Part 6 : Ketakutan

1876 Words
“Mr. Rexford, mari saya antar keruangan anda.”   Gloria akhirnya bisa menghembuskan nafas dengan sangat lega. Ketika melihat laki-laki itu pergi, berlalu dari hadapannya setelah Albert membawanya pergi. Gloria menghembuskan nafasnya kembali, kali ini untuk pertama kalinya ia merasa beruntung memiliki boss seperti Albert. Ternyata pria tua bermuka dua itu bisa juga menyelamatkan hidupnya.   Tangan Gloria yang sebelumnya terkepal erat kini mulai terurai kembali, setelahnya ia kembali mendudukkan diri pada kursi seraya mengurut keningnya yang terasa semakin berputar, pening. Sekarang, ia menyadari pentingnya mengetahui laki-laki tampan seperti yang Evianna katakan sebelumnya. Ternyata ... sepenting ini? Andai sebelum bekerja di sini ia tahu bahwa Mr. Rexford adalah laki-laki itu. Ia tak akan pernah mau menginjakkan kakinya ditempat ini. Sayangnya, ia baru mengetahuinya sekarang setelah ia bekerja selama hampir lima tahun.   “Gloria. Kau baik-baik saja?” tanya Evianna seraya memegang bahunya, membuat Gloria segera menatap perempuan disampingnya itu kemudian tersenyum.   “Aku baik-baik saja. Aku hanya terlalu lama menahan diri untuk buang air kecil. Jangan kemana-mana.” Pesan Gloria sebelum beranjak meninggalkan meja kerjanya menuju sebuah toilet yang tak jauh dari tempat itu.   Gloria segera menyalakan kran, kemudian menyeka wajahnya, membasahinya beberapa kali. Berusaha menyadarkan diri sendiri, karena ... siapa tahu beberapa saat lalu ia hanya melamun? Atau tanpa sengaja tertidur sesaat. Namun sekuat apapun ia menyangkal. Ia sadar bahwa kejadian sebelumnya adalah kenyataan.   Laki-laki itu ... laki-laki yang menghamilinya dulu. Laki-laki yang merupakan ayah kandung Gerald. Laki-laki ... yang paling ia hindari. Tapi mengapa sekarang justru masuk ke dalam hidupnya?   Sungguh ... Gloria tak menduga, jika laki-laki yang menidurinya dulu adalah laki-laki terhormat seperti pemimpin perusahaannya. Laki-laki yang paling disegani dan paling dikagumi kiprahnya di dunia bisnis. Dulu ... memang ia meminta laki-laki terhormat. Tapi ... mengapa laki-laki itu harus Mr. Rexford? Kenapa harus laki-laki sehebat dia? Kenapa ... bukan laki-laki biasa saja?   Gloria mencengkram sisi wastafel dengan sangat erat seraya memejamkan matanya dengan rahang mengatup. Tenang Gloria ... tenang. Kalian sudah terikat perjanjian. Laki-laki itu tak akan pernah bisa mengganggumu begitu saja. tenang ... .   “Katanya Mr. Rexford kesini hanya untuk lebih dekat dengan tunangannya. Karena Mr. dan Mrs. Rexford sudah menginginkan cucu.”   “Mana mungkin? Bukankah dalam wawancaranya dia pernah mengatakan kalau dia laki-laki bebas? Dia tak ingin terikat dengan siapapun. Mana mungkin dia sengaja ingin lebih dekat dengan tunangannya.”   “Lihat saja nanti, jangan heran jika Tunangan Mr. Rexford datang. Katanya dia sangat cantik.”   “Sayang sekali ya ... kita tidak bisa memiliki Mr. Rexford.”   “Jangan bermimpi, laki-laki terpandang seperti Mr. Rexford pasti akan memilih pasangan yang terpandang pula. Orangtuanya pun pasti akan memikirkan hal sama.”   Gloria menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri menuju tempat kerjanya lagi. Ia kemudian mengangguk pelan. Benar ... benar sekali. Laki-laki seperti Jackson tentu saja akan bersama dengan perempuan yang sepadan. Bukankah itu cukup melegakan?     Tapi mengapa rasanya ada yang mengganjal?     Mengapa kabar Mr. Rexford justru terasa mengganggunya?   ***   Jackson mengetuj-ngetukan jari telunjuk keatas meja kaca didepannya. Ia masih memikirkan tentang perempuan yang berdiri dibalik meja resepsionis itu. Entah mengapa, ia merasa perempuan itu tak asing. Ia merasa pernah melihat perempuan itu disuatu tempat. Ia yakin ... ia pasti sudah bertemu dengannya.   Setidaknya satu kali.   “Mr. Rexford ini rekap laporan bulanan yang anda inginkan.” Ujar Robin seraya meletakkan dokumen dengan sampul berwarna hitam.   Merasakan ucapannya diabaikan, Robin akhirnya memerhatikan Jackson yang ternyata sedang menatap kosong kearah dinding kaca ruangannya. “Ada apa?” tanya Robin.   “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Robin lagi seraya meneluk lengan Jackson.   Jackson mengalihkan pandangannya pada Robin setelah itu menghela nafas panjang kemudian meraih dokumen yang tergeletak dimejanya. Tanpa menghiraukan pertanyaan yang asistennya itu layangkan.   “Berikan aku daftar seluruh karyawan yang bekerja disin.”   “Untuk apa?” tanya Robin.   Jackson mendongak, menatap Robin dengan tatapan tajam. “Jangan membuatku jengkel Robin. Cepat carikan lalu kirimkan ke e-mail-ku.”   Robin menghembuskan nafasnya pelan. “Baik, akan saya carikan sekarang.”   Sepeninggal  Robin, Jackson kembali termenung. Masih mencoba mengingat-ingat sisa memori masa lalu dalam pikirannya. Namun sayang sekali ... nihil. Ingatannya tentang perempuan itu benar-benar tak bersisa.   Sayang sekali ...   “Jackson!!! Welcome to Florida!!!” Seru seorang wanita yang barus aja memasuki ruangannya tanpa ijin. Dia ... Perempuan itu. Dia Bianca Smith, perempuan yang orangtuanya jodohkan dengannya. Perempuan yang menurut orang-orang adalah tunangannya.   Padahal ... ia tidak pernah menganggap perempuan itu ada sama sekali.   “Kau memiliki tangan bukan hanya untuk hiasan Bianca, tapi salah satu fungsinya untuk mengetuk pintu.”   Perempuan itu mendesis pelan. “Kau dan mulut tajammu, masih saja ... selalu kejam.” Ia menjeda ucapannya. "Tak bisakah kau bersikap lebih manis Jackson? Aku tunanganmu.” Rajuk perempuan itu seraya merengek kencang.   “Kau yang menganggapku tunanganmu, aku tidak.” Balas Jackson seraya membuka file di hadapannya.   Brak!   Bianca menggembrak meja, namun Jackson seolah tak terganggu dengan semua yang dilakukannya. “Jackson! Baru bertemu kau sudah membuatku jengkel?!”   “Jika kau jengkel, pergilah.” Balas Jackson lagi, masih tak menatap Bianca yang menatapnya dengan tatapan geram seolah siap menerkam. Namun geram di wajah perempuan itu seketika berubah, digantikan dengan wajah manisnya.   “Ah ... kau sengaja membuatku jengkel agar aku pergi?” Bianca mendesis. “Jangan harap Jackson, aku akan disini. Menunggumu sampai jam kerjamu selesai.” Ujarnya seraya mendudukkan diri pada sebuah sofa yang berada di tengah ruangan itu.   Jackson melirik kearah Bianca sesaat kemudian menghembuskan nafasnya pelan. Menghadapi perempuan itu tak bisa dengan secara terang-terangan menolak. Ia harus mengatur siasat agar bisa terlepas dari perempuan itu.   Jackson mengetikkan sesuatu pada ponselnya, mengirimkan pesan pada Robin agar asistennya itu segera menghubunginya.   “Ada apa Jackson? Data yang kau minta ... .”   “Iya aku paham, kau sudah menjelaskannya.”   “Menjelaskan apa Jackson?”   “Iya aku akan segera turun. Tunggu aku di lobi. Kita akan ke tempat meeting segera.”   Di sebrang sana Robin tergelak. Menyadari tingkah atasannya itu. “Kau pasti ingin menghindari perempuan itu.”   “Aku tutup.” Ujar Jackson seraya mengakhiri panggilan palsunya dengan Robin.   Bianca yang sebelumnya sedang membaca sebuah majalah kini mengalihkan pandangan kearahnya. “Kau mau keluar? Barus sampai langsung meeting diluar?” tanya perempuan itu. “Bagaimana jika kita sekalian makan malam bersama? Orangtuaku sangat senang ketika kau memutuskan untuk pindah ke Florida."   Jackson melirik Bianca sesaat seraya mengambil dokumen secara acak dari atas meja kerjanya. “Tak bisa. Lagipula kau bilang akan menungguku hingga jam kerjaku habiskan? Tunggu saja disini.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkan ruangan itu dengan seringaian penuh kemenangan.   ***   Robin tergelak ketika menyambut Jackson di pintu lift. “Kau luar biasa Jackson. Akhirnya kau menjahili tunanganmu itu?”   “Berhenti mengatakan bahwa dia tunanganku Robin. Dia ... bukan siapapun.” Ujarnya seraya melangkahkan kaki menuju pintu keluar.   “Ingat, orangtuamu ingin segera kau memiliki anak Jackson, mereka ingin segera memiliki cucu.”   “Ya ... cucu. Bukan istri. Jadi ... nanti. Aku akan memberi mereka cucu tanpa aku harus memiliki seorang istri.”   Robin mendesis. “Kau dan pikiran gilamu, Jackson. Kendalikanlah.”     Sementara itu tak jauh dari sana, seorang perempuan tanpa mereka sadari mendengarkan seluruh percakapan dua orang laki-laki itu dengan sangat rinci. Membuat kedua tangan perempuan itu mendadak terasa basah karena keringat dingin, disertai detakan jantung yang menggila karena ketakutan.   ***   Gloria segera meraih ponselnya, ia harus segera menghubung Cassandra. Ia harus segera menghubungi perempuan itu karena ia harus meminta perempuan itu untuk menarik semua dokumen pendaftaran Gerald ke salah satu sekolah binaan Rexford. Ketika  ia hendak mendial nomor Cassandra, panggilan dari perempuan itu ternyata lebih cepat satu detik masuk pada ponselnya.   “Hallo Gloria. Aku ada kabar baik.” “Cassie kebetulan ada yang ingin aku sampaikan.”   Ucap keduanya secara bersamaan. Cassandra terkekeh pelan, sementara Gloria justru merasa semakin panik. Hingga ia memegang ponsel ditangannya itu dengan kedua tangannya.   “Glory, Gerald diterima di sekolah utama milik Rexford Corp.,  Rexford Elementary Schoo, Glorial!” seru Cassandra dengan penuh suka cita. “Aku senang sekali, akhirnya Gerald mendapatkan sekolah iu Glory. Gedung sekolahnya sangat dekat dengan gedung tempatmu bekerja. Sehingga ... kau bisa mengantar dan menjemput anakmu dengan mudah.”   Gloria terdiam mendengar penuturan itu.   “Gloria? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang salah?”   Gloria meneguk ludah yang rasanya benar-benar tersendat di tenggorokan. Ia meneguk ludah samar dengan sesekali membasahi bibir dan juga mengigit bibir bagian dalamnya.   “Cassie ... apakah aku masih bisa membatalkan beasiswa itu?”   “Hah? Kenapa? Bukankah kau sudah setuju tadi? Lagipula sekolahnya sangat dekat dengan kantormu. Apa ada sesuatu yang salah Gloria?”   Gloria kembali meneguk ludahnya kasar. Sebenarnya ia akan bahagia sekali ketika mendengar Gerald diterima di sekolah itu sebelum ia mengetahui pemilik asli perusahaannya.  Namun sayang, ia mendengar kabar ini setelah mengetahui pamilik asli dari Rexford Corp., yang tak lain adalah ayah kandung Gerald sendiri. Jackson Antoni Rexford. Pria asing yang dulu menghamilinya. Pria asing ... yang  rasanya sekarang mengancam keamanan dan ketenangan hidupnya yang selama ini ia miliki. Apalagi setelah mendengar laki-laki itu mengatakan bahwa dia menginginkan seorang anak tanpa harus menikah. Hal itu ... entah mengapa, membuatnya semakin merasa sangat terganggu, takut dan kalut. Dalam benaknya ia menyimpan satu ketakutan yang membuatnya tak sanggup, bahkan untuk sekedar membayangkannya ... ketakutan tentang ...   Bagaimana jika ... suatu saat Jackson tahu dia memiliki seorang putera, lalu mengambil Gerald darinya?   Tidak! Tidak! Tidak bisa! Gerald puteranya, Gerald cinta kasihnya, Gerald hanya miliknya. Hanya miliknya yang tak akan pernah bisa dimiliki oleh orang lain lagi. Lagipula mereka sudah menandatangani surat perjanjian. Jackson tak akan pernah bisa mengambil Gerald darinya.   “Gloria ... ada apa? Katakan alasannya ... setelah itu aku akan mencoba membantumu menarik semuanya. Karena sebenarnya jika kau menarik kembali beasiswa yang sudah kau terima dari Rexford, selamanya kau tak akan bisa menerima beasiswa lagi di tempat lain, sebab dianggap merugikan bagi orang lain yang membutuhkan namun kesempatannya terhalang oleh puteramu. Apalagi beasiswa full seperti ini. Semua orang sangat membutuhkannya Gloria.” Jelas Cassie lagi dengan panjang lebar.   Gloria meneguk ludanya kasar. Sekarang apa yang harus ia katakan? Alasan yang masuk akal seperti apa lagi yang bisa ia katakan agar bisa lepas dari beasiswa itu? Karena sebenarnya semua keinginan yang ia utarakan pada Cassandra sebelumnya sudah sangat terpenuhi, sehingga tak ada lagi alasan baginya untuk menolak. Masalahnya sekarang hanya satu, hubungan pelik masa lalu antara dirinya, pemilik perusahaan itu dan Gerald. Hanya itu. Karena tak mungkin juga bukan ia mengatakan kisah masalalu-nya dengan sang pemimpin Rexford pada orang lain sebagai alasan untuk lepas? Lagipula ia sudah berjanji tak akan mengungkit hal itu pada orang lain. Sehingga tak ada alasan lagi baginya untuk beralasan.   ***   Tok tok tok!   Bianca mengalihkan pandangannya kearah pintu.   “Jam kerja sudah habis Miss, silahkan tinggalkan tempat duduk anda. Kami akan mengunci ruangan ini.”   “Tidak! Aku akan menunggu Jackson. Dia hanya sedang meeting sebentar, pasti akan kembali lagi.”   “Mr. Rexford hari ini tak memiliki jadwal apapun Miss. Beliau sudah kembali kerumahnya.”   Rahangnya mengatup, menahan marah. Kedua tangannya bahkan terkepal keras karena amarah yang siap meledak itu. “Jackson!” geram Bianca. “Sialan!!!”   Lihat saja nanti! Kau! Tak akan pernah bisa lepas dariku!   ***   Malam itu selepas makan malam, Jackson kembali termenung dengan sebuah iPad di tangannya. Punggungnya bersandar, matanya tak lepas memandangi benda pipih di tangannya itu. menatap lamat pada sebuah profile yang tercatat disana.   Gloria Reesha Giovanni   Perempuan yang sangat ia yakini bahwa di masalalu pernah terlibat sesuatu dengannya. Karena ... Jackson tidak pernah sekalipun merasakan hal seperti ini pada perempuan yang baru pertama kali ia temui. Sehingga ia sangat yakin keberadaan perempuan itu di masalalu cukup penting baginya. Namun ... sayang sekali ia tidak memiliki petunjuk apapun mengenai perempuan itu. Semuanya terasa begitu semu dan ... benar-benar buram dalam ingatannya.   “Robin.” Panggil Jackson pada asistennya yang sedang duduk tak jauh darinya.   “Kenapa?” tanya Robin seraya mengalihkan pandangan dari laptop dihadapannya pada Jackson. “Kau ini kenapa Jack?”   Jackson memberikan iPad ditangannnya pada Robin. “Kau ingat sesuatu tentang dia?” ia kemudian menatap asistennya yang mulai membaca detail profil perempuan itu. Lalu menatapnya lamat.   “Bagaimana?”   Robin mengembalikan benda pipih itu kemudian menatap Jackson kembali. “Kau tak ingat?”   “Jika aku ingat aku tak akan bertanya padamu.” Balas Jackson.   “Aku ingat dia.”   Jackson menoleh pada Robin yang terlihat menatap kearah jendela dengan pandangan menerawang masa lalu. “Siapa?” tanya Jackson pada Robin yang masih terlihat berpikir.   Benarkah asistennya itu ingat? Ataukah hanya mempermainkannya saja?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD