8. Karena Dia

1209 Words
Melemparkan tas lalu menghempaskan dirinya ke sofa, Illeana membuang napas kasar sembari menatap langit-langit rumahnya. Sekitarnya masih berantakan, beberapa kotak yang masih terbungkus rapi, beberapa juga sudah di buka. Dia belum sempat merapikan barangnya yang baru tiba kemarin sore. Setibanya di Negara kelahiran, Morphile itu, Illeana sudah disibukan dengan pekerjaan dan pengaturan emosi dalam dirinya. “Ini masih terlalu sore untuk makan malam,” gumam Illeana seraya melirikjam di tangannya. Setelah beberapa saat diam di sofa, gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, menyapu setiap barang yang bertumpuk lalu kembali menghela napas kasar. “Baiklah. Ayo kita bereskan ini!” katanya pada diri sendiri. Bangun dari duduk nyamannya, Illeana mulai beraksi untuk membereskan barangnya yang ada. Pindahan itu memang cukup merepotkan. Setelah berganti baju santai gadis itu mulai sibuk lagi. Masih siang sebenarnya, tapi sang atasan sudah membuatnya pulang lebih awal jadi dia memanfaatkan waktunya untuk menciptakan kenyamanan dalam rumah barunya. Langit sudah gelap ketika dia mengedarkan pandangannya seraya menghela napas lega. Semuanya sudah tertata dengan rapi dan bersih jadi tak pelak bila senyum lebar menghiasi wajah cantinya yang berantakan karena keringat dan debu tapi sebagai gantinya kenyamanan itu membuatnya rileks. Suara bel pintu rumahnya berbunyi. Illeana menoleh ke pintu sambil mengerutkan dahi. Seingatnya belum ada yang tahu rumah barunya itu. Sebelum membuka pintu, gadis itu melihat ke lubang kecil di pintu untuk memastikan siapa yang datang, dan setelah mengenalinya dia membukakan pintu. “Lama sekali kau membuka pintu,” keluh seorang gadis seusianya. “Maaf, aku sedang beres-beres. Aku tidak tahu kau akan datang Je,” balas Illeana. Jeanika menatap Illeana. “Aku menghubungimu, tapi kau sama sekali tidak mengangkatnya jadi yah aku datang saja. Lagi pula, kau sudah mengirimkan alamat rumahmu sebelumnya, jadi itu mudah,” jelas gadis itu. “Oh,” Illeana menganggukkan kepalanya. “Kau sudah makan malam belum?” Jeanika bertanya dan Illeana menggelengkan kepalanya. “Aku baru saja selesai berbenah,” kata Illeana. “Waktu yang pas sekali. Ini, aku membawa daging sapi premium sebagai hadiah kembalinya kau dan rumah barumu.” “Kau memang yang terbaik Jeanika, terima kasih,” ucap Illeana. “Lihat, siapa dulu, dong?” Jeanika membalas dengan bangga. Mereka tertawa. “Aku akan mandi dulu, bisakah kau siapkan makan malam untukku? Lapar sekali,” keluh Illeana seraya menggedipkan kedua kelopak matanya. Jeanika tertawa melihat kemanjaan Illeana itu. “Baiklah. Cepat mandi, aku akan menyiapkan makan malam untukmu.” “Terima kasih.” Illeana tinggal di sebuah apartemen yang memiliki tiga kamar, ruang tamu yang menyatu dengan dapur, dan pemandangan setrategis. Sementara Illeana mandi, Jeanika menyiapkan makan malam bersama. Tidak harus mewah tapi cukup untuk mereka berdua saja. Persahabatan Illeana dan Jeanika terhitung sudah sejak lama, mungkin sebelum Illeana mengenal William. Ada banyak kisah yang mereka rajut bersama walau dengan jarak yang jauh sekalipun. Jeanika adalah satu-satunya teman yang selalu ada untuk Illeana hingga saat ini. Setelah mandi dan makan bersama sang sahabat, keduanya duduk di sofa dengan santai di temani cemilan juga minuman ringan. “Sudah dua hari lebih kau kembali ke Morphile, bagaimana pekerjaanmu?” tanya Jeanika memulai pembicaraan. Illeana diam beberapa saat, berpikir. “Hm. Ini masih permulaan aku pikir,” jawabnya tak yakin. Ekspresi Illeana itu menarik perhatian Jeanika. “Sepertinya terjadi sesuatu?” Jeanika menyelidik. Menatap sang sahabat beberapa saat, Illeana mempertimbangkan apakah harus menceritakan pertemuannya dengan William? Pada akhirnya gadis itu mengangguk. “Siapa yang menyangka bahwa dia akan menjadi atasanku,” kata Illeana seraya mendesah, mengarahkan tatapan ke langit-langit. Tapi Jeanika seperti butuh waktu untuk menangkap maksud dari ucapan Illeana itu. “Dia? Siapa?” Lirikan bola mata Illeana tertuju pada Jeanika, menatap cukup lama. Nama itu tersangkut di kerongkongannya membuat dia kesulitan untuk mengucapkannya secara langsung. “Jangan bilang, dia itu –“ Mata Jeanika menyipit ketika menyadari apa maksud dari ekspresi Illeana. Sejenak, Jeanika berharap Illeana membantah, menggelengkan kepala dan memberi tahu dia bahwa orang yang di maksudkan bukanlah orang yang dia pikirkan. Namun, anggukan sekilas dari Iilleana menjawabnya. “Tidak mungkin? Bagaimana bisa begitu?” Illeana menggeleng. “Aku pun tak tahu,” katanya mengarahkan tatapan ke depan dan menewarang jauh. Jeanika masih mencerna. “Maksudmu, dia itu, William? Sungguh? Bagaimana mungkin?” Diam, Illeana tak memberikan tanggapan apapun. Seolah tak percaya dengan apa yang dia tebak dari Illeana, Jeanika menggelengkan kepala. “Demi apa? Apakah ini yang disebutkan sebagai takdir atau apa? Kenapa kalian bertemu di saat kau sudah bisa melupakannya?” “Hei!” Illeana menegur tak setuju dengan apa yang Jeanika katakan. Menghela napas panjang. Illeana tidak ingin terjadi sesuatu lagi di antara dirinya dan sang atasan. Tapi, Illeana sadar ada yang tidak beres dengan pria itu. “Setelah sekian lama, kalian akhirnya bertemu sebagai bawahan dan atasan, apa lagi bila itu bukan takdir? Mungkinkah itu adalah kebetulan yang di sengaja?” Tatapan Illeana melayang pada Jeanika dan membungkamnya seketika. Jeanika mengangkat tangannya. “Tapi, aku masih tidak bisa melupakan apa yang telah dia lakukan padamu dulu, Na. Aku menjadi marah bila teringat masa itu,” kata Jeanika yang mengubah intonasi suara dan ekspresi wajahnya itu. Untuk hal itu, Illeana hanya mampu diam ketika di dalam benaknya terbayang masa itu. “Karena dia kau harus pergi dan selama itu. Karena dia juga yang membuatmu menderita selama beberapa tahun itu. Karena juga yang membuat hatimu terluka, rasanya bila ingat masa itu aku marah.” Jeanika tidak tahu betapa marahnya Illeana ketika bertemu secara langsung. Haruskah mereka bertemu? Urusan apa yang belum selesai di antara mereka? “Aku pikir, kepergian aku sepuluh tahun itu sudah menyelesaikan segalanya? Tapi, sepertinya masih ada urusan yang belum usai,” kata Illeana. “Mungkin saja, tapi apa?” Sayangnya, Illeana pun tak tahu apa itu dan hanya bisa menggelengkan kepala sebagai tanggapan atas pertanyaan sahabatnya itu. Urusan apa? “Namun, ada sesuatu yang aneh,” kata Illeana masih menerawang. “Apa?” “Perasaanku,” gumamnya. Jeanika menatap Illeana cukup lama, menelisik ekspresi wajah gadis itu. “Perasaanmu? Jangan bilang kau –“ “Tidak!” bantah Illeana cepat. “Bukan itu,” kilahnya. “Hanya saja, ketika bertemu dia dengan penampilan yang berbeda, aku merasa bahwa dia bukanlah yang dulu. Dan, aku merasa seperti ada yang tidak beres dengannya.” “Simpatimu tidak akan bisa berubah walaupun sepuluh tahun telah berlalu,” sindir Jeanika. Tapi tampaknya Illeana tak terpengaruh sindirian itu, dan larut dalam pikirannya sendiri mengenai keanehan sikap William. Tidak hanya itu, Illeana ingat dengan samar tentang apa yang pria itu katakan sebelum dia tertidur karena terlalu banyak minum malam itu. “Sudahlah, lupakan itu. Aku mengantuk, tidur duluan,” kata Jeanika bangun dari duduknya dan pergi ke kamar, meninggalkan Illeana yang masih duduk di sofa. Dalam kegelapan ruang tamu itu, cahaya alami dari rembulan menerobos jendela kaca besar itu. Illeana masih termenung di sana, memikirkan hal yang tak seharusnya dia pikirkan. Apakah salah bila perasaannya masih ada? *** “Kau mungkin tidak tahu, kepergianku adalah karenamu.” William kembali teringat dengan apa yang Illeana katakan ketika dalam pengaruh minuman malam itu. William juga sadar sepenuhnya dengan sikapnya yang seperti tergesa. “Kau kembali, aku takut kehilangan lagi.” Apakah William egois atau apa? Dia menunggu, tak menyangkal adanya rasa itu. Tapi di saat yang sama, dia juga tengah menjalin hubungan dengan Maria, seseorang yang sudah bersamanya lebih dari lima tahun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD