“Kau masih belum ingin mengakuinya Jackson?” tanya Robin lagi setelah acara pagelaran itu selesai. “Kau ... belum menjelaskan perihal hari itu.”
Jackson menoleh. “Bagaimana bisa aku menjelaskannya padamu jika aku saja tak ingat dengan kejadian hari itu. Lagipula belum tentu, hari itu aku benar-benar tidak memakainya. Karena aku sedang sangat mabuk dan tak ingat.”
“Tapi sekarang kau menjelaskannya seolah kau ingat.”
“Karena kau membuat ingatanku menjadi jelas.” Balas Jackson, tak terima disudutkan oleh asistennya sendiri. Ia menarik nafas panjang kemudian dihembuskannya lagi. “Lagipula, jika aku memiliki anak dibelakang kalian semua. Aku tak perlu bingung ketika mereka memintaku untuk segera membawa mereka seorang cucu. Karena tentu saja aku akan segera membawanya.”
Jackson menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di hall itu. “Tapi ... menurutmu. Apakah ada kemungkinan dia benar-benar anakku Robin?”
“Semua kemungkinan bisa terjadi Jackson. Apalagi kau sendiri tak ingat dengan benar kejadian di hari itu.” Robin kemudian menoleh kearah Jackson yang masih menatap kosong pada grand piano yang sudah tertutup rapih. “Jika dia benar-benar anakmu. Apa yang akan kau lakukan, Jackson?”
Jackson menyeringai. “Tentu saja, mengambilnya. Kau pikir apa lagi?”
***
Jackson dan Robin berjalan beriringan ketika hendak meninggalkan hall tersebut. Namun ketika baru saja satu langkah ia melangkahkan kaki dari ambang pintu hall, seorang anak yang berlari dengan tergesa menabraknya. Menabrak kaki Jackson.
“Maafkan Gerald Paman ... Gerald tidak sengaja.” Ujar anak itu seraya membungkuk beberapa kali, sesaat sebelum hendak berlari lagi memasuki hall.
“Hei ... ada apa?” tanya Jackson seketika ia menyadari bahwa anak itu adalah anak yang sejak beberapa saat lalu berada di pikirannya. “Ada apa hm?” tanya Jackson lagi seraya berjongkok dihadapan anak itu. “Kenapa berlarian seperti itu?” tanya Jackson dengan nada yang lebih lembut.
Jackson terpesona ... sungguh. Apalagi melihat iris mata pure obsidian yang anak laki-laki itu miliki. Hatinya tiba-tiba begetar. Merasakan perasaan aneh, yang untuk pertama kalinya ia rasakan. Perasaan asing yang terasa sangat nyaman dan terasa memenuhi setiap sudut di dalam hatinya.
“Gerald sedang terburu-buru Paman, buku Gerald sepertinya tertinggal didalam. Sementara Gerald sudah di jemput.” Ujar anak laki-laki itu dengan sangat santun. Meskipun dia mengatakan sedang terburu-buru. Tapi nada bicaranya sedikitpun tidak terdengar tergesa. Membuat Jackson mengembangkan senyumannya lagi.
“Jadi namamu Gerald?” tanya Jackson.
Anak laki-laki itu mengangguk. Membuat senyuman Jackson tanpa sadar melebar. “Gerald mau Paman bantu carikan bukunya? Takutnya ... nanti ada yang menutup pintu dari luar dan Gerald terkunci dari dalam.”
Mata anak itu menatap dengan penuh selidik pada wajah Jackson, kedua tangan anak itu bahkan kini terulur memegang wajahnya dan membelainya sesaat. Seperti sedang berusaha membaca sesuatu yang tidak Jackson mengerti.
Jackson kembali tersenyum tipis. “Tenang saja. Paman bukan orang jahat.”
Beberapa saat kemudian anak itu segera menganggukan dengan cepat. “Ayo Paman ... ayo bantu Gerald cari bukunya.”
Jackson mengangguk. Lalu mengulurkan tangannya setelah ia berdiri. Awalnya Jackson berpikir Gerald akan sungkan untuk meraih tangannya. Namun ternyata tidak. Anak itu segera meraih tangannya, lalu menggenggam tangannya dengan begitu erat.
Jackson kembali mengulas senyumannya. Ketika tangan kecil yang terasa hangat itu menggenggam tangannya yang dingin. Seketika, Jackson merasakan hangat dari tangan kecil itu tiba-tiba terasa menjalar menerobos masuk, hingga kerelung hati terdalamnya.
Jackson tak tahu perasaan macam apa yang ia rasakan pada anak laki-laki yang baru ia lihat ini. Namun yang ia yakini adalah perasaan asing yang sangat baru ini bukan perasaan biasa yang terjadi antara dua orang asing. Ia sangat meyakini hal itu.
***
Gloria tersenyum lebar ketika melihat Gerald yang berjalan memasuki lobi dengan kaki-kaki kecilnya yang sebenarnya terlihat begitu jenjang untuk anak seusianya. Anak itu segera berlari kecil kearahnya, kemudian masuk ke balik meja kerjanya. Beruntunglah ternyata ada sebuah golf car perusahaan yang memang terkadang digunakan oleh para karyawan untuk bepergian dalam jarak yang dekat. Jadi tadi ia menitipkan pesan pada rekan team keamanan untuk menjemput anaknya ketika jam sekolah selesai. Beruntunglah mereka sangat baik sehingga menyanggupi pesan kecilnya itu.
“Mama.” Panggil Gerald. “Tadi Gerald memainkan piano diatas panggung. Semua orang bertepuk tangan mendengar permainan Gerald.” Ujar Gerald dengan senyuman yang terpatri begitu apik pada wajah tampannya.
Gloria tersenyum lebar kemudian mengusak pelan kepala sang putera. “Anak pintar.” Ujarnya. “Gerald ... sekarang Gerald tunggu di kursi lobi ya? Seperti biasa.”
Anak laki-laki itu mengangguk patuh kemudian kembali berlari kecil dengan kaki jenjangnya menuju salah satu sofa yang berada di lobi. Setelah itu ia meraih sebuah buku cukup besar sebagai bahan bacaannya dari salah satu rak yang berada tak jauh dari sofa tersebut, untuk kemudian anak laki-laki itu baca dengan begitu fokus.
Gloria terkekeh melihat anaknya mulai membaca buku itu. Buku tentang Ekonomi dan Bisnis yang sebenarnya bukan bacaan yang cocok untuk sang putera. Namun ... ia tak bisa melakukan apapun. Karena ketika ia berusaha menggantinya dengan sebuah dongeng atau bacaan lainnya. Gerald menolak. Anak laki-lakinya itu mengatakan, bacaan-bacaan yang diberikannya sangat membosankan dan membuatnya ngantuk.
“Aku tak akan terkejut jika Gerald ternyata anak dari seorang jenius yang berbakat didunia bisnis Glory.” Bisik Evianna yang juga diam-diam memperhatikan Gerald.
Gloria tersenyum masam mendengar pernyataan itu. “Jangan mengada-ada Eve. Bisa saja, anakku calon pebisnis bertangan dingin ‘kan? Siapa yang tahu ... .”
Evianna mengamati Gerald dengan tangan yang bersilangan didada. “Glory ... sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi aku takut kau tersinggung.”
Gloria menatap kearah Evianna. “Apa itu?”
“Tapi jangan tersinggung ya?”
“Tidak, aku tidak akan tersinggung. Kau seperti baru mengenalku kemarin saja Eve.” Balas Gloria seraya terkekeh pelan.
Evianna mendekatkan dirinya pada Gloria kemudian berbisik pelan. “Kenapa aku merasa Gerald mirip dengan Mr. Rexford?”
Gloria meneguk ludahnya kasar, ia mulai gugup mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Awalnya aku menyangkal Glory. Aku pikir mungkin hanya kebetulan saja, karena memang lumrah ‘kan ada yang mirip? Tapi ... kemiripan mereka memang sangat banyak. Apalagi foto Mr. Rexford saat kecil ternyata mirip sekali dengan Gerald yang sekarang Glory. Lihat ini.” Evianna mengeluarkan ponselnya. Namun ia hendak memperlihatkan gambar yang mengejutkannya. Gloria menolak. Perempuan itu kemudian tersenyum dan berujar.
“Ini masih jam kerja Eve, jangan terlalu banyak berbicara.” Ujar Gloria seraya mengalihkan pandangan kearah LCD yang masih menyala, menunjukkan tabel-tabel kosong untuk ia isi.
Gloria menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Tanpa melihat foto itu pun ia tahu bahwa Gerald memang pasti akan mirip dengan Jackson. Karena bagaimanapun Jackson adalah ayah kandung dari putera kecilnya itu. Hanya saja ... ia berharap. Jackson jangan melihat puteranya. Karena ia yakin, ketika Jackson melihat puteranya itu. Jackson akan dengan segera menyadari kemiripannya dengan sang putera dari detik pertama ketika mereka bertemu.
Bertepatan dengan isi pikiran Gloria yang baru saja selesai memikirkan tentang Jackson dan Gerald. Jackson muncul. Laki-laki itu berjalan memasuki gedung perusahaan dengan Robin yang berada di sampingnya. Waktu berjalan terasa begitu lambat ketika melihat Jackson yang melangkah masuk. Gerakan laki-laki itu seolah seperti gerakan slow motion yang ingin segera ia percepat. Ya ... ingin sekali ia percepat agar laki-laki itu segera meninggalkan lobi dan memasuki ruanga tempatnya bekerja. Jangan sampai ... laki-laki itu menyadari keberadaan puteranya yang masih fokus membaca sebuah buku.
Tubuh Gloria semakin menegang ketika melihat Jackson yang justru menghentikan langkahnya di lobi. Setelah itu menghadap kearah puteranya dan mulai melangkah ... mendekati puteranya. Gloria yang melihat hal itu, segera berlari dengan langkah lebar kemudian menahan lengan Jackson untuk tidak menurunkan buku yang menutupi wajah puteranya itu. setelahnya ia berdiri didepan Jackson. Menghalangi puteranya dari jangkauan laki-laki itu.
“Jangan sentuh anak saya Mr. Rexford. Sudah cukup hari ini anda melakukan kesepakatan dengan saya. Jangan kau ganggu anakku juga.” Desis Gloria dengan tajam.
Jackson tertawa masam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. “Ah ... anakmu ternyata?”
Gloria tak menjawab pertanyaan itu. ia hanya menatap kearah Jackson yang kini menatapnya dengan alis mata yang menaik. “Jangan berlebihan Ms. Giovanni. Jangan bertingkah seolah aku akan menculik anakmu.” Lanjut Jackson.
Mendengar kata menculik, membuat Gloria meneguk ludahnya kasar. Karena ... justru itulah yang memang ia takutkan. Ia takut Jackson akan menculik puteranya ketika Jackson mengetahui paras sang putera. Ia takut Jackson mengambil Gerald darinya. Apalagi ... dengan kenyataan Jackson megingat masalalu yang terjadi diantara mereka, ia yakin dengan sekejap laki-laki itu pasti menyadarinya dan akan mengambilnya tanpa berpikir lebih panjang lagi.
“Aku hanya ingin melihatnya. Aku hanya penasaran dengan anak seperti apa yang membaca, bacaan orang dewasa ini?”
“Tidak. Saya tidak mengijinkan anda melihat putera saya Mr. Rexford.” Tegas Gloria dengan nada yang menggebu-gebu dan d**a yang naik turun karena nafas yang memburu.
Jackson menaikan satu alisnya. “Kenapa?”
“Karena dia puteraku! Maka aku berhak melarangnya untuk bertemu dengan siapapun!” desis Gloria lagi dengan rahang yang mengatup tajam dan juga kedua tangan yang mengepal.
Jackson tertawa sengau, kakinya mengambil satu langkah lebih dekat dengan Gloria. “Tingkahmu ... benar-benar membuatku curiga Gloria. Selain kejadian seratus ribu dollar, kejadian apa lagi yang terjadi diantara kita?”
Mata Gloria mengerjap. Seratus ribu dollar? Apa maksudnya?
“Dua ribu sebelas, di kedai tempatmu bekerja part-time.” Ujar Jackson.
Iris mata Gloria membulat, ia kemudian menghadap kearah Jackson. Menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam. Jadi ... kejadian masalalu yang Jackson kenal adalah kejadian itu? bukan kejadian tentang malam mereka?
Gloria meneguk ludahnya kasar.”Tidak. Tak ada lagi.”
“Jangan mencoba membohongiku Gloria. Karena ketika semua kebohonganmu terungkap. Aku pastikan kau akan kehilangan semuanya.”
“Jika aku bilang tidak berarti tidak, Mr. Rexford. Silahkan pergi. Jangan mengganggu puteraku.”
Jackson melangkah semakin mendekat. “Sikapmu ... membuatku semakin yakin bahwa kita memang memiliki masa lalu bersama Gloria.” Jackson mengeluarkan seringaiannya. “Jika kau tidak mengatakannya dengan jujur dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, jangan salahkan aku ... jika aku menyelidikinya dan jika terbukti ... kita memiliki hubungan lain di masalalu ... jangan salahkan aku, ketika aku mengambil anak itu secara paksa.”
***