EPISODE 02. Mobil

1083 Words
SELAMAT MEMBACA Lily menatap Sehan yang telah berdiri di sampingnya dengan pakaian bewarna hitam, mulai dari pakaian, celana hingga sepatu. "Kita mau ke mana?" Sehan bertanya pada Lily yang masih diam menatapnya. "Ke sekolah."  Sehan menggeleng pelan, Wiliam mengatakan bahwa Lily sudah lama lulus bahkan sudah memiliki gelar sarjana.. mungkin. Akan tetapi,  kenapa ia ingin pergi ke sekolah lagi? "kenapa?" Lily bertanya ketika Sehan tak kunjung memasuki mobil. "Tidak apa-apa."   Sehan mulai melanjutkan langkahnya, seharusnya ia tidur seharian penuh karena dua hari lalu ia telah disentak dengan berbagai ilmu tentang dunia manusia dari Wiliam, mulai  dari yang ia tidak tau sampai yang ada di luar nalarnya. "Cepat kemudikan," titah Lily Sehan hanya diam di depan pintu mobil yang terbuka lebar dan ikut menirukan Lily yang menatap setir mobil. "Apa?" tanya Sehan. Lily menghela napas kesal. "Jalankan mobilnya!" Sehan mengangguk paham. "Oh, begitu. Tenyata ini namanya mobil." Setelah mendengar bahwa Sehan sudah mulai paham kini Lily dapat bernapas lega walaupun ia masih kurang yakin karena Sehan saja baru mengetahui bahwa ini namanya mobil. Padahal ia telah memerintahkan Wiliam untuk mengajarkan Sehan sampai benar-benar paham dengan segala sesuatu di dunia ini karena Lily tau bahwa Sehan berasal dari dimensi lain dan terpental hingga kedunia manusia. Namun, Lily terbelalak ketika tak menemukan Sehan di depan pintu mobil yang masih terbuka lebar dan parahnya mobilnya seakan didorong begitu kuat hingga melaju begitu kencang dengan dirinya yang telah duduk dengan sabuk pengaman yang telah melekat pada tubuhnya diikuti pintu mobil yang masih terbuka lebar. Lily menoleh ke belakang untuk melihat apa yang dilakukan Sehan hingga mobilnya sampai melaju kencang tanpa pengemudi. Sialnya yang dapati adalah Sehan  melambaikan tangan dengan senyum tanpa dosa. "Apa yang kau lakukan, bodoh?!" teriak Lily kesal melihat kebodohan Sehan. pria itu disuruh menjalankan mobil dengan menyetir bukan mendorongnya dengan kekuatan vampir miliknya. Mendengar teriakan nona muda mereka. Kini, satpam, tukang kebun, para pelayan bahkan Wiliam segera keluar untuk melihat apa yang terjadi dan parahnya Wiliam melotot kaget melihat kejadian itu lalu menatap Sehan yang masih sibuk melambaikan tangan. "Apa yang kau lakukan?! Nona akan menabrak gerbang!" teriak Wiliam. Sedangkan Lily hanya bisa memandang lurus ke depan dengan raut wajah dingin seperti biasa ketika gerbang besi besar di hadapannya sebentar lagi bertabrakan dengan mobil hitamnya. Sehan menoleh dengan tenang ke arah Wiliam lalu semuanya berhenti. Semua orang di sekitarnya berhenti layaknya patung begitu pun Lily dan mobilnya. Sehan melangkahkan kakinya mendekati mobil Lily dan menahannya sejenak agar mobil itu tak melaju lagi ketika kekuatan pemberhenti waktunya habis. Sehan melirik ke dalam mobil dan pria itu terkesima melihat ekspresi datar tanpa ketakutan dari Lily. Gadis itu tak pernah menunjukan ekspresi kecuali datar seperti ini, padahal menurut Sehan Lily akan semakin cantik jika tersenyum. Tanpa sadar Sehan memasuki mobil dan mendekati Lily dengan tangan yang terulur menarik tengkuk gadis itu ke arah bibirnya. "Aroma mu begitu harum, setidaknya aku bisa menadaimu, Nona." Sehan tersenyum miring lalu setelahnya bibir Sehan mencium tengkuk milik Lily dengan lembut hingga sebuah simbol aneh muncul dan tenggelam ke dalam kulit Lily. Sehan menarik dirinya menjauh dari Lily lalu keluar dari mobil, lalu melirik ekspresi Wiliam yang terhenti dengan mulut sangat maju dengan mata melotot karena panik. "Wiliam jelek sekali, sih." *** Sehan kini duduk di kamarnya dengan kepala tertundukm Ia baru saja diceramahi oleh Lily perihal kejadian tadi pagi. "Kau kenapa?" Wiliam yang baru saja memasuki kamar Sehan kini mengambil posisi duduk di samping pria itu. "Aku habis dimarahi oleh, Lily." Wiliam tergelak keras ketika mendengar jawaban memelas milik Sehan. "Kau sedih karena hal itu?" Sehan menggeleng pelan. "Lalu?" Sehan menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Dia melarangku makan selama tiga hari" Wiliam kembali tergelak sambil memegang perutnya lalu setelahnya, ia menghentikan tawanya ketika Sehan melotot ke arahnya. "Lupakan hal tadi. Sebaiknya kita pergi ke club." "Club?" "Hiburan malam, ayolah!" jelas Wiliam. Sehan menyipitkan matanya curiga ke arah Wiliam. Wiliam tersinggung dengan tatapan Sehan. "Hei! Aku ini mencoba menghibur." Sehan mengedikan bahunya acuh lalu segera mendekati lemari untuk berganti pakaian. Sehan bahkan tak memperdulikan Wiliam yang terus memperhatiaknnya berganti pakaian dengan kaos biasa dan jeans hitam. Wiliam menatap takjub bentuk tubuh Sehan yang nyaris sempurna, membuat iri saja. "Ayo," ujar Sehan setelah dirinya telah siap. Wiliam kembali tersadar lalu segera menarik Sehan pergi ke tempat itu. tak butuh waktu lama kini Sehan telah memasuki tempat itu. Sehan menggosok-gosok hidung bangirnya ketika bau yang tak sedap langsung menyambut indra penciumannya. Bau itu berasal dari minuman dengan alkohol tinggi, parfum yang menyengat serta asap tembakau yang menyelimuti seluruh ruangan layaknya kabut. Sangat sesak karena banyaknya wanita berpakaian sangat terbuka bahkan dengan pria-pria gila yang bermesraan secara terang-terangan di sini. "Bau busuk! Sebaiknya aku pulang dan memilih mendengarkan ocehan dari bibir manis milik Lily," komentar Sehan di tengah kerumunan yang amat berisik sedangkan Wiliam sibuk menegak minuman yang ada di bar. Sehan mengamati minuman beralkohol yang diminum oleh Wiliam. "Apakah Wiliam meminum air... " Perkataan Sehan menggantung lalu tatapannya turun ke arah Barang miliknya yang masih tertutup serta terbungkus celana jeans hitam ketat. "Wah.. Tampan sekali!" Sehan kembali terpaku ketika tangan-tangan menyentuh punggung bahkan ada juga yang menyentuh rahangnya, ia tak tau dari mana wanita-wanita ini datang dengan pakaian sangat sexy. Sehan hendak memaki namun niatnya terhenti kala tatapanya menatap intens leher jenjang wanita yang menyentuh rahangnya. Rasa panas langsung menjalar ketenggorokannya, sudah lama ia tak meminum darah dan kini ia seakan dituntun untuk melegakan rasa hausnya. Sehan tak suka aroma darah orang-orang di sini, ia hanya menyukai aroma darah milik Lily yang sangat harum dan memabukkan. "Di mana tempat sepi di sini?" tanya Sehan pada wanita yang sibuk menyentuh rahangnya. Wanita itu mengulas senyum nakal lalu mengamit manja lengan milik Sehan. "Di belakang, bahkan tempatnya sangat gelap, Sayang." Sehan menyeringai lalu mengikuti kemana wanita itu akan membawanya. Ia mengabaikan para wanita di belakangnya dan juga Wiliam yang sibuk meneguk minuman. "Dasar wanita bodoh, bagaimana bisa dia begitu mudah terbuai dengan tampang dan kalimatku?" batin Sehan sarkas. Setelahnya mereka telah sampai di ruangan yang sangat gelap bahkan sepi sekali. Wanita itu dengan agresif menghimpit tubuh Sehan di dinding dalam ruangan itu. Sehan terdiam cukup lama lalu bibirnya terangkat dengan seringaian yang menakutkan. Ia kini membalikkan posisi mereka. Hingga Sehanlah yang menghimpit tubuh Wanita itu. "Tak enak, tapi setidaknya cukup untuk memuaskan dahaga," tutur Sehan sebelum akhirnya matanya menyala bak lampu di dalam ruangan itu. Sang wanita tak bisa berteriak karena Sehan lebih dulu membungkam mulut wanita itu dengan sebelah tangannya. JLEB..EUMMHH! Sehan mengelap sudut bibirnya. "Aku akan bermain bersih, agar kau tak menjadi vampir darah kotor." Sehan berjongkok lalu menghilangkan luka akibat taringnya. Ruangan gelap tak berguna untuk Sehan karena bagaimanapun pria itu masih bisa melihat hal sekitarnya dengan jelas. "Semoga kau mimpi buruk," bisik Sehan pada wanita yang sudah tak sadarkan diri disana kemudian pergi begitu saja. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD