan oleh Reza karena ia tahu kalau Jay akan marah pada Meika jika gadis manis itu tak menuruti perkataan Jay. Jadi mau tak mau Meika mengikuti perintah Reza dengan duduk lagi dikursinya.
❇
Jay sampai ditaman belakang sekolah dan dugaannya benar jika lelaki tinggi yang ia kejar tadi berada disana. Ia berjalan mendekati Sandi dan berdiri dibelakang lelaki itu.
"maafkan aku" kata Jay.
"untuk apa?" jawab Sandi dengan sinis.
"bukannya aku lupa dengan taruhan itu tapi...."
"kau menyukainya.."
"aku tak menyukainya..hanya saja aku mencintainya"
"ternyata kau masih sama...merebut milik orang lain" ucap Sandi sambil membalikkan badannya berhadapan dengan Jay.
"aku tak merebutnya darimu"
"cih! Munafik...kau menerima taruhan itu, tapi kau mencintainya" ejek Sandi.
"terima saja kekalahanmu itu, San..dan aku tak akan memintamu menjadi budakku"
"cih! Aku tak menerima itu"
Bugh
Bugh
Pukulan itu terjadi karena Sandi yang memulai. Ia tak tahan dengan ucapan yang dilontarkan Jay padanya. Ia kesal, karena untuk kedua kalinya gadis yang ia cintai lebih memilih Jay dari pada dirinya. Ia tak habis pikir, apa yang kurang dari dirinya, tinggi, tampan dan juga kekar sama seperti Jay hanya bedanya tinggi badan saja yang membedakan keduanya.
Bugh
Bugh
Pukulan itu Jay dapatkan dari Sandi lagi, ia tak membalas pukulan Sandi padanya.
"kenapa kau tak melawanku huh!" teriak Sandi marah.
Bugh
Tak ada jawaban dari JAy, ia hanya diam menerima pukulan itu. Ia berfikir mungkin dengan ini membuat Sandi reda dan mau memaafkannya. Eh tunggu ada yang aneh dengan diri Jay. Bukannya ia tak mau kalah dengan orang lain dan bukannya ia tak mau minta maaf pada orang lain jika ia bersalah, tapi apa yang baru saja ia pikirkan. Sepertinya otak Meika menyalur pada lelaki itu sampai-sampai Jay berfikir seperti itu.
Bugh
Pukulan dan tendangan yang terus Jay dapatkan tak mengubah pendirian Jay untuk melawan Sandi sedikitpun. Bahkan suasana yang tadinya sepi menjadi ramai karena pertunjukan(?) yang Sandi dan Jay lakukan. Sandi yang hampir saja memukul telak wajah Jay lagi.
"Yak! HENTIKAAAAAAAAN"