Part 5

1621 Words
"Dia ayah dari anak yang ada  dikandunganku," ucap Runa pada Salman. Salman yang sedang fokus menyetir langsung menengok ke arah Runa. Dilihatnya Runa tersenyum kearahnya. Sejak tadi Salman memang dibuat bingung dengan keadaan yang terjadi di depan ruang rawat tadi. Tapi ia sama sekali tak ingin bertanya atau menyimpulkan sendiri. Jadi ia memilih diam dan pura-pura tak ingin tahu hal yang sebenarnya. Namun ternyata tanpa ditanya Runa sendiri yang menjelaskan kepadanya. "Pasti Bang Salman berpikir aku perempuan nakal," lanjut Runa. ia tersenyum sendiri menanggapi ucapannya sendiri. "Apa kamu punya kemampuan membaca pikiran?" tanya Salman sambil terus menyetir. Runa tersenyum. "Wajar kalau Bang Salman mikir begitu," sahut Runa. "Sebaiknya kamu belajar  ilmu membaca pikiran ke orang yang ahli, kemampuan kamu saat ini benar-benar payah," ujar Salman. Runa menatap Salman dengan pandangan tak bisa diartikan."Dia nggak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya," lanjut Runa. Entah keberanian dari mana, hingga ia bisa menceritakan aibnya pada orang yang baru ia kenal itu."Tapi aku juga enggak bisa menyalahkan lelaki itu sepenuhnya, karena aku juga yang enggak bisa menjaga diriku," sesal Runa, kepalanya menunduk, hatinya bingung harus sedih atau senang mengandung janin di rahimnya. Salman memperhatikan Runa dari sudut matanya sambil memutar kemudi ke sebelah kiri. "Jangan menambah dosa kamu dengan menggugurkan bayi itu, cukup dosa saat kalian memproduksinya," pesan Salman dengan santai tanpa bermaksud menggurui Runa.   ***   Petra dan Runa yang semula hanya sekedar tetangga di kosan kini menjadi lebih dekat, beberapa kali Petra menginap di kamar Runa untuk menemani perempuan itu, atau sebaliknya. Hubungan Runa dan Salman pun semakin dekat. Dua orang yang semula tak saling mengenal kini sering pergi bersama atau berbagi cerita. Salman pun seperti memiliki adik baru dengan kehadiran Runa, mereka sering kali pergi bersama. Seperti siang ini, Salman tengah duduk di ruang tunggu poli kandungan. Runa yang baru saja keluar dari ruangan  bertuliskan dr. Johanes, SpOG di daun pintu, senyumnya merekah menatap lembaran foto kecil ditangannya. Sambil mengelus perutnya ia berjalan mendekati lelaki yang sedang duduk memperhatikan tingkahnya. "Gimana? Si dedek sehat?" tanya lelaki yang berdiri saat Runa mendekatinya. "Sehat dong," jawab Runa sambil terkekeh senang, "ini fotonya, lucu ya imut," ucap Runa sambil menunjukkan lembaran hasil USG yang baru ia jalani. "Lucu banget, eh tapi bayinya yang mana?" tanya Salman dengan wajah bodoh. Runa langsung memasang wajah cemberut saat mendengar ucapan lelaki yang kini terkekeh disampingnya. "Bang, ini lho bayinya," ucap Runa gemas, jarinya membentuk lingkaran menunjukkan potret janin yang ada di lembaran itu. "Oh itu, habis semuanya terlihat sama aja, aku jadi bingung  lihatnya," jawab Salman yang langsung dihadiahi pukulan di lengan oleh Runa. "Tadi waktu di layar kelihatan dia bergerak Bang, gemas banget deh lihatnya," ucap Runa menginformasikan perkembangan bayinya pada lelaki yang sudah dua kali menemaninya melakukan pemeriksaan kandungan ini. "Wah sayang banget ya aku enggak bisa lihat," ucap Salman dengan wajah kecewa yang di buat-buat. Runa tertawa melihatnya. Sejak peristiwa Runa hampir kehilangan bayinya di umur kehamilan delapan minggu itu, mereka menjadi dekat bahkan setiap dua minggu sekali Salman yang mengantarkan Runa periksa. Sebenarnya ia bisa periksa sebulan sekali tapi karena keluhan mual muntahnya dua minggu lalu ia di haruskan kontrol hari ini untuk mengevaluasi keluhannya. "Aku lapar, Bang," ucap Runa. "Ayo kita beli makan, biar si dede cepat besar," ajak Salman. Dua orang itu tampak seperti pasangan yang baru saja memeriksakan kondisi bayi mereka, bahkan saat menunggu obat seorang ibu dengan terang-terangan member pujian pada Salman yang tampak begitu sabar dan lembut menghadapi Runa yang terus bercerita ini dan itu. Runa dan Salman yang tak mampu menjelaskan hanya tersenyum geli mendapat pujian itu. Selesai menebus obat, mereka berdua menuju pujasera yang tak jauh dari rumah sakit. Salman menuju pedagang soto ayam sedangkan Runa ingin berkeliling melihat apa saja yang di jajakan disini. Runa mendekati salah satu pedagang. Ia meneguk liurnya saat seseorang membawa semangkuk bakso yang mengeluarkan aroma khas. "Pesan bakso ya, Pak. Satu mangkuk, dicampur aja semuanya," pesannya. Salman yang sudah memesan makanan menghampiri Runa. "Makan bakso? enggak mual? pakai nasi, ya?" tanya Salman yang di jawab Runa dengan sekali gelengan. "Memang kamu sudah makan nasi?" tambah Salman lagi. Lagi-lagi Runa menggeleng. "Tadi pagi aku makan kentang, sama-sama karbohidrat 'kan, kata dokter boleh kok, enggak harus makan nasi kalau lihat nasi malah mual," jawab Runa. Entah sejak kapan tapi Runa yang biasa melahap apa saja kini menghapuskan kata nasi di daftar menunya. Pengaruh kehamilan ‘kah? "Ya udah, ayo duduk aja, nanti pesanannya diantar aja," ajak Salman. Mereka menempati kursi kayu panjang, Salman duduk di seberang Runa dan di sebelah Runa terdapat orang lain yang juga sedang makan disana. "Pesanannya, Mbak," ucap seorang anak lelaki yang membawakan nampan berisi semangkuk bakso, semangkuk sambal, dan tiga botol masing-masing berisi saos, kecap dan cuka. "Terima kasih,"ucap Runa dengan riang. Salman memperhatikan Runa, selama sebulan mengenal Runa jarang ia melihat gadis didepannya segembira ini. Dan kegembiraannya hanya karena semangkuk bakso, benar-benar wanita itu makhluk yang unik. Salman yang sedang tersenyum diam-diam, langsung memasang wajah kesal, saat melihat benda yang berada di genggaman Runa, diambilnya botol cuka itu, ia juga menjauhkan botol saos dari Runa. "Pakai ini aja," ucap Salman menyodorkan kecap ke arah Runa. Runa memasang wajah cemberut tapi ia bisa apa kalau wajah Salman lebih menyeramkan dibandingkan dirinya. Runa menuangkan kecap ke dalam baksonya, selera makannya yang tadi berada di puncak kini merosot tajam. Ia malas melihat kuah bakso yang hitam tak menggairahkan, benar-benar mengurangi nafsu makan. Hilang sudah bayangan bakso segar dengan kuah pedas asam yang ia harapkan. "Kamu jadi pindah ke rumah ibu Dini?" tanya Salman sambil mengaduk soto ayam pesanannya yang baru saja datang. "Sepertinya jadi, mereka memaksa aku terus. Lama-lama enggak enak juga nolaknya, menurut abang gimana?" Tanya Runa sambil memperhatikan soto ayam yang sedang Salman aduk. Sesekali ia meneguk ludahnya sendiri. "Terserah kamu, itu 'kan hak kamu, aku enggak mau ikut campur," jawab Salman sambil menuangkan sedikit kecap dan sambal ke sotonya. Runa memperhatikan setiap gerakan Salman, rasanya ia juga ingin menuangkan sambal ke baksonya. "Rencana pernikahan kamu sama Irsyad gimana?" tanya Salman kini ia menatap Runa dan tak lagi mengurusi soto ayamnya. "Aku menurut aja apa kata mereka, bayiku ‘kan butuh ayah," ucap Runa matanya tak lepas  memperhatikan soto ayam yang berada di hadapan Runa. Ia tidak menyadari kalau Salman juga memperhatikannya. Salman melihat sesuatu bergerak naik turun di leher Runa. Ia heran namun setelahnya tersenyum geli saat mengikuti arah pandang Runa yang melihat soto ayamnya. "Kalau mau bilang aja neng, sampai nelan ludah begitu," sindir Salman, Runa tersadar dan malu ketahuan menginginkan soto ayam milik Salman. "Ini makan aja, tapi jangan ditambah sambal ya?" ucap Salman dan menukar mangkuknya dengan milik Runa. Mata Runa berbinar dan langsung melahap soto ayam yang kini menjadi miliknya.   "Mau langsung pulang?" tanya Salman. Keduanya sedang berjalan menuju mobil setelah selesai menghabiskan makan siang mereka. "Aku mau ke minimarket dulu, s**u hamil ku habis," ucap Runa yang diangguki Salman. Mereka sudah berada di dalam mobil. Salman mengantarkan Runa sampai ke kosannya sekaligus ingin menengok adiknya, mengecek apakah Petra sudah pulang dari kampus atau pergi kelayapan entah kemana.   From : Petra Bang, kuota gue hbs... beliin dulu dong abangku ganteng Oke :) 17 Nov 2017, 01:55 pm   Salman mendengkus membaca pesan dari Petra membuat Runa melihat ke arah lelaki yang sedang melihat ponselnya. "Kenapa?" tanya Runa. "Petra minta di beliin kuota," jawab Salman.  "Oh, aku jual pulsa loh, mau yang berapa giga, Bang? Nanti aku kirim ke nomor Petra," jawab Runa menawarkan dagangannya. "Kamu jual Pulsa?" tanya Salman yang mulai menggerakkan kemudinya. "Iya, 'kan udah nggak kerja di bar lagi, Bang. Lumayan buat nambahin pemasukkan," jawab Runa lalu ia mengeluarkan ponselnya dari tas. "Jadi mau yang berapa giga?" tanya Runa lagi, pandangannya mengarah pada Salman yang sedang fokus menghindari jalan berlubang. "Yang lima aja biar si Pet nggak boros," jawab Salman.  Runa mengacungkan jempolnya dan segera menggerakkan jemarinya di ponsel dalam genggamannya. "Udah ya, Bang? Enam puluh ribu ya," ucap Runa sambi menunjukkan deretan giginya. Hidup ini kejam sayang, semua butuh uang termasuk Runa. Jadi maklumi saja jika ia seperti itu pada Salman. Bukannya ia tidak tahu terima kasih, apalagi biaya rumah sakit kemarin juga menggunakan uang Salman. Runa tidak lupa itu, ia ingat dengan sangat jelas maka dari itu ia bekerja untuk mengganti uang lelaki disampingnya. "Iya, oke," jawab Salman dengan senyum yang tersungging. "Kamu lulusan apa sih, Run? Mungkin aku bisa bantu kamu cari kerjaan yang pantas," tanya Salman. "Aku lulusan PGSD, Bang," jawab Runa. Guru SD, ya?" ucapnya sambil berpikir adakah kenalannya yang membutuhkan guru. "Iya. Tapi nggak usahlah, Bang. Cari kerja kalau lagi hamil agak susah, apalagi kayak aku gini. Bisa jadi pertanyaan nanti, masa guru hamil tapi nggak punya suami," ucap Runa sambil terkekeh. Salman jadi tak enak hati mendengar jawaban perempuan itu. "Tapi jual pulsa untungnya juga nggak seberapa 'kan, Run? Laki-laki itu kasih uang enggak ke kamu?" tanya Salman. "Iya sih, makanya aku kerja di toko bunga juga. Lumayan gaji yang di tawari," jawab Runa sambil tersenyum. "Kalau Irsyad nggak, tapi keluarganya iya, tapi aku nggak mau terima semua, kalau mau periksa aja aku pakai uangnya kalau s**u aku beli sendiri pakai uangku," jawab Runa. Lagi-lagi senyumnya terukir. "Kenapa nggak  diterima semua, itu ‘kan hak kamu sama bayi kamu, Run," ucap Salman. "Hak darimana? Aku belum jadi istri Irsyad jadi aku enggak punya hak minta uang ke mereka, Bang," balas Runa. "Tapi sebentar lagi nikah 'kan," tegas Salman "Sebentar lagi, sekarang ‘kan belum, jadi aku butuh uang buat memenuhi kebutuhanku yang sekarang," ucap Runa. Salman akhirnya tak lagi membalas ucapan Runa. Lagipula ia tidak ingin terlalu jauh ikut campur. Disini ia hanya sebagai teman baru Runa. Ia merasa hanya perlu menjaga perempuan yang berada di sampingnya sekarang ini. Entah apa alasannya tapi hati kecilnya berkata seperti itu. Mungkin malaikat yang membisikkan telinganya untuk menjaga ibu hamil itu.      bersambung...      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD