04. Hanya Canda

1300 Words
Bagiku, kamu adalah candu. Sedangkan aku bagimu, hanyalah sebuah canda. -Oh, My Ice!- Dara mengerang di balik buku catatan yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari saat ia memejamkan mata sejak sepuluh menit yang lalu. Reina yang kebetulan duduk di sebelah Dara sambil memainkan ponsel itupun menyernyit heran. “Kenapa, heh?” tanya Reina sedikit khawatir barangkali perempuan di sebelahnya itu sakit atau yang lebih konyolnya, kesurupan. Entahlah, Reina hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dara kembali mengerang, “Gue baru inget.” Perempuan itu beberapa kali menghentakkan kakinya ke lantai, membuat Reina tambah panik. Takut kalau Dara benar-benar kesurupan. “Pantesan tadi pas salaman, muka dia kayak ngejek gue!” kata Dara seraya meletakkan buku catatannya di meja secara kasar. Untung saja Reina tidak ikut melempar ponselnya, sebab terkejut dengan kelakuan Dara. “Ini bocah keracunan es batu apa gimana sih?” ucap Reina heran. Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak tahu saja kalau Dara sedang kesal setengah mati karena sejak tadi jantungnya tidak mau berdetak secara normal. Dan yang membuatnya makin kesal adalah, kenapa Dara baru ingat sekarang tentang pesan memalukan yang Dara kirim pada Arda tepat di Hari Raya Idul Fitri seminggu yang lalu? Ah, membuat malu saja. “Kenapa sih?” tanya Reina lembut. Alih-alih menjawab, Dara justru mengeluarkan sebuah benda kotak dari dalam tasnya. Ditunjukkannya pada Reina, sebuah pesan yang tadinya membuat Dara was-was jika bertemu dengan Arda. Tapi dengan bodohnya, hari ini Dara malah melupakan hal itu. Reina tertawa renyah, “Fix, ini chat ter-malu-maluin yang pernah gue baca,” ledeknya. “a***y, nyesel gue nunjukin ini ke lo.” Dara bersungut sebal. Perempuan itu lantas menjauhkan ponselnya dari Reina. “Sebelum baca chat gue, emangnya lo tahu, Minal aidzin wal faizin itu artinya apa?!” tanya Dara penuh emosi. Ia sangat yakin kalau Reina juga tidak tahu tentang hal itu, karena kebanyakan orang berasumsi kalau Minal aidzin wal faizin itu berarti mohon maaf lahir dan batin. Benar ‘kan? “Hehehe.” Reina menyengir lebar. “Maaf deh, maaf,” ujarnya. Dara mendengus dan memilih untuk diam saja. Hari ini moodnya cepat sekali berubah, ah bukan hanya hari ini, tapi semenjak Arda datang dalam hidupnya, emosi Dara jadi labil. Mungkin hal itu dipengaruhi oleh sifat Arda yang labil juga. Kadang hangat, kadang dingin, kadang biasa-biasa saja. Dara jadi bingung sendiri, sebenarnya mana sifat asli seorang Arda. Seharusnya, hanya dengan melihat sifat Arda yang labil, seminimal mungkin Dara tidak berurusan dengannya. Karena bahkan Dara sendiripun tahu, berurusan dengan Arda atau yang lebih parahnya, menyukai Arda adalah sebuah pilihan hanya akan menyakiti dirinya. Tapi sepertinya, otak dan hati Dara sudah tidak sinkron. Otaknya berpikir agar ia menjauhi Arda, namun hatinya mengatakan bahwa ia menginginkan Arda. Sangat membingungkan. * “Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap laki-laki itu lirih seraya memalingkan wajahnya ke sebelah kiri. Detik berikutnya, ia tadahkan kedua tangannya, merapalkan bait demi bait doa kepada Sang Penguasa kehidupan, berharap bahwa segala permohonan yang ia ajukan akan dikabulkan oleh-Nya, satu-satunya tempat di mana laki-laki itu bisa mengadu tentang segala lika-liku kehidupan yang terasa begitu berat. Beberapa saat kemudian, Arda melangkah meninggalkan tempat suci itu. Dengan berbalutkan kemeja maroon lengan panjang yang ia gulung sampai siku, serta celana jeans hitam, ia melenggang membelah koridor kampus yang tampak ramai oleh mahasiswa kelas malam di Universitas tempatnya menimba ilmu. Tak lupa, ia sampirkan ranselnya di bahu kanannya. Arda memang bukan tipe laki-laki yang royal dan neko-neko dalam berpenampilan. Jaket kulit hitam, ripped jeans, ataupun snapback, tidak ada satupun yang masuk dalam fashion item seorang Arda Pramatya. Tipikal cowok kalem dan sederhana bukan? Jarum jam baru menunjuk pada angka tujuh lebih lima belas menit. Setidaknya Arda masih memiliki waktu empat puluh lima menit sebelum bertemu dengan dosen pembimbingnya. Iya, Arda memiliki jadwal bimbingan laporan magang dengan dosen pembimbingnya pukul delapan malam nanti. Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang dengan batinnya sendiri, laki-laki jangkung itu memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Karena perpustakaan adalah satu-satunya pilihan yang tepat selain taman kampus yang pasti didominasi oleh couple unch-unch bala-bala ucul yang mengaku sedang mengerjakan tugas bersama, padahal nyatanya mereka sedang dimabuk asmara. Oke, itu tidak baik. Jangan ditiru. Arda menghela napas saat ia sudah duduk lesehan di balik rak buku. Jarinya perlahan mengusap ponselnya yang menampakkan deretan pesan yang tak pernah terbaca oleh si penerima. Mungkin kalau dihitung, sudah ratusan kali Arda mengirim pesan itu. Sekedar menanyakan kabar atau alasan kenapa dia tiba-tiba menghilang. Kalau bisa, Arda ingin sekali berteriak bahwa ia merindukan gadisnya. Kalau saja Arda tahu, di mana Papanya membuang gadisnya, sudah pasti ia akan datang dan meyakinkan gadisnya bahwa semua akan baik-baik saja. Andai saja Arda bisa. “Apa kabar, Kia?” tanya Arda yang hanya disambut oleh udara dingin yang berasal dari pendingin udara di sudut ruangan perpustakaan. Nyatanya, pertanyaan itu tak pernah mendapat jawaban, bahkan sebelum kalimat itu selesai diucapkan. * Hari ini seluruh siswa kelas 10 akan melaksanakan kegiatan kemah atau camping yang menyebabkan kegiatan belajar mengajar di kelas 11 dan 12 menjadi tidak efektif. Kebanyakan guru sibuk mempersiapkan kegiatan tersebut. Hal itupun disyukuri oleh sebagian besar siswa kelas 12 IPA 4, termasuk Dara. Perempuan berambut sebahu itu memilih untuk tidur di balik lipatan lengannya yang ia gunakan sebagai pengganti bantal. “Buset, Ra! Kak Arda ikut camping?” Reina menepuk bahu Dara hingga perempuan itu tersentak dan langsung terbangun dari tidurnya yang padahal belum genap sepuluh menit ia berada di alam mimpi. Dara buru-buru mengambil ponselnya, lalu mengirimkan sesuatu pada Arda. Walau Dara sangat hapal bahwa kemungkinan pesannya dibalas oleh Arda sangat kecil—sangat sangat kecil—atau bisa dibilang sekecil bayi amoeba. Oke, itu lebay. Ikut camping, kak? Send Menit pertama, Dara menggenggam erat ponselnya. Menit kelima, Dara menimang ponselnya sambil sesekali matanya melirik pada layar ponsel yang tak kunjung menyala. Menit kesepuluh, Dara melempar ponselnya di atas meja, melampiaskan rasa kesalnya karena lagi dan lagi Arda mengabaikannya. Namun pada detik berikutnya, ia mengambil kembali ponselnya, membolak-balikkan benda pipih itu, lalu mengelusnya lembut. Takut jika ponsel satu-satunya yang merupakan pemberian dari Abangnya itu lecet akibat ulahnya sendiri. “Sehat, bu?” tanya Reina setengah terkekeh. Dara mendengus kesal, lantas melipat kedua tangannya di atas meja yang nantinya akan ia gunakan sebagai bantal untuk dirinya kembali terlelap. Mengingat hari ini kelas akan kosong tanpa adanya satupun guru yang datang. Dara tak mau ambil pusing tentang Arda yang ikut camping atau tidak. Masa bodoh, Dara tidak peduli, yang saat ini ingin ia lakukan adalah kembali ke alam mimpi yang tadi sempat tertunda akibat ulah Reina. “Jessi mana, Jessi?” tanya perempuan bermata bulat yang dahinya hampir dipenuhi oleh peluh itu tidak sabaran. Entah setan apa yang merasuki dirinya, hingga perempuan yang biasanya kalem itu kini jadi heboh sendiri. Sadar jika namanya baru saja disebut, Jessi secara reflek melambaikan tangan. Padahal dia sendiripun tidak tahu siapa yang baru saja memanggilnya, “Gue di sini,” sahutnya. “Good.” Chika tersenyum saat Jessi dengan cekatan melambaikan tangannya. Tanpa babibu, Chika langsung menyeret lengan Jessi, tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pada si empu lengan, “Ke kantin, yuk. Gue haus,” titahnya. Jessi berdecak, namun tak pelak ia menurutinya juga. Partner sebangkunya itu terlihat sangat lelah dengan peluh yang terus mengalir dari dahinya. Dia paham betul sesibuk apa Chika hari ini. Mempersiapkan kegiatan kemah memang bukan hal yang ringan. Ya, Chika adalah salah satu anggota OSIS yang memang sudah menjadi bagian dari kelompok panitia kemah tahun ini. Mungkin, ini adalah kali terakhirnya menjadi panitia kemah, mengingat sekarang dia sudah duduk di bangku kelas dua belas yang sebentar lagi akan disibukkan dengan banyaknya ujian dan jam pelajaran tambahan. “Eh, tumben Dara tidur,” kata Chika seraya menunjukkan jarinya pada Dara yang tengah asyik terlelap. Setelahnya, Chika dan Jessi betul-betul melangkahkan kaki mereka menuju kantin. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD