“WOW! This place is always beautiful and more beautiful everytime here,” puji Calista.
Gadis itu memutar badannya mengeliling seluruh penjuru Garden The Bay. Matanya berbinar indah. Padahal ini bukan kali pertama ke sini, tapi dia selalu jatuh cinta setiap kali ke sini.
“You’re more beautiful, Calista.”
Seketika perhatian Calista tertuju lurus pada seseorang yang baru saja bergumam padanya. Mateo berdiri begitu dekat dengannya. Pakaian pria itu terlihat santai; kaos hitam polos yang dibalut dengan jaket jeans cokelat tua serta celana jeans hitam, serta sneakers putih. Rambut yang biasanya klimis, kini sengaja dia biarkan berantakan. Jambang halus di sekitar jawline-nya mulai terlihat lebar. Sosok pejantan dengan hati lembut.
“Te … rima kasih,” bisik Calista dengan wajah bersemu merah.
Lagi-lagi Mateo berhasil membungkam gadis itu. Membuatnya gugup dan berdebar. Saking salah tingkah, tiba-tiba saja Calista berjalan sedikit cepat. Refleks, pria itu segera mencekalnya.
“Jangan buru-buru, Cal,” bisik Mateo seraya menarik Calista mendekat. Tarikan yang mendadak membuat gadis itu tidak siap, alhasil, dia jadi jatuh dan terbentur tubuh Mateo. Gadis itu mendongak. Pria itu merunduk. Kedua mata mereka beradu. “Pelan-pelan saja.”
Calista mengangguk. Kedua kakinya seketika lemas dan tidak berdaya. Ada yang aneh pada dirinya sekarang.
“Calista.” Mateo kembali bersuara, masih terus menggenggam erat tangan Calista. “Keindahan itu dilihat secara perlahanan. Dinikmati, kemudian dikenang. Kalau terburu-buru, keindahan yang didapatkan hanya semua belaka karena kenangan yang tersimpan tidak sebanyak itu.”
Mereka terus berjalan mengitari Garden The Bay. Sesekali keduanya berhenti untuk mengabadikan kebersamaan mereka di tempat ini. Calista jelas berada di urutan pertama yang memiliki banyak foto di ponsel Mateo. Barulan foto selfie mereka. Pria itu hanya memiliki satu foto sendiri, karena rengekan Calista. Baginya, tidak ada yang bisa membuatnya melakukan sesuatu kalau bukan karena permintaan gadis itu.
“Kau lelah?” tanya Mateo saat Calista terduduk di salah satu bangku taman.
Calista mengangguk. “Capek banget. Tempat ini memang cantik, tapi sangat besar untuk dikelilingi.”
Mateo terkekeh pelan seraya duduk di samping Calista. Ditatapnya gadis itu dalam, “Kau sangat kecil, Cal.”
Seketika Calista menatap sengit Mateo. Mata gadis itu berputar kesal. “Aku memang pendek, tinggiku bahkan hanya sebahumu. Jangan menghinaku dong! Mentang-mentang kau tinggi.”
Tawa Mateo seketika pecah mendengar omelan panjang Calista. Pria itu menggeleng. Lalu, tiba-tiba saja tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala gadis itu. Mata pria itu menatap dalam mata gadisnya. “Aku tidak bermaksud menghinamu. Aku hanya tidak percaya begitu dekat dengan seorang wanita cantik nan mungil. Rasanya, aku tidak sanggup menyakitimu karena kau tampak berharga dan rapuh. Sepertinya aku harus jujur padamu, Cal, mau kau tinggi pun atau bahkan tidak selangsing sekarang, pilihanku akan tetap sama.”
Kening Calista mengernyit. Dia sama sekali tidak paham maksud Mateo, “Maksudmu?”
Tiba-tiba saja Mateo beranjak dari duduknya. Dia mengulurkan tangan pada Calista, yang langsung diterima oleh gadis itu. Ketika mereka berdiri saling berhadapan, pria itu hanya mengukir senyum tipis. “Kita pergi dari sini.”
“Ke … mana?”
“Aku sedang memikirkannya. Tempat terbaik di mana aku bisa mengukir senyummu, Calista.”
Lagi-lagi Mateo berhasil membuatnya menahan napas. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, ini baru hari ketiga tapi pria itu seperti memiliki seluruh perhatiannya. Bukan hanya itu saja, ada keanehan lain yang baru dia rasakan. Bersama pria ini, mendadak dia lupa bahwa dia pernah jatuh cinta terlalu dalam pada Raka.
*****
Mateo memarkirkan mobil di sekitaran China Town. Pria itu seperti biasa, memperlakukan Calista sebagai seorang putri. Membukakan pintu mobil, hingga selalu menggenggam tangan gadis itu selama mereka berjalan.
Perasaan canggung yang sempat muncul, perlahan mulai menghilang. Calista jadi terbiasa dengan sikap Mateo berikut dengan godaan pria itu. Hanya saja dia harus menyerah ketika kerja jantungnya kini semakin menggila.
Berjam-jam mereka mengeliling China Town. Berhenti sejenak untuk mengambil foto. Masuk beberapa rumah yang menjual pernak-pernik ataupun barang-barang yang berakhir dengan belanja. Hingga mencoba jajanan yang dijual di sana. Menyenangkan karena ternyata mereka tidak berhenti tertawa.
Langit yang mulai keemasan, membuat Mateo berbelok ke sebuah restauran dimsum di sana. Pria itu memilih untuk duduk di luar sembari menikmati senja bersama Calista. Sembari menunggu pesanan yang akan memenuhi meja, pria itu menatap gadisnya lekat.
“Apa yang membuatmu suka berbelanja?”
Kening Calista mengernyit. Pertanyaan yang tidak biasa. Para sahabatnya mungkin suka mengeluh saat melihat gadis itu keluar pusat perbelanjaan dengan tangan penuh kantong belanjaan. Namun, tidak ada yang bertanya mengapa dia bisa segila itu hingga Mateo yang bertanya sore ini.
Calista mengangkat kedua bahu, tidak tahu, “Entahlah, aku tidak tahu. Sejak dulu melihat keluargaku yang sibuk bekerja, mau tidak mau membuatku pergi sendirian. Kemudian, ketika mulai membeli satu per satu barang di toko, aku jadi memiliki kepuasan tersendiri.”
Mateo mengangguk tampak mengerti. “Kau tahu apa yang bisa menghentikan seorang wanita berbelanja?”
“Apa?”
“Anak-anak mereka.” Mateo mencondongkan badan sembari berpangku tangan. “Ketika wanita memiliki anak mereka sendiri, terkadang keinginan belanja mereka berhenti. Mereka akan lebih memilih untuk membelanjakan anak-anak mereka.”
“Jadi, aku harus menikah agar keinginanku belanja berhenti?” tanya Calista yang langsung mengundang tawa.
“Kau mau menikah, Calista?”
Seketika Calista tertegun saat mendengar pertanyaan Mateo. Cara pria itu bertanya dan menatapnya seperti ajakan pernikahan yang sesungguhnya. Bedanya, tidak ada cincin ataupun pria itu berlutut di hadapannya. Dia mengangguk pelan, “Aku mau menikah.”
“Great, aku juga ingin menikah dan memiliki anak-anakku sendiri. Pernikahan apa yang kau impikan, Cal?”
“Apa ya ….” Calista mengernyitkan kening, terlihat berpikir. Hingga tanpa sadar senyumnya mengembang saat bayangan pernikahan berputar di kepala, “Pesta megah di dalam ballroom GLM. Sejak kecil, setiap kali menemukan ballroom GLM sedang melangsungkan pernikahan, aku ingin menikah di sana. Aku mengenakan gaun putih yang membuatku terlihat seperti seorang putri kerajaan. Suamiku mengajakku berdansa di tengah-tengah kerumunan tamu, lalu memberiku sebuah kecupan di bibir. Semua orang berbahagia atas pernikahanku.”
Mateo tidak lagi menjawab, pria itu hanya mengangguk pelan sambil terus memandangi Calista.
“Kau sendiri, pernikahan seperti apa yang kau inginkan?” tanya Calista.
Mateo terkekeh pelan. “Pernikahan apapun yang diinginkan calon istriku. Ketika aku menikah nanti, aku ingin mewujudkan dongeng calon istriku. Karena Calista, kebahagiaan orang yang kita cintai itu adalah kebahagiaan kita juga.”
“Mateo.” Tanpa sadar Calista mendesah nama Mateo. Terlihat sorot mata iri di sana, “Siapa pun istrimu kelak, wanita itu sungguh beruntung. Kau baik, penuh perhatian, bahkan padaku yang baru kau kenal beberapa hari, kau sudah memperlakukanku sebaik ini.”
“Calista … boleh aku memanggilmu Cara mia?”
“Apa itu ….”
Mateo terkekeh pelan. “Tidak boleh kah aku memanggilmu itu? Artinya bagus.”
Sedikit ragu, Calista mengangguk. Dia percaya jika artinya bagus, sekalipun Mateo tidak memberitahukan arti sesungguhnya. Selain itu, cara pria itu memanggilnya seperti terdengar sangat seksi di telinganya.
Tiba-tiba saja Mateo meraih tangan Calista. Pria itu merunduk, lalu mengecup punggung tangan gadis itu. Sembari meliriknya, lagi-lagi dia bergumam pelan, “Terima kasih, Cara mia.”
*****