CALISTA
Mataku menjelajah setiap tempat ini. Bintang beraneka jenis dan rupa tersebar di sepanjang jalan yang kami lewati. Tidak ada yang menarik atau pikiranku yang sedang tidak ada di sini, entahlah, aku sendiri tidak tahu apa keinganku.
Tanpa sadar aku mendesah panjang seraya menatap kosong tangan Mateo. Pria itu selalu menggenggam tanganku begitu erat. Membawaku ke mana saja, asal aku bisa tersenyum lebar dan bahagia. Aku senang, tapi tidak setelah mendengar percakapan pria itu bersama kak Cedric pagi tadi.
Aku masih ingat, saat itu aku hendak memasakan sarapan. Kak Cedric dan Mateo sudah ada di sana. Mereka duduk membelakangiku, membuat mereka tidak tahu bahwa aku di sana sepanjang obrolan mereka.
“Bagaimana hubungan kalian? Masih jalan di tempat?” Pertanyaan kak Cedric inilah yang berhasil menghentikan langkahku, terlebih saat Mateo mengangguk dengan ekspresi datar.
“Aku tidak akan pernah tahu perasaanmu terhadapanya, sampai kau mengatakannya hari itu, Mat. Kejutan yang sangat di luar kendaliku,” lanjut kak Cedric.
Mateo terbahak pelan. “Untukku, dia adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan. Aku jatuh cinta padanya sejak saat itu. Ced, kau tidak akan pernah tahu kapan cinta itu datang. Ketika cinta itu datang, satu-satunya hal yang bisa kau lakukan hanyalah jatuh terlalu dalam.”
Mendengar kata-kata Mateo, perasaanku campur aduk. Aku penasaran, ingin mengetahui siapa wanita beruntung yang dicintai oleh Mateo. Namun, di sisi lain, aku luar biasa sedih. Hari-hari kebersamaan kami, mendadak aku jadi terus memikirkan pria itu. Aku jadi bingung, bagaimana hari ke depannya tanpa pria itu setelahnya. Siapa lagi yang akan menggenggam tanganku seerat ini dan membawaku ke mana saja agar aku bisa kembali bahagia dan tertawa?
Aku tidak percaya, ada pria yang baru kukenal selama lima hari, tapi bisa membuatku memikirkan hal sejauh itu terhadapnya. Remasan kuat pada tanganku, sontak mengembalikanku ke dunia nyata. Mata Mateo langsung menatapku lekat. Ada kernyit dan ekspresi bertanya di sana, “Kau baik-baik saja, Cara?”
“Ya …. Aku harap begitu,” jawabku sedikit tidak yakin.
Teriakan kak Cedric berhasil menghentikan pertanyaan lain yang hendak Mateo utarakan. Kakakku itu lama-lama bisa aku nobatkan sebagai perusak suasana kami. Hanya saja kali ini, aku bersyukur dia ikut. Aku tidak bisa membayangkan bahwa Mateo akan mendesakku untuk menjawab pertanyaannya.
“Ayo, ayo, kita naik itu!” teriak kak Cedric seraya menunjuk sebuah kereta yang biasa digunakan pengunjung untuk mengelilingi area kebun binatang.
Tanpa banyak membantah, kami berdua bergegas memasuki kereta. Seperti biasa, aku selalu duduk bersisian dengan Mateo. Kak Cedric sendiri lebih memilih duduk sendirian di bangku depan. Tangan pria itu sejak tadi sibuk dengan kamera yang dia bawa. Berkali-kali dia memotret pemandangan apapun yang menurutnya menarik.
“Kalian tidak mau berfoto?” tanya kak Cedric seraya berbalik menghadap kami.
Belum sempat kami menjawab tawarannya, tiba-tiba saja pria itu menyuruh kami bergaya. Tangan Mateo yang tadinya terus menggenggam tanganku terlepas, kemudian berganti dengan merangkul erat bahuku. Aku berdebar, tapi juga menciptakan senyum lebar di wajah. Bunyi tombol shutter terdengar dan wajah kak Cedric terlihat puas.
“Setelah sekian hari menculikmu, sekarang senyummu bisa selebar ini, Cal,” bisik kak Cedric seraya menatapku.
“Masa sih?”
Kak Cedric mengangguk pelan. Tawa geli tiba-tiba saja tercipta, “Jujur pada kakak, kau tersenyum selebar ini karena Mateo berhasil membuatmu bahagia atau karena aku yang memotretmu?”
Seketika aku terbelalak mendengar pertanyaan konyol dan penuh godaan itu. “Apaan sih? Kita turun di sini saja, aku kebelet.”
“Jangan kabur dong, adik cantik!” goda kak Cedric yang hanya kubalas dengan lambaian tidak peduli.
Begitu kereta berhenti, segera saja aku melompat turun. Aku tidak peduli kak Cedric maupun Mateo baru saja turun kereta. Langkahku terburu memasuki kamar mandi. Wajahku pun mulai memanas, ini jelas karena aku mulai salah tingkah dan juga malu. Kak Cedric seperti membaca isi pikiranku secara terang-terangan, menyebalkan.
Kurang lebih aku menuntaskan keinginan alam di bilik toilet, bergegas saja aku keluar menuju wastafel. Hanya ada seorang wanita di sana. Cantik, apalagi karena rambut panjang dan hitam legamnya. Dia sedang mencuci tangan, kemudian memulaskan lipstik sekilas. Melihat wanita itu tiba-tiba saja meninggalkan lipstik, refleks, aku meraihnya. Lalu, buru-buru mengerjar wanita itu untuk memberikannya.
“I’m sorry. I think it’s yours,” ucapku seraya menyentuh pundak wanita itu.
Wanita itu tampak terkejut seraya meraih lipstiknya kembali. “Ah, thank you. I always forget everything.”
“Calista ….”
Suara berat dan sangat kukenal itu seketika membuat tubuhku membeku. Perlahan aku memutar tubuhku. Mataku melebar saat menemukan pria itu berdiri di sebrangku. Pria yang berusaha keras aku lupakan, tapi nyatanya malah muncul di sini, “Raka ….”
“Harusnya aku tahu kamu di sini. Singapura, ke mana lagi tempat terbaik untukmu berbelanja.” Raka terdengar sangat mengenalku.
Pria itu mulai mendekat. Sontak, aku mundur beberapa langkah. Sayang, kali ini bukan perasaan rindu yang kudapati, melainkan takut. Aku tidak ingin keberadaan Raka menghancurkan kebahagiaan yang mulai kurasakan. Aku juga tidak ingin kembali hanyut dalam perasaanku terhadapnya. “Kenapa … di sini?”
“Kita harus berbicara, Calista. Aku nggak mau kita seperti ini.”
“Seperti ini gimana?” tanpa sadar suaraku mulai meninggi, terlebih saat Raka berusaha untuk meraih tanganku.
“Cal, tidak bisakah kau berhenti untuk mundur?” tanya Raka yang langsung kubalas dengan gelengan kuat. Pria itu menghela napas panjang, “Tiga belas tahun kita bersahabat, kau tiba-tiba saja marah dan menghilang karena berita yang kubawa. Aku seperti pendosa di sini karena membuatmu sesedih ini. Cal, apa yang harus kuperbuat agar kau berhenti menjauh dan mengembalikan keadaan?”
“Nggak sekarang, Ka,” cicitku.
“Kenapa? Semakin cepat kita bicara, hubungan kita semakin baik, bukan?”
Tiba-tiba saja sesuatu yang cepat menubruk tubuh tinggi Raka. Pria itu tersungkur di lantai. Aku memekik saking terkejut, tapi aku jauh lebih terkejut menemukan Mateo lah yang melakukannya. Wajahnya bengis. Tatapan pria itu tajam dan penuh amarah. “Kalau Calista menolakmu, jangan memaksanya.”
“MATEO, STOP!” teriakku saat melihat Mateo hampir melayangkan pukulan ke wajah Raka.
Segera saja aku memeluk tubuh Mateo. Kepalaku mendongak menatap pria itu, lalu menggeleng, “Jangan ya … kita pulang saja. Jangan bertengkar.”
“Dia sudah menguntitmu di sini, Cal. Dia bahkan memaksamu berbicara.”
“Aku tahu … kita pulang saja, Mate.”
Saat mataku menangkap Raka, tanpa sadar air mataku meleleh. Pria itu tidak sendirian. Wanita yang sempat kutolong tadi, berlutut di depan Raka. Ekspresi terluka dan panik terpancar jelas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi rasanya tidak menyenangkan.
“Cal,” bisikan pelan Mateo membuatku kembali mendongak. Mata kami beradu. Perlahan, pria itu menarikku semakin erat ke dalam dekapannya. Diusapnya penuh sayang punggungku seraya mencium puncak kepalaku. “Kau benar, kita pulang saja. Ayo kita kembali mencari kebahagiaan lain.”
Aku mengangguk. Rasanya nyaman dan tenang, terlebih saat mendengar Mateo membuat janji untuk membahagiakanku.
*****
“… I'm falling apart, I'm falling apart. Don't say this wont last forever. You're breaking my heart, you're breaking my heart. Don't tell me that we will never be together. We could be over And over, we could be forever. It's not over. It's not over, it's never over, unless you let it take you, it's not over, It's not over, it's not over, unless you let it break you. It's not over…”
“…And I don't wanna fall to pieces, I just want to sit and stare at you, I don't want to, talk about it, And I don't want a conversation, I just want to cry in front of you, I don't want to talk about it, Cuz I'm in Love With you..”
“…One last cry, Before I leave it all behind, I gotta put you out of my mind this time, Stop living a lie, I guess I'm down to my last cry, Cry.....”
“… Let it go, let it go, Can't hold it back anymore, Let it go, let it go, Turn away and slam the door!..”
Entah sudah lagu keberapa yang kunyanyikan. Entah berapa lama jam yang kuhabiskan untuk menangis, satu-satunya yang kuingkan hanyalah melampiaskan kesedihanku hari ini. Melihat Raka kembali bersama wanita asing, membuatku sedikit tidak terima. Masih sakit, sekalipun tidak sesakit sebelumnya.
“Semua akan baik-baik saja, Cara mia,” bisik Mateo seraya membawaku kembali di dalam pelukan pria itu. Tanpa canggung, aku segera membalas pelukan pria itu. Rasanya nyaman dan aman.
“Bagaimana perasaanmu sekarang, sudah lega dan puas menangis?” tanya Mateo seraya menguraikan pelukannya.
Pria itu menatapku lekat. Kedua ibu jarinya mulai menghapus air mataku yang terus meleleh. Mendapati pria ini ada di hadapanku, bersamaku, aku seperti membenarkan ucapan pria sebelumnya. Aku akan baik-baik saja.
Aku mengangguk pelan. Hal yang langsung menimbulkan senyum tipisnya. “Tidak apa-apa, kalau kau memang ingin kembali menangis, ya menangis saja. Nggak ada yang instan untuk bahagia, bukan?”
Sekali lagi aku mengangguk, sangat setuju dengan ucapan pria itu. Sayang, aku sudah sangat kelelahan. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk menangis apalagi berteriak menyanyikan lagu. Tubuhku seketika terkulai lemas. Untungnya, Mateo dengan segera menangkap tubuhku.
“Lelah?” bisiknya.
“Sangat.”
“Kita pulang, Cara. Pulang ke rumah.”
“Ya ….”
Tanpa bisa kucegah, mataku mulai terasa berat. Aku bisa merasakan tubuh mungilku terangkat di udara. Dua tangan kokoh menyangga berat tubuhku. Kurasa, aku benar-benar beruntung mendapati Mateo bersamaku di masa-masa sulit seperti ini.
*****
AUTHOR POV
Mateo menghela napas panjang saat keluar dari kamar Calista. Kesedihan tampak jelas di wajah pria itu. Mendadak dia putus asa. Belum juga tujuh hari mereka bersama, tapi sudah ada yang merusak rencananya. Siapa lagi kalau bukan pria yang menyebabkan gadisnya patah hati sehebat itu.
“Di mana Calista?”
Pria itu mendongak. Cedric yang tadinya duduk di stoll bar perlahan turun. Sahabatnya itu mengikuti Mateo untuk berpindah ke arah sofa. Mereka berdua duduk di sana sambil menyalakan televisi. Sengaja, agar obrolan mereka teredam.
“Di kamar, tidur.” Mateo mendesah, lalu menggeleng, “Calista seperti kembali ke awal. Lima hari yang kami lewati bersama seolah tidak ada artinya sekarang.”
“Man!” Cedric terdengar gemas. Pria itu meremas bahu Mateo, “Jangan pesimis lah, waktu kalian masih tersisa dua hari lagi. Calista nggak akan bisa sama Raka, sahabatnya itu sudah menikah.”
“Tapi ….”
“Kau jangan melupakan tujuan utama, membuat Calista bahagia. Kalau pada akhirnya kau menyerah karena dia kembali bersedih, harusnya sejak awal kau tidak perlu memaksaku untuk ikut andil dalam rencana ini. Mat, proses seseorang untuk bahagia itu pasti di awali dengan tangisan.”
Sekali lagi Mateo menghela napas panjang. Kata-kata Cedric berusaha dia cerna. Dia tidak pernah merasa putus asa dan juga kalah, tapi saat berhadapan dengan gadis yang dia sukai, rasanya dia ketakutan. Bagaimana jika akhir dari kisah mereka adalah hanya sebatas ini saja?
*****