Senyum pagi matahari menyambut Nadya yang siap-siap pergi kuliah, seperti biasa ia berangkat menggunakan motor selagi tinggal dengan pamannya dulu. Langkahnya terhenti seketika mendengar suara memanggil namanya.
“Nad, udah mau berangkat kuliah? Revan mana?” tanyanya heran melihat Nadya sendiri tanpa suaminya. “itu ma, kak Revan belum bangun mungkin dia kecapekan, hehe”. Sembari menggaruk leher belakang padahal tidak ada rasa gatal. “biar mama yang bangunin dia, istri sendiri kok gak mau nganter”. Reflek tangan Nadya mengambil tangan mama mertuanya “gak usah ma. Nadya berangkat sendiri aja, toh ada motor digarasi”. “gak bisa. Kamu tunggu disini” mama Riana sedikit menaikkan nada biacaranya. Beberapa menit kemudian Revan turun bersama mamanya sambil mengucek matanya karena masih setengah sadar antara ngantuk dan paksaan dari mamanya.
“Jaga istrimu sayang” senyum sumringah dari mama nya. Nadya mengikuti Revan dari belakang menuju mobil hingga memasukinya. Keheningan di tengah perjalanan tak terhindarkan, “kok gerah gini ya, tuhan jantungku juga berdegup dari tadi, apa aku sakit?” hati Nadya bertanya-tanya. Selama ini mana pernah dia sedekat ini dengan laki-laki apa lagi duduk bersebelahan. “lo kenapa?” tanya Revan sedikit meninggikan suara. “eh, gak kenapa-napa kak, maaf kak kalo merasa risih” menundukkan kepalanya.
Tak terasa mobil sudah terparkir didepan gedung kampus Nadya, “makasih kak, maaf mengganggu waktu istirahat nya” kembali menundukkan kepala, tetapi Revan diam saja tidak peduli apa yang dibicarakan istrinya.
“mama kenapa sih pake nyuruh nganterin cewek itu, kalo Rea liat gimana” hatinya bergumam kesal sambil mengemudikan mobilnya kembali menuju rumah.
***
Hari pertama kuliah setelah pernikahan ku dengan kak Revan, seperti biasa setiap hari terasa hambar dan berlalu dengan sendirinya, tapi hari ini ada yang beda. Sepertinya ada mahasiswa baru di kelas, karena ada muka asing terlihat. Tunggu dulu, bukannya mahasiswa baru melainkan senior yang tidak lulus pada mata kuliah ini, gak mungkinkan ada yang pindahan dari fakultas lain pada semester enam. Lelaki tersebut tiba-tiba duduk disampingku, mungkin ia merasa heran melihatku duduk sendiri tidak mau bergabung dengan anak- anak lainnya.
“hei, kamu juniorku kan?” tanya laki-laki itu. “i-iya kak, ada apa ya?” “pake tanya lagi, udah tau kan kalo aku seniormu?” tanya nya lagi. “I-iya kak tahu” jawabku keheranan, “minta nomor handphone mu” ia mengeluarkan hp nya dari kantong kemeja yang ia pakai. Aku masih heran, dari sekian banyak mahasiswa di kelas ini kenapa malah aku. “maaf kak untuk apa ya? Bukannya minta nomor ketua penanggung jawab kelas ini kalo ada apa-apa?”. Dengan menunjukkan ekspresi kekesalan senior itu berkata “kan aku seniormu, suka-suka dong mau minta nomor siapa”. Mentang-mentang dia senior seenaknya melakukan itu ke junior. “oh iya kak maaf, ini nomornya”.
***
Tidak bisa dipungkiri jika ia sudah menikah dengan wanita pilihan kedua orang tuanya, Revan memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa terbebas dari sandiwara ini, dan bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan biasanya sebelum ia menikah.
“Ma, Revan boleh gak pindah? Kemana aja deh, apartemen juga gapapa”. Memelas kepada mamanya. “kan papa kamu udah bilang, kalo kamu lulus kuliah dan bisa memegang perusahaan papa baru boleh pindah”. Pungkas mama nya.
Hari terus berjalan, matahari menunjukkan redupan cahayanya. cklek pintu kamar terbuka menggunakan tenaga Nadya, ia terkejut melihat Revan sedang berganti pakaian sedangkan dadanya belum tertutupi sehelai benangpun. Nadya langsung menutup mukanya dengan kedua tangan sambil berkata “maaf kak, Nadya gak tau kalo ada kak Revan, maaf kak”. Setelah suaminya memakai baju “santai aja kali, baru juga gitu doang, gak bisa terelakkan hal yang beginian, orang tinggal satu kamar gini” tegasnya.
Setelah siap membersihkan badannya yang lengket kena keringat dengan mandi, tenggorokkannya merasa haus dan berjalan menuju dapur. Sambil mengangkat gelas dan meminumnya “hmm kok aku kepikiran gini ya? Padahal kan kak Revan cuma ganti baju”. sekembalinya dari dapur, Nadya duduk dan membuka laptop dipangkuannya bermaksud ingin membuat laporan tugas nya kemarin “kenapa pikiran ku ingat ke kak Revan terus ya?” menggelengkan kepalanya berharap pikiran itu hilang “aaaaa sudahlah, fokus pada kerjaanmu Nad”.
***
Hari ini entah kenapa aku berangkat kuliah barengan sama Nadya pasangan pemain drama yang aku perankan saat ini, awalnya dia mau naik motor sih, cuma kalo ada apa-apa kan pasti mama ngambeknya ke aku. “Revan, kamu ngapain aja sih kok Nadya gak dianter, satu kampus juga. Bla bla bla”. Hmm tau sendiri kan kalo ibu-ibu ngomel ngomel, mau gimanapun anaknya tetap salah. “maaf kak gak usah, nanti merepotkan kakak”. Lama- lama kesal juga dengan omongan cewek ini, sehari mungkin udah seratus kata maaf yang dia ucapin. “kalo lo gak mau naik, gue aduin ke mama udah nolak ajakan suami sendiri”. Dia itu kalo gak diancam gitu gak bakalan nurut heran.
Jadi gak sabar ketemu malaikat manisku, iya sih lebay banget aku ngasih namanya, tapi itulah kenyataannya. Rea wanita cantik, lembut, manis, satu lagi udah mau temenan sama aku dari awal masuk, dulu aku gak punya teman satupun, mungkin aku merasa buat apa temenan toh nanti akan saling meninggalkan. Rea wanita yang mudah akrab dengan orang, contohnya aja ia memperkenalkan teman laki-lakinya padaku, semenjak itulah aku punya banyak teman laki-laki. Walaupun begitu, Rea sehari-hari nya dikampus selalu menempel padaku layaknya prangko surat.
***
Usia pernikahan mereka sudah menginjak satu bulan, masih ada rasa canggung diantara mereka. Tiba-tiba hal mengejutkan terjadi “malam ini lo aja tidur di kasur, biar gue yang di sofa” Revan mungkin lagi ngigau ngomong begitu membuat Nadya keheranan, “gapapa kak gak usah”, “nurut aja ngapasih? Sekesal-kesalnya gue dan sebenci-bencinya sama pernikahan ini, gue gak tega liat cewek kesusahan”. Nadya Cuma diam dan langsung membawa bantal kekasur. Malam semakin larut, disofa membuat Revan tidak nyaman sampe-sampe ia belum bisa tidur, tapi ngantuk terasa berat sekali. Mungkin ia lupa kalo ada wanita yang tidur dikasurnya, tanpa berpikir panjang ia pindah lokasi tidur ke tempat ternyaman yaitu ranjang dan sekarang mereka sedang dibawah alam sadar mereka, betapa terlelapnya dan mungkin sudah bermimpi ke awang-awang.
Pagi itu cahaya matahari masuk melewati jendela sehingga membangunkan Revan, tentu saja ia terkejut dengan posisi mereka yang saling berhadapan, ia melihat betapa pulasnya Nadya tertidur deg tanpa sadar tangannya bergerak menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga.
***
“ma Nadya bantu nyiapin makanan yah, kan hari ini kuliahnya libur” sambil mengangkat beberapa buah-buahan ke meja makan keluarga. “iya sayang” seperti biasa ibu nya Revan tersenyum ramah kepada menantunya, “Nad, kamu panggil Revan ya, makanannya udah siap, mama mau panggil papa dulu”, “i-iya ma” pas di kamar kejadian yang sama terulang, lagi-lagi Nadya mendapati suaminya tidak memakai baju karena baru selesai mandi, “maaf kak Nadya gak lihat kok” menutupi mukanya dengan tangan, “kan udah gue bilang, harus terbiasa melihat gue kayak gini, gak mungkinkan mau ganti baju harus waspada sana-sini kayak ada maling aja” selesai dengan bajunya kemudian menutup lemari. “maaf kak mama nyuruh sarapan, sarapan nya udah siap”, “ya nanti gue nyusul”. Saat menuju meja makan ternyata papa dan mamanya udah sampai duluan “suami kamu mana Nad?” kali ini pak Wahyu Kusumanegara yang bertanya merupakan ayah dari Revan. “nanti nyusul pa” sambil memundurkan kursi untuk duduk.
Kemudian “Revan bisakan kamu selesaikan kuliah mu lebih cepat, papa maunya kamu secepatnya meneruskan perusahaan kita, apalagi kamu udah menikah, mau menafkahi istrimu dan membiayai anak-anakmu kelak”, “pa, kok udah ngomong gitu sih, nyebutin anak segala, Revan masih butuh waktu lagi untuk menyesuaikan diri, apalagi nikahnya tanpa tanya ke Revan dulu”, yah ia masih belum menerima kalo sudah menikah apalagi menikah dengan alasan sudah dijodohkan dari kecil. “papa jangan khawatir, Revan akan lulus secepatnya supaya bisa meneruskan perusahaan, tapi setelah lulus Revan mau pindah ke apartemen sama Nadya”. Tanpa berpikir panjang papa nya langsung menjawab "baiklah, kali ini papa mendukung keputusanmu”.
Deg rasa cemas Nadya menghampiri “kenapa kak Revan ingin pindah? Bukannya disini sudah cukup. Pokoknya aku gak boleh mikirin yang nggak-nggak” gumam hati nya.