SELAMAT MEMBACA
Sehan kini memandang datar keluar jendela kamarnya yang terbuka lebar. Pria tampan dengan sorot mata tajam itu menghela napas berulang kali.
"Bagaimana caranya aku kembali?"
Semua ingatan tentang dirinya seketika bermunculan lewat mimpi setelah ia tanpa sengaja membaca mimpi Lily kemudian itu berpengaruh padanya juga, pengaruh yang sangat baik.
Baik di dunia manusia maupun dunia lain, umur Sehan kini menginjak usia 18 tahun untuk ukuran remaja manusia. 100 hari berarti 1 tahun bagi pertumbuhan Sehan dan juga umurnya. Berbeda dengan manusia yang pertumbuhannya lebih lambat, sedangkan sekarang di dunianya saja ia sudah berumur 5 tahun. Artinya Sehan kini telah berumur 18 tahun, walaupun sebenarnya ia baru hidup di dunia ini selama 5 tahun.
"Kau pemalas, ya."
Sehan menoleh dengan kondisi rambut yang acak-acakan khas dengan wajah bantal tampan miliknya. Ia memandang ke arah pintu. Di sana Lily telah berdiri di ambang pintu sembari mengetukkan telunjuknya pada arjoli yang di kenakannya.
Sehan beranjak dari kasurnya lalu seperti biasa, ia akan menghampiri lemarinya kemudian membuka seluruh pakaiannya begitu saja tanpa memperhatikan segala hal.
"Tunggu!" intrupsi Lily.
Sehan yang hendak membuka bajunya kini menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"
"Waktumu 20 menit, mandi setelah itu tutup kamarmu barulah ganti pakaian, " jelas Lily kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Sehan yang masih mencerna perkataan Lily.
Cukup lama pria itu mematung pada posisinya sebelum akhirnya berlari dengan cepat ke kamar mandi lalu bergegas berpakaian. Jika ia lewat dari 20 menit maka, tamatlah batinnya yang akan memendam kekesalan karena ocehan Lily.
Dari luar sana, Lily yang telah duduk di dalam mobil mengalihkan tatapannya ke arah Sehan yang telah memasuki mobil. Biasanya pria itu akan menyapa atau sekedar berbasa-basi setiap bertemu dengannya. Tapi, kali ini rasanya berbeda bahkan tatapan Sehan yang biasanya bersemangat sekarang tergantikan dengan tatapan mata mengintimidasi yang mampu menciptakan ketakutan bagi mereka yang tak kuat menahan tatapan milik Sehan.
"Kita akan kemana, Nona?"
Lily terkesiap dari lamunannya, sejurus kemudian ia memalingkan wajahnya keluar jendela. "Ke kantor rahasiaku."
"Beritahu aku letaknya. Kau tak ingin kita tersesatkan?"
Lily sontak menoleh ke arah Sehan.
"Ada apa?" Sehan bertanya ketika Lily memandangnya dengan tatapan sulit terbaca.
"Kau seperti bukan Sehan," gumam Lily yang cukup jelas didengar oleh Sehan.
Sehan hanya diam, enggan menjawab.
"Kau cukup fokus menyetir, aku akan mengarahkanmu."
Sehan hanya mengangguk menanggapi perintah Lily. Sebenarnya yang Sehan pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya bertemu ayah serta ibunya. Untuk saat ini ia harus bertahan menghadapi Lily karena Sehan tak memiliki kerabat di dunia manusia. Mobil sport Lily dengan luwesnya bergerak cepat sesuai petunjuk yang meluncur dari bibirnya. Lily sendiri takjub ketika menyadari betapa pandainya Sehan mengendarai mobil dengan petunjuk dari mulutnya tanpa ia harus mengulangi perkataanya lagi bahkan pria itu tidak bingung ataupun pusing ketika Lily mengatakan belok secara tiba-tiba.
"Apakah ini?" Sehan bertanya pada Lily ketika mobilnya disuruh berhenti pada sebuah gedung yang tak terlalu besar dengan warna yang hampir dominan dengan warna hitam.
Lily mengangguk. "Hanya kantor bekas yang sudah tak kupakai."
Sehan mengangguk. Pantas saja tak ada penjagaan sama sekali. Namun, kantor itu terlihat begitu terawat.
Lily melepas sabuk pengamannya begitupun Sehan yang segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil layaknya seorang pangeran yang membukakan pintu kekasihnya.
****
Douglash House, sebuah markas atau tempat persembunyian yang diisi oleh orang-orang yang kebanyakan menggunakan pakaian bewarna hitam.
"Apakah tugas yang kuberikan padamu berjalan lancar, Alice?"
Alice menatap lekat sosok pria tua dengan perut buncit yang sibuk meminum secangkir cairan kental bewarna merah pekat.
"Sudah."
"Lalu informasi apa yang akan kau berikan padaku pagi ini?"
Alice mengulas senyum tipis lalu mengambil posisi duduk dihadapan tuannya itu. Alice Vernoun adalah seorang penjahat atau pembunuh bayaran yang kini memilih mengabdikan diri pada sebuah komunitas kejahatan yang sangat berbahaya. Ia salah satu anak buah kesayangan sang pemimpin.
"Pengawal baru gadis itu, kurasa sama sepertimu, Tuan."
TAKK!
Alice tersentak ketika cangkir itu diletakkan begitu kasar oleh ketuanya.
"Apa kau yakin?"
Alice menggaruk tengkuknya. "Aku merasakan aura begitu kuat dari sosoknya, saat itu aku tak sengaja melihat Wiliam membawa seorang pria yang ternyata adalah pengawal baru Lily ke sebuah club. Aku mengikutinya ketika Wiliam mabuk tapi di sana ramai sekali hingga aku sulit mengikuti pria itu ketika digeret oleh seorang wanita."
"Kenapa kau tak membunuh pengawal Lily yang bernama Wiliam itu?"
Alice menggeleng. "Dia hanyalah seeokor bayi tikus. Membunuhnya juga tak menguntungkan bagi kita, Tuan."
Pria tua itu mengangguk kemudian mengusap kumis hitamnya yang lebat. "Hal lainnya?"
Alice kali ini menatap jam dinding yang terletak tepat di belakang tuannya duduk.
"Pagi ini, Lily sedang pergi ke kantor lama milik ayahnya yang dulu."
"Apa yang dia lakukan di sana?"
"Entahlah. Tapi saya sudah mengirim sekitar sepuluh orang untuk memburu Lily."
"Kau sangat pandai dalam menguntit dan merancang strategi, Alice." pujinya.
Alice hanya tersenyum tipis.
"Kali ini saya menyuruh mereka untuk menembak Lily jika gadis itu berniat kabur lagi."
Pria tu itu tergelak, "Tembaklah, asalkan dia tidak mati saat kau bawa ke hadapanku!"
Lalu...
Sehan mendelik ke beberapa titik tempat sekitarnya. Ia telah berjalan memasuki kantor. Hidung Sehan kini tengah bekerja layaknya anjing yang mencium sesuatu aneh.
Mata Sehan membeliak ketika menyadari sekitar dua orang tengah mengarahkan sebuah senjata ke arah Lily. Sehan bisa melihat jelas dua orang yang telah bersembunyi dari jarak yang tak jauh darinya itu tengah mengarahkan pistol ke arah nonanya.
"Lily.. "
DOR!
BERSAMBUNG...