Gloria yang bersiap pergi makan siang, mendapatkan panggilan mendadak. Akhirnya sebelum melangkah ia pun segera menjawab panggilan tersebut.
“Selamat siang, Rexford Corporation disini. Ada yang dapat saya bantu?”
“Ms. Giovanni, saya Robin Jacob asisten pribadi Mr. Rexford. Mr. Rexford berpesan padaku kau harus mengambilkan jatah makan siang untuk Mr. Rexford dikantin lalu antarkan keruangannya.”
Gloria merengut,“Tapi ... .”
“Tak boleh diwakilkan siapapun, atau bonus untukmu tak akan bisa di cairkan.”
“Mr. Jacob.”
Sayang, panggilan sudah diakhiri begitu saja. Gloria mendesah lelah, apa yang akan terjadi lagi hari ini? mengapa laki-laki itu mendadak ingin ia mengirimnya makanan dari kantin? Padahal bisa saja dia memanggil ahli gizi perusahaan secara langsung. Mengapa harus dirinya yang jelas-jelas bukan tugas pokoknya?
“ ... atau bonusmu tak akan bisa di cairkan.”
Ancaman iu ... apakah orang-orang kaya selalu mengancam dengan uang? Mengapa begitu sombong? Apakah mereka pikir semua hal bisa dibayar dengan uang?
“Gloria, kau kenapa?” tanya Evianna.
“Eve, menurutmu. Apa yang harus aku lakukan untuk menghindari seseorang yang dulu kau kenal? Tapi aku tak ingin dia curiga kalau aku dan dia pernah terlibat dalam hubungan masa lalu.” Tanya Gloria seraya berjalan kearah kantin.
Evianna menoleh sesaat. “Dia tak tahu kalian pernah terlibat?”
“Tidak.”
“Yasudah hadapi saja seperti orang asing, seperti layaknya orang yang baru bertemu. Jika kau menghindar, dia akan curiga dan justru kau akan terlihat semakin menarik dimatanya.” Jelas sahabatnya itu.
Gloria termenung, benarkah? Jadi ia harus menghadapi Jackson? Ia harus menghadapi orang itu layaknya orang asing? Tapi ... bukankah mereka memang hanya orang asing saja? orang asing yang kebetulan pernah tidur bersama.
“Mr. Rexford ya?” tanya Evianna dengan berbisik pelan.
“Bukan.” Jawab Gloria dengan sangat cepat. “Jangan berbicara sembarangan.”
Evianna mengedikkan bahunya. “Instingku yang mengatakannya, apalagi ketika pertama kali dia datang, pandangannya tak lepas darimu. Dia ... menatapmu dengan intens Glory. Harusnya kau merasakan itu.”
“Tidak, tidak. Bukan dia. Itu hanya perasaanmu saja Eve. Lagipula bagaimana bisa aku berhubungan dengannya? Kehidupan kami sangat berbeda jauh. Tak mungkin pernah bergaul ditempat yang sama.”
“Siapa yang tahu ‘kan?” tanya Evianna seraya menatap Gloria dengan alis yang menaik turun. Berusaha menggoda sahabatnya itu. “Apalagi kalian sama-sama pernah tinggal di LA.”
“Kau pikir LA hanya sebesar kantor ini? Tidak, sudah cukup. Jangan berkata yang tidak-tidak Eve, jangan sampai ucapanmu menimbulkan gosip.”
“Aku berharap jadi gosip.”
Plak!
Gloria menampar lengan Evianna. “Sembarangan. Sudah sana pergi. Aku harus membawakan makan siang untuk Mr. Rexford.”
“Hah?” Evianna mengerjapkan matanya, seraya menatap Gloria dengan tatapan penuh godaan.
“Mr. Jacob yang memintanya, karena Mr. Jacob sedang sangat sibuk.” Ucap Gloria kemudian berlalu meninggalkan Evianna yang mulai mengantri untuk mendapatkan jatah makan siang. Sementara dirinya memutuskan untuk bertemu dengan koki secara langsung agar bisa mengambil makanan terbaik yang ada di kantin itu.
Awalnya tak mudah ia mendapatkan ijin masuk, namun ketika ia mengatakan Mr. Rexford yang memintanya. Mereka semua segera menyiapkan makanan terbaik mereka dengan cepat. Gloria menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Ternyata menjadi seorang penguasa sungguh enak ya. Baru saja ia menyebutkan namanya, mereka sudah sangat sibuk menyiapkan yang ia minta dalam waktu singkat. Andai saja yang menginginkan sesuatu itu dirinya. Pasti mereka akan memberinya makanan seadanya saja.
Gloria dibantu oleh seorang pelayan kantin membawa makanan ke ruangan Presedir dengan menggunakan Service Stand Trolley, sebuah trolley bertingkat yang memang dibuat khusus untuk membawa makanan untuk jarak yang cukup jauh.
Begitu sampai Gloria membasahi bibirnya sesaat kemudian mengetuk pintu ruangan tersebut sebanyak tiga kali.
“Masuk!” sahut Jackson dari dalam.
Gloria membuka pintu kemudian pelayan itu mendorong Trolley tersebut masuk, kemudian ia simpan didekat meja tamu. Gloria tersenyum. “Terimakasih sudah membantu.” Ujarnya seraya memindahkan makanan-makanan tersebut dari atas Trolley.
“Kau bisa pergi.” Pelayan itu menggangguk kemudian beranjak. Setelahnya Gloria pun berdiri dihadapan Jackson yang mulai duduk di sofa tepat didepan makanan yang sudah ia siapkan.
“Kalau begitu saya pamit Mr. Rexford. Silahkan nikmati makanan anda.” Ujar Gloria seraya melangkah mundur. Namun baru saja satu langkah, pria itu berujar menahannya.
“Duduklah, temani aku makan.”
“Tidak.” Tegas Gloria. “Tidak sepantasnya saya makan bersama anda Mr. Rexford. Saya akan kembali ke kantin sekarang. Setelah anda selesai makan, anda bisa memanggil saya lagi.”
Jackson mendongak, menatap Gloria dengan tatapan datar. “Kau pikir kau siapa berani mengaturku?”
Gloria menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan setelah itu ia mengulas senyumannya. “Mohon maaf, Mr. Rexford saya sudah lancang.”
“Kalau begitu duduklah, temani aku makan.”
“Tidak.” Bantah Gloria lagi, membuat Jackson yang baru saja mau menyuapkan sesendok makanan kembali mendongak, lalu menyimpan sendoknya lagi.
“Saya hanya merasa tidak pantas Mr. Rexford.”
“Temani aku makan, maka gajimu akan bertambah seratus persen.”
Seratus persen? Gloria meneguk ludahnya kasar, jika gajinya naik sebanyak seratus persen ia bisa membelikan peralatan belajar yang lebih baik untuk Gerald, alat tulis yang layak, buku bacaan yang juga lebih layak dan terbaru, lalu pakaian yang bagus agar Gerald tidak merasa rendah diri dengan pakaiannya yang selama ini begitu sederhana. Tapi ... duduk bersama dengan Jackson bukan hal baik ... bukan karena laki-laki itu ayah dari Gerald, tapi karena laki-laki itu merupakan atasannya. Ia tak ingin menimbulkan suatu berita yang akan memperburuk namanya. Ia tak mau, jika Gerald mendengar hal buruk tentangnya.
“Tidak, Mr. Rexford. Terimakasih atas perhatian anda. Tapi ... saya tidak tertarik.”
Jackson tertawa masam seraya melipatkan kedua tangannya di d**a. Setelah itu ia duduk bersandar, menatap Gloria semakin intens.
“Bukankah kau membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan anakmu? Jangan terlalu angkuh dan egois Ms. Giovanni. Jika memang anakmu membutuhkannya, cukup terima tawaranku.” Jackson menjeda ucapannya. “Lagipula ... Aku hanya memintamu menyiapkan makan siang dan menemaniku. Bukan memintamu untuk menjadi kekasihku. Kenapa terlalu banyak berpikir?” tanya Jackson diiringi dengan seringaiannya.
Gloria mengatupkan rahangnya, seraya menarik lepaskan nafas yang terasa begitu memburu. “Jangan campuri urusan pribadi saya Mr. Rexford, meskipun saya miskin saya masih bisa membiayai kebutuhan anak saya sendiri. Anda tak perlu mengasihani saya. Karena sebelum anda datang pun saya masih bisa memberikan anak saya makanan yang layak, baju yang layak dan juga sekolah yang layak.”
Mendengar hal itu, Jackson justru tertawa, ia bertepuk tangan sesaat. “Wow, begitukah? Hebat sekali. Lalu bagaimana menurutmu jika aku tak memberikanmu gaji?”
“Dengan senang hati aku akan keluar dari tempat ini!”
“Bagaimana jika tak ada tempat lain yang akan menerimamu kecuali perusahaan ini? Terlebih kau sudah memiliki anak.”
“Sekali lagi saya tegaskan pada anda! Jangan pernah usik kehidupan pribadi saya Mr. Rexford. Karena jika anda melakukannya. Anda akan menyesal!”
Jackson kembali menyeringai, ia menarik ujung bibirnya cukup lama sebelum kembali berujar. “Ah ... benarkah? Aku akan menyesal?” Jackson mendesah sesaat. “Kau yang akan menyesal Gloria. Kau yang akan menyesal karena menolak tawaranku.”
Kedua tangan Gloria terkepal. Menahan amarah yang hampir memuncak. Beruntung ia masih bisa tersenyum setelah menghembuskan nafas lagi.
“Coba saja, pecat saya. Saya pastikananda akan sangat menyesal. Anda akan mencari saya lagi dan akan mengejar saya.” Ujar Gloria dengan nada yang begitu percaya diri.
Jackson yang mendengar itu menyeringai. “Benar ... akan percuma memecatmu karena pada akhirnya aku yang akan mencarimu dan lagi ....” Jackson bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan kearah Gloria setelah itu berdiri tepat dihadapan perempuan itu yang menatap matanya tanpa rasa takut. “Kau tahu ... Gloria? Sikapmu yang seperti ini justru lebih membuatku semakin penasaran padamu.” Bisik Jackson tepat dihadapan wajah Gloria. “Atau ... kau sengaja, ingin menarik perhatianku? Seperti dalam sebuah novel romantis?”
Gloria terdiam setelah mendengar hal itu. Ia menyadari sikapnya terhadap laki-laki itu saat ini sepertinya merupakan kesalahan yang sangat besar. Seharusnya ia tidak menolak laki-laki itu secara kasar. Karena ia yakin, laki-laki seperti Jackson tak pernah di tolak apalagi oleh seorang perempuan miskin haus akan uang sepertinya.
Gloria kemudian menurunkan pandangannya, ia mengerjap sesaat. Berusaha menurunkan egonya yang sudah memuncak, untuk menyelamatkan diri. “Saya tidak bermaksud seperti itu Mr. Rexford, saya tidak bermaksud membuat anda justru tertarik dengan saya karena sikap kurang ajar saya. Saya melakukan ini karena saya menghormati Tunangan anda, karena meskipun saya belum bertemu dengannya. Dia akan terluka ketika melihat Tunangannya makan siang bersama dengan orang lain. Saya perempuan, dia juga perempuan Mr.Rexfrord. Saya ... hanya berusaha menjaga perasaan orang lain.” Gloria menghembuskan nafas perlahan. “Sebaiknya anda meminta Tunangan anda saja untuk datang Mr. Rexford, agar bisa menemani anda. Sekali lagi saya mohon maaf atas sikap lancang saya pada anda.”
“Gloria ... kenapa kau begitu keras kepala? Aku hanya memintamu duduk, lalu makan. Kenapa malah justru menjadi drama seperti ini?” Jackson mengatupkan rahangnya, marah setelah mendengar alasan lain dari mulut perempuan itu. setelahnya ia mendesis. “Asal kau tahu Gloria. Aku ... tak akan pernah peduli dengan alasan apapun. Ikuti saja kata-kataku, atau kau benar-benar akan menyesal.”
“Duduk.”
Gloria bergeming, membuat Jackson meradang. Jackson mengepalkan kedua tanganya sampai setiap buku-buku jarinya memutih, tatapan matanya pun menajam, menatap penuh rasa amarah pada Gloria. Bisa-bisanya ia memiliki bawahan yang sekeras kepala ini? Padahal biasanya, siapapun akan sangat rela makan bersama dengannya, lalu kenapa dia seperti itu? Tapi ... mengapa Gloria sangatlah sulit?
Perempuan itu ... benar-benar melukai harga dirinya yang sangat tinggi. Sayangnya ... mengapa bisa-bisanya ia justru tertarik dengan perempuan keras kepala ini.?
“Ah ... jangan-jangan sekarang kau hidup hanya berdua dengan anakmu karena dicampakkan suamimu karena ini?”
Kening Gloria mengerut.
“Terlalu egois, sombong dan angkuh.”
Gloria tertawa pelan, “Sayang sekali Mr. Rexford tebakanmu salah. Justru ... sebaliknya.” Gloria tersenyum lebar. “Aku ... yang mencampakkan laki-laki itu.”
“Benarkah?”
“Tak ada alasan bagiku untuk mengatakan kebohongan pada anda.”
“Jika begitu ... .” Jackson dan Gloria kembali bertatapan. “Apakah kau bersikap seperti ini karena dimasa lalu kita pernah bertemu?”
“Kau ... sengaja, ingin menjauhiku, ingin menghindariku karena kau tak ingin aku mengingkit masa lalu?” Jackson terkekeh diiringi dengan seringaian penuh kemenangan. Laki-laki itu bahkan semakin tersenyum lebar, ketika melihat mata Gloria yang terlihat melebar, iris matanya terlihat gentar dengan bibir yang juga bergetar. Jackson menaikkan satu alisnya.
“Jadi ... mau temani aku makan atau kusebarkan semua rahasia diantara kita?”