~Part 8 ( Cinta Tak Pernah Keliru )

2097 Words
Jangan berhenti meski merasa sangat lelah, jangan berhenti jika belum bisa melakukan yang terbaik. Tetap mencoba, tetap berusaha dan tetap berdo'a. *** Bintangku nampak redup, tidak ada secercah cahaya yang nampak darinya. Ingin rasanya aku pergi dan membiarkan bintangku bersinar terang tanpa aku, namun semua begitu sulit aku lakukan, karena aku ingin tetap disini sampai bintangku berada di genggaman. 'Takdir tidak bisa aku sesali. Jejak langkah sudah aku mulai, mungkin selamanya jejak itu akan membekas. Apa mencintai harus sesakit ini? Apa harta adalah penjamin kebahagiaan? Apa aku tidak berhak mencintai dan dicintai? Kenapa rasa ini seolah dianggap bahan candaan? Terkadang aku berpikir takdir memang mempermainkan. Aku banyak berkhayal jika uluran tanganku akan dibalas.' Arumi meneteskan air mata. Dia memandang lurus terfokus pada langit-langit kamarnya. Sudah tiga hari Arumi berbaring lemah di kamarnya, tidak ada yang tahu dengan kondisi Arumi kecuali pihak sekolah dan pemilik restoran tempatnya bekerja. Sudah tiga hari dia tidak keluar kamar, kepalanya cukup sakit untuk melakukan aktifitas. Dia lebih nyaman di kamar sendiri dari pada keluar rumah di sambut dengan kemesraan Farhan dengan Alifia. Kini bukan hanya hatinya yang sakit, namun fisiknya ikut roboh. Benteng pertahanan Arumi saat ini sedang melemah. Wajah cantik yang selalu ceria itu kini nampak pucat tidak berseri. 'Bahkan suamiku sendiri tidak pernah peduli akan kondisiku.' Lagi dan lagi, Air mata Arumi membasahi pipinya. Air mata itu seolah menjadi saksi bisu atas hancuran hati Arumi. Tidak banyak harapannya, dia hanya ingin di anggap sebagai istri, tidak lebih. Cukup untuk tidak mengumbar kemesraan Farhan dan Alifia di depannya. 'Aku terjebak atas permainanku sendiri, Mas. Aku pernah berkata jika aku akan kuat dan tidak akan menuntut apapun dari kamu. Tapi ternyata kini aku hancur, karena cinta menyapa ku. Aku mencintai kamu, Mas. Apa salah jika aku egois untuk mempertahankan kamu?' Dreett dreett dreett Suara telpon Arumi mengalihkan perhatiannya. Namun belum sempat Arumi menjawab dari siapa telpon itu, handphonenya sudah mati karena lowbat. Pantas saja, karena sudah tiga hari ini dia tidak mencharger handphone miliknya. "Siapa yang telpon, Ya?" Arumi bergumam sendiri. Kali ini Arumi benar-benar merasa pertahanannya roboh, dia benar-benar lemah untuk melawan hatinya. Arumi tidak berdaya hanya untuk beranjak dari tempat tidur. Dia bingung harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Suaminya yang serumah pun nampak tidak peduli, bahkan Arumi sakit pun dia tidak tau. (Flashback On)*** Malam nampak indah memperlihatkan bintang yang berkelip lebih terang. Begitu juga dengan hati Arumi saat ini. Hatinya begitu berbunga-bunga. Dia kembali dari restoran setelah Maghrib, karena restoran tempatnya bekerja diadakan acara pesta ulang tahun yang megah. Arumi berjalan cepat menuju rumahnya, dia melihat rumah masih gelap tidak ada satupun lampu yang menyala. "Apa Mas Farhan belum pulang?" Gumam Arumi dengan terus melangkah memasuki rumah. Arumi membuka pintu, ternyata rumah dengan keadaan tidak terkunci, bahkan mobil Lamborghini milik Farhan terparkir di garasi rumah mereka. Arumi masuk dan menyalakan lampu. Dia terus menyusuri tiap ruangan rumah, Sampai akhirnya dia masuk ke ruang makan. Arumi di kejutkan dengan pemandangan yang menjijikkan. Farhan dan Alifia sedang b******u tanpa sadar akan status mereka. "ASTAGHFIRULLAH." Teriakan Arumi membuat Farhan dan Alifia kaget. Farhan mendorong Alifia agar melepaskan pelukannya. Namun Alifia sengaja merapatkan pelukan mereka agar Arumi merasa marah. Rencana Alifia kali ini berhasil. Arumi tersulut emosi, dia benar-benar marah melihat kelakuan suaminya tersebut. "Lepaskan suami saya." Arumi menarik Farhan dari pelukan Alifia. "Arumi, Maaf!" Hanya itu yang terlontar dari mulut Farhan. Entah apa yang Farhan rasa, hanya saja Arumi melihat gurat penyesalan pada sorot mata Farhan. Farhan pergi meninggalkan Alifia yang berteriak mencoba mengejarnya, namun Arumi menghalangi Alifia. "Lebih baik kamu pulang, sekarang!" Arumi berkata penuh penegasan. "Aku---" "PERGI SEKARANG JUGA." Arumi benar-benar marah. "Baiklah calon maduku, Aku pulang dulu. Permisi!" Alifia beranjak pergi dan mulai menjauh dari pandangan Arumi. Arumi berjalan gontai menuju kamarnya. Apa yang dia lihat terus memenuhi pikirannya. Hatinya sangat hancur, meski Arumi tau dia hanya sebatas istri di atas kertas, namun hati tetaplah hati. Hati tidak bisa di bohongi, Arumi merasakan kekecewaan yang luar biasa. Farhan melihat dan memperhatikan Arumi dari balik pintu kamarnya. Dia memperhatikan Arumi yang nampak memperlihatkan gurat kekecewaan. Dia juga melihat Arumi menangis, terdengar tangisan itu sangat menyedihkan. "Maafkan aku Arumi. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Maafkan aku yang selalu memberikan lupa pada hatimu." Farhan bergumam dan pergi meninggalkan rumah membiarkan Arumi sendiri dalam tangisnya. (Flashback off)*** Kejadian itu terus menghantui pikiran Arumi. Kali ini perbuatan Farhan dan Alifia sangat di luar nalar. Arumi masih saja meneteskan Air mata kala mengingat kejadian tiga hari lalu. "Bismillah, aku akan lebih siap menerima kejutan yang mungkin akan lebih pahit dari ini." Arumi bergumam sampai akhirnya Arumi tidak mengingat apapun lagi. Dia tidak sadarkan diri. *** Cinta tidak pernah meminta untuk memiliki dan di miliki karena cinta hanya untuk cinta. Yang tau arti cinta sesungguhnya adalah hati. Cinta ibarat perjalanan hidup menuju masa depan, semua penuh misteri dan teka-teki, namun cinta bisa terasa dalam hati. Arumi nampak terbaring lemas di ruang inap salah satu rumah sakit. Cahaya lampu membangunkan Arumi, aroma obat menyengat dalam indra penciumannya. Arumi terbangun, dia melihat ruangan asing dalam pandangannya itu. Kala dia mengarahkan pandangan pada salah satu sudut ruangan itu, dia melihat sosok wanita remaja tengah tertidur di pangkuan serang wanita paruh baya. Arumi sadar kini dia berada di rumah sakit. "Apa bunda Sarah dan Caca yang membawa aku ke sini?" Gumamnya tak ingin membangunkan mertua dan adik iparnya. Arumi merasa kerongkongannya terasa mengering. Dia kehausan. Arumi mencoba meraih gelas yang terletak dekat dengan ranjangnya. Dia mencondongkan badannya untuk meraih gelas itu, namun tanpa dia duga infusan terjatuh, darah segar nampak keluar. Seseorang masuk dan melihat kejadian tersebut merasa panik. "Astaga, Arumi." Ucap seseorang yang masuk dan tidak lain adalah Farhan, suaminya. "Kamu ngapain, sih?" Sambungnya sedikit panik. Farhan mengangkat Arumi dan membaringkan Arumi kembali. Farhan merasa sangat kasihan dan khawatir dengan kondisi Arumi saat ini. Wajah pucat, nampak memperlihatkan gurat beban yang sangat berat di wajahnya. Arumi nampak menyembunyikan beribu masalah dalam hidupnya. Nampaknya Arumi enggan untuk berkeluh kesah selain kepada Rabbnya sendiri. "Kamu ngapain disini, Mas?" Arumi membuyarkan Farhan dari lamunannya. "Ya, saya lihat kondisi kamu. Lagi pula tadi bunda telpon, dia bilang kamu pingsan di rumah. Bunda dan Caca yang membawa kamu ke sini." Ucapan Farhan sedikit membuat hati Arumi berbunga. Farhan nampaknya mulai peduli kepada Arumi. "Awas, kamu jangan mengira aku peduli sama kamu. Aku ke sini hanya di suruh bunda, aku juga gak mau kalau mereka tau hubungan kita." Sambung Farhan yang membuat kebahagiaan yang mulai muncul itu kembali bersembunyi. 'Baik Arumi, kamu jangan besar hati jika Farhan melakukannya dengan tulus, dia hanya demi mendapatkan pencitraan di depan keluarganya saja.' Selalu saja Arumi bergelut dengan hatinya. 'Kenapa kamu nampak.murung setelah aku berkata seperti itu, Arumi? Apa kamu kecewa?' Farhan berucap dalam hati dengan memandang wajah Arumi yang terlihat sendu. 'Biarkan saja kau lakukan apa yang membuatmu bahagia, Mas. Karena kamu akan tetap menjadi bintangku.' hati Arumi terus berbincang dalam hati. 'Aku tau, aku sering menggoreskan luka pada hatimu. Maaf, aku tidak bermaksud setega itu, Arumi. Maafkan aku!' Farhan pun hanya bergelut dalam hatinya. "Kamu sudah makan?" Farhan duduk dan memegang tangan Arumi yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Arumi. "Makan dulu, ya! Aku suapin." Farhan mengambil mangkuk yang sudah tersedia di atas laci, dan dia mulai menyuapi Arumi yang menatapnya penuh tanya. 'Apa maksud semua ini, Mas? Kamu jangan bersikap manis, karena hal ini akan membuat Aku besar hati.' lagi dan lagi dia hanya berkecamuk dalam hati. Jangan sampai Ego menguasai hidupmu, jangan biarkan ego terus bersemayam dalam jiwa dan mengalahkan segalanya hingga kata cinta pun seolah tidak pernah bermakna. *** Langit hari ini nampak murung, matahari seolah enggan menyapa. Dia hanya sedikit menyapa dari balik celah awan hitam yang menghalanginya. Arumi duduk di bangku taman rumah sakit. Dia ingin sedikit menggerakkan badannya setelah tiga hari berdiam diri di ruang rawat inapnya. Sesekali dia menengadahkan kepala ke atas memandang burung yang berkicau dan terbang dengan bebas. 'Jika diperbolehkan aku ingin layaknya burung yang terbang bebas di angkasa. Mereka nampak riang tanpa beban di dada.' Arumi mengalihkan pandangan ke setiap sudut taman rumah sakit. Dia melihat seorang anak berlari dan bermain dengan lincah. 'Jika semua dapat di ulang, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak dewasa, karena masa anak-anak adalah masa ketika semua memang nampak tanpa beban.' Arumi kembali mengalihkan pandangannya pada sosok wanita paruh baya yang nampak tidak memiliki sebelah kaki dan nampak bisu. Namun wanita itu nampak tegar dan bahagia. "Astagfirullah, Maafkan aku Ya Allah, karena aku banyak mengeluh." Gumamnya menyadari semua kekeliruannya. Arumi merasa bahwa dia adalah wanita paling tersakiti dan menderita di muka bumi ini, namun nyatanya dia lebih beruntung. Sekuntum mawar merah nampak jelas di hadapan wajah Arumi. Namun dia tidak melihat wajah seseorang yang memberikannya, karena orang itu memberinya dari arah belakang. "Mas Farhan!" Ucap Arumi dengan bahagia dan berbalik menghadapnya. Namun sayang, bukanlah orang yang dia harapkan memberikan mawar tersebut. "Sorry, saya Prayoga." Ucapnya sedikit kecewa dengan penuturan Arumi. "Pak Yoga, kenapa ada di sini?" Ucap Arumi dengan nada sedikit kurang enak. "Saya akan jawab, tapi terima dulu bunga ini dan saya tidak ingin mendengar penolakan." Prayoga sedikit memaksa. Dengan berat hati Arumi mencoba meraih bunga mawar tersebut. Dia melihat ada kartu ucapan dan isinya bertuliskan 'Safakillah, Arumi.' "Terimakasih." Ucap Arumi pelan. "Jadi ada apa bapak kemari?" Sambungannya. "Jenguk sepupu sakit dan saya tidak sengaja melihat kamu di sini. Kamu sakit apa?" Ucap Prayoga tanpa menatap Arumi. "Hanya kecapean." Ucapnya tanpa panjang lebar. "Apa cinta adalah sebuah kesalahan?" Tiba-tiba Prayoga demikian. "Cinta tidak pernah salah, hanya terkadang kenyataan yang membuat cinta nampak salah. Jangan salahkan cinta." Arumi menjawab spontan. "Apa setiap orang berhak mencintai dan di cintai?" Prayoga terus berkata dan mulai menatap ke arah Arumi yang hanya memandang lurus, mungkin menurut Arumi pemandangan yang dia lihat lebih menarik perhatiannya. "Semua orang berhak merasakan cinta dan juga di cintai. Karena kita terlahir atas dasar cinta." Jawab Arumi yang masih setia dengan pandangannya. "Akankah ada cinta yang keliru?" Prayoga mulai tertarik dengan jawaban Arumi. "Cinta tidak pernah keliru, hanya terkadang kita keliru menempatkan cinta pada waktu yang tepat." Arumi tersenyum ke arah Prayoga. "Apa hari ini adalah waktu yang tepat?" Sambung Prayoga. "Untuk apa?" Arumi mengernyitkan keningnya. "Menyatakan cinta kepadamu?" Prayoga mulai tersenyum ke arah Arumi. "Apa alasan bapak mencintai saya?" Arumi hanya ingin mendengar penuturan Prayoga. "Cinta tidak butuh alasan, seperti kata kamu tadi bahwa cinta tidak pernah salah. Lantas jika cinta tidak pernah salah apa cinta mesti membutuhkan alasan?" Pertanyaan Prayoga membuat Arumi diam. "Jika cinta membutuhkan alasan, kenapa banyak wanita yang mencintai seorang pria yang tidak pernah menganggapnya?" Sambung Prayoga. Arumi masih bungkam. "Izinkan saya untuk membahagiakan kamu, Arumi." Sambung Prayoga kembali. "Maaf, saya tidak bisa." Arumi merasa canggung dengan suasana seperti ini. "Apa karena Farhan suami kamu?" Prayoga seolah mencari kebenaran. "Darimana bapak tau?" Arumi heran dengan perkataan Prayoga. "Tidak sulit untuk aku mengetahui tentang wanita yang telah lama mengusik hati ini. Aku mencari tau tentang kehidupan kamu, tanpa aku duga ternyata sebenarnya Farhan itu adalah suami kamu. Bodohnya dia hanya menganggap kamu sebagai pembantu." Prayoga mengepalkan tangannya. "Dia adalah suami saya. Jadi saya mohon bapak jangan menjelekkan dia di depan saya." Ucap Arumi. "Kamu bilang saya menjelekkan dia? Saya rasa apa yang saya tau itu hanya sebagian kecil dari kebusukkan nya. Kamu yang lebih tau akan perilaku Farhan yang sebenarnya." Prayoga merasa tidak habis pikir dengan pemikiran Arumi. "Seperti apapun dia, dia tetap surga saya." Arumi pergi dari hadapan Prayoga. Namun tangannya di tahan sehingga tidak bisa pergi dari tempat tersebut. "Kamu benar, tapi lihat dulu siapa yang menjadi surgamu. Jika dia berlaku adil dan baik, maka dia layak di sebut sebagai surgamu." Prayoga duduk dan membiarkan Arumi pergi menjauh dari hadapannya. Tak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersibkannya, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Allah s.w.t., Rabb semesta alam. Singkatnya, kehidupan akan terasa hambar tanpa iman. Dalam pandangan para pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman, cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri. Menurut mereka, dengan bunuh diri orang akan terbebas dari segala tekanan, kegelapan, dan bencana dalam hidupnya. Betapa malangnya hidup yang miskin iman! Dan betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akherat kelak! {Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat sesat.} (QS. Al-An'am: 110) Prayoga membaca penggalan isi buku yang berjudul La Tahzan yang dia tau pemilik buku itu adalah Arumi. "Kamu meninggalkan buku ini, Arumi." Gumam Prayoga. Prayoga menitipkan buku tersebut kepada seorang suster yang merawat Arumi untuk mengembalikan buku tersebut kepada pemiliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD