bc

Oh, My Ice!

book_age12+
6
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
goodgirl
student
drama
comedy
bxg
icy
highschool
small town
school
like
intro-logo
Blurb

"Apa definisi luka menurutmu?"

"Kamu."

Sabrina Dara, atau yang kerap disapa Dara itu harus kembali menampilkan senyum palsunya saat Arda lagi-lagi melontarkan kalimat menyakitkan padanya. Menggoreskan luka, tanpa tahu bagaimana cara  menyembuhkannya.

"Kamu itu seperti bumerang, walau sekuat apapun aku lempar menjauh, kamu akan tetap kembali... padaku."

Arda dan Dara dipertemukan oleh takdir yang seakan terus menerus berputar mengaitkan keduanya. Sejak pertemuan pertama, Dara sudah tertarik pada Arda. Namun sebaliknya, Arda justru sudah menandai Dara sebagai perempuan yang harus ia jauhi, bahkan pada saat pertama kali manik mata mereka saling bertemu.

Dara sudah hampir menyerah saat seseorang dari masa lalu kembali mengganggunya, ditambah dengan sahabat kecilnya yang perlahan mulai acuh padanya, serta alasan di balik sikap dingin Arda yang semakin memperjelas segalanya.

Lalu Dara disadarkan oleh kenyataan, bahwa kisahnya memang tak pernah direstui oleh semesta. Setelah semuanya terasa semakin menyakitkan, apakah kebahagiaan masih pantas untuk didambakan?

chap-preview
Free preview
01. Definisi Luka
"Apa definisi luka menurutmu?" "Kamu." -Oh, My Ice!- Perempuan berambut sebahu itu merengek pada sahabatnya yang kini tengah menarik lengan kirinya. Perempuan bernama Sabrina Dara itu mengeratkan pegangannya pada pilar beton di lobby sebuah gedung olahraga kota Pekalongan yang sudah tidak terlalu ramai sebab pertandingan bulutangkis se-provinsi Jawa Tengah itu sudah dimulai “Aku mau samperin dia, ayolah, ini momen langka, di mana aku sama dia secara kebetulan berada di tempat yang sama. Kalau dalam drama Korea, ini pertanda bahwa kami jodoh.” Dara terus membujuk sahabatnya agar ia melepaskan lengannya yang bahkan sudah sedikit memerah sebab digenggam terlalu kuat. Reina berdecak, “Bukan gini caranya. Dia nggak akan suka cewek yang blak-blakan nyamperin dia di tempat umum. Dia itu Es, lo nggak akan berhasil dengan cara seperti ini." Perlahan, Dara kehilangan tenaganya untuk melawan Reina yang kembali menyeretnya menjauh dari tempat itu. Memang benar. Sahabatnya itu benar. Bukan seperti ini cara untuk mencairkan sebuah gunung es. Ia harus elegan, seperti yang sering Reina katakan. Jangan bersikap seolah Es adalah alasan satu-satunya kamu berangkat ke sekolah, juga jangan bertingkah seolah kamu sedang menarik perhatiannya. Karena bukannya mencair, Es justru semakin membeku. * Dara secara refleks menutup telinganya saat sorak sorai menggema di sebuah lapangan bulutangkis tempat sepupu Reina bertanding merebutkan posisi pertama melawan pebulutangkis asal Solo yang kemampuannya tidak perlu diragukan lagi itu. “BANG HANIF, SEMANGAT!!!” Dara melotot saat Reina, sahabatnya itu tiba-tiba berdiri dan berteriak seperti orang kerasukan. “SIKAT, BANG, SIKAT!!! BANG HANIF, GUE SAYANG LO, BANG!!!” sorak Reina saat sepupunya itu berhasil mendapat game point di set pertama. Dia tampak sangat yakin kalau sepupunya itu bisa mengharumkan Kota Pekalongan dengan meraih medali emas di pertandingan ini. Merasa pening dengan semua keributan ini, Dara menepuk pelan pundak sahabatnya. Lantas, berajak dari tempat duduknya, setelah ia pamit untuk pergi ke toilet. Dara sempat mendapat peringatan untuk tidak menemui Es saat ia mengatakan ingin ke toilet. Karena tidak mau berdebat, Dara mengiyakan saja apa yang Reina katakana. * Dara menarik selembar tissu untuk mengeringkan tangannya yang basah setelah beberapa saat tadi ia baru saja selesai membasuh tangannya di wastafel. Setelahnya, perempuan itu mengeluarkan sebuah liptint dan mengoleskannya sedikit ke bibir tipisnya. Tak lupa, ia merapikan helaian rambutnya sebelum akhirnya ia beranjak dari depan cermin di kamar mandi itu. Perempuan itu hendak meraih gagang pintu untuk keluar dari tempat itu, namun gagal ketika telinganya menangkap sebuah gelombang suara yang agak familiar itu. Karena kepo, Dara mengitip melalui celah pintu yang sedikit terbuka, dan betapa terkejutnya ia ketika suara yang familiar itu rupanya berasal dari Es-nya. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh laki-laki itu, yang Dara tau, sepertinya topik pembicaraannya cukup sensitif, dan Dara rasa, ia tak pantas untuk mendengar lebih banyak tentang permasalahan laki-laki dingin itu. Dara lantas melangahkan kakinya untuk menjauh dari sana, sembari terus berdoa agar Es-nya tidak menyadari keberadaannya di sana. Namun sialnya, perempuan itu justru tidak fokus dengan langkahnya dan tak menyadari bahwa di depannya terdapat beberapa anak tangga. “Aaaa!!!” pekik Dara saat ia tak bisa mempertahakan keseimbangannya hingga nyaris terpeleset dari tangga kalau saja seseorang tidak menahan lengannya. Dara terperangah sesaat, mengagumi kebesaran Tuhan atas ukiran-ukiran sempurna pada wajah laki-laki di hadapannya itu. Tanpa sadar, Dara tersenyum. Jantungnya berdebar. Belum pernah ia berada pada jarak sedekat ini dengan Es-nya. “Kata orang, ini jodoh, Kak,” ucap Dara tanpa menyaring dulu ucapannya. Sepertinya ia lupa dengan apa yang beberapa saat lalu Reina katakana padanya—elegan. Laki-laki itu mendengus, “Gue udah nolongin lo. Jadi, boleh gue minta satu hal?” Dara tersenyum lebar, “Apa, Kak?” “Pergi dari kehidupan gue,” tukasnya tajam. Dara terdiam. Ada sedikit rasa sakit yang perlahan menjalar di dalam sana. Tidak apa, Dara sudah biasa merasakannya, bahkan sejak pertama kali ia menyukai Arda. Laki-laki itu hanya menatap Dara datar. Arda menengok ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang selain Dara, membuat Arda jadi curiga dengan perempuan itu. “Ngikutin gue?” tanya Arda singkat dengan penuh percaya diri. “Nggak, tadi aku habis dari toilet dan nggak sengaja denger Kak Arda….” Oh My God, tolong Dara. Ia kelepasan. Seharusnya Dara tidak terang-terangan mengatakan bahwa saat di toilet tadi dia mendengar sedikit perbincangan Arda dengan seorang pria paruh baya. Arda mencengkeram lengan Dara kuat. Seperti membaca pikiran Dara, laki-laki itu menghujami Dara dengan tatapan tajam, meminta penjelasan. “Apa yang lo dengar?” sentak Arda himgga membuat Dara membeku. “Jawab!” Bibir Dara terasa kelu. Ia takut dengan Arda yang seperti ini. Sudah cukup Arda bersikap dingin padanya, jangan menyeramkan seperti ini. Mata elang Arda menghunus tepat di manik cokelat Dara, seakan mengunci agar perempuan itu tidak menatap apapun selain dirinya. “Apa yang lo dengar?” tanya Arda dengan suara beratnya. Tubuh Dara bergetar, ia harus cepat pergi dari tempat ini kalau tak mau terkena masalah yang bersumber dari amarah laki-laki dingin di hapadannya. “M-maaf, kak. Teman aku sudah nunggu.” tutur Dara. Perempuan itu menghempaskan tangan Arda yang mencengkeramnya, lalu bergegas pergi dari tempat itu. Arda tidak tinggal diam. Kalau benar perempuan berambut sebahu itu mendengar percakapannya, berarti ia juga tahu tentang rahasianya. Hal itu semakin membuat Arda kesal. Tidak ada yang boleh tahu tentangnya, walau satu orang pun. Termasuk Dara, perempuan yang sudah Arda masukkan dalam blacklist-nya jauh sebelum hari ini. Kaki jenjang Arda memudahkannya untuk menghentikan langkah Dara. Dengan rahang yang sudah mengeras, Arda menghentikan Dara dengan menarik lengannya secara kasar. Ia tidak sadar bahwa perlakuannya itu tidak hanya melukai lengan Dara, namun hatinya juga terluka. “Jawab pertanyaan gue!” cecar Arda. Dara tersentak. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Ak-aku nggak dengar apa-apa,” kata Dara terbata. “Bohong!” sergah Arda cepat. Ia sama sekali tak mempercayai ucapan Dara barusan. “Kak, tolong lepasin. Lengan aku sakit,” cicit Dara yang justru terdengar seperti sebuah rintihan. Perempuan itu merasa takut setengah mati. Satu bulir air mata Dara jatuh dari kelopak mata kirinya, namun ia tak ingin Arda melihatnya, sehingga dengan cepat ia menghapus air matanya menggunakan satu tangannya yang terbebas dari cengkeraman Arda. Arda merasa frustrasi dengan semua ini. Sebenarnya, bersikap kasar pada perempuan itu bukan Arda banget. Namun ia harus bagaimana? Arda tidak ingin apa yang ia rahasiakan dari semua orang terbongkar begitu saja. Tentang Papanya, keluarganya, dan gadisnya. * Lima menit berlalu, dan perempuan di hadapan Arda masih saja membisu. Perlahan Arda mengendurkan cengkeraman pada lengan Dara. “Oke, gue nggak akan maksa lo untuk mengatakan apapun lagi. Tapi jangan menyesal kalau besok gue berubah jadi orang yang nggak semakin lo kenal.” Itu kata terakhir yang Arda ucapkan, sebelum akhirnya ia meninggalkan Dara dengan emosi yang semakin menguap. Tangannya masih terkepal kuat. Ada banyak hal yang membuatnya marah, hari ini. Dara tersadar dari lamunannya ketika Arda sudah berada jauh dari jangkauan matanya. Secepat kilat ia berlari mengejar laki-laki itu. Dara akan menjelaskan semuanya, asalkan Arda tidak pergi darinya. Aku belum berjuang, lalu seperti apa jadinya kalau aku kehilangan seseorang yang sama sekali belum aku perjuangkan? “Kak Arda, tunggu,” panggil Dara. Ia terus mengejar Arda yang kini sudah sampai di pintu keluar gedung olahraga itu. “Kak, maafin aku. Aku janji nggak akan bilang sama siapa pun tentang apa yang aku dengar tadi.” Dara berusaha meraih lengan Arda, namun gagal saat laki-laki itu sudah dulu menepisnya. Laki-laki itu tidak menggubris Dara yang terus mengoceh di belakangnya. Dia bahkan sudah tidak berminat untuk menonton pertandingan bulutangkis yang sebenarnya menjadi tujuan awal ia datang kemari. Arda benci pada semesta yang dengan seenaknya mempertemukan dia dengan Papanya di tempat ini. Entah apa tujuan Papanya, Arda tidak peduli. Yang jelas, Papanya sudah membuatnya geram dengan mengatakan hal-hal yang tak seharusnya beliau katakan di tempat umum. Suara klakson minibus sontak membuat Dara menoleh ke kanan. Lalu ia membagi tatapannya pada minibus yang tengah melaju kencang dan Arda. Laki-laki itu menyeberang tanpa mnengok ke kanan dan kiri. Tatapannya lurus, serta rahangnya mengeras. Dia terlihat sangat menakutkan. Tanpa berpikir panjang, Dara berlari sambil terus meneriakkan nama Arda. Ia tak peduli dengan seruan orang-orang di sekitarnya, yang ia pikirkan hanya keselamatan Arda, laki-laki yang sudah beberapa bulan ini ia sukai. “KAK, AWAS!” pekik Dara seraya mendorong tubuh Arda sedetik sebelum tubuhnya terpental sebab tertabrak minibus yang melaju kencang tadi Dunia Dara mendadak hening. Suara orang-orang di sekelilingnya seolah menghilang dari pendengarannya. Tubuhnya melemas sejurus dengan seorang laki-laki yang kini datang dan menopangnya. Orang-orang yang melihat kejadian itupun berlarian menghampiri perempuan itu. Arda melirik mereka sekilas, memberi tatapan seolah meminta tolong. Merasa peka dengan tatapan Arda, seorang wanita paruh baya buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menelepon ambulans, berharap perempuan yang tak ia kenal itu dapat segera diselamatkan. Tangan Dara yang bergetar, perlahan menyentuh wajah Arda. Dara tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi laki-laki itu sebab penglihatannya mendadak buram. “Aku udah selamatin kakak. Jadi, boleh aku minta dua hal?” tutur Dara dengan suara lemahnya. Ucapannya terbata, namun Arda masih bisa memahami apa yang perempuan itu katakan. Arda tak merespons apa-apa. Jadi, Dara menyimpulkannya sebagai jawaban ‘iya’. Dara tersenyum lemah sebelum akhirnya berujar, “Yang pertama, tolong jangan benci aku,” ujarnya lirih. Perempuan itu mulai merasa sesak hingga terbatuk-batuk. Ia tahu, waktunya tak lama lagi. Dengan terbata, Dara kembali melanjutkan, “Dan yang kedua, aku tahu ini gila, tapi apa boleh kalau aku minta agar kakak menjaga hati aku? Hati aku sakit, Kak.” Kalimat itu adalah kalimat terakhir Dara sebelum ia terpejam dengan senyuman di bibirnya. Ia bahagia. Setidaknya, ia dapat menatap bahkan menyentuh wajah Arda di saat-saat terakhirnya. Kini kebahagiaannya telah mutlak. Ia tidak menginginkan apapun selain Arda—yang Dara harap—akan mengabulkan apa yang ia minta.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Video Pernikahan Papa

read
12.5K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.4K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook