Meski tak begitu pandai menyetir, aku berusaha sebisaku, sambil sesekali menatap Lee di sisiku. Dia tampak kelelahan, tidak! Lebih mirip tertekan. Mungkin situasi ini menggangunya. Bukan hanya dia, aku juga! Siapa yang tidak tertekan mengetahui akan dibunuh, harus bertahan dari berondongan peluru dan melihat kematian yang tak semestinya. Jika Lee tertekan, aku terguncang. Padahal aku baru bertemu orang-orang dari NIS itu beberapa menit, tapi mereka mati dengan mudah seolah nyawa tiada harganya. Jika Lee tak menolongku, aku pasti jadi bagian dari mayat-mayat itu. Aku tak mengerti kenapa dia berubah, padahal baru beberapa jam lalu teguh ingin membunuhku. "Berhenti di sana" lamunanku pecah. Lee menunjuk rumah besar berlantai 2, tiga blok dari pintu masuk. Ia turun membuka pagar coklat s

