Part 5 : Pertemuan

2194 Words
Florida, October 11th 2018.   Enam tahun berlalu terasa begitu cepat. Setelah hari dimana ia dibebaskan oleh Anna. Gloria benar-benar memulai kembali hari barunya bersama dengan sang putera yang sekarang berusia enam tahun, Gerald Reesha Giovanni. Putera tampannya, puteranya yang sangat cerdas. Paras Gerald memang sangat menawan, hingga terkadang orang-orang mengira bahwa Gerald dari keluarga terpandang. Alisnya yang cukup tebal, bulu matanya yang lentik,  hidungnya yang mancung dan juga bibir yang terlihat cukup, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Matanya berwarna coklat terang, dengan rambut hitam legam. Gerald benar-benar sangat jauh dengannya, sangat berbeda dengannya. Karena semua yang berada pada diri Gerald sembilan puluh delapan persen adalah warisan dari ayahnya, warisan dari pria asing yang sudah menghamilinya dulu.   “Gerald sudah siap?” tanya Gloria setelah melihat sang putera menghabiskan s**u dari gelasnya.   “Mm!.” Gerald mengangguk. “Siap Mam.”   Gloria tersenyum lebar seraya merapihkan pakaian yang dikenakan Gerald, ia bahkan menepuk bahu puteranya itu sesaat, merapihkan pakaian yang sebenarnya sudah rapih, sebelum menggandeng sang putera keluar dari dalam flat sederhana yang sudah ia huni sejak Gerald berada dalam kandungannya. Flat sederhana yang menjadi saksi perjuangan hidupnya yang benar-benar ia tata kembali dari titik terendah hidupnya. Beruntunglah pemilik flat begitu baik, wanita paruh baya itu selalu merawatnya bahkan memberikannya banyak makanan dan juga perlengkapan bayi untuk Gerald, wanita paruh baya itu bahkan selalu mengurut kakinya yang terkadang membengkak karena terlalu banyak beraktivitas. Ia benar-benar beruntung, sangat beruntung menemukan pemilik gedung yang begitu baik dan justru dengan tangan terbuka menerimanya tanpa berpikir panjang. Wanita paruh baya itu, bernama Bella. Dia bahkan tidak sekalipun bertanya mengenai ayah Gerald, seolah berusaha menjaga perasaannya dengan sangat baik.   “Good morning Grandma!” seru Gerald ketika melihat Bella yang sedang membersihkan rumah huniannya yang berada dilantai dasar gedung.   “Gerald, kau mau berangkat sekolah?” tanya Bella yang segera diangguki oleh anak laki-laki itu. “Hati-hati di jalan.” Pesan Bella.   Gloria mengangguk seraya tersenyum tipis. “Terimakasih Bella, aku pergi kerja dulu. Sampai nanti”   Gloria berjalan menuju halte bus terdekat untuk mengantar Gerald terlebih dulu ke sekolahnya, lalu kemudian berangkat menuju tempatnya bekerja. Selalu seperti itu. Kecuali ketika Gerald sedang pada masa libur sekolah. Terkadang ia menitipkan Gerald pada Bella, terkadang juga ia menitipkan pada sahabatnya yang tak lain adalah guru, pengajar di sekolah tempat Gerald belajar, tak jarang juga ia membawa Gerald dan menitipkannya disebuah tempat penitipan, namun hal itu sangat jarang ia lakukan karena tempat penitipan sangatlah mahal dan tidak cocok untuk isi dompetnya.   “Gloria ... .” sapa Cassandra, sahabat sekaligus guru yang mendidik Gerald.   “Cassie.” Balas Gloria. “Gerald mengatakan ada yang harus kau sampaikan padaku.”   Perempuan itu mengangguk. “Ikut aku.” Cassie membawa Gloria memasuki ruang kantor guru, setelahnya mereka mendudukkan diri disana, secara berhadapan. Kemudian Cassie mengeluarkan secarik kertas, berisi daftar nilai Gerald di semester lalu. Membuat Gloria menarik nafas panjang, mengerti dengan arah pembicaraan mereka.   “Aku menyarankan Gerald untuk memasuki Elementary School, Gloria. Kemampuan Gerald sudah cukup matang, bahkan bisa dikatakan sangat matang. Terlebih Gerald sudah menguasai tiga hal paling mendasar dalam pembelajaran. Kemampuan membaca, menulis dan menghitungnya, sudah sangat jauh diatas siswa lain.” jelas Cassie. “Jika Gerald terus disini, aku khawatir kemampuan dasarnya tidak berkembang Gloria. Gerald sudah saatnya berada di Elementary School.”   Gloria menghembuskan nafas. “Bukannya aku tak mendengarkanmu dari akhir semester lalu Cassie. Tapi jujur saja, aku belum menemukan sekolah yang cocok untuk Gerald.”   “Apa karena biaya?” tanya Cassie yang membuat Gloria terdiam sesaat, sebelum kembali berujar.   “Itu salah satunya.” Gloria menarik nafas panjang. “Ada yang cukup murah, tapi jaraknya sangat jauh. Jadi jika dipikir-pikir biaya yang aku keluarkan sama saja. Aku sedang berpikir untuk mencari sekolah yang satu arah dengan kantorku. Supaya aku mudah mengantar-jemputnya, tapi semua sekolah disini sangat mahal. Simpanan yang aku sisihkan hanya cukup untuk biaya masuk, sementara biaya perbulannya belum terbayang sama sekali olehku.”   Cassie bergumam sesaat sebelum menatap Gloria dengan ragu. “Gloria ... sebenarnya aku sudah mengajukan beasiswa untuk Gerald. Maaf ... aku lancang. Aku hanya merasa sayang dengan kemampuan yang Gerald miliki. Anak itu sangat cerdas, anak itu sangatlah pintar. Jadi ... ketika kemarin ada tawaran beasiswa untuk Gerald, aku segera menerimanya.” Cassie menatap Gloria dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Maafkan aku Gloria ... aku tidak meminta persetujuanmu terlebih dulu, aku melakukannya karena sekolah-sekolah yang menawarkan kesempatan tersebut cukup dekat dengan flat dan juga kantormu, kau hanya perlu memilih salah satu saja nanti.” Cassie menjeda ucapannya kemudian menatap Gloria lagi. “Tapi jika kau memang tak ingin, aku bisa mencabut seluruh persyaratan yang sudah masuk Gloria.”   Gloria yang sejak beberapa saat lalu hanya termenung, kini tersenyum begitu lebar. Apakah puteranya akan aman di sekolah-sekolah mewah? Bagaimana jika nanti anaknya diintimidasi karena tidak memiliki ayah? Bagaimana jika puteranya nanti diintimidasi karena mereka hidup miskin? Gloria kemudian menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya lagi. setelahnya ia menatap Cassie yang menatapnya dengan rasa bersalah. “Aku justru berterimakasih Cassie, kau sudah memperhatikan puteraku. Terimakasih banyak. Tapi darimana beasiswa itu berasal Cassie?”   “Rexford Corp.”   Gloria terdiam, Rexford Corp adalah tempatnya bekerja sekarang. Bagaimana bisa kebetulan seperti itu? “Tenang saja Glory, Ini bukan pertama kalinya aku menerima beasiswa untuk anak didikku dari perusahaan itu. Tapi ke tiga kalinya. Jadi kau tak perlu khawatir .”   Cassie tersenyum padanya, dengan tangan terulur menggenggam kedua tangannya dengan erat. “Kau tetap bisa menitipkan Gerald padaku Glory, jika kau sedang sibuk bekerja. Tenanglah ... lagipula Gerald sudah seperti anakku sendiri, jadi kau tak perlu merasa khawatir.”   Gloria mengulas senyumannya. “Terimakasih Cassie atas kebaikanmu. Kabari aku lagi jika ada perkembangan baru tentang beasiswa itu.” Gloria kemudian beranjak pergi setelah berpamitan dari tempat itu.   Gloria menarik nafas panjang kemudian mengulas seyumannya. Harusnya sekarang ia bahagia dengan kabar yang diberikan Cassie. Tapi entah mengapa ada hal yang mengganjal dalam hatinya. Tiba-tiba ia merasa tak rela, padahal kesempatan itu kesempatan yang sangat bagus. Karena jika ia tidak menerimanya, belum tentu ia bisa menyekolahkan Gerald ditempat yang nyaman seperti sekolah-sekolah dibawah naungan Rexford. Tapi ... mengapa rasanya tetap saja ia tak rela? Kenapa seperti ini?   ***   Los Angeles, September 21th 2018.   “Jack orangtua Bianca bertanya, kapan kau akan meresmikan hubungan kalian? Kenapa kau tak juga mengunjungi mereka dan menentukan tanggalnya?”   Jackson yang baru saja mendudukkan dirinya, menoleh pada sang ibu. “Sejak awal aku tak tertarik dengannya. Kalian saja yang memaksa. Kenapa sekarang aku harus menentukan tanggal?” tanyanya. “Lebih baik aku tidak menikah daripada harus bersama dengan perempuan bermuka dua seperti Bianca.”   “Jackson!” seru Emely. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu tentang calon istrimu sendiri?”   “Siapa calon istri? Dia hanya perempuan asing yang berusaha masuk dalam kehidupanku Ma.” Balas Jackson. Ia menarik nafas panjang lalu menatap kedua orangtuanya secara bergantian. “Aku tak ingin menikah, aku tak ingin memiliki ikatan dengan siapapun. Apalagi dengan perempuan yang hanya ingin memamerkanku seperti barang.”   Emely menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya dalam menghadapi sang putera. Perdebatan ini sudah hampir tujuh tahun mereka lakukan, tapi tetap saja tak ada hasil. Jackson tetap pada pendiriannya bahwa dirinya tak ingin menikah.   “Pergilah, berkenalan dengannya lebih dekat lagi Jackson. Kau tak akan pernah merasa cocok jika menghabiskan waktu bersama saja hampir tidak pernah.” Ujar John.   “Tidak. Malas. Lagipula aku sangat sibuk. Tak ada waktu untuk pergi bolak-balik LA dan Florida hanya untuk menemui perempuan tidak penting seperti dia.”   “Karena itulah, urus cabang perusahaan yang berada di sana Jackson. Papa sudah sangat tua dan tak sanggup pergi jauh. Lagipula, bukankah tiga tahun lalu kau sangat ingin mengurus perusahaan itu?”   Jackson mendengus. “Dulu aku memang ingin, sangat ingin. Tapi sekarang kalian baru akan mengabulkannya setelah sekian lama? Dan ... hanya karena perempuan itu ... kalian mengabulkannya?” Jackson tertawa sengau. “Tidak, aku sudah tidak tertarik lagi.   “Jackson!” seru Emely lagi, gemas sekaligus kesal pada putera tunggalnya itu. “Kami sudah tua Jack, kami juga menginginkan cucu. Lagipula kau harus memiliki keturunan agar perusahaan kita tetap dipegang tangan yang benar. Agar nama kita selalu berjaya. Memang kau mau, saat kau tua nanti kau banyak dikhianati dan akhirnya kau menderita tanpa seorang pun putera?”   “Ma ... aku tidak ingin menikah.”   “Kalau begitu, berikan kami cucu, cucu kandungku.”   “Pa ... bagaimana caranya? Aku tak ingin menikah karena tak ingin terikat hubungan dengan siapapun. Jika kau ingin cucu ... bagaimana caranya? Karena aku yakin kau tak suka gagasan aku memiliki anak dari perempuan sembarangan. Jangan gila.”   “Terserah. Yang terpenting jangan pernah menebar benih sembarangan Jackson.”   Dengar. benar ‘kan dugaannya?   Jackson mengurut kepalanya yang terasa mulai pening. Rasanya ia hampir gila jika begini. Mereka mengatakan ingin cucu. Tapi ia tidak boleh menebar benih? Lalu ia harus melakukan apa? Karena sampai kapanpun ia akan tetap pada prinsipnya sampai ia menemukan pasangan yang pas baginya untuk dinikahi.   “Baiklah, aku akan mencoba hidup di Florida untuk mengenal perempuan itu. Tapi jangan harapkan apapun.” Karena aku pergi ke Florida hanya untuk menenangkan diriku dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah sangat bosan aku dengarkan ini. Lanjut Jackson dalam hati.   Jackson menarik nafas panjang. Ia rasa memang inilah pilihan terbaik. Pergi dari rumah utama dan memulai hidupnya sendiri, hanya ada dirinya sendiri di Florida. Karena ketika ia masih berada dirumah utama, tuntutan itu pasti akan selalu ia terima secara terus menerus, hingga membuatnya justru merasa semakin enggan dan pening secara bersamaan.   Florida, October 11th 2018.   Jackson menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil seraya menikmati pemandangan kota Florida yang sudah sangat lama tidak ia lihat secara langsung, kini berada dihadapannya.   “Aku tak percaya akhirnya kau mengikuti ucapan orangtuamu.” Ujar Robin yang duduk disampingnya.   “Aku pergi hanya karena aku bosan menghadapi orangtuaku.” Ujar Jackson seraya menatap kearah Robin. “Kenapa dengan ekspresi wajahmu itu? Mau melapor pada orangtuaku?” tanyanya ketika melihat ekspresi kenig asistennya yang berkerut.   Robin menghela nafas. “Tidak, aku hanya merasa kasihan saja pada orangtuamu.” Ia menjeda ucapannya sesaat. “Mereka mendesakmu menikah untuk kebaikanmu sendiri Jackson.”   “Bukan, tapi karena mereka menginginkan cucu.”   “Sama saja.” balas Robin. “Memang kau mau mengurusi perusahaan sampai kau mati? Dengar Jackson. Orangtuamu mengatakan itu karena tak ingin kau kesulitan dimasa tuamu. Coba perhitungkan, jika kau memiliki anak sekarang saja saat dia matang dan siap menggantikanmu, tiga puluh tahun kemudian. Kau sudah berusia enam puluh enam tahun. Mau sampai berapa lama lagi?”   Jackson mendelik pada Robin. “Kau, mau kukembalikan ke LA?”   Robin mendesis. Selalu itu ancaman ketika ia mengatakan tentang pernikahan. “Lakukan saja, sebulan kemudian kau akan memanggilku kembali. Tak akan ada yang tahan dengan sikapmu itu Jackson.”   Jackson mengalihkan pandangan, tak ingin menanggapi asistennya itu lagi. Karena hal itu memang benar, ketika dulu ia mencoba mengganti asisten saat merasa kesal, dua minggu kemudian ia memanggil Robin kembali karena pekerjaan asisten barunya tidak bisa memuaskannya.   “Bersikap baiklah di sini, siapa tahu kau mendapatkan pasanganmu di kantor ini ‘kan?” ujar Robin sebelum keluar dari kendaraan yang sudah berhenti tepat didepan lobi kantor.   Jackson mendesis. “Jangan mimpi.” Balasnya sebelum keluar dari dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sopir.   ***   “Aku dengar Mr. Rexford sangat ketat, Glory. Sangat disiplin sekali.” Ujar Evianna, teman satu pekerjaan Gloria. Perempuan itu tak henti-hentinya membicarakan tentang putera tunggal Mr. Rexford setelah mendengar kabar bahwa laki-laki itu akan mengambil alih perusahaan ini. “Tapi tak apa, yang terpenting tampan. Agar ada pemandangan segar ditempat ini.” lanjutnya yang ditanggapi dengan kekehan pelan oleh Gloria.   “Darimana kau tau semua itu? siapa tahu ‘kan kabar dia tampan itu hoax?”   Mata Evianna membulat. “Kau serius tak tahu putera Mr. Rexford?”   “Tak penting Eve, bagiku yang terpenting bekerja lalu mendapatkan uang. Tak ada waktu untuk mencari tahu hal tak penting seperti itu.” ujar Gloria.   “Itu sangat penting Glory. Sangat penting. Kau harus mengetahui semua laki-laki tampan di negara ini. siapa tahu salah-satunya tertarik padamu ‘kan?”   “Aku yang tidak tertarik pada mereka.” Balas Gloria yang membuat Evianna menghembuskan nafas pelan. Gloria memang seperti itu, dia bahkan selalu menolak untuk berkenalan dengan laki-laki manapun. Karena bagi Gloria tak ada waktu untuk mengurusi hal-hal tak penting seperti itu.   “Kau ini ... .”   “Mr. Rexford sudah dekat, segeralah berbaris.” Seru pemimpin cabang perusahaan, Albert Antonious. Memotong percakapan mereka dan secara bersamaan membuat semua staff segera berjalan kearah lobi sementara para resepsionis berdiri dari mejanya menghadap kearah pintu masuk.   “Glory, apa penampilanku rapih?” tanya Evianna.   Gloria terkekeh pelan. “Sudah Eve, kau sudah sangat rapih dan sangat cantik.” Ujar Gloria kemudian menghadap kearah pintu masuk lagi. Setelah itu ia membentuk senyuman terbaiknya, bersiap menyambut sang pemimpin perusahaan. Bukan, bukan untuk mencari perhatian seperti yang dilakukan perempuan-perempuan lain. Namun sengaja ia lakukan karena itu memang tugasnya sebagai seorang resepsionis. Menyambut semua orang dengan senyuman hangat dan sapaan terbaik.   Tak lama setelah itu sebuah mobil berwarna hitam mengkilat berhenti di depan lobi. Membuat Gloria sesaat menahan nafas karena gugup. Tak lama setelah itu seorang pria bertubuh tinggi tegap keluar dengan stelan jas yang sangat rapih dan terlihat begitu mewah. Seketika membuat semua orang membungkuk sesaat sebagai penyambutan  kemudian kembali berdiri tegak.   “Selamat datang di perusahaan Mr. Rexford, kami sudah menunggu anda. Tak sabar bekerja sama dengan anda secara langsung.” Ucap Albert dengan senyuman yang terlihat sangat dibuat-buat.   Sementara disisi lain, Gloria yang untuk pertama kalinya melihat sosok pemimpin perusahaan itu semakin menahan nafas. Sungguh, sekalipun ia tak pernah menduga jika laki-laki itu pemimpin perusahaan ini. Sedikitpun ia tak pernah menduga bahwa ia ternyata bekerja dibawah perusahaan laki-laki itu. Bagaimana bisa dunia sesempit ini? Bagaimana bisa ... ia justru bekerja diperusahaan yang dipimpin oleh laki-laki yang telah menghamilinya? Bagaimana bisa?   Ketika Gloria hendak mengalihkan pandangan, iris mata mereka justru bertemu, membuat Gloria terdiam, terpaku ditempatnya. Gloria meneguk ludahnya secara kasar. Berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia mengenal laki-laki itu, berusaha bertingkah layaknya orang asing yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Gloria mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kerat ketika laki-laki itu secara tiba-tiba berjalan kearahnya dengan tatapan tajam, yang membuat tatapannya terkunci. Tidak! Tidak! Seharusnya dia tidak mengenalinya ‘kan? Karena saat itu dia sangat mabuk.   Tolong ... katakan. Dia tidak mengenalnya sama sekali.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD