9. Jangan Sakiti Mereka

1063 Words
Illeana berkaca, penampilannya sudah siap untuk berangkat ke kantor tapi hatinya seperti enggan. “Bagaimanapun, kau harus menghadapinya, Leana,” ujar Jeanika yang muncul dari belakang gadis itu dan ikut menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamar. Menghela napas, Illeana tahu apa yang lebih baik untuknya. “Yah, andai aku belum tanda tangan kontrak, mungkin masih bisa pergi dari sana tapi sayangnya, tidak bisa,” Illeana mendesah berat. Jeanika mengangguk lalu menaruh kedua tangannya di bahu Illeana, menekankan kedua tangannya itu untuk memberikan semangat pada sang sahabat. “Aku tidak tahu apakah ini takdir atau hanya sekadar kebetulan saja. Tapi aku percaya pada waktu, ada sesuatu yang belum usai. Semangat Leana!” Tatapan mereka sama-sama tertuju pada mata di pantulan cermin. “Kau tak perlu khawatir, aku akan selalu ada saat kau butuh. Jadi, ketika semuanya terasa berat dan kau tak lagi sanggup untuk bertahan, datanglah padaku, kita minum bersama.” Jeanika menampilkan senyuman yang tulis di bibirnya. Mendengar apa yang di katakan sang sahabat, Illeana mengangguk. Sekarang sudah mulai percaya diri, bagaimanapun juga dia harus bisa bertahan dan butuh pekerjaan untuk itu, bukan? “Baiklah. Terima kasih atas semangat dan dukunganmu, Je,” ucap Illeana. Jeanika tersenyum. “Baiklah. Kita turun bareng, aku juga harus ke café dan mengecek beberapa bahan makanan di restoran. Kalau kau lapar, datanglah kapanpun. Lagi pula, jaraknya tidak begitu jauh dari tempat kerja barumu.” Illeana mengangguk dan mereka keluar dari rumah itu sambil mengobrol hangat. Ketika sampai di depan mereka berpisah. Illeana masih menggunakan kendaraan umum untuk pergi ke kantor. Daerah itu ada bus dan taksi. Jarak ke kantornya hanya beberapa menit saja. Sesampainya di depan perusahaan, Illeana di sapa beberapa orang, salah satunya adalah rekan kerjanya sendiri. Natalia menawarkan sarapan untuk Illeana tapi di tolak karena sudah sarapan tadi. Di pagi hari lift itu penuh, orang-orang mengantre di depan sambil mengobrol. Kedatangan Illeana mendapat respons baik dari karyawan. Namun, apa yang ingin di hindari justru semakin tampak, dan apa yang ingin sekali di lihat tak kunjung hadir. Illeana berusaha untuk tak menunjukan ekspresi yang dominan ketika William tiba dan menunggu antrean padahal ada lift khusus direksi. “Ikutlah denganku di lift sebelah,” bisik William. Bola mata Illeana bergerak meliriknya tapi hanya beberapa saat saja kemudian bersikap cuek. “Kau dengar?” William mengulangi berbisik. “Tidak, terima kasih. Aku lebih nyaman bila bersama yang lain,” tolak Illeana sesopan mungkin. Tapi William tidak mau mengalah, dan hendak menawarinya lagi tapi bunyi ponsel di sakunya terdengar nyaring. Terpaksa saja William menerima panggilan itu dan di saat yang sama lift terbuka Illeana masuk bersama yang lain tapi William tidak sempat. Sekilas Illeana menampilkan senyum sebelum lift itu tertutup dan itu membuat William sedikit kesal tapi panggilan telepon itu tidak bisa dia abaikan. Nada tegas yang tak terbantahkan itu memerintahkannya untuk datang ke ruangannya. Membuang napas kasar, William masuk ke lift khusus itu dan menekan tombol lantai sepuluh, di mana sang pimpinan berada yang tak lain adalah ibunya sendiri. William tiba tak lama kemudian dan berjalan ke pintu ruangan yang tertutup rapat, sebelum masuk dia mengetuknya lebih dulu sampai suara tegas dari dalam ruangan itu mengizinkannya untuk masuk. Wilma Anxieti, wanita anggun yang tegas itu tengah duduk di kursinya menunggu kedatangan sang putra yang terlihat begitu enggan. “Aku akan langsung saja. Kau tak mengangkat teleponku, jadi aku terpaksa bicara denganmu di sini,” ujar Wilma. “Katakan saja, dan jawabanku tetap sama,” balas William bahkan sebelum sang ibu mengatakan apapun. Menghela napas panjang, Wilma menatap sang putra tajam. “Aku tidak akan basa-basi, tapi apa yang kau lakukan pada Illeana?” Pertanyaan itu tidak menyentuh inti alasan Wilma memanggil William ke ruangannya. “Apakah aku harus menjelaskannya dan membuat laporan?” balas William. Wilma hanya mengangguk, itu sudah cukup sebagai jawaban bahwa William menolak berterus terang mengenai sikapnya terhadap Illeana. “Kalau begitu, aku akan mengingatkan. Hati-hati dalam bertindak, tidak hanya kau yang akan menjadi bahan pembicaraan, tapi sikap itu juga akan menempatkan Illeana di posisi yang sulit,” jelas Wilma tanpa ekspresi apapun di wajahnya yang menandakan kalau dia sedang serius sekarang. Tidak ada tanggapan dari William selain diam. “Satu hal lagi, kau harus menentukan sikap untuk Maria.” Begitu menyebutkan nama itu, William mengangkat wajah dan menatap sang ibu. “Apakah kau akan terus bersikap seperti itu pada Maria? Tidakkah kau tahu bahwa dia juga menyesalinya? Dia juga –“ “Bila tidak ada lagi yang ingin di sampaikan, aku permisi,” sela William. “William!” Nada suara Wilma naik, memanggil dengan tegas. “Jangan sakiti keduanya dengan sikapmu itu.” Setelah mendengar itu William keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Wilma yang menarik napas panjang. Bersandar di kursinya, tatapan Wilma menerawang lalu kedua matanya tertutup rasa pusing menyerang kepalanya karena sikap sang putra yang berubah. Wilma bukan tidak tahu apa yang William lakukan pada Illeana kemarin yang mengatur rapat secara sepihak, dan tentu saja, setiap gerak gerik William dia awasi. Namun, tidak hanya oleh Wilma sebagai pimpinan WA Jewerly, atau sebagai seorang ibu, tapi juga ada orang yang dari perusahaan induk yang mengawasi sikap William, bagaimana Wilma tidak khawatir terhadap nasib sang putra? Sementara itu, William menghempaskan dirinya ke kursi lalu memijat pelipisnya yang berdenyut. Padahal masih pagi, mengapa ibunya sudah mengungkit hal yang selalu ingin William lupakan dan hindari? Tapi, apa yang di katakan Wilma memang benar, tidak seharusnya William menyakiti dua orang sekaligus. Menarik napas panjang, William mengarahkan pandangannya ke depan, di mana ruangan Illeana masih bisa terlihat olehnya. Gadis itu sedang sibuk di balik layar computer. Sudah ada materi yang harus dia kerjakan jadi tidak mungkin lagi untuk bersantai-santai. Illeana sangat suka menggambar, dan keahliannya dalam menggunakan pensil tampak begitu piawai. Menggoreskan ujung pena di atas kertas khusus lalu membentuk garis dan pola. Dia begitu fokus sampai tak menyadari tatapan William yang menembus kaca tebal ruangannya itu. “Apakah aku akan menyakitinya lagi?” William bergumam di dalam hati tanpa mengalihkan tatapan dari ruangan Illeana. Teringat kembali dengan apa yang gadis itu ucapkan dalam pengaruh minuman, dan mengaku bahwa kepergiannya itu adalah karenaya juga, karena William dia memilih pergi tapi itu menghadirkan pertanyaan baru bagi William. “Apa yang aku katakan sehingga dia berpikir demikian?” Semakin William mencoba mengingat, semakin dia lupa dengan apa yang dia lakukan atau ucapkan yang menjadi penyebab perginya Illeana sepuluh tahun lalu. Tapi, bila dia ingat, apakah bisa menerimanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD