Los Angeles, Februari 14th 2012.
Malam itu dipenjuru lainnya di kota yang sama ...
Jackson dan Robin sedang duduk berhadapan dengan dua orang lainnya yang baru saja datang beberapa saat lalu. “Maaf saya terlambat. Mr. Rexford.”
Jackson menarik ujung bibirnya. “Tak masalah.”
Laki-laki di hadapan Jackson adalah rekan bisnis yang baru satu minggu lalu Jackson temui. Namun secara tiba-tiba mereka memintanya untuk datang bertemu membicarakan kelanjutan project yang bagi Jackson sangat penting itu. Project dimana dirinya harus membuktikan diri pada sang ayah, bahwa dirinya mampu mengurus perusahaan dan menangani semua masalah perusahaan dengan baik. Project yang sangat penting, yang tak boleh gagal. Karena hal itulah, ia datang menyanggupi untuk bertemu rekan bisnisnya. Padahal biasanya ia tak akan menemuinya lagi kecuali saat nanti penandatanganan kontrak.
“Silahkan. Katakan apa yang perlu didiskusikan lagi?”
“Saya datang bukan untuk berdiskusi Mr. Rexford tapi untuk menyampaikan permohonan maaf.”
Jackson menatap laki-laki dihadapannya itu dengan tatapan sangsi. “Kenapa harus meminta maaf?”
“Mohon maaf, saya tidak bisa menerima proposal kerjasama yang anda berikan Mr. Rexford. Karena setelah saya menimbang satu dan banyak hal, ternyata tak ada keselarasan antara prinsip-prinsip yang dipegang oleh perusahaan kami dengan perusahaan anda.”
Jackson menaikkan satu alisnya, heran.. “Bukankah anda mengatakan sudah sangat tertarik dengan project pembangunan resort ini? Anda bahkan mengatakan bahwa desain yang perusahaan saya buat begitu menarik minat anda untuk anda bangun. Selain itu, Anda juga sudah menyanggupi untuk mengurus seluruh kontruksi. Mengapa dibatalkan begitu saja?”
“Sepertinya anda salah paham Mr. Rexford. Kami hanya mengatakan tertarik dengan project tersebut karena desain yang anda buat memang sangat menarik. Namun bukan hal itu yang menjadi pertimbangan kami.” Laki-laki itu memberikan proposal yang sebelumnya ia berikan. “Saya kembalikan proposal pengajuan yang anda berikan. Sekali lagi saya memohon maaf, saya mewakili perusahaan tidak bisa melanjutkan kerjasama ini. Selamat malam.” Ujar laki-laki itu kemudian beranjak pergi meninggalkan Jackson yang sudah mengatupkan rahangnya dengan sangat keras.
“Mr. Rexford.” Robin memberikan iPad miliknya, ketika perwakilan dari perusahaan kontruksi pergi dari hadapan mereka. “Ternyata mereka menerima project pembangunan resort yang dilakukan oleh Alison Group.” Jelas Robin yang membuat rahang Jackson mengatup lebih keras.
“Sepertinya mereka sengaja.” Geram Jackson. “Jika selalu seperti ini. Lihat saja, jangan salahkan aku jika aku membangun perusahaan kontruksiku sendiri.” tangan Jackson mengepal dengan sangat kuat, terlihat penuh dengan tekad yang bercampur dengan amarah yang terkendali. Setelahnya ia beranjak pergi dengan amarah yang masih meletup didada. Kepalanya terasa akan pecah, terasa begitu pening. Bingung dengan beban yang serasa lebih berat pada kedua bahunya. Pertama beban dari kepercayaan orangtuanya yang mungkin akan cedera karena hal ini. Kedua, beban dari kepercayaan pemilik resort. Padahal orangtuanya sudah sangat mempercayakan project pembangunan resort ini padanya, pemilik resort juga sudah mempercayakan hal itu padanya hingga target pembangunan sudah ditentukan. Jika ia kehilangan perusahaan kontruksi itu, kemana lagi ia akan mencari perusahaan yang bagus seperti mereka?
Bagaimana caranya agar ia tetap diakui oleh sang ayah dan juga tidak dipandang sebelah mata oleh klien pemilik resort? Jika tak mendapatkan perusahaan kontruksi baru. Ia yakin, mati sudah. Ia akan kehilangan muka dihadapan banyak orang.
“Mr. Rexford. Anda mau kemana?” tanya Robin seraya menahan pintu mobil yang baru saja hendak Jackson tutup.
“Bersenang-senang. Pergilah, jangan ikuti aku.” Ujar Jackson seraya menepis tangan Robin, kemudian menutup pintu mobilnya tanpa berniat mendengarkan teriakan omong kosong asistennya .
“Ingat. Jangan sampai menanam benih dimanapun Jackson! Jangan berbuat gila!.”
Sayang ... peringatannya hanya menjadi angin lalu. Karena ketika ia masih berbicara Jackson justru sudah meninggalkan tempatnya berdiri.
Robin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia hanya bisa berharap, semoga Jackson selamat dan tidak melakukan kebodohan apapun yang akan merugikannya dimasa depan.
***
“Carikan aku perempuan yang bisa menghiburku malam ini.” ujar Jackson seraya meneguk wine berwarna merah pekat yang dituangkan seorang bar tender untuknya.
“Saya memiliki orang baru Sir. Apakah anda berminat?”
“Siapapun. Bawa saja dan siapkan suite room.” Ujar Jackson lagi sebelum meneguk wine yang kembali dituangkan bar tender tersebut. Sementara perempuan yang sebelumnya berbicara dengan Jackson kini beranjak pergi, meninggalkannya setelah membungkuk sesaat untuk meminta ijin padanya.
Brak!
Jackson menggebrak meja. “Sialan Alison! Berani-beraninya kau membuatku marah. Berani sekali kau merebut perusahaan kontruksiku!” Geram Jackson. “Lihat saja, lima tahun lagi. Akan kupastikan menyingkirkan perusaanmu dari muka bumi ini.”
Jackson kembali meneguk wine ditangannya hingga membuat kepalanya terasa mulai berputar. Biasanya ia tak akan mudah mabuk, tapi sepertinya kali ini stress membuatnya lebih cepat mabuk.
***
Gloria yang sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah lingerie berwarna hitam, ia bahkan sudah duduk diatas sofa yang menghadap kearah pintu, menunggu laki-laki yang menurut Anna sangat sesuai dengan kriteria yang ia berikan, yang secara tak langsung harus ia layani malam ini.
Gloria memeluk dirinya sendiri yang serasa asing dengan pakaian serba terbuka itu. Lingerie berwarna hitam yang membalutnya benar-benar membuatnya merasa aneh, hingga warna kulitnya yang putih bersih tanpa cacat sedikitpun terlihat lebih bersinar dan sangat mewah. Terlihat sangat cantik dan menggoda untuk disentuh secara bersamaan.
Perasaan gugup begitu menghantui Gloria hingga perempuan itu tak hentinya menggerak-gerakkan kaki secara abstrak dengan kedua tangan yang saling bertautan begitu erat, gugup sekaligus takut. Ya ... ia sangat takut, ia tak bisa membayangkan laki-laki seperti apa yang akan datang? Apakah dia akan menyetujui permintaannya? Ataukah tidak? Jika tidak ... haruskah ia membuat laki-laki itu hilang akal? Gloria tak henti-hentinya membasahi bibir, menghela nafas panjang dan mendengus ketika kepanikan itu terasa semakin menggila. Terasa semakin mengasai dirinya.
Clek!
Pintu kamar itu terbuka, kemudian masuklah seorang laki-laki tampan dengan stelan jas yang sudah sangat berantakan. Gloria segera berdiri berusaha membopong laki-laki yang sudah terlihat mabuk itu. Namun laki-laki itu justru memeluknya, menatapnya dengan sangat intens. Ketika saling berhadapan, dia berusaha menggapai bibirnya dan hampir menciumnya jika saja ia tak menghindar.
Laki-laki itu terkekeh palan lalu menatapnya lagi dengan mata sayunya. “Hei! Cantik. Akhirnya kita bertemu lagi.”
“Sir ... .” panggil Gloria kemudian mendudukkan laki-laki itu pada sofa yang sebelumnya ia duduki. “Anda sangat mabuk.”
Laki-laki itu lagi-lagi terkekeh pelan. “Aku tidak mabuk. Aku masih sadar baby. Bukankah kita pernah bertemu, satu tahun lalu?” Ujarnya kemudian terkekeh lagi. “Kau tak ingat?”
“Mungkin anda salah orang Sir.”
“Tidak.” Ujar laki-laki itu, ia kemudian meneguk segelas air mineral yang tersedia diatas meja. “Kau ... memang dia.”
“Sir, jika itu trik anda untuk menggoda, maka itu tak akan mempan.” Ujar Gloria. “Aku akan menghiburmu, aku akan melayanimu dengan baik. Tapi sebelum itu aku ingin berbicara terlebih dulu.”
Laki-laki itu menatap tepat pada iris matanya. “Ada apa hm?”
“Saya masih perawan, saya belum pernah melakukan hal seperti ini dengan laki-laki manapun.”
Tangan laki-laki itu naik, membelai pipinya. “Tenang saja ... aku akan melakukannya dengan lembut.”
“Bayar aku lebih secara pribadi.”
Laki-laki itu tertawa pelan, lalu mengeluarkan dompetnya. Setelah itu menarik uang seratus ribuan dollar dari dalam sana yang sepertinya lebih dari sepuluh lembar. “s**t! Seharusnya aku membawa uang tunai lebih banyak lagi.” umpatnya. Laki-laki itu kemudian menatap Gloria yang terheran dengan uang yang kini berserakan dihadapannya. “Berikan aku rekening bank mu, akan aku ... .”
“Tidak, ini cukup Sir, ini cukup untuk aku hidup selama satu tahun kedepan. Bahkan lebih dari cukup.”
“Ah? Benarkah?” laki-laki itu kembali tersenyum. “Kalau begitu sekarang ... .”
“Sir ... masih ada yang ingin aku pinta.”
“Hm?” laki-laki itu kembali menatap Gloria dengan mata yang sudah setengah terpejam karena mabuk.
“Jangan gunakan pengaman.”
Laki-laki itu tertawa sengau. “Kau ingin menjebakku?”
“Tidak, tidak. Aku tidak akan menjebakmu. Tak ada penipu yang mengatakan akan menipu Sir. Aku hanya ingin keluar dari tempat ini. aku tak ingin terjerumus. Sudah cukup satu kali, kali ini saja dan aku tak ingin lagi.” Gloria mengambil iPad yang tergeletak diatas meja. “Saya sudah membuat surat perjanjian. Disini tertulis bahwa aku tidak akan pernah mengganggu masa depanmu. Aku tidak akan pernah menuntut apapun darimu Sir. Aku juga tidak akan memanfaatkan keberadaan anak itu untuk menipumu. Jika aku melakukannya kau bebas menuntutku dan memenjarakanku. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan untuk menghukumku.”
iPad ditangan Gloria berpindah tangan, laki-laki itu memokuskan matanya sesaat kemudian membaca detail isi dari surat perjanjian elektronik tersebut. “Baik. Aku setuju, akan aku tandatangani.” Ujarnya lalu membubuhkan sebuah tanda tangan disisi tanda tangan Gloria.
“Sekarang apa lagi? Aku sudah membayar mahal untukmu. Jangan mengatakan hal lain atau bahkan menghindariku lagi. Jangan mengkhianatiku seperti perusahaan kontruksi sialan itu! Jangan membuat kepalaku semakin pusing.”
“Tidak Sir, saya tidak akan menghindar.” Gloria mendekat kearah laki-laki itu. Namun jujur saja ia merasa bingung harus melakukan hal seperti apa terlebih dulu. Karena jangankan berpengalaman dalam hal seperti ini, menjalin hubungan saja ia tak pernah, berciuman saja tidak pernah. “Sir ... apa yang harus aku lakukan?” tanya Gloria malu-malu.
“Pertama, panggil aku Master, baby.” Ujar laki-laki itu seraya membelai wajah Gloria secara perlahan. Setelahnya laki-laki itu mendorong Gloria untuk berbaring kemudian saling memagut. Gloria pada awalnya memang sangat kaku. Namun ia hanya mengikuti instingnya saja, mengikuti semua yang laki-laki itu lakukan padanya. Mencium seraya saling membelai setiap inchi tubuh mereka. Hingga lambat laun, terasa biasa. Sampai akhirnya mereka benar-benar menghabiskan malam mereka dengan desahan dan lenguhan panjang.
***
Keesokan paginya ...
Jackson memegangi kepalanya yang terasa begitu berat saat kesadarannya perlahan mulai kembali. Pandangannya berputar kesemua arah, mencari keberadaan sosok perempuan yang menemaninya semalam. Perempuan yang membuatnya gila sepanjang malam, perempuan yang ... sudah tak ia ingat lagi rupanya seperti apa. Gila! Benar-benar gila. Karena mereka melakukannya tak hanya sekali, tapi beberapa kali hingga menjelang pagi. Bahkan ia menembakkan benihnya pada bagian terdalam perempuan itu beberapa kali dengan sangat banyak. Seolah ia ingin menghabiskan seluruh stok s****a yang ia miliki. Ia ingat, bahkan seluruh tempat diruangan ini mereka lalui. Sofa, ranjang, didekat jendela menghadap kota, hingga kamar mandi, didalam bathtub sebelum akhirnya mereka tidur. Namun sayang, ia benar-benar tak ingat batul rupa perempuan itu, karena pengaruh alkohol yang bahkan sampai saat ini saja masih terasa.
Jackson menarik nafas panjang kemudian menarik rambutnya kebelakang. Gila! Kau sudah gila Jackson! Apa yang baru saja kau lakukan? Bagaimana jika dia benar-benar memanfaatkanmu?
Gila! Kau gila! Jackson. Seharusnya jangan dengarkan permintaan perempuan itu. seharusnya kau abaikan saja!
Tangan Jackson terulur, meraih ponsel yang tergeletak di nakas, lalu mendial nomor sang asisten. “Jempu aku, akan aku kirimkan alamatnya segera.”
“Setelah bersenang-senang semalaman, sekarang kau mencariku?”
Jackson mendesis mendengar kalimat itu. “Berhenti mengatakannya Robin, kau membuatku geli. Jemput aku sekarang.” Jackson menjeda ucapannya. “Sepertinya aku gila Robin, aku ... melakukannya tanpa pengaman.”
“s**t! Kau memag gila Jack! Kau gila. Bagaimana jika dia nanti menuntutmu? Bagaimana jika nanti dia mengacau? Siapa perempuan itu? kau ingat wajahnya? Kau bertanya namanya?”
“Aku tak ingat apap ... .”
“Diam disana! Aku akan segera kesan, lalu membunuhmu!”
Jackson menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya. Ketika ia hendak mengembalikan ponsel ke atas nakas, ia menemukan sebuah kertas kecil tergeletak disana, sebuah tanda pengenal. Ia meraih kertas tersebut kemudian membacanya.
Addison Contractor
Jackson menarik ujung bibirnya. Sepertinya, sekarang ia tidak benar-benar rugi.
***
Los Angeles, March 11th 2012.
Gloria meneguk ludahnya kasar, kemudian membuka matanya secara perlahan lalu menatap secara perlahan pada benda memanjang yang kini terlihat bergaris dua.
Senyuman Gloria melebar, tangannya secara naluri bergerak membelai perutnya sendiri kemudian berujar. “Kau benar-benar ada ... .”
Tok tok tok ...
Gloria segera keluar dari kamar mandi kemudian menghadap kearah Anna yang sudah menunggunya. “Bagaimana hasilnya Gloria?”
Gloria tersenyum seraya memberikan alat tes kehamilan tersebut pada perempuan itu seraya mengembangkan senyumannya.
“Kau benar-benar ... hamil.” ujar Anna. Ia menarik nafas panjang kemudian ia hembuskan lagi. “Kau benar-benar akan pergi?”
Gloria mengangguk.
“Kau berjanji akan menjaganya?”
Gloria mengangguk lagi tanpa ada keraguan sedikitpun, seraya mengelus permukaan perutnya yang masih sangat datar.
“Baiklah, aku akan membantumu berkemas dan keluar dari tempat ini.”
Gloria tersenyum lega, sungguh ia ternyata cukup beruntung dan tidak salah memilih pasangan. Ternyata laki-laki itu benar-benar hebat, bisa langsung menghasilkan untuknya. Meninggalkan malaikat kecil untuknya. Gloria menarik nafas panjang dengan tangan yang masih mengelus permukaan perutnya yang masih sangat rata kemudian berujar pelan. “Bertahanlah sayang. Kau harus menyelamatkan Mama. Kita harus selamat dan menjalani kehidupan baru yang lebih baik bersama.”