#17 : Beautiful Mistakes

1621 Words
"Hah? Salah minum?" Lily menutup mulut dengan satu tangannya sembari melirik gelas mocktail yang telah tandas masuk ke dalam perutnya. Lalu maniknya melirik kembali pada gelas yang bentuknya mirip di sebelah gelas kosong, yang sama sekali belum tersentuh. Gelas miliknya. Eh?? Berarti benar dong dia salah minum?? "Nggak apa-apa sih. Toh bukan minuman beralkohol juga, jadi aman. Benar kan, Celline?" Tanya Trevor kepada gadis yang duduk di sebelahnya. "Ha? Oh, i-iyaa, Pak. Itu cuma Red Sanria (sejenis mocktail) kok. Ngga ada alkoholnya," sahut Celline sembari mereguk minumannya sendiri dengan ekspresi gugup. Maniknya yang berlapis lensa kontak ash grey menatap Lily penuh kesal. 'Sial! Kenapa malah jadi si Lily yang minum sih??' Lily mengedikkan bahunya cuek, lalu dengan santainya menukar gelasnya yang masih penuh untuk Trevor. "Maaf, saya sudah minum dari gelas yang salah. Nih, saya ganti." "Lily, acaranya masih belum selesai. Kamu mau kemana?" Tegur Trevor ketika melihat sekretarisnya yang turun dari kursi bar. "Kan tadi saya sudah bilang mau balik saja ke kamar? Lagipula Pak Trevor sudah aman juga kan sama Celline, nggak akan ada yang berani ganggu karena sudah ada partnernya sekarang. Kalau begitu saya permisi, Pak." Trevor hanya diam dan mengawasi Lily yang mulai berjalan menuju pintu keluar club. Lelaki berkaca mata itu pun memanggil bartender, untuk memberitahukan bahwa semua pengeluaran hari ini dialah yang akan menanggung biayanya. "Saya duluan ya, Celline. Silahkan bersenang-senang dengan yang lain, semuanya saya yang traktir sebagai bagian dari bonus," ucap Trevor sambil tersenyum kepada gadis berwajah perpaduan oriental dan Eropa itu. "Pak Trevor kok udahan? Ini kan baru jam setengah dua belas, bagian panasnya belum juga belum tiba," cetus Celline dengan kerlingan menggoda. Dengan sengaja, ia menumpangkan satu kakinya yang jenjang ke atas kaki lain, membuat gaun mini ketatnya makin tertarik dan menampakkan kemulusan kulitnya. Cara terakhir Celline untuk membujuk bosnya yang tampan dan yummy ini agar terpikat. Dan Trevor pun adalah lelaki normal yang tidak akan mengalihkan pandangannya dari keindahan yang terpampang di depan mata. Tapi ia juga cukup mawas diri bahwa keindahan fisik itu hanya untuk dilihat, karena makna yang sesungguhnya dari keindahan itu sendiri bukanlah hanya sekedar fisik belaka. "Saya terlalu tua untuk menikmatinya, Celline," sahut Trevor seraya tersenyum kecil, lalu melangkah pergi meninggalkan Celline yang diam terpaku begitu saja. *** Sudah hampir lima menit berlalu dan dua kali bel pintu kamar Juniorr Suite itu ditekan oleh Trevor, namun tak juga pintunya terbuka. Aneh. Apa Lily tidak kembali ke kamarnya? Atau dia sudah tertidur? Mengingat betapa nyenyaknya gadis itu kala terlelap di dalam mobilnya waktu itu, sampai-sampai dia tidak terbangun ketika Trevor menggendongnya masuk ke dalam Penthouse. Haha. Persis seperti anak kecil. Karena terlalu lama menunggu, akhirnya Trevor memutuskan untuk menelepon Lily saja. Jujur, ia agak khawatir karena sekarang sudah larut. Mudah-mudahan saja Lily benar-benar tertidur di dalam kamar. Namun belum sempat ia membuka kunci layar ponselnya, tiba-tiba saja pintu itu telah terbuka dengan sendirinya dari arah dalam disertai munculnya seraut wajah gadis yang ia kenal. "Pak Trevor?" "Lily?" Trevor mengernyit bingung melihat wajah Lily yang merah dan dipenuhi keringat. "Kamu kenapa bisa merah begitu? Alergi sesuatu apa gimana?" Lily menggigit bibir, lalu menyeka keringat di wajahnya dengan punggung tangan. "Uhm... saya juga ngga tahu, Pak. Tiba-tiba saja badan saya rasanya panas, dan..." Trevor menaikkan alisnya bertanya-tanya, ketika Lily malah terdiam alih-alih melanjutkan perkataannya. "Dan... apa?" Tanya lelaki bersurai coklat pirang itu, tapi Lily tetap saja diam dan hanya menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Atau saya carikan obat demam buat kamu dulu ya? Tunggu saja di kamar." Trevor membalikkan badannya, bermaksud untuk mencari obat-obatan yang biasa selalu ia bawa jika sedang dinas. "Pak Trevor?" Tiba-tiba saja Lily telag memegang tangan Trevor, hingga membuat langkah lelaki itu pun seketika tertahan. "Ada apa, Lily? Apa kamu butuh sesuatu yang lain juga? Katakan saja, nanti akan saya carikan." Lily termangu untuk beberapa saat seperti seseorang yang sedang kebingungan. Namun beberapa saat kemudian, manik beningnya mengerjap cepat. Disusul oleh kepalanya yang menggeleng kuat. "Ng-nggak. Nggak. Itu, uhm... terima kasih?" Tukas Lily sambil meringis, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Ini sangat membingungkan. Senyum kecil yang menghiasi bibir Trevor membuat Lily terpaku menatapnya. "Tidak masalah, Lily. Kalau begitu saya akan ke kamar dulu mengambil obat-obatan untuk kamu." Lily mengangguk kecil. Membiarkan lelaki tampan blasteran itu berlalu ke arah kamar Presidential Suite miliknya. Gadis itu pun cepat-cepat menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat, lalu bersandar di baliknya. "Oke, atur napas, Lily! Hufff... hufff... haaah!!" Lily mengulang cara pernapasan yang ia pernah lihat di televisi, tapi beberapa saat kemudian dia pun baru tersadar kalau sudah mengikuti cara pernapasan yang salah. "Duh, bodohh banget! Itu kan cara bernafas untuk ibu-ibu yang mulai pembukaan mau melahirkan!" Sungut si gadis absurd itu sembari menoyor kepalanya sendiri. Tapi Lily benar-benar bingung dengan reaksi tubuhnya yang semakin panas nggak jelas. Apalagi ketika melihat Pak Trevor yang... tampan. Amat sangat, sangat, sangat, tampan. Dan... menggiurrkan. Membuat Lily ingin mengulang lagi ciumann panas mereka di dalam mobil waktu itu. Ingin merasakan malam di waktu dirinya dan lelaki itu sedang mabuk. Meskipun Lily tidak terlalu detail mengingat semuanya di malam itu, tapi ia ingat bahwa Pak Trevor sangat mahir memancing gaiirahnya. Meskipun dari tampak luar seperti seseorang yang pendiam dan dingin, tapi di ranjang... Pak Trevor benar-benar panass. 'Eh??' "Tidaaakkk!!! Aku kenapa sih, ya ampuun!!" Lily pun mulai membentur-benturkan kepala mesuumnya ke daun pintu, berharap otaknya balik normal dan gembel seperti biasa. Mending gembel deh, dibanding cabuul!! "Ini nggak bisa dibiarkan!" Sergah gadis itu gusar. Mungkin dengan mandi berendam di dalam air dingin bisa meredakan seluruh tubuhnya yang terasa panas ini, serta meredakan pikirannya yang mulai iya-iya. Ya, sepertinya itulah yang akan ia lakukan sekarang. *** Sesampainya di kamar, Trevor pun bergegas membongkar isi travel bag-nya. Mencari dompet berukuran sedang berisi obat-obatan. Menjadi seorang ayah tunggal membuatnya terbiasa selalu siap dengan segala kondisi setiap kali bepergian, termasuk menyiapkan segala keperluan medis sederhana. "Ini dia," guman Trevor senang, ketika berhasil menemukan parasetamol sebagai salah satu penurun panas. Ia juga meraih termometer untuk mengukur suhu tubuh. Trevor pun merapikan kembali semuanya, sebelum melangkah menuju pintu keluar untuk kembali ke kamar Lily. Namun alangkah kagetnya lelaki itu saat ia membuka pintu, karena kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja berdiri diam di tepat di depan pintunya! "Lily? Kamu sejak kapan berdiri di depan pintu kamar saya?" Trevor bertanya antara kaget dan bingung. "Baru saja, saya bahkan juga baru mau memencet belnya," sahut gadis bersurai panjang itu. "Kamu menunggu obat ya? Ini saya baru menemukan--" Ucapan Trevor pun sontak terhenti. Bukan tanpa sebab, melainkan karena Lily. Dengan manik biru safirnya yang membelalak kaget, Trevor terlihat semakin bingung karena tiba-tiba saja Lily menaruh satu jemarinya di bibir lelaki itu, sebuah titah tanpa kata agar bosnya itu tak lagi berkata-kata. "Sshh... sudah. Pak Trevor tidak perlu repot-repot mencarikan obat untuk saya. Karena satu-satunya obat yang saya inginkan adalah..." Lily sengaja menggantungkan ucapannya. Jemarinya yang semula berada di bibir Trevor, kini telah berpindah untuk mendorong d**a bidang penuh otot lelaki itu. Hingga membuat tubuh Trevor terdorong ke belakang, kembali memasuki kamar Presidential Suit-nya. Trevor tak dapat berkata-kata ketika melihat langkah anggun nan menggoda dari sekretarisnya itu ketika ikut masuk ke dalam kamarnya. Lily pun menutup pintu di belakangnya sembari menyunggingkan senyum yang teramat sangat manis. Senyum yang membuat tenggorokan Trevor terasa kering butuh pelepas dahaga. "Lily, ada apa denganmu?" Tanya Trevor yang mulai merasakan jantungnya berdegup kencang. Gestur tubuh sekretarisnya jelas sekali sedang menggoda dirinya. Tapi masalahnya Lily tak pernah seperti ini sama sekali sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi? "Pak, tau nggak kenapa menara Pisa itu bentuknya miring?" Cetus Lily tiba-tiba, yang membuat Trevor semakin bengong. "Hah?" Trevor yakin suhu tubuh Lily pasti cukup tinggi, jadi ia mengira kalau gadis ini sedang mengigau. "Menara Pisa jadi miring karena... ketarik sama senyum bapak yang ganteng itu. Hahaah...!!" Lily pun menjawab teka tekinya sendiri dan tertawa sendiri. "Hah?" Ulang Trevor yang semakin tidak mengerti dengan polah absurd sekretarisnya. "Ck. Ini tuh ceritanya saya lagi ngerayu Bapak. Masa ngga ngerti sih?" Sungut Lily yang sebal melihat wajah bingung Trevor. "Atau mungkin, Bapak ngga suka dirayu? Lebih suka action langsung ya?" Goda Lily lagi, dengan melangkah lebih dekat menuju bosnya berdiri. "Hm. Pak, jujur saya suka sama parfum yang Bapak pakai. Wanginya segar, maskulin. Cocok sama sosok Pak Trevor," guman Lily yang kini wajahnya hanya berjarak kurang dari sejengkal dengan wajah Trevor. Lelaki bersurai coklat pirang itu pun menelan ludahnya yang terasa berat, ketika mendengar suara lembut yang terurai dari wajah cantik dengan senyum cerah yang membuatnya terpukau. "Lily, apa kamu sadar sama apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Kamu menggoda saya. Dan saya tidam yakin akan bisa menahan diri untuk tidak menyergap kamu sekarang juga," ucap Trevor dengan nada penuh peringatan. "Bapak nggak perlu menahan apa pun kok," guman Lily sembari menjulurkan telunjuknya untuk menyusuri dasi biru tua Trevor, yang semakin membuat darah lelaki itu serasa mendidih karena semakin panasnya hasratt yang menggelegak di tubuhnya. "Kamu yakin nggak akan terbangun keesokan harinya dan mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahan?" Cetus Trevor mengulang perkataan Lily waktu itu. Lily tertawa kecil mendengarnya. "Saya benar kan, kalau memang yang terjadi adalah kesalahan?" Sergahnya. "Tapi, Pak Trevor, saya nggak keberatan kok. Ayo kita buat kesalahan yan terindah malam ini." Bisikan seduktiff itu membuat kepala Trevor semakin pening karena gellora yang menerjangnya bagai air bah. Tanpa menunggu lagi, Trevor pun langsung menyambar bibir penuh itu. Dengan ganas dan seperti orang yang sedang kehausan, lelaki itu melumatt dan menyesap bibir selembut es krim dan semanis madu itu tanpa jeda dan tanpa ampun. "Pak..." Lily mendesahh pelan saat Trevor mulai membuka satu persatu kancing kemeja putih gadis itu. "Diam. Kamu yang sudah memancing saya, Lily. Dan sekarang kamu yang menanggung sendiri akibatnya," geram Trevor sembari menggendong tubuh sensuall itu menuju master bedroom.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD