10.Dia Adalah Masa Lalu

1109 Words
Tiba waktunya istirahat makan siang. Illeana baru menghentikan pekerjaannya. Gadis itu mengangkat wajah, mengintip lewat computer yang menyala di mejanya dan mengarahkan pandangan ke luar ruangan. Maria datang lagi dan membagikan makan siang untuk tim itu. Illeana tidak mngerti, tapi Maria di sambut dengan baik oleh yang lain, terutama Alex yang segera memberi tahu William. Mengacuhkan kesibutan di luar ruangannya, Illeana memilih melihat ponselnya, ada beberapa pesan masuk tapi tak segera dia buka dan baca. “Kak Illeana,” panggil Natalia. Illeana mengangkat wajah dan menatap Natalia di pintu. “Ayo makan siang dulu,” ajaknya. “Ya, aku terima telepon dulu,” jawab Illeana seraya mengacungkan ponselnya ke arah Natalia. Gadis itu mengangguk sekilas lalu kembali ke tempat yang lain berada sedangkan Illeana menerima panggilan telepon. “Halo?” “Kau kembali tapi tidak memberitahuku. Sialan kau Leana!” Suara dari sambungan telepon itu menggema, Illeana sampai harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya. “Maaf, aku terlalu sibuk untuk memberi tahu,” jawab Illeana seraya menahan senyumnya. “Sialan kau! Apa kau sibuk sekarang?” “Ya, begitulah. Lagi pula, aku kembali untuk sibuk.” “Hei, ayolah. Kau tidak rindu dengan temanmu ini? Tega sekali kau, Leana!” Illeana tertawa, bukan berarti dia lupa, hanya saja memang tak sempat memberi tahy ebih detail tentang kembalinya dia ke Negara tempatnya lahir setelah sekian lama. “Apa kau ada waktu sekarang? Ayo bertemu, kita makan siang bersama?” Tapi Illeana tak segera memberikan tanggapan, terdiam beberapa saat untuk pertimbangan. Mengingat kemarahan William kemarin, Illeana memutuskan untuk lebih berhati-hati sekarang. “Mungkin, tidak sekarang. Bagaimana kalau nanti malam? Bisakah kau jemput aku? Kebetulan sekali aku belum dapat kendaraan di sini,” katanya. Sambungan telepon itu hening beberapa saat. “Baiklah. Kau harus janji, Leana. Aku tidak akan memaafkan kau.” “Tentu saja, Jasmine. Kau tahu bagaimana aku.” “Oke. Kita bertemu nanti sepulang, sampai nanti kalau begitu?” “Oke.” “Kirimkan alamat tempat kerjamu padaku nanti.” Sambungan itu terputus kemudian. Illeana segera mengirimkan alamat kantornya pada Jamine, teman kuliah yang selalu ada untuknya hingga sekarang, sama seperti Jeanika tapi Illeana belum sempat memberi tahu keduanya kalau sudah kembali dan di mana dia tinggal sekarang. Sebelum kembali ke Morphile, Illeana hanya memberi tahu Jeanika dan Jamine kalau dia mungkin akan kembali dan berkumpul lagi bersama mereka sesering mungkin, tapi tidak tepat waktunya. Begitu sampai, Illeana memutuskan untuk langsung bekerja karena bagaimanapun Negara itu menyimpan banyak kenangan baginya. Jam menunjukan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Matahari tampak bersinar terang di langit kota Leophi yang bersih. Illeana berdiri di dekat jendela, memusatkan perhatiannya ke luar, langit yang terbentang itu seolah bisa digabai dari atap gedung tinggi di sekitarnya. Bangunan kecil di bawah tampak seperti lego. “Manajer Illeana,” Seseorang memanggil dari pintu ruangannya. Illeana berbalik, melihat siapa yang datang kali ini. Langkah kaki yang beralaskan high heels itu mendekat dengan senyum lembut di bibirnya. Maria menatap Illeana cerah. “Ini makan siang untukmu. Aku belum tahu apa yang kamu suka, jadi aku membeli makan siang yang sama dengan lainnya,” ujar Maria seraya menaruh sekotak makan siang di meja Illeana dan segelas minuman. “Oh, Anda tidak perlu repot,” balas Illeana menghampiri. “Tapi terima kasih,” ucapnya kemudian seraya melirik kotak makan siang itu di atas mejanya. Maria tetap tersenyum. “Senang bertemu denganmu. Kemarin aku belum sempat memperkenalkan diri secara langsung padamu,” kata Maria. “Halo, aku Maria, juga kekasihnya Direktur William, mohon pengertiannya.” Illeana terdiam menatap tangan Maria yang terulura padanya. “Halo, aku Illeana,” balasnya singkat seraya meraih tangan Maria yang masih menunggu balasannya. Senyum Maria tetap bertahan meskipun sorot matanya tak enak untuk di lihat. Illeana sadar dengan cara perkenalan diri Maria yang menggaris bawahi perannya di sisi William dan memberi tahu Illeana bahwa dia tak akan mungkin memiliki kesempatan. “Senang bertemu denganmu. Mohon bantuannya untuk Direktur William,” ucap Maria seraya melepaskan jabat tangan mereka. “Tentu, itu sudah menjadi tugasku.” Illeana membalas tapi entah mengapa perasaanya tak nyaman seolah Maria mengintimidasinya dalam diam. “Kalau begitu, aku pamit. Terima kasih perkenalannya, ke depannya kita pasti akan sering bertemu,” kata Maria. Illeana diam. “Aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat menikmati makan siangnya. Aku pergi.” Anggukkan kepala dari Illeana cukup sebagai tanggapan untuk Maria yang akhirnya meninggalkan ruangan Illeana. Menatap kotak makan siang itu, entah mengapa nafsu makan Illeana seolah hilang begitu saja. Tapi untuk menghargai, Illeana membukanya lalu makan beberapa suap sambil sesekali melirik ke luar ruangan. Maria pergi ke ruangan William tapi yang di lakukan pria itu hanya diam saja, menanggapi dengan cuek. Illeana tidak paham tapi dia merasa ada yang salah dengan sikap pria itu. Teringat dengan kata-kata yang di sampaikan Maria padanya beberapa saat lalu. Illeana paham betul, tapi kenapa Maria sampai mempertegas hubungannya dengan William? Lagi pula, bukan Illeana yang ingin, tapi dia terpaksa. Bila saja William bukanlah atasannya, sudah pasti dia akan mengabaikannya. Tapi, pria itu memanfaatkan sebuah pengaruh dan itu cukup membuat Illeana tak bisa berkutik. Aturan yang harus Illeana taati adalah, apapun yang di perintahkan oleh sang atasan, dia harus menurut. Entah siapa yang membuat aturan itu, dan beberapa kali Illeana menyesali tanda tangan kontrak dengan Wilma yang membawanya dari Seophi, Negara di mana Illeana meraih impiannya sebagai desainer perhiasan dan beberapa karyanya menjadi terkenal. “Itu tidak ada hubungannya dengan aku. Kenapa semua orang melihatku seolah aku akan merebutnya?” Pikir Illeana. Mungkin tidak ada yang menyadari, tapi tatapan Alex dan dua rekan baru Illeana menatapnya tak suka, apalagi bila Maria datang mereka tampak begitu senang menyambut seolah mendukung sekali hubungan antara William itu. Tapi sisanya tampak netral, bahkan beberapa tidak peduli dengan apa yang Illeana lakukan. Tapi tanpa diingatkan pun, Illeana tahu di mana batasnya. “Dia, adalah masa lalu,” gumam Illeana seraya menghela napas panjang. Namun, jauh di sudut hatinya sebuah pintu tertutup rapat. Bohong bila Illeana mengatakan tak terpengaruh dengan kehadiran, dan terutama sikap William yang begitu pemaksa padahal pria itu dulu tidak begitu. “Sudahlah, lupakan itu!” Illeana menegaskan untuk dirinya sendiri dan memilih untuk menyelesaikan karya yang sedang dia buat. Menfokuskan diri dalam pekerjaan bisa membuat Illeana melupakan masalahnya walau hanya sejenak. Lagi pula, tim yang akan dia pimpin belum begitu sibuk jadi tidak terlalu melibatnya yang lain tapi Illeana sudah mulai sibuk mempelajari hal-hal yang sebelumnya dikerjakan oleh orang lain. Sementara itu, William mencoba untuk fokus pada pekerjaannya walaupun tampak sedikit terganggu. Begitu Maria pergi, William mengangkat wajah, mengarahkan tatapan pada ruangan Illeana dan memperhatikannya beberapa saat dalam diam. Apa yang terjadi di antara mereka dulu sampai membuat William seolah damai begitu melihat wajah Illeana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD