11.Keputusan

1078 Words
Sudah waktunya pulang, Illeana merapikan meja ketika matahari menampakan senja yang hampir usai. Rekan kerjanya mulai berpamitan sementara dia sendiri menunggu waktu berlalu sembari memperhatikan pergerakan matahari dan berpikir. Ada dua hal yang Illeana tunggu, kedatangan temannya dan kepergian William tapi sepertinya pria itu masih sibuk di ruangannya bila di perhatikan. Berharap tidak berpapasan dengan pria itu dalam perjalan turun ke lobi, Illeana segera mengambil tas dan berjalan sedikit terburu. Ketika merasa aman di depan lift, siapa yang menyangka tternyata William menyusulnya dan berdiri diam-diam di belakang Illeana yang fokus pada ponselnya. [Aku di bawah.] Pesan dari Jasmine masuk ke ponselnya dan Illeana merasa begitu lega. “Kau hendak pergi kencan, Nona?” Suara itu membuat Illeana terlonjak kaget segera menoleh. William menatapnya datar. “Itu bukan urusan Anda,” balas Illeana sedikit menahan diri agar tidak lepas kendali akan emosinya. “Bagaimana jika itu adalah urusanku?” timpal William enteng. “Sembarangan.” Illeana segera masuk ke dalam lift begitu terbuka dan menekan tombol tutup secepat mungkin berharap William tak satu lift dengannya. Sayangnya, itu percuma karena langkah lebar kaki William telah lebih dulu memasuki lift sebelum tertutup. Illeana menutup mata seketika, menahan emosi. “Waktu sudah hampir malam, tidak baik seorang gadis pergi sendiri,” kata William penuh dusta. Illeana memutar bola matanya jengah dan memilih melipir di sisi lift sambil menunggu pintu terbuka. William juga diam, berdiri tak jauh dari Illeana bahkan tak sungkan menatap dengan terang-terangan pada gadis itu yang membuatnya risih. Tentu saja, bagaimana Illeana merasa aman berada di sisi William bila setiap tindakannya penuh kekerasakan, dan tatapan yang tajam itu seolah mengulitinya diam-diam. Tapi sebaliknya bagi William yang seolah hal itu menyenangkannya. “Bisakah Anda menjaga pandangan, Tuan Muda? Tadi siang, seseorang menggaris bawahi bahwa Anda adalah kekasihnya. Jadi, mohon kendalikan tatapanmu yang seolah terpesona dengan diriku,” ujar Illeana dengan penuh sindiran. Namun, William tertawa. “Aku tak tahu bila kau ternyata pandai bicara, Nona,” balas William tak kalah menyindir. Gadis itu membuang napas tak percaya, melirik sekilas sang atasan yang bersandar pada dinding lift dengan posisi menghadapnya dengan kedua tangan terlipat. Itu menyebalkan bagi Illeana tapi menyeangkan bagi William. Hening. Di dalam lift itu tidak ada percakapan lagi selain diam dengan pikiran masing-masing. Illeana ribut dengan hatinya, sedangkan William seperti seseorang yang menikmati sebuah keindahan yang di ciptakan dengan begitu nyata. “Tidak bisakah Anda mengalihkan tatapan itu dariku? Aku tidak terbiasa di tatap sedemikian rupa oleh kekasih seseorang. Tolong, aku pun punya kekasih,” kata Illeana memberi tahu. Tapi William hanya menarik satu sudut bibirnya seolah meremehkan Illeana. “Aku tidak peduli,” balasnya datar. “Namun, kau sudah berkata seperti itu, maka biar aku mengatakan sesuatu padamu,” lanjutnya seraya mengurai lipatan tangannya di d**a dan menegakkan tubuh. Illeana diam. William berjalan dua langkah ke kepada gadis itu yang semakin merapatkan diri ke dinding lift. “Aku pikir, aku sudah memikirkannya dan sekarang aku membuat keputusan,” kata William sengaja menjeda. Illeana tak merespon tapi menunggu apa yang akan William katakan. “Dengar baik-baik Illeana Fagrethia,” William menekankan nama Illeana. “Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi, dan apa pun keadaanmu atau bahkan statusmu. Sejak kau kembali dan muncul di hadapanku, kau tidak akan bisa lolos dariku, tolong catat itu di pikiranmu.” Tubuh Illeana beku tanpa sebab ketika mencerna apa maksudnya. Tanpa di tanyakan pun, bukankah itu jelas? “Kenapa?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya. “Karena –“ “Kau akan membalas dendam padaku?” sela Illeana tanpa melihat William. Pria itu terdiam beberapa saat. “Mungkin, bisa di katakan seperti itu juga. Namun, itu adalah janji yang aku buat dengan diriku sendiri, dan aku bersumpah akan menahanmu hingga akhir tak peduli kau setuju atau tidak. Aku tidak –“ “Kenapa kau harus berbuat seperti itu?” Lagi, Illeana menyela tapi kali ini gadis itu berbalik menatap William tajam, ekspresinya tampak marah. “Apa yang akan kau lakukan padaku? Tidak bisakah kau membiarkan aku saja?” “Tidak!” William menjawab dengan tegas tak terbantahkan. “Aku akan membuatmu tak nyaman.” “Lalu, bagaimana dengan orang lain? Apa kau tak akan peduli dengan perasaan Maria?” Diam. William membiarkan Illeana mengatakan apa pun dengan mata melotot padanya. “Aku tidak akan setuju dengan keputusan gilamu,” kata Illeana pedih. “Jadi tolong, jangan lakukan apa pun, dan anggap saja aku adalah masa lalu.” William masih menatap Illeana dalam diam, mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana. Penolakan Illeana itu malah semakin membuat William mempertegas keputusannya dan bahkan mempersempit jarak di antara mereka. “Kau tak perlu melakukan apapun. Dan aku tidak peduli, sejauh apa pun kau perci, aku akan tetap datang padamu, menganggumu dan membuatmu menyesali keputusan sepuluh tahun lalu saat kau pergi meninggalkan aku.” Ketika kata-kata itu keluar secara perlahan dari mulut William, Illeana menyandarkan punggung, terpojong di dalam lift dengan tatapan mengarah pada William tak percaya. Namun, Illeana menemukan tekad yang tak tergoyahkan dari mata pria itu yang mempertegas bahwa dia tidak akan membiarkannya hidup damai. Menutup mata, Illeana berharap seseorang muncul untuk menghentikan William, dan merutuki pergerakan lift yang terasa begitu lambat. William sendiri semakin memojokkan Illeana. Semakin Illeana mata William, semakin dirinya tak bisa berkutik. Namun, kata terakhir yang William sampaikan itu cukup membuat hatinya teriris pedih. “Kau pikir, aku menginginkannya?” ucap Illeana pelan tanpa memutus kontak mata dengan William. “Kau pikir aku tak menyesal?” Mendengar apa yang Illeana katakan membuat William menghentikan langkahnya. “Aku …,” mata Illeana berkaca-kaca, keputusan yang William buat itu memberikan sinyal menyakitkan pada hatinya. “Tak sekalipun aku –“ Suara lift yang terbuka membuatnya menghentikan kalimatnya. Illeana masih menatap William pun sebaliknya. Pria itu menunggu apa yang akan gadis itu sampaikan. Tapi, setelah beberapa saat Illeana memilih pergi dari hadapan William, bahkan ketika pria itu menahan satu tangannya dengan kasar Illeana menyentakan tangan dan pergi begitu saja. Untungnya, lift ataupun lantai yang dituju sudah sepi jadi tidak ada mata lain yang memperhatikan mereka. William hanya menatap kepergian Illeana di depan lift. Gadis itu semakin menjauh tapi William tak mampu mendekat ketika melihat punggungnya. “Apa pun yang kau rasakan, setuju atau tidak, aku tidak akan menarik keputusanku untuk mengejarmu. Tak peduli apa pun itu, aku bersumpah akan mengikuti ke mana kau pergi kali ini, Illeana,” ujar William. Namun, William tidak menyadari sepasang mata mengawasi dari kejauhan sampai William pergi, orang itu juga ikut pergi ke arah yang berlawanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD