Aku mengetuk pintu rumah Runa dengan perasaan meletup-letup. Sekalipun lelah sehabis penerbangan panjang, tak bisa kutahan diriku untuk melihatnya walaupun hanya beberapa menit. Selama ini sudah berhari-hari ia hidup dengan salah paham padaku yang terasa menyesakkan d**a. Dan kupikir perlu memperjelas segalanya demi mengakhiri neraka ini. Kutekan bel beberapa kali. Menunggu beberapa menit berselang lalu mengetuk pintu lagi dan lagi. Aku menunggu di sana dengan amat sabar hanya demi bisa melihatnya untuk menghilangkan letih. Pintu dibuka pelan. Mata bulatnya mengintip sejenak dari celah yang hanya berbentuk beberapa sentimeter. Ia menatapku lamat-lamat dan tak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum padanya. Aku tahu senyumku terasa aneh, sebab tak terlihat rasa bersalah sebab mengabai

