SELAMAT MEMBACA
" Lily... "
DOR!
Lily tersentak kala tubuhnya ditarik kemudian dipeluk oleh Sehan. Lily mendengar suara tembakan kemudian Sehan masih berdiri tanpa ada pergerakan sedikitpun. Mata Lily melebar saat dengan santainya Sehan menangkap timah panas itu dengan tangan kosong, kemudian menjatuhkan butir demi butir peluru ke permukaan yang mereka pijak.
"Aku seperti menonton city hunter," bisik Lily.
Sehan melirik gadis dalan pelukannya itu seraya memutar bola matanya malas. "Kau harus balas budi nanti."
"Untuk apa?"
DOR!DOR!
Ini sangat konyol ketika beberapa orang mengincar nyawamu dengan menembakan sebuah peluru dan kalian malah sibuk berbincang dengan sedikit perdebatan kecil.
"Karena kau kuselamatkan."
Lily berdecak, "Itu tugasmu!"
Sehan mengabaikan perkataan Lily kemudian langsung menggendong tubuh gadis itu seperti mengangkat karung beras. Lily meronta namun, ia harus jadi penurut ketika sebuah peluru hampir saja menembus kepalanya.
"Ke kantornya besok saja. Kau masuk dulu."
Lily melebarkan matanya ketika Sehan melemparnya masuk ke dalam mobil sedangkan pria itu ada di luar kaca mobil sembari menyuruhnya untuk pergi.
"Cepat kembali ke rumah!" bentak Sehan karena Lily tak kunjung mengendarai mobilnya.
Lily menatap nyalang Sehan. "Kau pikir aku mau?"
"Aku memerintahkanmu, Nona!"
Lily mengekerucutkan bibirnya kemudian menunjuk wajah Sehan yang berada di luar jendela mobil. "Aku majikanmu!"
Lily mencoba membuka kaca mobil dan juga pintu mobil sembari meneriaki nama Sehan. Pria itu dengan kurang ajarnya menggunakan kekuatannya untuk mengunci Lily di dalam mobil.
"Untung saja jendela ini anti peluru," gumam Lily setelah ia lelah memberontak dalam mobilnya sendiri. Sekarang lebih baik ia menjadikan laga Sehan layaknya tontonan dan sedikit merekamnya.
BRAK! TRANG!
Pergerakan Sehan tak terbaca, sosoknya terlihat seperti sekelebat bayangan saja. Kemudian sebuah tubuh kekar terbanting keluar dari persembunyian dengan suara tulang patah. Senjata miliknya patah menjadi dua bahkan Sehan tanpa ampun mencekik leher para pria yang ingin menembak Lily.
Sehan mendelik ke arah pria terakhir yang berniat kabur. Dengan sekali langkah kakinya bergerak, kini Sehan telah menangkap sosok itu.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" Tanya Sehan dingin.
Pria itu melotot dengan mata merah karena tubuhnya terangkat dan tak menapak permukaan sebab Sehan mencekik lehernya.
"K-kau Vampir sialan?!"
Sehan tersenyum sarkas. "Apakah aku menyuruhmu memaki?"
BRAKKK!
Sehan memutar tubuhnya menghampiri mobil Lily kemudian melepaskan kekuataanya dan masuk ke dalam mobil setelah membunuh para pelaku.
"Simpan saja ponselmu itu, Nona." Sehan mencibir Lily disusul tangannya yang bergerak mengambil ponsel Lily kemudian ditaruhnya dalam saku celana miliknya.
"Kenapa kau jadi seberani ini padaku, Sehan?"
Sehan melirik ekspresi Lily yang selalu datar ketika berbicara.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Lily mendengus kasar. "Kita sebaiknya pulang, sebelum kawanannya berdatangan."
Kali ini Sehan menyetujui perkataan Lily kemudian mengemudikan mobilnya seraya melaju kencang.
***
Mansion Lily
Sehan menyentuh lehernya dengan kuat kala rasa haus itu datang menghampirinya. Langkah Sehan tertatih-tatih menjelajahi mansion mewah milik Lily pada tengah malam begini. Waktu dimana bagi semua orang tertidur dan Sehan justru mengendap-endap mencari sesuatu yang mampu menghilangkan rasa dahaganya.
Semua lampu dipadamkan, kecuali lampu dengan penerangan kecil di beberapa bagian.
KRIETT...
Sehan membuka kulkas kemudian mengambil asal minuman di dalamnya dan meneguknya dengan terburu-buru.
Sehan menghentikan acara minumnya.
Hidung Sehan kembang kempis dengan saliva yang terus tertelan kala mencium aroma darah milik Lily yang begitu harum.
"Kau kehausan?"
Mata Sehan menggelap, Lily yang baru saja keluar kamar dengan baju kebesaran yang menggemaskan itu sedikit terkejut ketika melihat mata Sehan menggelap. Ia bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya yang diberikan lampu dalam kulkasnya.
"Apa yang terjadi padamu, Sehan?"
Lily mendekati Sehan tanpa rasa takut, bahkan ia kini dengan berani menyentuh keringat yang membanjiri pelipis pria itu.
Sehan dengan susah payah menahan hasratnya untuk meminum darah Lily.
GYUTT..
Jantung Lily berdebar kencang kala Sehan menutup pintu kulkas dan beralih memeluk tubuhnya. Pria itu bahkan terlihat sangat lemah kala meletakan dahinya pada pundak Lily.
"Ini menyakitkan," lirih Sehan.
Lily melirik Sehan yang meremas d**a dari luar kaos putih, pria itu tampak kesakitan.
"Ini sering terjadi," tutur Sehan.
Lily mengusap punggung Sehan dengan lembut hingga napas pria itu sedikit teratur karena sebelumnya seperti seseorang yang hampir dikejar-kejar polisi.
"Sudah baik' kan?" tanya Lily.
Sehan melepaskan pelukannya kemudian menatap Lily yang ternyata hanya sebatas dagunya.
"Terima kasih, Nona."
Lily kembali tertegun kala tangan Sehan mengusap pipinya lembut dan melemparkan senyum tipis yang amat menawan.
"K- kau kembalilah ke kamar!" titah Lily gelagapan.
Sehan mengulas senyum penuh arti kemudian sedikit menahan rasa sakit yang masih bergejolak di tenggorakan serta dadanya. Ia pergi melewati Lily begitu saja sebelum ia lepas kendali nantinya. Ia bahkan tak menanyakan apa yang dilakukan Lily malam-malam begini.
Setelah merasa Sehan telah pergi. Kini Lily mendudukan tubuhnya disalah satu kursi di dapur kemudian menyentuh dadanya.
"Aku harus pergi Check-up, akhir-akhir ini detak jantung tak beres, " gumam Lily
Bersambung...