Jackson kembali termenung ketika sudah duduk diatas pembaringannya. Membayangkan kejadian delapan tahun lalu yang sudah tak bersisa sama sekali dalam pikirannya.
---
Beberapa saat yang lalu ...
“Siapa?” tanya Jackson. “Jangan mempermainkanku Robin. Jangan bertingkah seolah kau ingat, jika memang tidak.”
Kening Robin masih mengerut, lalu ia menatap kearah Jackson yang sudah memberinya muka masam. “Bukankah perempuan itu, perempuan yang dulu kau beri seratus ribu dollar?”
Kening Jackson mengerut. “Seratus ribu dollar? Kapan?”
“Tujuh? Atau delapan tahun lalu? Aku ... samar-samar mengingatnya. Tapi aku sedikit yakin itu dia karena dilihat dari profilnya, dia pernah tinggal di Los Angeles dan juga lulusan dari Universitas yang terletak tak jauh dari kedai yang dulu kita kunjungi.”
“Kau masih ingat dengan kedai itu?”
Robin mendesis. “Aku terkadang masih makan disana. Meskipun tak semurah dulu, tapi cita rasa kedai itu tidak berubah.” Robin menjeda ucapannya “Selain itu ... karena ditempat itu, untuk pertama kalinya aku melihatmu begitu perhatian pada orang lain Jackson. Dan ... kau bahkan mengatakan dia manis. Satu hal yang mungkin sangat berkesan untukmu hingga kau merasa mengenalnya sampai saat ini, dan berkesan untukku karena seumur hidup aku mengenalmu, hanya pada perempuan itu kau memuji.”
Jackson menatap Robin kembali. “Jangan berlebihan.”
“Aku? Tidak. Kau benar-benar melakukannya Jackson. Selama aku mengenalmu, hanya padanya saja kau memuji. Selain itu ... kau bahkan hanya menolak dan menghindari setiap perempuan, jangankan memuji perempuan, menatap mereka saja kau seperti tak mau, sampai-sampai aku merasa bosan karena selalu dikira pasanganmu.” Ujar Robin diakhiri dengan desisan pada bagian akhir penjelasannya.
“Oh ya! Tak hanya itu. Mungkin kau merasa terkesan padanya karena perempuan itu satu-satunya perempuan asing yang berani menantangmu.”
Jackson menatap Robin, terkadang ia iri dengan kekuatan ingatan asistennya itu. Bagaimana bisa dia ingat sampai begitu mendetail?
“Tapi Jackson, lihatlah ... .” Jackson mengalihkan pandangannya pada Robin lagi. “Sekarang dia sudah memiliki anak. Apa kau bisa menerimanya? Karena kau tak bisa hanya memilih salah satu. Jika kau menyukai perempuan itu ... kau juga harus menyukai anaknya. Sementara selama ini ... kau tak pernah menyukai anak-anak.”
---
Helaan nafas keluar dari hidung Jackson. Laki-laki itu kemudian membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang ia tempati.
Semua yang dikatakan Robin memang benar adanya. Ia tidak pernah berminat dekat dengan perempuan manapun. Bukan karena ia tidak merasa tergoda dengan perempuan, atau tidak tertarik. Namun karena desakan pernikahan-pernikahan itulah membuatnya malas berdekatan dengan perempuan manapun, termasuk yang selalu dijodoh-jodohkan dengannya. Ia masih belum menemukan pasangan yang pas dihatinya, yang dengan sepenuh hatinya ingin ia lindungi. Karena bagaimanapun. Pernikahan tetap pernikahan. Satu ikatan, satu hubungan yang harus dihormati dan harus dilalui bersama atas dasar suka sama suka serta saling mencintai.
Terdengar aneh? Mungkin ya ... karena bagaimanpun kesan yang didapatkan orang-orang terhadapnya adalah seorang bad guy bebas yang tak ingin terikat dengan suatu hubungan. Namun, ada satu hal ... yang sebenarnya harus diketahui banyak orang tentang dirinya. Sekalinya pun ia laki-laki bebas yang tidak berminat menjalin hubungan. Namun baginya suatu pernikahan adalah hal penting. Pernikahan bukan satu hal yang bisa ia permainkan begitu saja. Karena pernikahan, hanya akan terjadi satu kali dalam seumur hidupnya.
Jackson menarik nafas panjang kemudian memejamkan matanya.
“Aku harus mencari tahu.”
***
Gloria tak henti-hentika menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi. kepalanya terasa benar-benar berputar hanya karena kehadiran seorang laki-laki bernama Jackson itu. Sebenarnya ... semua ini tak akan membuatnya sulit ketika Jackson bersikap biasa saja, dan tidak mengungkit tentang ingin anak atau sebagainya. Ia akan santai saja, ia tak akan ketakutan seperti ini. Tapi ... sekarang, rasanya benar-benar takut. Ia takut jika Gerald akhirnya benar-benar dibawa Jackson pergi.
“Mama ... Mama!” Gerald memanggil Gloria dengan setengah berteriak. Anak laki-lakinya itu bahkan melompat kedalam pangkuannya, membuat Gloria yang sedang melamun terjengit.
“Gerald, kau mengejutkan Mama.”
Gerald mengerutkan keningnya. “Mama terkejut? Gerald memanggil Mama sejak tadi. Tapi Mama tidak menanggapi. Mama melamun.”
“Ah ... benarkah Mama melamun?” tanya Gloria seraya tersenyum, lalu menghujani wajah sang putera dengan ciuman-ciuman ringan. “Maafkan Mama hm? Mama ... hanya sedang ada sedikit pikiran.”
“Apa itu Ma?”
Gloria menggumam. “Gerald ... apa Gerald sudah tahu sekolah baru Gerald nanti?” tanya Gloria.
Gerald tersenyum lebar kemudian mengangguk sangat antusias. “Tahu Ma, Gerald tahu! Sangat dekat dengan kantor Mama, jadi Mama nanti tidak perlu naik turun bis ketika mengantar Gerald. Gerald juga tidak perlu menunggu dirumah Mrs. Cassie lagi. nanti Gerald bisa menunggu dikantin seperti biasa Gerald menunggu Mama jika Gerald ikut. Nanti ... Gerald berjanji, Gerald tidak akan menyulitkan Mama. Gerald hanya akan diam dan belajar disana.”
Gloria dalam hati meringis, puteranya terlihat begitu bahagia. Sungguh, ia tak tega jika harus menghapus kebahagiaan itu dari wajahnya. Gloria tersenyum tipis. “Bagaimana jika di sekolah Gerald nanti, Gerald di kucilkan? Gerald ... disana tempat anak-anak dari orang kaya.”
“Lalu? Kenapa jika di kucilkan Ma? Gerald bisa melakukan apapun sendiri. Gerald tidak membutuhkan teman yang mengucilkan Gerald. Gerald juga berjanji! Tidak akan ada yang menjahati Gerald.” Anak laki-laki itu tersenyum bangga. “Gerald sangat pintar, Mama tak perlu khawatir. Gerald pasti bisa mengatasi semuanya sendiri Ma.” Ujar Gerald membuat Gloria terkekeh pelan. “Gerald sudah berjanji akan menjaga Mama sekuat tenaga Gerald. Jadi Gerald akan kuat, Gerald tak akan manja, tak akan cengeng. Karena jika Gerald tidak bisa menjaga diri Gerald sendiri. Bagaimana caranya Gerald menjaga Mama?”
Gloria tersenyum bangga. Tangan kanannya terulur membelai kepala sang putera sesaat sebelum kembali menghujani wajah Gerald dengan ciuman-ciuman ringan. “Anak Mama sudah besar hm?’
“Tentu saja! Gerald sudah bisa mengingat passwords Ma! Artinya Gerald sudah besar.” Seru Gerald lagi yang berhasil membuat Gloria tertawa lepas.
Gerald adalah kekuatannya, Gerald sumber kebahagiaannya. Karena ketika hanya bersama Gerald lah ia melupakan semua masalahnya. Hanya bersama Gerald lah ia bisa melupakan semua beban yang ada di pundaknya.
Gerald cintanya, puteranya tercinta, yang ia cintai lebih dari apapun.
***
Hari kembali berganti. Hari itu Gloria berangkat lebih pagi karena harus mengantar Gerald ke sekolah barunya. Ia harus memastikan sang putera mengetahui seluk beluk sekolah terlebih dahulu agar nanti tidak tersesat. Lalu mencari walikelas Gerald untuk sekedar mengenalkan diri.
“Gerald ingat semua kelasnya? Saat moving class nanti Gerald tidak akan tersesat?’ tanya Gloria memastikan.
Gerald mengangguk pasti. “Ingatan Gerald sekuat ingatan Mama, tentu saja Gerald akan ingat.”
Gloria tersenyum bangga, ia mengelus kepala sang putera sebelum akhirnya memasuki ruangan kantor guru. Ia mengetuknya sebanyak tiga kali sebelum memasuki ruangan itu setelah dipersilahkan. Disana terlihat seorang perempuan yang cukup muda menghampiri, mungkin sekitar dua tahun lebih muda darinya.
“Selamat datang ... apakah anda orangtua Gerald?”
Gloria mengangguk. “Benar, saya orangtua Gerald.”
Perempuan itu tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya. “Perkenalkan saya Bianca Smith, saya walikelas Gerald untuk sementara waktu. Karena walikelas yang asli, sedang cuti melahirkan.”
“Gloria Giovanni. Senang berkenalan dengan anda, Ms. Smith. Saya ... senang sekali Gerald mendapatkan walikelas sebaik anda.”
Bianca terkekeh pelan. “Anda terlalu banyak memuji, saya hanya melakukannya sesuai kewajiban saja.”
Gloria mengangguk. “Saya menitipkan putera saya Ms. Smith.”
“Ya ... anda bisa tenang Mrs. Giovanni. Sekolah kami memiliki standart yang tinggi dalam bidang apapun. Salah satunya keamanan. Hal itu tentu saja akan semakin membuat anda tenang.”
“Oh ya maaf lancang... sepertinya anda bekerja di Rexford Corp.?”
Gloria mengangguk ketika mendengar pertanyaan itu. “Benar. Untuk itu ... apakah saya bisa pergi sekarang? Kebetulan sebentar lagi jam kerja saya akan dimulai.”
Bianca terkekeh pelan. “Ah ya! Maafkan saya malah mengajak anda berbicara. Silahkan ... jika anda akan bekerja.”
Gloria mengangguk sesaat. “Terimakasih Ms. Smith. Saya mohon bantuannya.”
“Tak perlu sungkan, katakan saja apapun padaku. Sampai nanti ....”
Gloria membungkuk sesaat sebelum meninggalkan ruangan itu bersama dengan Gerald disampingnya. Ia kemudian membungkuk sesaat ketika menatap sang putera. “Gerald ... ingat, ketika jam pulang langsung hubungi Mama. Nanti ... Mama yang akan menjemputmu hm?”
Gerald menganggukkan kepalanya.
“Baik, Mama pergi sekarang. See you ... semangat belajarnya jagoan.” Ujar Gloria seraya mengecup kening Gerald sesaat.
“Bye bye ... .” Gerald melambaikan tangannya pada Gloria sesaat sebelum Gloria benar-benar pergi untuk berangkat ke kantor yang hanya berjarak tiga ratus meter saja.
***
Hari yang sama Jackson mulai secara aktif mengambil alih perusahaan, ia handle semua kepentingan perusahaan, sementara Albert sekarang menjabat sebagai Senior Manager saja. Lagipula Albert orang kepercayaan ayahnya, bukan kepercayaannya. Sehingga ia tak bisa menyimpan Albert lebih tinggi dari itu.
Baru hari pertama bekerja ia sudah menemukan kejanggalan-kejanggalan dari laporan bulanan perusahaan. Apalagi jika di sinkronasikan dengan laporan tahunannya. Banyak anggaran yang tidak sesuai, yang menurutnya sangat ganjil. Setelah ia amati lebih lanjut ternyata dana dari anggaran-anggaran itu mengalir tanpa tujuan yang jelas. Pembayaran gaji, tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan pusat. Gaji mereka di pangkas hampir sebanyak dua puluh persen perbulan. Benar-benar membuat kepala Jackson rasanya akan pecah karena lagi-lagi anggaran itu mengalir tanpa tujuan yang jelas.
Beruntunglah sekarang ia datang, jika ia tak datang mengurus perusahaan ini. Mungkin saja ... perusahaan ini akan bangkrut dan menyisakan nama baik yang menjadi buruk karena upah yang diberikan hampir mendekati upah minimum karyawan, menjadikan upah tidak sesuai dengan beban kerja yang diberikan.
Jackson menggelengkan kepalanya pelan. “Robin, selidiki lebih lanjut mengenai anggaran upah karyawan.” ujar Jackson pada Robin. “Pastikan gaji bulan ini penuh tanpa ada potongan apapun. Jika memungkinkan beri mereka bonus.” Kata Jackson. “Lalu, panggil manager keuangan, aku harus mendengar penjelasan darinya langsung.”
“Sudah tiba jam makan siang Mr. Rexford.”
Jackson melirik Robin lalu menghela nafas. “Baiklah. Panggil dia setelah makan siang.”
Robin menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu anda ingin apa untuk makan siang?” tanyanya ketika melihat sang pemimpin perusahaan menyandarkan punggung pada sandaran kursi seraya memijat keningnya.
“Tak minat.” Jawabnya, namun beberapa saat kemudian ia menatap kearah Robin dengan cepat. “Robin tunggu.”
“Ya?” Robin berbalik menghadap Jackson.
“Minta perempuan itu ambilkan makanan dari kantin. Lalu bawakan kesini.” Ujar Jackson yang membuat kening Robin mengerut sesaat.
“Tak biasanya?”
“Jangan banyak bertanya, cepat hubungi saja.” ujar Jackson.
Setelah Robin pergi meninggalkan ruangannya. Jackson menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kembali kemudian menyeringai, memikirkan sesuatu hal yang ... sepertinya akan sangat menarik.