Masih di posisi yang sama. Sekalipun Illeana berusaha untuk melepaskan diri, tapi William tak membiarkannya begitu saja. Pria itu semakin lekat saja memerangkapnya di daun pintu yang terkunci itu. Illeana menahan napas ketika William kian mendekatkan dirinya, mencekal dua tangannya dengan kuat. “Asal kau tahu, aku tak berbohong. Nenek memang meninggalkan sesuatu untukmu, Leana. Dan karena itu, aku pikir untuk menjadikannya sebagai kesempata agar kau datang,” kata William dengan suara pelan tapi jelas karena di depan wajah Illeana sekali. Tatapan mereka saling bertemu, menusuk satu sama lain dengan tajam. “Kau pikir, hal itu bisa di jadikan sebagai kesempatan, hah? Kau, sama saja berbohong. Kau, membuat aku tak percaya,” balas Illeana. “Lantas, bila aku tak menggunakan itu, apa kau

