Escape

1223 Words
Tepat saat pusat perbelanjaan tutup, Calista baru menyelesaikan seluruh pembayaran belanjaannya. Ben yang bertugas untuk mengantar pulang gadis itu ke rumah, selalu merasa tidak habis pikir dengan sifat Calista yang satu ini. Jika itu berhubungan dengan barang fashion, seorang Calista Muller seperti kerasukan setan. Berbelanja tanpa henti, hingga menghabiskan uang yang entah berapa jumlahnya. “Angel, kau benar-benar ratu shopping. Dua puluh shopping bag,” ucap Ben. Ada nada tidak percaya, tapi tidak kaget melihat ini. Sayangnya, Calista tidak menjawab. Gadis itu malah terus berjalan memasuki kamar. Lalu, menjatuhkan diri di sana. Seolah seluruh kegilaannya malam ini tidak juga menghapus kesedihan gadis itu. “Aku taruh di walk in closet-mu, Angel,” teriak Ben seraya memasukkan seluruh belanjaan ke tempat seharusnya. Saat Ben berada di tempat tidur dan masih menemukan Calista seperti tadi, pria itu benar-benar khawatir sekarang. Perlahan, dia mendudukan diri di samping ranjang. Tangan pria itu mengusap lembut puncak kepala Calista. Refleks, gadis itu membuka mata. “Kau mau pulang, Ben?” Ben mengangguk. “Sudah malam, Angel.” Tidak ada jawaban. Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain. Meskipun begitu, Ben tahu Calista sedang patah hati. Pria itu menarik napas dalam, lalu kembali bergumam. “Lupakan Raka, Angel. Maafkan dia dan juga dirimu. Bukan salahmu jika kau terlambat mengungkapkan cinta. Aku ada di sini, untuk membantumu.” Ben tersenyum, tapi tidak dengan Calista. Gadis itu hanya menatap pria itu nanar. Bahkan, sama sekali tidak berbicara saat Ben beranjak pulang. ***** Setelah kepulangan Ben pun, nyatanya gadis itu tidak juga terlelap. Dia bahkan mulai menatap satu per satu barang belanjaan yang dia beli tadi ke dalam lemari, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Namun, hal itu tidak juga membuat seorang Calista kelelahan. Mata gadis itu masih begitu terang. Perlahan dia membaringkan tubuh ke tempat tidur. Dibukannya album foto yang ada di ponsel. Banyak foto di sana, terlebih masakan yang dia buat. Hingga tangan gadis itu berhenti pada beberapa foto yang diambil beberapa bulan lalu. Saat itu Calista masih ingat, gadis itu rela menyusul Raka yang tengah visit ke Singapura. Sendirian. Berangkat pagi dan pulang malam. Berbekal alasan berbelanja, Raka tidak mencurigai sikap Calista. Hal-hal sepele yang kini terus teringat olehnya. Menciptakan kolase kenangan di kepala gadis itu. Berputar tanpa henti dan kini membuat hati gadis itu semakin perih. Dia sedih, rindu, dan juag marah. Sayang, dia tidak bisa berbuat apa pun. Hanya duduk diam di atas tempat tidur sambil menangis. Satu persatu dia melihat momen kebersamaannya dengan Raka. Pria yang dia cintai sejak SMP, sekaligus sahabatnya sejak dia belum mengerti bagaimana cara baca dan tulis. Hingga sebuah pesan masuk berhasil mengalihkan perhatian Calista. Nama Ben yang tertera, refleks, membuatnya membuka pesan. From : Ben I know your feeling right now, Angel. Setiap senyuman yang kau tunjukkan padaku, aku tahu kapan yang berasal dari hatimu dan kapan yang tidak. I know you about cry right now. Just cry. Ingat yang selalu aku katakan kepadamu kan Angel? ‘I’ll Always There For You’ P.S.: Besok pagi aku akan ke rumahmu, semoga kau bisa tersenyum tulus. Aku selalu menyukai senyum malaikat milik Calista Muller. Air mata Calista semakin bercucuran. Kini, dia mengasihani dirinya sendiri. Bohoh! Bagaimana dia bisa jatuh cinta pada sahabat sendiri. Membiarkan jatuh terlalu dalam, sekalipun  tahu bahwa perasaannya tidak pernah dibalas. Bukan hanya itu saja, rasa bersalah juga menggerogoti hati gadis itu. Ben mencintainya. Namun, hingga detik ini hati gadis itu bimbang. Calista belum merasakan hal apa pun terhadap Ben. I’m so sorry, Ben.  Suara pintu terbuka berikut suara langkah kaki, sontak mengalihkan perhatian gadis itu. Calista mendongak. Tatapan gadis itu langsung tertuju pada seorang pria dalam balutan polo shirt putih dan celana jeans. Pria itu terlihat santai. Hanya saja ekspresinya tampak sedih menemukan Calista begitu menyedihkan seperti ini. Pria itu menatap Calista lekat. Tiba-tiba saja, dagu kasar bekas cukurannya sengaja dia gesekan pada bahu Calista. Refleks, gadis itu terkekeh pelan karena kegelian. “Semuanya akan baik-baik saja, Cal.” Calista mengangguk seraya membalas lekat mata abu-abu yang serupa dengan miliknya. Semua orang berkata hal yang sama, maka mau tidak mau dia berusaha mengamini itu. “Semua orang berkata hal yang sama, kau dan Ben. Setidaknya, aku hanya kehilangan Raka dan bukan kau, Kak Ced.” Cedric segera menarik lengan Calista. Ditariknya sang adik ke dalam dekapannya. “Tentu saja. Aku tidak mau pergi sebelum kau bertanggung jawab karena menghabiskan uangku hari ini.” Sontak Calista mencibir. Baginya candaan Cedric mengenai kartu kredit unlimited yang dia miliki tidak lucu. “Nggak lucu!” “Aku memang sedang tidak melucu, Calista! Aku hanya menujukkan betapa banyak uang yang kau habiskan dalam beberapa jam belanja, puluhan juta!” Sayang, kali ini Calista tidak membalas. Tatapan mata gadis itu malah menangkap sebuah pigura yang terletak di nakas. Ada foto dirinya dan Raka saat baru kelulusan SMA. Foto lama yang hanya menyisakan momen yang selalu dia rindukan. Lagi-lagi Calista terisak pelan. “Dek ….” “Kenapa sih kak, Raka harus menikahi wanita lain? Kenapa bukan gue?” teriak Calista begitu saja. Cedric menghela napas dalam. Sambil mengusap punggung Calista, pria itu kembali bergumam. “Semua kini hanya tentang waktu, dek. Biarkan waktu yang menyembuhkan luka hatimu dan juga biarkan waktu lah yang mempertemukanmu dengan sosok terbaik di hidupmu.” ***** Cahaya terang berhasil mengusik tidur Calista. Perlahan dia mengerjapkan mata, berusaha untuk membiasakan diri dengan cahaya terang yang menyinarinya. Untuk sesaat gadis itu tertegun. Ada yang aneh saat matanya melihat langit-langit kamar. Seingatnya, kamarnya berwarna merah muda, bukan putih. Refleks, Calista terbangun dari tidur. Mata gadis itu dengan awas mengitari sekeliling. Jendela kamarnya tidak sebesar jendela kamar ini. Perabotan feminim yang ada di kamar pun seolah berubah menjadi perabotan bergaya lama. Tempat tidurnya juga membesar. Di sudut pun tidak ada lagi boneka-boneka besar yang Raka dan Ben belikan dulu. Ini jelas bukan kamar Calista, ini kamar siapa? “Aku di mana?” bisiknya pelan seraya menuruni tempat tidur. Tidak beberapa lama, pintu terbuka. Refleks, Calista memutar badan. Sosok Cedric dalam balutan pakaian santai berdiri di sana. Tangan pria itu membawa sebuah nampan berisikan sarapan; dua buah roti gandum, telur setengah matang, sosis panggang, serta segelas s**u. “Pagi, cantik,” sapa Cedric. Kakaknya itu tidak pernah malu memanggil Calista dengan kata-kata pujian. Pria itu sangat menyayangi adiknya. “Sarapan.” “Kak, kita … di mana?” tanya Calista tanpa peduli dengan sarapan yang Cedric bawa. Cedric tidak menjawab. Pria itu lebih dulu menaruh nampan berisi makanan ke nakas. Barulah berjalan kembali ke hadapan Calista. Ada sebuah senyuman yang tersungging di wajah pria itu. “Sori kalau sarapannya nggak enak.” Alis Calista mengernyit. Itu jelas bukan jawaban yang gadis itu inginkan, “Kak!” “Tenanglah, Calista.” Cedric terkekeh pelan. “Ini bukan penculikan, lagi pula apa untungnya aku menculikmu? Aku hanya sedang membantu untuk mengobati luka hatimu, Calista.” “Maksud kakak? Ini sama sekali tidak menjawab keberadaan kita.” Segera saja Cedric menarik lengan Calista. Menuntun adiknya itu menuju jendela. Pemendangan di luaran sana langsung terpapang jelas. Jalanan lengan dengan beberapa mobil yang berlalu lalang, jelas bukan kota tempat tinggalnya. Terlebih tempat di bawah sana tertata, bersih serta penuh dengan pepohonan rindang. “Aku … tidak mengerti, kak.” Cerdic berdecak pelan. “Kita di singapura, Calista. Aku sengaja menyewa apartemen di dekat orcard road, agar memudahkanmu berbelanja.” Seketika Calista menoleh pada Cedric. Kedua mata gadis itu melebar saking terkejutnya. “Kau gila! Kau membawaku ke Singapura tanpa izin! Bagaimana pekerjaanku? Bagaimana Ben?” “Tenang saja. Kau tidak perlu memikirkan mereka, Calista. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kau bisa menyembuhkan patah hatimu dan bertemu dengan kenyataan saat kembali ke Surabaya minggu depan.” Mulut Calista pun bungkam. Cedric benar, kalau dia ingin sembuh maka dia tidak perlu memikirkan orang lain melainkan dirinya. Seminggu saja, dia akan melupakan sejenak Surabaya dan orang-orang yang mencarinya di sana, termasuk Ben. Satu-satunya yang harus dia lakukan, membahagiakan dirinya sendiri untuk menghadapi kenyataan menyakitan nantinya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD