Jackson belum beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan makan siang, yang akhirnya benar-benar ditemani oleh Gloria. Meskipun setelah ancaman itu Gloria tidak lagi banyak berbicara dan hanya cenderung menuruti semua keinginannya. Tapi ia cukup menikmati hal itu, Gloria yang pendiam dan hanya jadi perempuan penurut, cukup menarik baginya. Perempuan itu ... bahkan menyanggupi permintaannya untuk mengantarkan makanan setiap ia makan siang. Tanpa bantahan lagi, tanpa ada perdebatan lagi. Perempuan itu ... kali ini, benar-benar mengikuti semua keinginannya.
Namun ... ada satu hal yang membuatnya mengganjal. Benarkah Gloria takluk seperti itu hanya karena masalalu mereka yang terlibat perdebatan di kedai? Hanya karena ia memberikan uang seratus ribu dollar? Mengapa ... rasanya ia tak yakin? Sekarang ia justru meyakini bahwa, Gloria masih menyimpan rahasia yang lebih besar dari itu. Rahasia masalalu dimana ada dirinya yang terlibat, ada dirinya yang berperan besar di sana. Tapi ... rahasia seperti apa? Kenapa ia tak ingat sama sekali?
“Mr. Rexford ... hari ini anda di jadwalkan untuk berkunjung ke Rexford Elementary School.” Ujar Robin. “Ini merupakan perintah langsung dari Mr. Rexford untuk anda.” Lanjut Robin ketika melihat Jackson hendak membantah ucapannya.
Jackson mendongak. “Papa?”
Robin menganggukkan kepalanya. “Saya rasa ini salah satu rencana Mr. Rexford mendekatkan anda dengan keluarga Smith. Karena Mr. Smith yang merupakan kepala sekolah dan tepat tahun ajaran ini, Ms. Smith mulai mengajar.”
Jackson menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi seraya memejamkan mata. “Malas. Besok saja.”
“Tidak bisa Mr. Rexford. Sekolah sudah menyiapkan penyambutan untuk anda sekaligus penyambutan peserta didik baru.”
Jackson mendelik. “Sebenarnya aku atau kau boss disini? Ikuti saja kata-kataku Robin. Jangan membuatku sakit kepala!”
“Tidak bisa, karena jika anda tidak mengikuti jadwal sesuai dengan yang saya buatkan. Saya yang akan semakin sakit kepala.” Balas Robin. “Ikuti saja semua jadwal yang ada, lagipula disana kau hanya duduk dan menyaksikan. Apa yang sulit? Daripada Mr. dan Mrs. Rexford menyusul anda kesini dan kalian tinggal bersama lagi. jangan mempersulit diri sendiri dan pekerjaanku Jackson.”
Jackson mendengus kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah. Siapkan mobil.”
Robin tersenyum penuh kemenangan. “Bagus, tunggu sebentar.”
Jackson menarik nafas panjang, ia pikir setelah ia tinggal sendiri mereka tak akan mengatur pertemuannya terus-menerus dengan Bianca. Tapi dugaannya salah. Orangtuanya, terutama ayahnya, ternyata mereka tidak menyerah untuk mendekatkan dirinya pada Bianca. Rasanya ... mereka justru semakin gencar dalam mendekatkannya dengan perempuan itu.
***
Gloria membasahi wajahnya kemudian menatap pantulan dirinya di cermin. Setelah itu ia mengepalkan tangan kemudian menggebrang wastafel di depannya. Kepalanya benar-benar pening, rasanya begitu penat. Sungguh, ia tak menduga jika Jackson mengingatnya, ia tak menduga jika Jackson mengingat pertemuan mereka di masa lalu. Sungguh, ia pikir Jackson sudah melupakannya dan menganggapnya hanya angin lalu saja. Ia pikir ia hanya bagian dari banyaknya perempuan yang selalu menemani malamnya Jackson. Menemani satu malam, kemudian dilupakan.
Tapi mengapa ... dia mengingatnya?
“Gloria? Kau baik-baik saja?” tanya Evianna yang baru saja datang menyusulnya ke toilet.
Gloria menoleh, ia mengulas senyumannya sesaat seraya menyeka wajahnya dengan sebuah tisu. “Aku tak apa.” Ujarnya pelan.
“Benarkah? Aku tak melihat kau kembali ke kantin setelah dari ruangan Mr. Rexford. Kau juga tidak terlihat makan siang. Aku sangat mengkhawatirkanmu Gloria.” Ujar Evianna seraya mengelus lengan kanan sahabatnya itu sesaat.
Gloria meraih lengan Evianna lalu menggenggamnya sesaat, lalu tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja Eve, aku hanya merasa tak enak badan saja. keningku tadi serasa panas jadi aku mencuci wajahku.” Dusta Gloria.
“Ah? Benarkah? Kalau begitu sebaiknya kau beristirahat saja di klinik. Aku bisa mengijinkanmu nanti.”
Gloria menggelengkan kepalanya. “Tak apa Eve, aku baik-baik saja.”
Evianna menatapnya lamat, namun Gloria segera memberikan senyuman pada sahabatnya itu. mencoba meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ya ... ia memang baik-baik saja. Hanya saja ... hatinya yang tidak merasa baik. Karena ketakutan dan kekhawatiran terus menghantuinya.
Gloria merangkul lengan Evianna selama meraka berjalan menuju tempat kerja mereka lagi. “Eve ... aku takut ada gosip yang tidak-tidak antara aku dan Mr. Rexford.” Bisiknya pelan.
“Memang kenapa Glory? Lagipula kau hanya mengantar makanan ‘kan?”
Gloria mengangguk. “Benar, hanya mengantar makanan.” Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. “Mungkin benar kata Mr. Rexford. Aku terlalu banyak berpikir, overthinking.”
Evianna menepuk-nepuk bahunya sesaat. Membuatnya menoleh menatap sang sahabat. “Mempertimbangkan sesuatu memang tak salah Gloria. Namun, percayalah prasangka seseorang tergantung pada prasangkamu pada diri sendiri. Jika kau menanggapinya biasa saja. Maka tak akan ada apapun.” Ia menatap Gloria semakin intens. Lalu berbisik pelan. “Kecuali kau benar-benar pernah memiliki hubungan dengan Mr. Rexford.”
Gloria mengerjapkan matanya sesaat. “Tidak Eve, mana mungkin?”
“Yasudah jika tidak. Bersikap biasa saja Glory.”
Gloria mengalihkan pandangannya kemudian mengangguk pelan. Ya ... ia tahu, ia sudah menyadari harus bersikap biasa saja padanya. Namun entah mengapa ketika berhadapan langsung dengan Jackson, semua sikap biasa yang sudah ia rencanakan mendadak hilang. Ego-nya mendadak tinggi ketika bersama dengan Jackson. Apalagi sikap laki-laki itu yang seolah sangat merendahkannya. Ia tak terima diperlakukan seperti itu. Tidak. Karena meskipun ia tak memiliki apapun, meskipun ia miskin. Tapi ia juga masih memiliki harga diri. Ia tidak bisa mendapatkan hinaan seperti yang laki-laki itu layangkan padanya.
“Sudah, jangan melamun. Kembali kerja Glory.” Tegur Evianna yang membuat Gloria terjengit, kemudian kembali menghidupkan layar di depannya.
***
Jackson berjalan menyusuri koridor gedung sekolah dengan potongan bagian awal yang terlihat seperti bangunan kuno. Namun ketika masuk kebagian dalam, bangunan-bangunan didalamnya berdiri kokoh dengan arsitektur modern dan juga dengan tingkat estetika yang sangat tinggi. Gedung kelas terdiri dari empat bangunan utama dengan satu bangunan perpus, klinik dan juga ruang guru. Tak lupa ada juga sebuah lapangan indoor dan sebuah hall yang begitu besar, sebagai tempat untuk mengadakan pagelaran. Sementara ditengah gedung itu terbentang taman yang sangat indah. Taman dengan pepohonan yang begitu rindang dan juga kolam air mancur yang menambah segar suasana sekolah itu.
“Apakah gedung sekolahnya masih layak untuk ditempati Robin? Pastikan tak ada gedung yang dibawah standart.”
Robin segera mengangguki ucapan Jackson yang tak henti mengelilingkan pandangan kesekeliling tempat itu. “Tak ada laporan mengenai kerusakan gedung. Hanya saja kemarin pihak sekolah meminta untuk di lengkapi peralatan laboratorium science, karena peralatan sebelumnya sudah ke tinggalan jaman dan harus segera di perbaharui.” Jelas Robin.
“Segera kirimkan yang mereka butuhkan.” Ucap Jackson sebelum memasuki hall tempat acara penyambutan siswa baru di gelar.
Semua orang yang berada di ruangan itu membungkuk memberi hormat. Namun Jackson hanya mengabaikan mereka, kemudian ia duduk pada sebuah kursi yang sudah disediakan untuknya.
“Mr. Rexford, anda tidak memberitahu akan datang.” Ujar Thomas Smith, kepala sekolah sekaligus ayah dari Bianca, perempuan yang selalu dikatakan sebagai tunangannya.
“Saya diundang, tentu saja saya harus datang Mr. Smith.” Balas Jackson tanpa terlihat ramah sedikitpun.
“Jackson.” Panggil Bianca seraya mendekati Jackson. Lalu duduk disampingnya. “Kenapa tak bilang mau datang? Jika tahu, aku pasti akan memberikan penyambutan.”
Jackson melirik kearah Robin, bermaksud meminta tolong. Namun asistennya itu dengan kurang ajarnya justru mengabaikannya. Dia justru menatap kearah panggung dengan sangat fokus. Ia menghela nafas panjang kemudian menoleh pada Bianca. “Pergilah ke tempat dudukmu.”
“Tempat dudukku disini Jack. Aku tunanganmu, jika kau lupa.” Ucap Bianca seraya tersenyum begitu lebar.
Jackson mendesis tajam. “Aku tidak ingat pernah mempunyai tunangan sepertimu. Pergilah. Jangan membuatku muak.”
“Jackson ... .” Bianca menoleh pada sang ayah. “Pa ... .” rengeknya, meminta bantuan.
“Pergilah ketempatmu, ini tempat Papa.” Ujar Thomas membuat Bianca merengut sebal. Namun Thomas seperti tidak peduli. Ia membiarkan Bianca beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya.
“Maafkan puteriku Mr. Rexford. Tenang saja, aku akan memberitahunya untuk bersikap lebih sopan pada anda.” Ujar Thomas lagi seraya membungkukkan tubuhnya sesaat.
Jackson kemudian mengangguk. “Sudah seharusnya.” Balas Jackson kemudian memokuskan pandangan kearah panggung. Tempat dimana para anak-anak yang berada di tingkat lebih tinggi membuat sebuah pagelaran.
Namun ketika semua peserta masuk, bahkan sudah berbaris dengan sangat rapih. Tak ada seorangpun yang duduk dibalik sebuah grand piano. Anak-anak itu bahkan saling melirik, seolah mencari seseorang yang tidak mereka temukan. Bersamaan dengan itu ia mendengar para guru saling berbisik karena anak yang bertugas untuk memainkan alat musik itu mengabari bahwa pagi ini dia sakit, karena diare. Namun ditengah riuhnya suasana, seorang anak tiba-tiba maju. Anak laki-laki itu menaiki tangga dengan langkah begitu tenang, kemudian ia berbalik kearah penonton. Membungkuk sesaat sebelum mendudukkan diri dibalik grand piano tersebut.
Jackson terdiam ketika melihat paras anak tersebut. Bentuk wajahnya, bentuk mata, alis, hidung hingga bibir. Semuanya mirip sekali dengannya ketika masih kecil. Anak laki-laki itu ... seperti cloning-annya. Karena benar-benar mirip. Bahkan terlihat seperti sembilan puluh delapan persen sangat mirip dengannya.
“Siapa anak itu Mr. Smith?” tanya Jackson ketika melihat anak laki-laki itu memainkan piano dengan begitu lincahnya. Jari-jari kecilnya bermain seolah memainkan piano adalah bakatnya dari lahir. Sama sepertinya ... ia pun, bisa memainkan piano, bahkan tanpa didampingi guru les profesional.
“Dia sepertinya anak baru Mr. Rexford. Jika tidak salah ingat, dia yang menerima beasiswa tahun ini.” jelas Thomas. “Kenapa? Apakah anda kebetulan mengenalnya Mr. Rexford?”
“Siapa orangtuanya?”
“Seorang wanita single parent. Namun saya belum mengingat nama-nama mereka Mr. Rexford. Maafkan saya.”
Jackson terpaku ketika iris matanya bertemu dengan iris mata anak itu selama dua detik. Anak laki-laki itu bahkan memberinya sebuah senyuman sangat tipis. Sama ... seperti yang sering ia keluarkan.
Kenapa? Kenapa anak itu seperti duplikatnya? Jika hanya kebetulan mirip, bagaimana bisa ada yang mirip sejauh ini? Bahkan bakat mereka saja sama. Bagaimana bisa?
Kenapa ... nalarnya tidak memiliki jawaban sama sekali akan keberadaan anak itu? kenapa otaknya tidak memberikan jawaban apapun?
Tidak tidak. Tidak mungkin.
“Jackson ... Kenapa anak itu sangat mirip denganmu?” tanya Robin setengah berbisik.
Jackson menatap Robin dengan cepat. Lihatlah, bukan hanya dirinya yang merasa seperti itu. Bahkan Robin pun merasakannya.
Siapakah dia? Siapa anak itu? Apakah anak dari selingkuhan ayahnya? Karena siapa lagi yang akan memberikan keturunan persis seperti dirinya kecuali ayahnya?
“Apakah kau pernah menghamili seseorang tanpa aku ketahui?”
Mata Jackson membulat, “Aku?”
Robin mengangguk. “Tentu saja, kau. Apakah kau berpikir ayahmu yang melakukannya? Dan berselingkuh dibelakang ibumu?”
“Tapi aku ... tak mungkin.”
Robin melirik Jackson yang masih terlihat setengah tak percaya. “Ingat Jackson, kau pernah satu kali berhubungan tanpa menggunakan pengaman.”
Kali ini Robin menghadap kearah Jackson yang masih melihat permainan piano anak laki-laki itu dengan tatapan kosong, yang tak terbaca.
“Jangan bilang kau lupa Jackson?”