Prolog

534 Words
*POV RENATA* Aku merasa sendiri di sini, jelas saja karena ini sekolah baru lagi, dan tentu saja teman-teman baru lagi. Aku tidak tahu apa alasan papa selalu pindah kota yang otomatis turut memindahkan sekolahku hampir setiap tiga tahun sekali. Setiap ditanya jawabannya selalu sama. Papa orang bisnis, perlu tempat baru untuk mengembangkan bisnis papa. Aku hanya dituntut sedikit lebih bersabar dan berdoa semoga papa menemukan tempat yang paling tepat untuk mengembangkan bisnisnya. Kulangkahkan kaki dengan pelan menyusuri sekolah baru ini. Tidak ada yang menarik selain lantai koridor bagiku saat ini. Di dalam hati aku terus merutuki Papa yang mengantarku terlalu pagi. Sambil terus menatap gerbang sekolah, aku melihat satu persatu siswa siswi berdatangan memasuki sekolah ini. Ada yang jalan kaki sambil mengobrol dan bercanda, ada yang menaiki sepeda, ada juga yang diantar entah oleh orang tua ataupun kerabatnya, ada juga yang memilih menggunakan angkutan umum sebagai alat transportasinya. "Hai, kamu siswi baru juga ya?" Aku menoleh ke asal suara ramah tersebut, senyumnya manis, wajahnya juga bisa dibilang tampan meski perawakannya agak berisi, cenderung gemuk. Anak laki-laki yang usianya aku perkirakan seusia dengan aku itu kini duduk di sebelahku. Sambil tetap tersenyum dia menyodorkan tangannya. "Perkenalkan namaku Marcell Putra Anggara, aku masuk kelas satu C," ucapnya sembari tersenyum, memunculkan sebuah lesing pipit di pipi sebelah kirinya. Belum sempat aku membalas uluran tangannya, dari lorong kudengar seorang anak perempuan memanggil-manggil namaku. Dengan napas tersengal dia berhenti tepat di hadapanku. Satu-satunya orang yang kukenal semenjak aku menginjakkan kaki di kota ini. Anak perempuan sebayaku yang kenalan saat pendaftaran siswa baru beberapa minggu lalu, namanya Nancy Lucita, dan kebetulan rumah kami juga masih di satu kawasan yang sama. "Ren, maaf ya aku tadi kesiangan jadi tidak sempet menjemputmu di rumah." "Iya tidak apa-apa. Tadi ada Papa yang mengantarku." "Ya sudah ayo kita masuk kelas, kamu sudah tahu belum masuk kelas apa?" Aku cuma menggeleng pelan. Nancy menarik tanganku tanpa memedulikan anak laki-laki di sebelahku. Aku menoleh sekilas, dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aku hanya bisa membalas senyum tulus itu dengan sebuah anggukan kepala. Tak lama kulihat ada seorang anak laki-laki lain mendatangi Marcell dan menepuk bahunya. Sepertinya pukulan ringan dari seorang anak laki-laki berkacamata itu mengalihkan pandangan Marcell dariku. ---+++--- *POV MARCELL* Hampir saja aku berkenalan dengan perempuan itu, tapi ada anak centil datang tanpa permisi menarik tangannya pergi dari hadapanku. Aku mendengkus kesal, karena gagal berkenalan dengan perempuan cantik di pagi yang cerah ini. It's oke, masih ada besok dan besoknya lagi kesempatan untuk berkenalan dengan dia. "Woy di sini rupanya. Aku mencarimu sejak tadi." Tonjokan ringan dari sahabatku cukup mengejutkanku. "Siapa? Anak baru juga?" "Iya, tapi dengar dari anak-anak lain dia pindahan dari luar pulau." Aku menjawab malas lalu pergi meninggalkan Fallen sahabatku. Fallen mengejar dan merangkul pundakku. "Jangan-jangan dia berasal dari suku anak dalam di Jambi, atau penduduk asli suku dayak. Pantas saja bentuk mukanya beda. Seperti bukan pribumi." Fallen tertawa lebar saat mengatakan hal bodoh itu. "Jangan sembarangan kalau memakai istilah pribumi, Fal!" Aku bergegas meninggalkan Fallen. Karena tidak ingin terlambat masuk kelas baru saat masa orientasi siswa seperti ini. Malas jika harus berurusan dengan kakak-kakak OSIS yang sok berkuasa dan menyebalkan. ---+++--- ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD