EPISODE 03. Isi Mimpi Lily

941 Words
SELAMAT MEMBACA Lily kini memilih menelungkupkan tubuhnya di sofa empuk di kamar dengan sebuah permen yang masih setia di mulutnya. Lily terlihat begitu imut dengan baju tidur kebesaran warna abu-abu miliknya dihiasi wajah bantalnya. "Nona.. " "Ya?" Lily menjawab dengan nada lesu. "Anda tidak pergi ke sekolah?"  Lily menggeleng. "Aku lelah menyamar jadi anak SMA, lagi pula putri si tua bangka itu tak pernah kudapati." Wiliam menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu mengangguk kaku. Lily melirik Wiliam. "Dimana Sehan?"  "Dia sedang belajar bermain ponsel."  Lily mengangguk. " Baguslah. Ajarkan dia terus, supaya otaknya tak terlalu bodoh." Wiliam tahu bahwa Lily sebenarnya masih kesal tentang kejadian mobil lima hari yang lalu waktu itu. Lagi pula kini Sehan telah pandai mengendarai segala kendaraan yang dimiliki oleh Lily. "Anda tampak pucat. Apa sebaiknya saya menelpon Dokter Yuan untuk memeriksa kondisi and-"  Lily memotong perkataan Wiliam, "Aku mengantuk, kau keluarlah." "B-baik, Nona."  Setelahnya Wiliam langsung bergegas keluar dari kamar nonanya dengan sedikit takut. lalu di kamar Sehan. Pria tampan itu tengah duduk di tepi jendela kamarnya dengan ponsel yang sedari tadi ia genggam dengan tontonan dari aplikasi youtube yang baru saja ia ketahui kegunaannya. "Wiliam benar! Film ini begitu mendebarkan. Aku akan mengajak Lily nonton bersama agar ia mau melakukannya bersamaku!"    Setelah berkata seperti itu ia segera mengantungi handphonenya kemudian berjalan ke arah kamar Lily dengan wajah berbinar. Wiliam yang baru saja keluar dan menjauh pergi, sedikit bingung ketika berpapasan dengan Sehan yang hanya melempar senyum kecil ke arahnya. "Ada apa, dengannya?" pikir Wiliam. Ia tak ingin mencegah Sehan memasuki kamar Lily, karena ia akan sangat senang jika Sehan kena marah sepertinya, lagi pula Wiliam senang sekali mendengar Sehan apabila menceritakan Lily yang kelewat dingin dan gampang marah. Sehan terpaku ketika memasuki kamar Lily dan gadis itu tampak terlelap dengan wajah polos yang begitu menawan. Sehan mendekati Lily seraya menusuk-nusuk pipi gadis itu. "Tidurnya dia.. seperti orang mati," cicit Sehan ketika Lily tak terusik sama sekali dengan kejahilannya. Sehan menompang kepalanya dengan kedua tangan. Ia kini telah duduk dilantai dekat Lily tertidur pulas. Ia duduk di lantai sembari mengamati wajah cantik Lily yang mendengkur halus. "Apa aku coba baca masalahnya, ya?" pikir Sehan. Sehan mengangguk mantap lalu telunjuknya bergerak menyentuh kening Lily dengan pelan sembari ikut memejamkan mata. [Dalam mimpi Lily] "Ayah! Ibu!" Seorang gadis kecil berlari ke arah ayah dan ibunya yang tergeletak di lantai kamar dengan leher yang terkoyak lebar dengan lubang besar berlubang dua terlihat jelas pada bagian leher yang masih utuh. Seorang pria paruh baya berjongkok mengamati gadis kecil itu intens dengan tangan yang bergerak mengusap bibirnya yang berlumur darah. "Mendekatlah, aroma darahmu begitu harum."  Sang gadis gemetar ketakutan, dirinya kini bersimpuh dengan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya. Mata bulat besar miliknya menatap nyalang pria itu. Pria yang datang sebagai mitra kerja ayahnya ternyata seorang Vampir darah kotor. "A.. akan kubunuh kau!"  Gadis berusia sepuluh tahun itu berteriak keras lalu berlari mendekati meja kecil milik ayahnya dan menarik laci di sana. Pria paruh baya itu mendekat dengan senyum iblis. "Mau membunuhku dengan apa, gadis kecil?" tanyanya sarkas. DOR... AKHHH!! [Selesai] "A-apa itu?" Sehan menarik tangannya secara reflek lalu menyentuh dadanya yang kembali berdenyut sakit. Sehan memiliki kekuatan memberhentikan waktu, membaca masalah bahkan mimpi serta kekuatan lainnya yang belum ia ketahui. Sehan mengamati wajah Lily yang tampak pucat dengan keringat yang telah membanjiri baju tidur gadis itu. "Ayah? Ibu?" "Ayah? Ibu?"  Sehan tertegun ketika untuk pertama kalinya melihat ekspresi Lily yang begitu ketakutan dan menyedihkan. Perlahan namun pasti kini, Sehan berdiri dari posisinya lalu memeluk tubuh Lily dengan erat, ia mengambil posisi di samping Lily dan memeluknya sehingga Lily terbangun seperti disentak dan membalas pelukan Sehan dengan erat. "A.. aku takut!" Lily berujar dengan napas memburu. Sehan mengelus punggung Lily dengan lembut. "Aku di sini Nona, tenanglah."  Lily mengangguk pelan lalu matanya membeliak lebar ketika ia menyadari bahwa sosok yang dipeluknya adalah Sehan, dengan cepat ia mendorong Sehan dari sofanya hingga pria itu terjatuh di lantai dan meringis. "M.. maaf," ujar Lily dingin seraya memaling wajahnya ke samping enggan melihat Sehan yang mendengus kesal lalu kembali berdiri dan duduk di samping Lily. "Lupakan hal tadi, itu memalukkan," ujar Lily tiba-tiba. Sehan terdiam cukup lama, entah kenapa Lily seolah bersikap dirinya kuat padahal Sehan tahu bahwa Lily bukanlah sosok yang seperti itu. Ia hanya mencoba menyembunyikan dirinya yang rapuh dengan berlagak sok tegar dan kuat. "Dengan satu syarat," pinta Sehan ketika ia mengingat sesuatu, lagi pula sakit di dadanya telah mereda. Lily memandang sinis Sehan yang tengah merogoh kantung dan mengeluarkan ponsel baru miliknya. "Baru kali ini aku memiliki anak buah sepertimu," cibir Lily. Sehan hanya mengedikkan bahu acuh karena sibuk menggulir layarnya untuk memcari video yang ia tonton bersama Wiliam semalam.  "Tonton ini bersamaku dan aku akan melupakan semuanya," ujar Sehan dengan senyum mengembang. Lily memutar bola matanya malas lalu melempar atensi ke arah Sehan yang telah memutar videonya dengan volume besar. Ahhhh ... Ahh ... Ah ... Ekspresi Lily kini berubah menjadi datar dan juga begitu dingin, sedangkan Sehan masih dengan asiknya menyetel video itu dengan mata berbinar. PLAKK! AKHHH! Sehan meringis sehingga ponselnya jatuh ke lantai ketika tangan Lily memukul keras kepalanya. "Keluar dari kamarku!"  Sehan menggaruk tengkuknya lalu berjongkok memungut ponselnya yang sudah memuntahkan isi perutnya. "Sakit!" ketus Sehan seraya mengelus kepalanya. "Dasar bodoh! Bodoh! Bisa-bisanya kau memberiku tontonan seperti itu!" oceh Lily dengan wajah merah padam. Sehan menatap Lily dengan wajah kesal. "Wiliam bilang seorang laki-laki wajib menonton video panas ini dengan seorang wanita agar bisa memiliki keturunan!" oceh Sehan balik. Lily menepuk dahinya, bagaimana pun Sehan tetap salah. "Lalu apa maksudmu memperlihatkannya padaku!"  Sehan berdiri setelah memungut ponselnya kemudian menatap Lily tanpa dosa. "Karena aku ingin memiliki keturunan darimu." BLUSHHH.. Seketika wajah Lily merona lalu menunjuk pintu dengan kasar. "Keluar! Lalu panggil Wiliam ke ruanganku!"  Sehan memutar bola matanya malas, sudah dihajar lalu berkata jujur masih saja dimarahi. Dengan langkah gontai ia meninggalkan Lily yang masih menggerutu di. belakangnya. Ia harus menghajar Wiliam karena ajarannya malah membawa dirinya dalam amukan Lily. "Wiliam Sialan!" maki Sehan dan Lily bersamaan dalam hati ketika mereka sudah saling menjauh. BERSAMBUNG..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD