First Kiss

1828 Words
CALISTA Perlahan aku mengerjapkan mata, lalu membukanya lebar-lebar. Senyum lebar mengembang di wajah. Suasana hatiku seperti seorang yang sedang jatuh cinta, puas dan juga bahagia, seperti tidak ada hal yang bisa merusak moodku seharian ini. Kilasan balik yang mendadak berputar di kepala, mendadak membuat kedua pipiku memanas. Mateo, dalam tiga hari mengenalnya, pria itu terus menguasai isi pikiranku. Membawaku ke mana saja, membuatku tertawa dan juga tersenyum, memperlakukan selayaknya putri dongeng. Pria yang kupikir sulit di dekati, tapi nyatanya begitu hangat saat bersama. Dua puluh empat tahun aku hidup, mengenal Raka dan Ben, entah mengapa aku tidak bisa memandingkan sosok Mateo dengan kedua sahabatku itu. Raka, sahabatku sejak kecil. Pria yang memperlakukanku dengan hormat, bahkan tidak pernah berusaha menyentuhku. Mungkin hanya sekali dia memelukku ketika kelulusan kuliah kedokterannya bertahun-tahun lalu. Kemudian, kedekatanku dengan Ben, sahabat Raka semasa kuliah. Ben berkebalikan dengan Raka. Dia menyukaiku, sudah dia ungkapkan tiga tahun lalu. Suka memelukku dan harus kuakui, pelukan pria itu sehangat pelukan kak Cedric yang terkadang sulit dijangkau. Hanya saja, hingga detik aku mengetahui kebenaran mengenai Raka, Ben tetap tidak pernah bisa menguasai hatiku. Pria itu baik dan hangat, tapi hatiku selalu mati rasa akan semua perlakuannya. Aku memang jahat. Hanya saja, aku belajar untuk hanya mencintai satu sahabat, Raka. Mateo, pria itu sama dengan para sahabatku, menghormatiku. Cara dia memperlakukanku seperti seorang putri dongeng. Bukan hanya itu saja, sentuhan-sentuhannya. Kata-kata rayuan yang harusnya terdengar aneh, karena bagiku dia orang asing, nyatanya, aku selalu tersipu. Jelas, ada yang salah dengan hati dan pikiranku sekarang ini. Ketukan diikuti teriakan kak Cedric sontak mengembalikanku dari lamunan. Melihat jam yang sudah hampir pukul delapan berhasil membangunkanku dari tidur. Bergegas aku mandi dan bersiap. Mateo tidak mengatakan ke mana kami pergi hari ini, jadi aku memutuskan mengenakan pakaian santai dan juga nyaman; gaun pendek abu-abu berlengan panjang, sneaker putih, serta topi putih. Aku memang suka mengenakan gaun-gaun pendek untuk style, karena tidak terlalu ribet. Begitu aku siap, aku segera menuju dapur. Dua pria sebaya itu tengah duduk di stoll bar. Keduanya terlihat santai dalam kaos dan celana jeans mereka. Kepalaku mulai bertanya-tanya melihat kak Cedric. “Pagi,” sapaku seraya menauh sling bag ku di kabinet. “Pagi,” jawab keduanya bersamaan. “Cara mia.” Seketika aku menoleh mendengar panggilan itu. Sekujur tubuhku selalu merinding mendengar bagaimana pria itu memanggilku seperti ini. “Hari ini kau tidak perlu memasak. Kita akan sarapan di luar.” Aku mengangguk patuh. “Lalu, kita ke mana hari ini, Mate?” “Orchard. Aku tahu kau pasti rindu dengan pusat perbelanjaan. Jadi, kau harus berbahagia dengan berbelanja.” Cara Mateo yang penuh pengertian seperti ini pun seperti membuatku semakin tersanjung dengan sikapnya. Hingga dehaman keras di samping kami, memutus perhatianku. “Kau itu terlalu banyak belanja. Lihat, berapa pakaian yang belum kau kenakan di closetmu? Aku tidak mau membayar lagi, biar Mateo saja.” Kata-kata Kak Cedric berhasil membuat mataku melotot saking terkejutnya. Dia gila dan tidak tahu diri, bagaimana bisa aku meminta orang yang baru kukenal untuk membelanjakanku. “Kak Ced, kau kan kakakku!” rengekku tanpa sadar. “Apa kau tidak kasian pada Mateo? Dia sudah menggantikan tugasmu dan sekarang harus membayar belanjaanku?” Tiba-tiba saja Mateo terbahak. Pria itu meraih lenganku, lalu diayunkan perlahan. Saat mata kami bertemu, dia mengangguk pelan, “Kenapa tidak? Aku suka menggantikan tugas Cedric menjagamu, membelajakanmu, dan hal-hal yang kakakmu selalu perbuat untukmu, Cara mia. Tidak masalah, tidak perlu sungkan. Aku akan jadi sangat bersalah saat tidak bisa membuatmu tersenyum lebar dan bahagia.” Mulutku mendadak keluh. Sekarang bukan karena masalah belanjaan lagi, melainkan bagaimana sosok Mateo mulai menjungkirkan balikan perasaanku. Ini terlalu cepat, sangat cepat malah. ***** Baru saja mobil memasuki parkiran, mendadak aku tidak suka keberadaan kak Cedric di sini. Mungkin karena terbiasa hanya berdua dengan Mateo, lalu kini ada satu orang lagi, rasanya tidak nyaman. Aku tidak tahu, reaksi seperti apa yang kakakku berikan saat melihat sahabatnya itu menggoda adiknya. “Kita sampai. Hari ini aku minta maaf karena harus mengikuti kalian. Aku sedang suntuk,” jelas kak Cedric. Kakakku itu turun lebih dulu. Kemudian, kami berdua menyusul setelahnya. Namun, baru saja aku hendak berjalan, tiba-tiba saja Mateo berdiri di sampingku. Pria itu merunduk sembari berbisik pelan, “Kakakmu menganggu sekali.” Begitu Mateo mengatakannya, pria itu langsung menyamakan kaki dengan kak Cedric. Sementara aku di belakang malah terkekeh. Kupikir hanya aku yang merasa bahwa kakakku menganggu. Nyatanya, Mateo juga. Kami sudah terbiasa berdua. Tanpa sadar aku menatap punggung lebar Mateo. Pria itu tinggi tegap. Kepalaku bertanya-tanya, bagaimana rasanya memeluk tubuh itu? Refleks, aku menggeleng cepat, benar-benar ada yang salah dengan isi kepalaku sekarang. “Cara mia.” Refleks, aku menoleh mendengar panggilan Mateo. Pria itu tersenyum seraya meraihku ke dalam genggamannya. “Aku memang harus menggandengmu agar kau tidak tersesat. Jangan melamun.” “Memang sebuah kesalahan aku ikut, membuat iri saja,” balasan kak Cedric jelas menarik perhatian kami. Mateo menoleh. Tatapan pria itu dingin dan hanya dibalas dengan tatapan bosan kak Cedric, “Pergi saja kalau memang kami membuat iri.” “Dia masih sah adikku, Mateo.” Nada suara kak Cedric ikut mendingin. Aku segera berdeham kencang, lalu berdiri di antara keduanya. Sedikit panik, aku berusaha melerai, “Hey, sudahlah. Niat kalian ke sini kan membuatku senang, bukan kesal.” Mendengar itu, mereka pun seperti itu. Genggaman tangan Mateo semakin kuat. Tanpa banyak bicara pria itu menuntunku memasuki Mall terdekat. Jelas, sudah saatnya aku untuk memuaskan diri dengan hobiku ini. Orchard road, atau jalanan Orchard adalah satu satu jalanan terkenal di Singapura. Sepanjang jalanan, sudut, dan belokan, berdiri pusat perbelanjaan mewah yang tertata apik. Berbagai merk dengan harga standart hingga mahal sekali ada di tempat ini. Kebanyakan orang Indonesia pun selalu memilih untuk berbelanja ke sini, memuaskan ego dengan barang-barang mewah. Mateo dengan santainya menggiringku memasuki satu per satu toko. Setiap kali di toko, pasti ada saja yang aku beli. Terkadang memang aku yang mau, terkadang pria itu sendiri yang ingin membelikannya. Aku masih merasa segan saat melihat kartu kredit unlimited-nya itu digesek berkali-kali. “Kau jangan terlalu banyak berpikir, Cara mia. Berbelanjalah, tugas pria memang selalu membelanjakan wanitanya, bukan?” Kata-kata itulah yang selalu Mateo ucapkan setiap kali aku menolak belanjaan yang dia belikan. “Kupikir kau tidak suka melihatku yang gila belanja ini. China Town, ingat?” sindirku yang malah dibalas kekehan Mateo. “Aku bukan tidak suka melihatmu gila belaja, aku hanya takjub. Kau memang bukan wanita pertama di hidupku yang gila belanja, tapi kau wanita pertama yang ingin aku belanjakan seumur hidupku.” “Mateo ….” Aku tertegun menatap dalam pria itu. Kata-kata pria itu tidak lagi terdengar seperti godaan, justru sebaliknya. Jantungku berdebar, terlebih caranya menatapku. “Hey!” teriakan kak Cedric lagi-lagi merusak momen kami. “Berat! Kita pulang saja, kau bisa berbelanja lagi besok.” “Iya, iya. Kita pulang saja, Mate. Aku sudah tidak mau mendengar keluhan kak Cedric.” Lagi-lagi Mateo terbahak. Pria itu mengangguk cepat, lalu menggiringku keluar menuju tempat mobilnya terparkir. Kini aku tergelitik untuk mengenal pria itu lebih jauh. Aku ingin tahu, siapa pria baik yang dengan cepat memutarbalikan hatiku ini. ***** Melihat daging steak yang warnanya mulai rata sempurna, membuatku buru-buru menghidangkannya di piring. Pria-pria itu, termasuk aku, tidak suka memakan daging steak yang matang sempurna. Bagi kamu, daging steak terenak adalah yang hampir sempurna terpanggang. Empuknya pas dan warna yang tampak sempurna. Segera saja aku menghidangkan steak-steak berikut kentang cincang di meja bar. Kak Cedric dan Mateo telah menunggu di sana. Ekspresi mereka terlihat tidak sabar. Aku tahu, setelah menemaniku berbelanja selama seharian, makan siang yang sepertinya tidak mengenyangkan bagi mereka, membuat mereka tidak sabar melaham daging di piring masing-masing. “Terima kasih sudah membawaku ke sini, Kak,” bisikku pada kak Cedric yang hanya dibalas anggukan tidak peduli. Saat berhadapan dengan Mateo, mata kami beradu. Wajah kami dihiasi senyum. Jantungku ikut berpacu cepat. “Terima kasih sudah membuatku selalu tersenyum, Mate.” “You’re most welcome, Cara mia,” bisiknya seraya mengusap lembut lenganku. Begitu mereka melahap makanan, aku segera meraih dua gelas berikut botol wine. Tidak ada yang bisa mengalahkan enaknya sepiring steak serta segelas wine. Perpaduan makanan yang sempurna. “Wine,” ucapku seraya menuangkan wine ke gelas mereka. Ketika para penikmat makanan telah lahap dengan sajian para chef, maka chef baru boleh ikut makan. Itulah mengapa aku membuat mereka menikmati makan lebih dulu, baru aku setelahnya. Tidak sampai satu jam kemudian, semua makanan telah tandas. Jam yang sudah mulai petang, membuat kak Cedric memilih untuk pergi lebih dulu dan meninggalkan aku dan Mateo berdua. “Aku akan mencuci piring-piring ini,” ucapku seraya mengambil peralatan makan di meja bar untuk kubawa ke wastafel. Mendengar suara langkah kaki yang mengikuti, aku tahu Mateo berada di balik punggungku. “Aku tidak tahu bahwa kau mau mengerjakan pekerjaan domestik seperti mencuci piring.” “Pekerjaan membuatku terbiasa.” Aku terkekeh. “Kau sendiri kemarin mencuci piring, aku tidak tahu kau suka melakukan hal seperti ini.” Mateo tiba-tiba saja berdiri di sampingku. Pria itu mengangguk, “Mencuci piring itu membuatku sedikit tenang. Selama aku tinggal di Indonesia, aku lebih memilih untuk melakukan beberapa pekerjaan domestik sedirian. Lagi pula, aku memilih apartemen yang cukup untukku seorang diri di sana.” Tidak ada lagi pembicaraan. Keheningan hanya digantikan oleh suara air yang bercucuran. Aku sendiri sibuk dengan cucianku, sementara aku tidak tahu alasan Mateo masih tetap di sini. Begitu piring terakhir, aku segera menghadap Mateo. Lagi-lagi dia hanya menatapku dalam dengan senyum tersungging. “Kau … suka sekali menatapku.” Dia terkekeh pelan sembari mengangguk. Jelas sekali bahwa dia tidak berusaha menutupi apa pun dariku, “Kau mungil. Kau membuatku selalu takjub setiap harinya. Ada saja hal baru yang kupelajari darimu, Cara.” Perlahan, aku berjinjit mendekati wajah Mateo. Napas kami beradu cepat. Aku hanya ingin memberinya satu tambahan ucapan terima kasih. Hanya saja, ketika aku hendak mencium pipi pria itu, tiba-tiba saja kepala Mateo mendekat. Bibir pria itu dengan tegas mencium bibirku. Refleks, aku memejamkan mata. Menikmati sesuatu yang lembut di bibirku, berikut rasa manis wine yang masih tersisa. “Mateo …,” bisikku selepas ciuman kami. “Tidurlah. Mimpi indah, Cara mia.” Sekali lagi Mateo memberiku sebuah kecupan di bibir. Sekali lagi aku membiarkan pria itu berlaku seenaknya padaku. Anehnya, begitu pria itu melepaskan tautan kami, ada rasa kehilangan yang sangat kental terasa. ***** AUTHOR POV Mata setajam elangnya menatap bangunan-bangunan tinggi dari jendela apartemennya. Jalan buntu, tapi dia tidak menyerah. Hal yang salah baginya sekarang adalah meminta kesempatan di saat dirinya telah dimiliki orang lain. Pria itu merunduk menatap layar ponsel. Ditekannya nomor penting di sana. “Kau sudah menemukannya?” “Sudah, sir. Saya akan mengirimkan beberapa foto sebagai bukti keberadaannya.” “Good. Kalau begitu siapkan dua tiket ke tempat dia berada. Besok.” “Baik.” Panggilan pun terputus. Masih sambil menatap gedung pencakar langit, senyum pria itu mengembang. Dia bangga pada detektif sewaan yang berhasil menemukan orang yang dia cari, “Aku menemukanmu, Calista.” *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD