06. Sisa Luka

1237 Words
Teruntuk dirinya, Jikalau memang tiada akhir yang bahagia, Kuharap engkau tak menyisakan begitu banyak luka. -Oh, My Ice!- Angin berembus kencang, hingga menciptakan sensasi sejuk yang mampu menusuk kulit. Dara mendongakkan kepalanya saat mendapati langit yang semula cerah kini berubah menjadi kelabu. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Oleh karena itu, Dara semakin mempercepat langkahnya. Ia harus cepat pulang, takut jika Mama mengkhawatirkannnya, seperti yang sudah-sudah. Dara menghentikan langkahnya tepat di samping sebuah motor hitam yang terparkir manis di halaman depan rumahnya. Motor hitam yang tampak familiar itu berhasil membuat fokus Dara terpecah belah, namun perempuan itu segera mengenyahkan segala pikiran buruk di kepalanya. Mungkin saja itu motor teman Papa yang kebetulan mampir karena takut kehujanan di jalan atau memang sengaja berkunjung untuk membahas suatu hal. Ya, mungkin saja. Dara membuka pintu rumahnya setelah sebelumnya ia mengucapkan salam. Perempuan berambut sebahu itu menelengkan kepalanya saat nampak seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya itu duduk ruang tamu. “Ternyata si pemilik motor hitam itu bukan teman Papa,” batin Dara. “Ra,” sapa laki-laki yang tadi duduk di ruang tamu itu, membuat tubuh Dara seakan dihujani berkilo-kilo balok es. Dara sampai harus berpegangan pada gagang pintu saking terkejutnya. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja, karena setelahnya, Dara kembali pada mode santainya. Dara hanya tidak ingin laki-laki di hadapannya itu tahu, kalau saat ini, lukanya kembali terbuka. “Ternyata alamat rumah kamu masih sama, ya.” Laki-laki itu terkekeh. Entah hal lucu apa yang membuatnya terkekeh, yang pasti, Dara benci suara itu. “Cuma nomor hp kamu aja yang udah berubah,” lanjut laki-laki itu. Dara tersenyum, membuat hati laki-laki itu mulai menghangat. Namun tanpa ia ketahui, senyum yang kini terkembang di bibir Dara hanyalah sebuah bentuk kamuflase untuk menutupi luka di hatinya. “Gimana, Iqbal, sudah lelah berpetualang?” tanya Dara santai membuat laki-laki di hadapannya itu menyernyit heran, tidak paham dengan maksud dari ucapan Dara barusan. Menyadari kebingungan Iqbal, Dara kembali tersenyum dan melanjutkan ucapannya, “Tiga tahun lalu kamu ninggalin aku tanpa kabar, aku kira kamu lagi ikut My Trip My Adventure di daerah terpencil yang susah sinyal.” Perempuan itu terkekeh, menyadari betapa garingnya kalimat yang ia ucapkan beberapa detik lalu. Iqbal yang kini membisu hanya mampu menatap Dara yang mulai melangkah menuju kamarnya, meninggalkan dirinya di ruang tamu seorang diri. Sedikit tidak sopan, memang. Tapi Iqbal juga harus sadar dengan kesalahan yang ia perbuat sampai berujung pada perubahan sikap Dara di depannya seperti ini. Sudah tidak ada lagi yang imut dan menggemaskan saat berbicara dengan Iqbal, karena yang tersisa sekarang adalah Dara yang menatap Iqbal penuh kebencian. Tangan mungil Dara hampir saja menyentuh gagang pintu kamarnya saat ia tiba-tiba teringat sesuatu. Perempuan itu lantas memutar tubuhnya untuk menatap Iqbal sekali lagi. “Pintu keluarnya masih sama seperti tiga tahun lalu,” kata Dara sebelum ia benar-benar masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Pintu keluarnya masih sama seperti saat kamu ninggalin aku waktu itu, Iqbal. * Laki-laki itu menengadahkan kepalanya, menatap indahnya bulan sabit yang nampak kesepian tanpa ada kehadiran bintang-bintang di langit malam kala itu. Beberapa saat kemudian, tatapannya beralih pada kepulan uap yang berasal dari gelas berisi kopi yang bahkan belum tersentuh olehnya itu. Bukan karena dia tidak suka kopi, namun kopi selalu mengingatkannya pada Papanya, dan Arda membenci segala hal yang berkaitan dengan Papanya. “Mau tukar?” Arda berjengit kaget saat tiba-tiba suara seorang perempuan itu menginterupsinya dari lamunan. Laki-laki itu menyernyit sebab tidak paham dengan maksud perempuan yang kini sudah duduk di sebelahnya itu. Perempuan itu berdecak, “Minumannya, lo mau tukar?” ucapnya seraya menyodorkan gelas yang berisi teh itu di hadapan Arda. Laki-laki bernama lengkap Arda Pramatya itu menatap gelas berisi teh hangat yang menggantung di hadapannya. Berbagai spekulasi mulai berkecamuk dalam kepalanya, namun ia tak yakin kalau perempuan itu dapat membaca pikiran. Mungkin hanya kebetulan, pikir Arda. “Belum gue minum, santai aja,” ujar perempuan itu. Dalam beberapa detik selanjutnya, gelas berisi teh itu sudah sepenuhnya pindah ke tangan Arda, sedangkan gelas Arda yang berisi kopi itu sudah berada di genggaman perempuan yang duduk di sebelah Arda. “Thanks,” ucap Arda singkat, padat, dan jelas. “Chika. Nama gue Chika,” kata perempuan itu seraya menorehkan senyumnya. Dia tahu, Arda tidak menanyakan namanya, tapi apa salah jika ia ingin Arda mengetahui namanya, sekalipun laki-laki itu tidak ingin? “Ah, iya, ini nggak gratis,” kata Chika yang hampir saja membuat Arda menyemburkan teh yang baru saja ditenggaknya. Melihat hal itu, Chika ingin tertawa, namun gagal saat sorot mata Arda menatapnya tajam. “Duh, natapnya biasa aja kali, gue jadi grogi.” Chika terkekeh, namun detik berikurnya, tatapannya berubah serius, “Boleh nggak, kalo kita tukeran jaket. Gue alergi dingin, dan jaket yang gue pake nggak hangat sama sekali. Please,” ujar Chika seraya menggosokkan telapak tangannya, seolah memohon agar Arda mau mengabulkan permintaannya sebelum tubuhnya dipenuhi dengan bentol-bentol akibat udara yang terlalu dingin di area perkemahan ini. Tanpa mengucap sepatah katapun, Arda meletakkan gelas berisi teh hangatnya itu di sampingnya, sebelum akhirnya ia melepaskan jaket yang membalut tubuhnya, lalu diserahkannya jaket tersebut pada perempuan yang duduk di sebelahnya. Chika tersenyum, lalu menerima jaket Arda dengan semangat, setelah sebelumnya ia juga melepas jaketnya untuk ia berikan pada Arda. Beruntung, jaket milik Chika tidak berwarna terlalu mencolok, sehingga Arda masih tetap nyaman untuk mengenakannya, meskipun sensasi hangat yang ia rasakan sedikit berbeda dengan jaket miliknya. Tapi, tak apa, bukankah seorang laki-laki memang harus seperti ini, mengalah untuk perempuan. * “IQBAL s****n! GUE JADI NGGAK BISA BELAJAR GINI, KAN.” Dara mengumpat saat konsentrasinya buyar karena terus menerus teringat pada Iqbal yang tiba-tiba datang ke rumahnya sore tadi. Dara tidak habis pikir, kenapa ada manusia se-tidak-tahu-malu itu. Setelah tiga tahun pergi dengan meninggalkan luka, lalu tiba-tiba datang dengan santainya seolah sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa. Dara mengembuskan napas panjang, lalu membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur dengan seprai ungu kesayangannya itu. Perempuan itu memejamkan matanya sejenak, lalu tangannya meraih ponsel di nakas samping tempat tidurnya, tak lupa, ia mencabut kabel charger yang semula tersambung dengan ponsel berwarna putih itu. Menurut Dara, bermain game adalah suatu hal yang tepat untuk ia lakukan malam ini, sekedar meluapkan rasa kesal yang sudah ditahannya sejak sore tadi. Entah karena terlalu mengantuk atau memang malas untuk menutup gamenya, Dara tertidur dengan kondisi ponsel yang masih menyala dengan layar yang menampilkan game yang sedari tadi ia mainkan. Ponsel itu akhirnya tergeletak mengenaskan setelah beberapa saat lalu sang empu mulai bergulat dengan mimpinya. * Suara merdu wanita berkebangsaan Korea bernama Kim Taeyeon itu menggema di seluruh penjuru kamar Dara. Bukan, bukan karena member Girls’ Generation itu menggelar konser tunggal di kamar Dara, melainkan ponsel Dara yang berdering karena adanya sebuah panggilan masuk. Pukul sebelas malam. Orang sinting mana yang menelpon Dara selarut ini? Bahkan Dara sedang asyik-asyiknya bermain di alam mimpi bersama Oppa-oppa Koriya. Mengganggu saja, umpatnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Dara menggeser tombol hijau pada layar datar ponselnya, lalu menempelkan benda kotak itu pada telinganya. Sontak, suara seorang laki-laki menyapanya di ujung sana. “Halo, Dara? Ini Iqbal.” Dara sedikit menjauhkan ponselnya itu dari telinganya. Bukan karena suara Iqbal yang mirip seperti berbicara menggunakan toa, tapi karena Dara benci dengan suara itu. “Salah sambung,” kata Dara sebelum ia memutuskan panggilan secara sepihak, lalu kembali memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh manusia tak kasat mata bernama Iqbal itu. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD